Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 30: Yang belum terungkap



...PERHATIAN BAGI PARA PEMBACA...


...Jangan lupa untuk selalu beri like, vote dan rate. Supaya Author makin semangat untuk menulis cerita ini 😁...


...Silahkan beri saran apabila alur cerita kurang pas atau tidak nyambung. Ini demi kepuasan para pembaca, bila ada alur yang kurang pas akan segera saya perbaiki....


...Selamat membaca 😁😁😁...


...*****************...


Kondisi Mara membaik berkat pertolongan cepat dari unit Healer. Dia sudah mulai siuman, perlahan matanya terbuka dan dia mendapati dirinya tengah berada dalam pelukan Darius.


"Syukurlah kau sudah sadar," ucap Darius.


Mara tidak tahu bagaimana mana dia bisa berada dalam dekapan Darius. Sekujur tubuhnya lemah. Ia tidak dapat menggerakkan satu pun anggota tubuhnya. Unit Healer berusaha keras untuk menyembuhkan luka bakar yang ia derita.


"Dia menyelamatkan ku? mengapa?" batin Mara.


Berulangkali Darius memanggil namanya. Ia ingin Mara menunjukkan respon terhadapnya.


"Hey, apa kau bisa mendengar ku? apa kau masih merasa kesakitan? ayo, jawab," berulangkali Darius mengulangi pertanyaan itu, tapi tak ada respon. Mara hanya terdiam dengan tatapan kosong.


"Dia shock, kecelakaan tadi mengguncang mentalnya. Dia takkan merespon siapapun untuk sementara," ucap salah seorang unit medis.


"Lebih baik, kita segera membawanya ke rumah sakit K.A.O. Siapkan mobil ambulance," perintah Komandan Deri.


Unit Healer langsung melaksanakan perintah Komandan. Sementara para ksatria Divisi sihir (specialis elemen dingin) tengah memadamkan api yang berkobar akibat suhu insiden tadi.


Mara masih tidak menunjukan respon. Ia masih terdiam dengan tatapan kosongnya. Luka bakarnya cukup parah sehingga sulit disembuhkan. Beberapa lama kemudian, Mara menunjukkan respon. Tangannya mulai bergerak.


"Korban mulai menunjukkan respon."


Kedua tangan Mara perlahan bergerak membalas dekapan Darius. Ia menyandarkan kepalanya ke dada Darius yang bidang. Mara merasakan tubuhnya semakin nyaman dalam dekapan itu. Rasa sakit dari luka bakar pada tubuhnya pun seakan mulai menghilang. Mara tidak tahu dari mana asalnya perasaan ini. rasa nyaman dalam dekapan seseorang yang tidak pernah ia kenal, membuat dirinya merasa lebih baik.


"Ini aneh, aku merasa lebih baik ketika dia memelukku. Bagaimana mana bisa aku merasa seperti ini dalam pelukan seseorang yang bahkan tidak kukenal. Seolah dia dan aku saling terhubung dalam sebuah ikatan yang kuat. Ikatan yang sama sekali tidak ku tahu. Apakah yang kurasakan ini benar adanya? atau mungkin ini hanya perasaanku saja?" batin Mara.


Ia merasakan suatu perasaan yang berbeda ketika Darius memeluknya. Perasaan yang baru pertama kali ia rasakan, seumur hidupnya. Rasa nyaman dan damai yang mampu mengalahkan segala rasa sakit yang menerpa. Mara ingin merasakan itu lebih lama lagi.


"Mara, jawab aku. Kau baik-baik saja? kumohon, jawab. Apa kau mendengar ku? tetaplah sadar, sebentar lagi bantuan medis akan datang," suara Darius terngiang berulang kali di telinganya.


"Dia mengkhawatirkan ku? setelah aku berusaha mencelakainya? apa dia bodoh? tapi entah kenapa, aku senang dikhawatirkan olehnya. Tidak kusangka dia akan mencemaskan seseorang yang berniat untuk melukai dirinya. Darius Hunt, kau benar-benar bodoh atau terlalu baik? aku sama sekali tidak mengerti," batin Mara. Sebelum pada akhirnya ambulance datang.


Unit Healer dengan lekas membopong dan memasukkannya kedalam mobil ambulance. Segera ambulance itu membawanya pergi ke rumah sakit.


Darius beserta Komandan Deri dan Seirus pun dapat bernafas lega. Mara telah berhasil mereka diselamatkan.


"Dasar wanita bodoh. Bisa-bisanya dia terkena timbal balik dari kekuatannya sendiri," ucap Komandan Seirus.


"Bukankah hal ini yang kau inginkan?" tukas Komandan Deri.


"Aku hanya ingin dia cedera saja, bukan mati terbakar," balas Komandan Seirus.


Karena masih ingin tahu detail tentang apa yang telah terjadi pada Mara. Darius pun bertanya kembali kepada Komandan Deri. Terutama bagaimana bisa perisai sihir Mara dapat menyerap kekuatan serangannya.


"Baiklah, akan ku jelaskan semuanya secara rinci," ucap Komandan Deri.


...****************...


Raven sudah sampai di tempat pelatihan para Beginner. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Darius maupun para Komandan yang memimpin pelatihan. Hanya ada unit Healer yang berlalu-lalang keluar dari tempat pelatihan tersebut. Tentu ini membuat Raven keheranan, untuk apa unit Healer berada di tempat pelatihan? ia mulai berprasangka dibenaknya, keberadaan unit Healer disini menandakan bahwa sebelumnya telah terjadi sesuatu di tempat ini.


Ia pun bertanya kepada salah satu unit Healer yang lewat.


"Apa yang terjadi disini?"


"Terjadi sebuah kecelakaan saat pelatihan elemen panas. Kecelakaan itu mengakibatkan seorang pembimbing mengalami luka bakar yang cukup parah dan sekarang sudah dilarikan ke rumah sakit," jawab salah seorang unit Healer.


"Siapa pembimbing itu?" tanya Raven.


"Kalau tidak salah, pembimbing itu adalah seorang Hunt," jawabnya.


"Apa? benarkah?"


Raven menduga, itu sudah pasti Mara.


"Baiklah, terima kasih."


"Sama-sama pak Direktur."


Healer itu pun pergi. Raven masuk ke lapangan pelatihan untuk melihat seperti apa kondisi ditempat itu. Disana, ia mendapati kondisi lapangan pelatihan yang rusak serta dinding pembatas yang hancur. Semua ini adalah dampak dari pelatihan Darius beberapa menit lalu.


"Semua ini pasti ulah Mara. Dasar wanita sialan, beraninya dia. Awas saja jika tuan sampai terluka karenanya," batin Raven.


Ia pun kembali mencari tuannya. Tak butuh lama, ia berhasil menemukan tuannya yang tengah duduk sendirian di lobby.


"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya Raven.


"Aku baik-baik saja, Raven. Kau nampak terengah-engah, apa kau sedang terburu-buru?" tanya balik Darius.


Raven mengambil nafas sejenak.


"Saya terburu-buru mencari anda. Apa Tiamara Hunt melakukan sesuatu terhadap anda?"


"Kurasa tidak. Dia terluka parah dan sudah diantar ke rumah sakit. Semua itu terjadi karena ulahku, sepertinya aku harus belajar keras untuk mengendalikan kekuatan ini."


Darius menceritakan semuanya termasuk penjelasan yang ia dengar dari Komandan Deri kepada Raven. Kini Raven tahu bahwa kerusakan yang terjadi di lapangan pelatihan bukanlah hasil perbuatan Mara, melainkan perbuatan tuannya.


Berdasarkan penjelasan Darius. Raven mengetahui bahwa Mara sudah melanggar standar pelatihan Beginner dan sengaja berbuat licik guna mencelakai Darius.


"Mirror of Greedy adalah kemampuan sihir diatas tingkatan Expert. Menggunakan itu dalam pelatihan Beginner adalah sebuah pelanggaran. Aku akan segera mengajukan tuntutan kepadanya," ujar Raven seraya mengambil ponsel di sakunya.


Ia berniat mengajukan tuntutan kepada bangsawan Hunt, lantaran sudah melanggar standar pelatihan Beginner serta melanggar hukum keamanan dan keselamatan ksatria. Tindakannya itu mendadak dicegah oleh Darius. Ia tidak tahu mengapa Darius mencegahnya.


"Jangan Raven. Biarkan saja, dia (Mara) sudah terluka parah, lebih baik jangan mempersulit keadaannya. Lagi pula, bagaimana pun juga dia adalah keturunan adikku. Melihat dia terluka seperti itu membuat diriku merasa bersalah," ucap Darius.


"Tapi tuan, dia berusaha mencelakai anda," tukas Raven.


"Dia melakukan ini karena hukum yang ia taati dalam lingkup bangsawan Hunt. Sampai saat ini, aku masih bertanya-tanya. Mengapa Hunt di masa kini begitu membenci ilmu berpedang serta ilmu bersenjata lainnya? bahkan itu tertulis dalam hukum mereka. Adikku tidak mungkin menciptakan hukum seperti itu. Andai benar pun pasti ada sebab lain dibalik terciptanya hukum ini"


Raven menundukkan kepala dihadapan tuannya.


"Tuan, menurut saya hukum ini dibuat setelah Yang Mulia Drake telah tiada. Sepeninggal beliau, saya pergi dari Ezius untuk mengembara jadi saya tidak tahu kelanjutan sejarah Hunt sepeninggal beliau," jelas Raven.


"Benarkah?" tanya Darius.


"Sebelum saya pergi mengembara. Saya sempat melayani dan merawat putra dan putri yang mulia Drake. Yakni Sonya Hunt dan Aleister Hunt, putri Sonya adalah anak pertama dari istri kedua yang mulia Drake. Sedangkan pangeran Aleister adalah anak pertama dari istri pertama Yang Mulia Drake," jelas Raven.


"Setelah beliau meninggal, kepemimpinan kerajaan diambil alih oleh istri kedua Yang Mulia. Yakni Ratu Perona, beliau dinikahi karena prestasinya yang menyamai Yang Mulia Drake. Istri pertama Yang Mulia bernama Winter Arias, seorang ahli sihir penyembuhan yang menyelamatkan nyawa Yang Mulia Drake dari serangan kaum Mulagial," sambung Raven.


"Drake punya dua istri? dan aku tidak mengetahuinya?" batin Darius, disertai rasa iri.


"Yang Mulia Winter meninggal saat melahirkan pangeran. Sehingga Ratu Perona lah yang memegang penuh kuasa kerajaan. Ratu memimpin kerajaan dengan sangat baik, layaknya Yang Mulia Drake. Saya mengabdi kepada beliau selama beberapa tahun, sebelum pada akhirnya memutuskan untuk mengembara. Pada masa itu semuanya baik-baik saja, tidak ada hukum baru yang diterapkan. Hanya ada sedikit perubahan dalam pengaturan sistem pemerintahan, itu saja," jelas Raven.


"Jika memang seperti itu, mengapa di masa kini ada hukum Hunt yang tidak mengizinkan ilmu bersenjata dalam lingkup bangsawan Hunt?" tanya Darius.


"Mohon maaf, saya sendiri juga tidak tahu. Sebelum saya pergi dari Ezius, semuanya masih baik-baik saja," jawab Raven.


Darius bertopang dagu, memikirkan hal ini. Bisa dipastikan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Hunt setelah kepergian Raven. Hingga pada akhirnya hukum Hunt ini pun tercipta. Apakah Ratu Perona yang telah menciptakan hukum ini? atau mungkin keturunannya? yang pasti, hukum ini tidak bisa Darius terima.


Mereka telah membenci sesuatu yang seharusnya mereka junjung tinggi layaknya mereka memuliakan ilmu sihir. Rasa kesal Darius mencapai puncaknya.


"Raven, segera cari tahu informasi tentang apa saja yang telah terjadi pada Hunt dimasa lampau. Juga tunjukkan aku jalan menunju ke rumah sakit, aku akan memeriksa keadaan Mara," perintah Darius.


Dengan senang hati. Raven mematuhi perintahnya.


"Baik, tuan. Saya akan laksanakan dengan segera."


Darius sudah membulatkan tekadnya. Ia tidak mau hukum Hunt melenceng ini terus berada dan menjadi pedoman hidup bagi semua keturunan Hunt. Ia akan menyelidiki dan menjatuhkan hukum yang tidak benar ini.


"Jika semua ini adalah perbuatan pihak lain yang sengaja mempermainkan Hunt. Maka aku takkan pernah bisa memaafkannya," batin Darius.


Bersambung.....