
Kondisi semakin buruk, monster ini terus saja beregenerasi setelah dibunuh, bala bantuan tambahan dari Hunt dan Seis telah datang begitu juga dengan para ksatria dari K.A.O.
Hunt mengirim 2 komandan beserta 80 penyihir kelas atas untuk menangani monster ini sedangkan Seis mengirim komandan Alecta yang seorang ahli menembak beserta 90 ksatria tingkah atas.
K.A.O mengerahkan 5 ksatria tingkat rank S yang salah satunya adalah Sebastian, orang yang pernah Darius selamatkan dari monster Hydra.
Saat ini Nanta beserta para Seis berusaha merusak pertahanan dengan senjata mereka, sementara yang lainnya berusaha memperlambat pergerakan makhluk itu.
Dari Hunt sendiri, Evoryo dan Caroline mengeluarkan segenap tenaga mereka agar dapat menemukan celah kelemahan tetapi itu sangat sulit.
Sihir Haos Verandal milik Evo seolah tidak menimbulkan efek pada makhluk itu begitu juga dengan sihir elemen es Caroline.
Mereka terus menembaki monster itu dengan peluru sihir, berupaya untuk melukainya.
"Apa dia resistance mutlak terhadap sihir? ini buruk," ucap Caroline yang energinya tinggal setengah.
Dipandangnya ia melihat Nova yang terpental ke belakang karena terkena pukulan dari monster itu, bagian kepalanya mengalami pendarahan karena menghantam aspal dengan kerasnya.
Nanta lekas membawa adiknya keluar dari medan pertempuran tetapi Nova merasa masih sanggup untuk bertarung, pengelihatan Nova perlahan kabur dan tubuhnya semakin melemah.
Dengan kondisi seperti ini Nanta takkan mengizinkannya untuk kembali bertarung.
"Jangan keras kepala, kau istirahatlah dulu biarkan aku dan yang lain mengatasi monster ini," ucap Nanta.
"Aku masih bisa kak," balas Nova.
"Jangan memaksakan diri, kau sudah menggunakan Aurora Slash lebih dari 5 kali, energi mu pun sudah habis jadi diamlah disini," tukas Nanta.
Aurora Slash adalah teknik yang sebelumnya Nova gunakan untuk melukai mata monster itu.
Nova terdiam, ia hanya bisa menuruti perintah kakaknya.
Nanta menyerahkan adiknya kepada para healer dari K.A.O, mereka membawa Nova ke tempat yang aman untuk diobati.
Disisi lain para ksatria K.A.O beraksi dengan lincah, mereka tanpa henti menebas, menembak dan meledakkan tubuh monster itu.
Namun lagi-lagi monster itu kembali menjadi utuh setelah dihancurkan, seperti makhluk abadi yang tidak dapat dibunuh.
Sebastian menggunakan teknik pedang tingkat tinggi yang membuat bilah pedang kembar nya menyala merah, disamping itu Evo mengaktifkan kekuatan terkuat Haos Verandal berupa piringan cakram cahaya yang sangat tajam.
"Ini pasti berhasil, aku sudah melatih sihir ini berulang kali demi mengalahkan orang itu (Darius), aku takkan lagi membuat Yang Mulia Ratu kecewa," batin Evo.
Mereka berdua menyerang secara bersamaan disusul serangan Caroline yang menjatuhkan tombak es dari atas, ledakan besar tak terhindarkan.
Beberapa gedung besar di sekitar seketika hancur begitu juga dengan monster itu, para penyihir Hunt membekukan anggota tubuh monster yang sudah hancur guna mencegahnya beregenerasi.
"Pastikan seluruh anggota tubuhnya membeku! jangan ada yang terlewat...!"
Perintah Evo.
Seluruh penyihir Hunt segera melaksanakannya secepat yang mereka bisa, akan tetapi semuanya berujung percuma.
Monster itu kembali menyatu tetapi kali ini jadi sangat berbeda.
"Astaga, apa monster ini sungguh tidak bisa mati?"
Tubuh monster itu kembali menyatu dalam wujud yang berbeda, kulitnya berubah menjadi kebiruan serta ada elemen cahaya biru mengitari dirinya.
Dengan satu hentakan kaki ia dapat membekukan area tengah kota beserta orang-orang disekitarnya, beruntung Evo lebih dulu mengaktifkan perisai sihir untuk melindungi para ksatria disana.
Sisi buruknya masalah jadi semakin besar, monster itu berevolusi menjadi lebih kuat dan ini tidak terduga oleh siapapun.
"Kau pasti bercanda, ini mustahil," ucap Evo tercengang.
"KALIAN YANG DIBAWAH CEPAT MENYINGKIR...!!!"
Terdengar suara teriakan keras dari langit, semua perhatian tertuju ke sumber suara itu.
Terlihat Hilda yang sudah mengambil ancang-ancang dengan kepalan tangan yang berapi-api.
"SEMUANYA MENJAUH...!!!"
Teriak panik Evo.
Seluruh ksatria berhamburan menjauhi monster itu dan tak lama kemudian Hilda pun meluncurkan serangannya....
KABOOOOM.....!!!
Ledakan besar pun terjadi, seluruh area kota dalam radius 600 meter menjadi lautan api, gedung-gedung tinggi disekitar pun hancur lebur.
"Syukurlah kita bisa menghindar, tapi tenagaku..."
Evo tumbang sebelum mengakhiri ucapannya.
Ia pingsan karena mengeluarkan seluruh tenaga untuk memindahkan seluruh ksatria ke tempat yang aman dengan sihir teleportasi.
Caroline yang memiliki bakat sihir penyembuhan pun lekas menolongnya, para ksatria berharap monster itu sudah benar-benar tamat.
Karena mereka sudah kewalahan, mereka semua kehabisan cara untuk menangani monster ini.
Segala teknik pamungkas telah mereka keluarkan demi menghabisi makhluk itu, debu-debu yang berterbangan mulai memudar.
Dimata mereka mulai nampak jelas Hilda yang membusungkan dada dengan bangga, tak terlihat tanda-tanda kehadiran akan monster mengerikan itu.
Dengan penuh percaya diri Hilda berkata...
"Monster itu sudah tamat, semuanya sudah aman."
"Benarkah?" tanya salah satu ksatria.
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah samping, suara itu berasal dari salah satu gedung yang runtuh.
Bluarr...!
Sesuatu keluar dari balik reruntuhan itu, para ksatria pun langsung waspada.
"Tidak bisa dipercaya, apa monster itu masih hidup?" batin Gio yang sudah gemetaran.
Sosok yang keluar dari reruntuhan semakin nampak jelas, tak lama kemudian sosok itupun terlihat.
"Darius?" ucap Hilda terkejut.
"Apa yang kau lakukan disini?" lanjutnya.
Darius tidak langsung menjawab, ia keluar dari reruntuhan terlebih dahulu.
Terlihat dimata semua orang, ia sedang membawa sesuatu dengan kedua tangannya.
Semuanya tercengang ketika tahu bahwa sesuatu yang dibawa oleh Darius adalah sesosok bayi berselimutkan kain putih, bayi itu menangis keras karena suara ledakan yang mengagetkan nya.
Darius berusaha menenangkan bayi itu hingga pada akhirnya bayi itupun terdiam.
"Bisakah kau menahan diri dan memperhatikan lingkungan sekitar mu dengan baik?" tanya Darius dengan logat emosi.
"Apa? tapi sebelumnya para petugas keamanan sudah mengevakuasi semua warga," tukas Hilda.
"Kenyataannya mereka keliru," balas Darius.
Darius berjalan menghampiri Caroline, ia menyerahkan bayi itu kepadanya.
"Kau bisa melakukan teleportasi, bukan? tolong bawa bayi ini ke tempat yang aman, kumohon," ucap Darius.
Caroline masih merasa tercengang untuk sesaat hingga akhirnya ia mengangguk dan membawa bayi itu pergi.
Didalam hati, Caroline merasa sangat kagum terhadap orang yang dimusuhi oleh bangsawan Hunt itu, ketelitiannya sangat jeli sampai mengetahui sesuatu yang tidak disadari oleh orang lain.
Disisi lain Darius merasa kecewa terhadap para petugas keamanan yang kurang teliti dalam mengevakuasi, ia merasa mereka masih kurang disiplin.
"Para petugas disini payah, bagaimana bisa mereka melalaikan kehadiran seorang bayi di situasi seperti ini?" batin Darius.
"Hey, bagaimana kau bisa tahu kalau ada bayi didalam gedung itu?" tanya Hilda mendadak.
"Suara, aku mendengar suara tangisannya ketika sedang mengevakuasi penduduk di area dekat taman," jawab Darius.
Area dekat taman dengan tempat ia berdiri saat ini berjarak sekitar 200 meter, tidak normal bagi seorang manusia dapat mendengar suara tangisan bayi dalam jarak sejauh itu.
"Yang benar saja," ucap Gio ternganga.
"Pantas saja adikku tertarik kepadamu, Darius," batin Nanta dengan senyum menyeringai.
Sementara Hilda masih malu akan kecerobohannya, ia tidak bisa menyangkal tindakannya yang nyaris menewaskan seorang bayi.
Bibirnya bergetar ketika hendak mengucapkan kata maaf tetapi Darius mencegahnya.
"Aku tahu apa yang ingin kau ucapkan, tapi ini bukan saatnya untuk itu," ucap Darius lalu ia menoleh ke arah belakang Hilda.
"Karena masalah kita belum berakhir," lanjut Darius.
Dari arah belakang Hilda, monster itu kembali menyatu dan kembali mengalami evolusi.
Kini ia memiliki puluhan bola api yang mengelilingi tubuhnya.
GRAAAA....!!!
Ia mengaum keras hingga mengguncang seisi kota.
Mereka semua kehabisan kata untuk monster yang satu ini, tidak ada cara lagi untuk menanganinya.
Ditambah lagi mereka semua sudah sangat lelah.
Tanpa pikir panjang, Darius melangkah maju mendekati monster itu.
"Kalian semua pergilah, panggil bantuan sementara aku akan menahannya semampuku," ucap Darius.
"Aku ikut dengan mu," sahut Hilda.
Para ksatria tidak punya pilihan lain lagi selain menuruti ucapan Darius, padahal mereka tidak ingin Darius dan Hilda menghadapi monster itu berdua saja.
Namun kondisinya tidak memungkinkan mereka untuk kembali melanjutkan pertarungan.
"Baik, kami akan pergi mencari bantuan, kalian tetaplah bertahan sampai kami kembali."
Para ksatria pun pergi meninggalkan mereka, kecuali satu orang yakni Nanta.
"Kau tidak mundur?" tanya Darius.
"Aku masih bisa melanjutkan ronde ketiga pertarungan ini, lagi pula dengan adanya kau disini pasti akan jadi lebih menarik," balas Nanta seraya tersenyum.
Darius menyukai jawaban yang Nanta berikan.
"Wanita yang tangguh," batin Darius.
Monster dihadapan mereka semakin menggila.
"Baiklah, ayo kita maju."
Bersambung....