Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 17: Ratu



Ramai riuh serta gemerlap cahaya mengisi pemandangan kota Tideo di malam hari. Kota ini seakan tak pernah sepi meski hanya beberapa menit. Banyak penduduk kota berlalu lalang dengan kesibukan mereka masing-masing. Ada yang sedang bersenang-senang di malam penuh gemerlap ini dan ada yang sibuk karena mengurus urusan pekerjaan.


Inilah kehidupan masyarakat di kota Tideo di zaman sekarang. Di suatu tempat di kota besar ini, terlihat Caroline Hunt yang tengah menyeret bawahannya. Ia menyeret dengan kasar hingga bawahannya itu merintih kesakitan. Caroline berjalan memasuki area suatu mansion besar yang penuh dengan penjagaan.


Sebelum memasuki gerbang masuk mansion itu. Para penjaga yang berjaga disana, langsung memeriksanya beserta orang yang ia seret. Pemeriksaan ini memakan waktu beberapa menit, hingga pada akhirnya mereka mengizinkan Caroline masuk.


Mansion besar bertingkat yang berdiri kokoh di lokasi yang tak begitu jauh dari K.A.O ini, adalah markas bangsawan Hunt. Disinilah para keturunan Drake Hunt berkumpul. Bangsawan Hunt adalah salah satu dari sekian banyak bangsawan di Invandara, yang berjaya di Invandara.


Di Invandara, bangsawan Hunt menguasai segala jenis hal yang berbau sihir. Mereka juga salah satu pelopor senjata sihir terbaik. Bukan hanya itu saja, perpustakaan sihir terbesar di Invandara yaitu Casteral Library, perpus yang menjadi sumber ilmu sihir terbesar di Invandara merekalah yang menciptakannya. Semua yang mereka ciptakan ini, sangat berpengaruh besar di negeri besar ini.


"Aduh... duh..., nona. Kumohon, lepaskan aku."


Holmus meronta kesakitan, kerah belakang bajunya ditarik dengan kasar sembari diseret. Ia nyaris tercekik dibuatnya. Caroline yang menyeretnya sama sekali tidak mempedulikan kata-katanya.


Sampailah mereka di depan pintu sebuah ruangan yang besar. Caroline menghela nafas sebelum hendak memasukinya, ia pun berjalan teratur, masuk ke dalam ruangan tersebut. Didalam ruangan itu, ada begitu banyak orang-orang berpakaian Hitam-merah. Mereka berbaris rapi disisi kanan dan kiri ruangan itu.


Caroline berjalan diantara mereka, sambil tetap menyeret Holmus. Dihadapannya, ada sosok wanita berwibawa yang tengah duduk diatas kursi singgasana dengan banyak pengawal disamping kanan dan kirinya. Sorot mata wanita itu sangat tajam, membuat Caroline tertunduk seketika.


Bruggg!


Caroline melempar Holmus hingga terpelanting dan berhenti tepat dihadapan wanita itu.


"Holmus, beraninya kau membuat tindakan sendiri. Apa kau sudah lupa? siapa yang berhak memutuskan suatu tindakan di dalam lingkup bangsawan Hunt?" tanya Wanita itu dengan nada penuh rasa kesal dan kecewa.


Holmus langsung gemetar hebat. Seolah sedang berhadapan dengan sesuatu yang sama menakutkannya dengan kematian.


"M...m..m... maafkan aku. R... RR.. Ratu," balas Holmus.


Wanita yang ia panggil "Ratu" itu, menatapnya dengan tatapan dingin. Terasa amarah yang tercermin dari raut wajah Sang Ratu, si Holmus makin gemetar ketakutan.


"Disini, yang berhak memberi perintah kepada dirimu untuk melakukan suatu tindakan, hanya aku. Yang berhak mengubah hukum dalam kekuasaan Hunt, hanya aku. Juga yang berhak menentukan hukuman yang pantas untuk dirimu, hanya aku," ucap Sang Ratu.


Sang Ratu beranjak dari tempatnya, ia berjalan mendekati Holmus.


"Kau tidak berhak membuat tindakan sendiri, tanpa persetujuan dariku," sambung tegur Ratu.


Holmus tertunduk diam, ia masih gemetar ketakutan.


"Untuk kesalahan mu ini, kau kuberi hukuman. Kau akan menjaga dan mengurus setiap urusan di Casteral Library, selama 3 tahun tanpa upah. Kau juga, tidak boleh kembali kemari sebelum masa hukuman mu selesai."


Ratu mengumumkan hukuman yang pantas ia terima. Ini adalah pukulan berat bagi Holmus, rasa kesal dan marah terpatri di hatinya. Ia merasa derajatnya direndahkan didepan orang-orang yang se-marga dengan dirinya. Karena ini perintah Ratu, ia pun tak dapat berbuat apa-apa dan hanya bisa menerima semua ini.


"Sial!!! ini semua gara-gara Hunt gadungan itu, dia benar-benar membuatku kesal hingga aku bertindak sendiri. Aku pasti akan membalasnya," batin Holmus, hatinya tertutupi amarah dan keegoisan.


"B..baik."


Para pengawal pun langsung membawa Holmus keluar dari ruangan, atas perintah Ratu. Sang Ratu kembali ke singgasana, lalu bertopang dagu. Ia sudah mendengar kabar tentang Darius. Uji tanding antara Darius dan Agni juga sudah ia saksikan.


Rasa terkejut sekaligus penasaran pun menerpa benak Ratu. Menurut kabar yang ia terima dari informan, nama Darius Hunt tidak tercatat di data bangsawan Hunt manapun, baik itu didalam maupun diluar kota Tideo. Bahkan nama itu tidak ada didalam data Hunt yang berada diluar Invandara.


"Siapa sebenarnya Darius Hunt ini?" ratu sangat merasa penasaran.


Salah satu pengawal disisi kanan Ratu mengangkat tangan, tanda mohon izin untuk bicara. Ratu mempersilahkan orang itu untuk angkat suara. Orang yang akan bicara ini adalah Arnoldi Veu Hunt. Salah satu pemimpin pasukan keamanan bangsawan Hunt.


"Mungkin dia hanya orang yang mengaku Hunt hanya untuk tenar saja, dia Hunt gadungan," ucap Arnold.


"Dia tidak memiliki sihir sama sekali, juga tidak ada sedikit pun aura sihir yang terasa pada dirinya," sambung Arnold.


Ratu mempertimbangkan tanggapan dari Arnold.


"Aku meyakini sekaligus meragukan tanggapan mu itu, Arnold," tukas Ratu.


Semua yang ada di dalam ruangan pun dilanda rasa bingung. Apa maksud dari perkataan Ratu? sang Ratu menjentikkan jarinya. Seketika, sebuah layar TV yang besar muncul dari atas. Layar itu menampilkan adegan pertarungan Darius saat uji tanding tadi pagi.


Adegan ketika Darius memukul Agni, dibuat slow motion dan diperjelas. Terlihat kepalan tangan Darius mengeluarkan aura hitam, aura hitam ini menghasilkan energi yang mirip dengan energi sihir. Daya hancur dari energi ini pun tinggi, sehingga dapat membuat Agni yang seorang ras Naga, terpental seketika.


"Inilah yang membuatku meragukan tanggapan mu itu, Arnoldi," ucap Ratu.


Arnoldi terdiam, ia tak percaya bahwa tanggapannya tidak sepenuhnya benar.


Ada salah satu informan Ratu yang berada di stadion uji tanding dan menyaksikan langsung kejadian itu. Informan itupun melaporkan apa yang terjadi disana kepada Ratu. Khususnya, tentang aura hitam pada diri Darius.


"Aura hitam itu begitu mirip dengan energi sihir gelap. Namun anehnya, kehadiran aura ini tidak dapat dideteksi ataupun dirasakan, tapi wujudnya masih dapat dilihat jika dengan teliti. Aku yakin, Agni yang menjadi lawan Darius pasti tidak menyadari kemunculan aura hitam ini," jelas Ratu.


Ini menimbulkan tanda tanya besar dikalangan bangsawan Hunt. Mereka sudah menyaksikan sendiri kehadiran aura misterius itu. Tapi bagaimana bisa aura yang begitu pekat serta berdaya hancur tinggi itu, tidak dapat dirasakan ataupun dideteksi? aura dengan kekuatan sebesar itu harusnya dapat dirasakan dengan jelas. Tapi mengapa aura yang satu ini begitu berbeda?


Tidak ada satupun yang tahu jawabannya. Beberapa saat kemudian, ratu mengerahkan kaki tangan terbaiknya untuk menyelidiki hal ini. Ratu khawatir, jika aura hitam itu ternyata adalah sihir terlarang atau semacamnya yang dapat membahayakan masyarakat Tideo dan seluruh penduduk Invandara.


Para peneliti sihir beserta penyihir tingkat atas pun juga dikerahkan untuk membantu mencari informasi tentang aura hitam yang tak terdeteksi itu. Mereka semua langsung bergerak cepat, sesuai titah Sang Ratu. Kini, hanya tinggal menunggu kabar dari mereka yang sudah dikerahkan.


Dengan penuh rasa khawatir sekaligus penasaran yang menggentayangi pikirannya. Ratu menanti kabar dari para bawahannya, berharap mereka dapat menemukan jawaban valid terkait hal ini.


"Pemuda yang bernama Darius Hunt ini, kekuatan macam apa yang ia miliki?" tanya Ratu dalam batin.


Bersambung....