Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 13: Memasuki K.A.O



Academy K.A.O....


Pendaftaran sudah dituntaskan, kini Darius sudah menjadi calon ksatria yang akan menjalankan tes seleksi. Raven sudah menawarkan kepada tuannya bahwa ia akan menjadikan Darius sebagai Knight Class S secara instan, tetapi Darius menolaknya dengan alasan...


"Aku ingin mencoba, seberapa keras ujian di tempat ini."


"Tentu, ujian ksatria dimasa sekarang tidak sekeras dulu, tuan," batin Raven.


Disana, banyak ujian yang Darius lewati dan nilai yang didapatnya sangat sempurna. Seluruh calon ksatria merasa sangat tertandingi oleh Darius. Dengan menduduki peringkat teratas sebagai calon ksatria, kelulusan Darius pun terjamin.


"Ujian macam apa ini? tidak menantang, bahkan aku tidak berkeringat," ujar kecewa Darius.


"Dimohon untuk semua peserta/ calon ksatria yang telah lulus ujian dasar, untuk segera bersiap mengikuti ujian tanding"


Pengumuman itu terdengar oleh Darius.


"Jadi semua yang kujalani tadi adalah ujian dasar saja. Baiklah, akan ku ikuti tahap selanjutnya, semoga yang satu ini lebih menantang," batin Darius.


Sementara itu, Raven merasa khawatir kepada tuannya. Sudah 30 menit ia mondar-mandir kesana-kemari di dalam kantornya. Ia tidak mau ada orang yang sampai melukai tuannya saat ujian tanding.


"Ayolah, aku seharusnya yakin kepada tuan. Tapi tetap saja, aku tidak ingin ada orang yang sampai membuat kulit tuan lecet ataupun tergores. Sungguh aku akan menghajar siapapun yang melakukan itu," gerutunya.


Ia masih saja mondar-mandir di kantor hingga pengumuman kelangsungan ujian tanding di umumkan. Raven segera masuk ke stadion uji tanding K.A.O.


Disana begitu ramai penonton. Masyarakat diperbolehkan untuk melihat uji tanding ini secara gratis, guna memperlihatkan kemampuan para calon ksatria. Ujian ini dapat memakan waktu 8 jam per-sesi. Setiap sesi terdiri dari 20 peserta yang akan di uji. Uji tanding akan berakhir setelah semua peserta yang lulus seleksi dasar sudah mengikuti uji tanding ini.


Hari ini, sekitar 300 calon ksatria akan menjalani uji tanding. Karena jumlah yang besar, sesi 1-5 uji tanding memakan waktu hingga seminggu. Itu membuat Darius penat menunggu gilirannya tiba. Sesi 5-10 telah usai. K.A.O sudah mengumumkan semua nama calon ksatria yang lulus dan calon ksatria yang akan bertarung besok.


Di daftar calon ksatria yang akan bertarung besok, tertulis nama Darius. Sekarang Darius mendapatkan kembali semangatnya. ia tak sabar menunggu gilirannya. Sementara itu, di dapur sudah ada Raven yang membuatkan sarapan untuk tuannya. Ia memotong lebih cepat dari biasanya.


Sarapan pun tersedia jauh lebih awal dari biasanya. Darius pun menyadari itu. Rasa masakan Raven jauh lebih lezat dari yang kemarin. Raven juga memberikan po*ti***on heal untuk tuannya. Rasa kekhawatiran Raven begitu terasa oleh Darius.


"Kau sungguh protective kepadaku, jangan khawatir. Aku takkan kalah," ujar Darius.


"Saya tidak akan terima jika ada yang membuat kulit tuan lecet, meski hanya sedikit," balas Raven.


"Kau masih sama seperti dulu, aku senang mengetahuinya. Tapi percayalah kepada tuanmu ini, luka gores ataupun lecet tak bisa mengalahkan aku."


Raven mengangguk, diam.


"Tapi tetap saja, tuan. Saya tidak terima jika ada orang yang menggores anda," batin Raven, dia sungguh protective atas kesetiaan kepada tuannya.


...**************...


Waktu uji tanding pun tiba....


Uji tanding pun dilaksanakan dengan seorang pemandu acara serta ada empat pengawas. Darius masih menunggu gilirannya tiba. Sambil menunggu, ia menonton uji tanding peserta lain. Ia tertarik pada salah satu peserta wanita berpedang panjang. Namanya adalah Hilda Dragnar, berasal dari ras naga.


ia dapat menggabungkan kekuatan serta kecepatan dengan baik. Ditambah lagi, ia memiliki elemental api. Itu menambah keunggulan nya.


"Wanita yang lumayan," batin Darius. menanggapi Hilda.


Ciri khas Hilda sangat unik. Berambut merah sesuai dengan warna sisik yang meliputi tubuhnya. Serta memiliki sepasang sayap yang melambangkan kekuatan. Ras naga sangat menarik. Dalam uji tanding, ia hanya perlu waktu 40 detik untuk menang. Sungguh singkat untuk sebuah pertarungan.


pertandingan kedua...


Para penonton begitu meriah. Mengetahui bahwa yang akan bertarung adalah seorang Elementalia yang jenius.


"Dari ras Elementalia. Shen Ventorian, seorang Elementalia hebat dari kota Tideo," ucap pemandu acara dalam ujian ini.


Elementalia adalah ras yang menyerupai manusia, keunggulan mereka adalah memiliki kekuatan elemen dalam diri mereka sejak mereka lahir. Meskipun menyerupai manusia, tetapi masih ada ciri khas pada mereka yang sangat terlihat. Yaitu tanda ukiran simbol di sekujur tubuh mereka, ukiran itulah yang melambangkan elemen dasar pada diri mereka.


Elementalia tidak memiliki fisik yang memadai, namun sihir mereka luar biasa


Disisi lain, yang akan menjadi lawannya adalah seorang pemburu dari ras Zoan. Seorang manusia leopard, Garzan Wildway.


"Dia adalah seorang pemburu paling ahli dari kota Curtisian. Sudah pernah menjuarai kompetisi Gladiator Invandara tiga kali berturut-turut," jelas pemandu acara, menunjukkan keunggulan Garzan.


Pengawas ujian datang diantaranya mereka berdua. Menanyakan kesiapan mereka untuk bertarung, mereka berdua mengangguk.


"Dengan ini, saya nyatakan bahwa kalian siap," ucap pengawas.


Pengawas uji tanding mundur sepuluh langkah dari mereka. Lalu bersiap untuk menembak pistol ke langit sebagai tanda dimulainya uji tanding.


"Uji tanding akan dimulai dalam hitungan 1... 2... 3...."


Dor!


Uji tanding dimulai, diawali dengan adegan saling terjang antara mereka berdua. Shen sebagai Elementalia angin, mendorong mundur Garzan. Angin dahsyat menghempaskan tubuh Garzan hingga menabrak dinding pembatas.


"Cih..., inilah yang membuatku sebal melawan ras seperti mu," ucap Garzan, dengan senyum. Seolah menikmati pertarungan.


Shen mendapati pipinya yang terluka, rupanya Garzan berhasil melukainya sebelum terhempas angin.


"Kau juga menyebalkan, mari kita nikmati pertarungan ini," balas Shen.


Pertarungan menjadi semakin brutal. Shen mengaktifkan Wind Protector berupa angin tornado yang mengelilingi dirinya. Guna melindunginya dari terkaman mendadak. Sementara Garzan menggunakan Hunter Vision yang membuat pergerakannya sulit diprediksi.


Ditengah kebingungan Shen yang sulit melihat gerakan lawannya. Garzan secepat kilat, mendorong Shen keluar dari medan anginnya. Pertarungan sengit berlanjut. Mereka berdua saling beradu kecerdasan dan ketepatan menyerang. Mereka berdua bertarung sengit sejauh ini.


39 menit kemudian....


Kedua pihak sudah sama-sama lemas. Pertarungan mereka menghancurkan setengah arena. Disaat terakhir, mereka saling adu pukul. Mereka terus memukul satu sama lain, hingga salah satu dari mereka tumbang.


"Pertarungan ini dimenangkan oleh, Shen Ventorian!"


Para penonton bersorak meriah. Shen keluar sebagai pemenang. Para Elementalia yang menyaksikan ini begitu bangga pada Shen dan ternyata kedua orang tua Shen juga berada di stadion, menyaksikan perjuangan putra mereka. Shen men-selebrasikan kemenangannya, lawannya tersungkur di tanah perlahan bangun sempoyongan.


"Ini menyebalkan, aku kalah," ujar Garzan.


"Kau bertarung dengan baik, aku senang bisa menjadi lawan mu dalam uji tanding ini," Shen mengulurkan tangannya.


Sambil tersenyum, Garzan menyambut uluran tangan Shen. Lalu mereka saling merangkul satu sama lain. Semua penonton bertepuk tangan untuk kemenangan Shen.


"Kau hebat, Shen."


"Sungguh kebanggaan ras Elementalia, kau hebat."


Shen dihujani pujian. Sementara ia membantu Garzan untuk berjalan.


"Aku sangat ingin melawan orang menyebalkan sepertimu lagi," ujar Garzan.


"Akan ku nantikan itu," balas Shen.


...**************...


Pertandingan ketiga....


"Selanjutnya, yang akan bertarung di babak ini adalah Darius Hunt melawan Agni Dragnar. Di harapkan kedua pihak untuk bersiap, kami berikan waktu 15 menit kepada kalian untuk melakukan persiapan," jelas si pemandu acara.


Di ruang persiapan, Darius sudah merasa sangat siap. Ia keluar dari ruangan untuk menghirup udara sejenak sebelum menghadapi pertarungan ini. Tanpa sengaja, ia bertemu dengan Hilda. Nampak Hilda tengah bersama dengan seseorang yang sepertinya satu ras dengannya. Hilda tampak sangat menyemangati orang itu.


"Kau pasti menang, kak, tidak ada yang menandingi mu disini," ucap Hilda menyemangati orang yang bersamanya.


"Itu sudah pasti, akan ku tunjukkan kekuatan ras naga kepada lawan ku dan kepada seluruh masyarakat Invandara yang menyaksikan pertandingan ini."


Darius mendengar semua itu, tanpa sengaja. Rupanya, orang itu adalah kakak dari Hilda. Muncul rasa iri dibenak Darius, ia merindukan kebersamaan bersama adiknya. Andai saja Drake disini bersamanya, ia pasti akan mendengar suara sorakan Sang adik yang menyemangati dirinya.


"Membuatku iri saja," batin Darius.


Waktu persiapan berakhir, tiba saatnya untuk uji tanding...


"Baiklah, disisi kanan saya adalah ras manusia pemberani yang sempat viral karena tindakannya, mengalahkan Hydra dengan satu serangan. Darius Hunt!"


Pemandu memperkenalkan Darius. Seluruh penonton langsung terbelalak. Melihat ksatria yang menyelamatkan mereka dari ancaman Hydra, kini hadir di arena.


"Nama belakangnya "Hunt", seingatku orang yang menyandang nama itu adalah bangsawan keturunan Raja Drake Hunt."


"Bangsawan Hunt terkenal dengan sihir mereka, tapi aku tidak merasakan adanya aura sihir pada dirinya. Mungkinkah dia menyembunyikannya?"


"Jadi dia seorang "Hunt" "


Seluruh penonton menggosipkan itu. Sementara itu, pemandu acara agak bingung. Di data yang diterimanya, Darius adalah ras manusia. Namun Darius memiliki tanduk serta tangan menyerupai cakar layaknya monster. Ini membuat si pemandu acara bertanya-tanya.


"Apa kau sungguh manusia?" tanya pembawa acara kepada Darius, sambil menunjuk ke arah tanduk Darius.


"Entahlah, aku sendiri ragu," jawaban yang tidak memuaskan.


Pemandu acara mengesampingkan hal itu. Lalu memperkenalkan orang yang akan menjadi lawan Darius. Sesosok naga jantan dari Arcmare yaitu daerah terpencil di Invandara. Sudah pernah menaklukkan lima monster buas seorang diri.


"Mari kita sambut, Agni Dragnar!"


Sang lawan menunjukkan diri, Darius agak terkejut. Ternyata lawannya adalah orang yang di semangati oleh Hilda beberapa saat lalu. Rupanya dialah yang bernama Agni Dragnar, kakak laki-laki Hilda.


Sementara itu, Hilda bersama dengan teman satu rasnya yang bernama Jivan tengah duduk di kursi penonton. Menyaksikan kakaknya yang akan bertarung di arena.


"Kak Agni pasti akan menang dengan mudah," ucap Jivan. Hilda tersenyum mendengar itu.


"Tentu saja, karena kakak lebih kuat dariku," respon Hilda.


Pengawas ujian datang diantara kedua peserta yang akan bertarung.


"Kalian siap?" tanya si pengawas.


Mereka berdua mengangguk.


"Baiklah, ujian tanding akan dimulai dalam hitungan. 1.... 2... 3..."


Dor!


Pertandingan pun dimulai. Agni langsung menerjang Darius dengan cepat. Hanya dengan satu pukulan, Agni yang niatnya menerjang malah terpental hingga keluar stadion.


BLUAARR...!!!


Suara dentuman keras terdengar. Semua penonton tercengang, Agni yang perkasa baru saja terhempas jauh. Hilda tidak percaya dengan apa yang ia saksikan, tidak mungkin kakaknya kalah secepat ini.


"Eh? apa pukulan yang terlalu keras?" Darius sendiri merasa bingung, ia tidak menyangka dampaknya akan seperti itu


"Apa yang terjadi?! kemana perginya Agni?!" sontak kejut pemandu acara.


Drone pengawas menemukan keberadaan Agni yang terkapar 500 meter jauhnya dari stadion. Mereka menyaksikan itu di sebuah layar besar yang terpapang di stadion uji tanding. Rasa kejut dan tak percaya memenuhi nuansa di stadion uji tanding saat ini.


Nampak Agni tersadar, ia bangkit dari posisi terkapar lalu terbang cepat, kembali ke stadion. Tubuhnya bercucuran darah akibat serangan Darius.


"Kakak...," Hilda tidak mampu berkata, melihat kakaknya yang terluka parah dalam waktu singkat.


Dalam keadaan terdesak, dengan terpaksa Agni mengeluarkan Agni's Dawn Blade. Pedang lahar yang digunakannya untuk membantai para monster 12 tahun yang lalu.


Ia tidak menyangka akan bertemu dengan lawan sekuat ini.


"Sepertinya aku sudah terlalu meremehkan mu, tapi kali ini kaulah yang akan kalah," ucap Agni, ia sedikit terengah.


Pedang lahar Agni mulai menyala, dengan kecepatan tinggi yang menimbulkan hempasan angin kencang yang membuat seluruh penonton berteriak. Agni kembali menyerang Darius.


"YIAAHHH!!!!" teriak Agni.


Tebasan hampir sampai ke Darius. Namun untuk kedua kalinya, Agni terpental jauh hingga keluar stadion lantaran pukulan Darius. Pedang laharnya pun juga patah terkena hantaman tinju dari Darius. Seluruh penonton yang menyaksikan pertandingan ini hanya dapat membisu.


Mereka baru saja menyaksikan sebuah kegilaan. Seseorang yang mengalahkan naga dalam waktu singkat. Terlihat di layar besar, Agni yang terkapar lemas tak sadarkan diri.


"Pemenangnya adalah Darius Hunt!"


Seluruh penonton bersorak kagum atas kehebatan Darius. Kata "hebat" saja tak cukup untuk mencerminkan sosok Darius Hunt. Sementara Darius menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, lantaran tidak menyangka akan menang secepat ini.


Hilda kini mematung diam, seolah semua yang ia saksikan hanyalah mimpi yang tak mungkin terjadi. Baru saja ia melihat kakaknya dikalahkan dalam kurun waktu kurang dari satu menit. Ini mustahil baginya.


"T... tidak mungkin, k..kakak..."


Ia tidak dapat berkata apa-apa lagi, yang bisa dilakukannya adalah meratapi kekalahan kakaknya.


Bersambung....