Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 35: Pembalasan Iraken Seis



Disisi lain...


Mona berjalan lesu menuju tempat tinggalnya, dia baru saja pulang dari sekolah. Beberapa kali dia mengendus kesal lantaran belakangan ini banyak tugas yang harus ia kerjakan. Itu membuat dirinya tak punya cukup waktu untuk menemui Darius.


"Sebal..., sebal...., sebal..., tugasku semakin lama semakin banyak. Aku jadi tidak punya waktu untuk bersenang-senang," ujar kesal Mona.


Ia terus menggerutu sepanjang jalan, melewati jalan yang sempit dan amat berkelok-kelok, tapi itu adalah jalan tercepat menuju rumahnya. Mona memasuki sebuah gang dimana itu adalah jalan terakhir yang langsung tertuju pada rumahnya.


Ditengah perjalanan, ia melihat sosok wanita yang bersimbah darah. Sekujur tubuhnya dibalut perban, terlihat wanita itu mengalami pendarahan berat. Mona dengan lekas menghampiri dan menolong wanita itu.


"Hei..., apa kau baik-baik saja?" tanya Mona sambil merangkul wanita yang nyaris pingsan itu.


"T... tolong aku...," ucap wanita itu.


"Tenanglah, aku akan menolong mu," balas Mona.


Segera ia membawa wanita itu ke rumahnya, saat ini kedua orang tuanya sedang berada di luar kota, jadi tidak ada siapapun dirumahnya saat ini. Mona membaringkan wanita itu di ranjang kamarnya, segera ia mengambil kotak pertolongan pertama guna mengobati luka-luka yang diderita oleh wanita itu.


Mona berusaha menghentikan pendarahan dengan membalut lukanya, meski hanya dapat menjadi pertolongan sementara. Mona mengambil ponsel di sakunya dan menelfon nomor darurat, bersamaan dengan itu, terdengar suara ribut dari luar. Ia pun mengintip dari balik jendela untuk melihat dari mana asal suara itu.


Terlihat sekelompok orang berseragam perak tengah berlalu lalang di sekitar area rumahnya, masing-masing dari mereka membawa senjata tajam berupa pedang dan kapak.


"Siapa mereka? apa yang mereka lakukan disini?" batin Mona.


...***********...


15 menit yang lalu, di rumah sakit...


Mara baru saja lumayan pulih, tubuhnya sudah bisa bergerak sedikit demi sedikit. Dia baru saja selesai mengambil air minum dan hendak kembali ke kamar rawatnya dengan ditemani seorang perawat.


Perawat membukakan pintu kamar Mara, betapa terkejutnya Mara mengetahui ternyata didalam kamar sudah ada beberapa orang yang menunggu kedatangannya.


"Iraken...," ucap Mara tersentak.


"Kita berjumpa lagi, Mara," balas Iraken.


Mara yang tersentak langsung mundur beberapa langkah. Iraken membawa beberapa kawannya, merek semua menatap Mara dengan amat geram.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Mara.


"Tentu saja, pembalasan. Kau harus membayar atas perbuatan mu terhadap kakakku," jawab Iraken.


Iraken, dari tangan hampa nya muncul sebuah pedang sepanjang 1.5 meter. Ia langsung menerjang dan menusuk dada kanan Mara tanpa pikir panjang, tusukannya yang keras membuat Mara terpental jauh hingga menembus tiga dinding beton.


Perawat pendamping Mara langsung berlari histeris menyaksikan kejadian itu.


Mara berusaha bangkit, banyak darah yang bercucuran keluar dari luka tusukannya. Belum usai rasa sakit akibat tusukan, salah seorang teman Iraken melempar sebuah kapak yang tepat mengenai bahu Mara.


"AAARGH...!"


Mara pun menjerit, ia segera mencabut kapak itu dari bahunya dan mengeluarkan partikel cahaya untuk menyerang balik Iraken. Mara melesatkan puluhan peluru cahaya ke arah Iraken, akan tetapi Iraken mampu menghalau serangannya. Dengan kecepatan tinggi, Iraken melesat dan menendang wajah Mara.


Seketika Mara terpental keluar dari gedung rumah sakit, ia terjatuh dari lantai dua tempat ia dirawat. Tulang rusuk beserta tangan kirinya patah, rasa sakit terasa di sekujur tubuhnya.


Iraken yang masih belum puas pun pergi keluar menyusul Mara. Ia memojokkan Mara di tempat itu.


"Bagaimana? apa kau paham bagaimana rasa sakit yang kakakku alami karena mu!"


Iraken membentak keras.


Mara berdiri dengan tenaga yang tersisa, ia menciptakan api dan es yang melayang di sekitarnya. Sihir Mara melemah lantaran tubuhnya terluka dan tak punya cukup tenaga.


"Percuma saja, sihir lemah seperti itu tidak akan mempan. Lagi pula, jika kau memaksa maka itu akan berdampak buruk terhadap tubuhmu sendiri," ucap Iraken.


"Maaf, tapi aku tidak berencana untuk mati hari ini," balas Mara.


Ia melesatkan kedua elemen yang berlawanan itu, timbullah kabut dari uap air akibat penguapan yang terjadi antara kedua elemen itu. Iraken mencoba menghalau kabut yang menutupi pandangannya, Mara menghilang bersamaan dengan kabut itu.


"Cih..., dia berteleportasi bersamaan dengan melesatnya serangan tadi. Dasar wanita licik..!!! segera periksa seluruh area ini dalam jangkauan 250 meter. Dia tidak akan mampu pergi jauh dengan luka seperti itu," perintah Iraken kepada kawan-kawannya.


Mereka pun bergerak sesuai dengan perintah.


Sementara itu, Mara tengah berjalan terhuyung-huyung di tempat yang bahkan ia tidak tahu. Kondisi mendesak tadi, membuat dia berteleportasi secara acak ke sembarang tempat. Mara sungguh tidak tahu dimana dirinya berada sekarang.


"Sial..., tak kusangka dia akan bertindak se-nekat ini.... ugh... uogh..!"


Mara memuntahkan banyak darah, pengelihatannya mulai buram, tubuhnya pun lunglai dan hendak rubuh. Tiba-tiba saja, seseorang memegangi dan merangkulnya ketika ia nyaris pingsan. Di pengelihatannya yang kian makin buram, ia melihat sosok gadis yang lebih muda darinya. Gadis itu merangkul tubuhnya yang lemas.


"Hei, apa kau baik-baik saja?" tanya gadis itu.


"T... tolong aku...," balas Mara, suaranya tersendat rasa sakit.


"Tenanglah, aku akan menolong mu," tukas gadis itu.


Mara semakin kehilangan banyak darah, rasa sakit yang dideritanya membuat dirinya hilang kesadaran. Kini ia terkulai lemas dalam rangkulan gadis yang menolongnya.


Bersambung.....