Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 80:Taring yang tersembunyi



POV Chole Avesta Hunt.


"Aku harus pergi, maaf sudah merepotkan."


Darius langsung pergi keluar kamar, meninggalkan Chloe yang bingung setengah mati bahkan tidak sempat menanyakan kemana ia akan pergi.


"Apa yang harus kulakukan sekarang?"


Chloe merasa bingung sendiri tanpa tahu apa yang harus ia lakukan, pada akhirnya ia merapikan segala sesuatu yang berantakan di kamar itu.


"Kenapa malah aku yang melakukan semua ini?" ia sendiri tidak tahu jawabannya.


Setelah semuanya rapi, ia pun segera keluar dari kamar, bersamaan dengan Mara yang hendak menemui Darius. Mereka berdua bertemu tepat didepan pintu dan saling menatap satu sama lain.


"Kau? apa yang kau lakukan disini?" tanya Mara.


"Ssss... saya..., ummm... barusan....," jawab gugup Chloe.


"Bicara yang benar, apa yang kau lakukan dikamar nya? apa dia didalam?" desak Mara hingga Chloe pun gagap.


"Bb... begini..."


"Mara...!"


Seseorang terdengar memanggil Mara dari arah lorong, itu adalah Komandan Seirus yang baru bangun dari tidurnya, rambutnya masih berantakan begitu juga pakaiannya.


"Dimana Darius? apa lagi trick yang kau mainkan kali ini?"


"Aku saat ini juga sedang ingin menemuinya," jawab Mara.


"Se... sebenarnya Darius sudah keluar kamar beberapa saat lalu, dia tidak bilang ingin pergi kemana namun sepertinya dia terburu-buru," sahut Chloe menengahi percakapan mereka.


"Apa? pergi kemana dia?"


Sekarang yang bingung bukan hanya Chloe seorang.


"Ada apa ribut-ribut begini? bukankah ini masih pagi?"


Tepat saat mereka menoleh ke sumber suara, mereka menemukan orang yang mereka cari dan dia tidak datang sendiri.  Ada Ratu yang mendampinginya, nampaknya Darius sempat tersesat di area mansion sebelum akhirnya bertemu dengan Ratu.


"Selamat pagi semua," salam Ratu.


Mereka pun  membalas dengan menundukkan kepala.


"Mara, mengapa kau tidak mendampingi anggota baru kita? ia baru saja tersesat di lorong ruang pustaka," tegur Ratu.


"Tu... tunggu dulu, akulah yang ceroboh, aku hendak mencari Komandan Seirus dan yang lain namun karena terburu-buru jadi tak terpikir olehku untuk meminta bantuan Mara terlebih dahulu," sahut Darius menengahi.


Kehadiran ratu memberi tekanan tersendiri bagi Chloe dan itu membuatnya bertambah gerogi, ia pun mohon permisi sebelum ada pertanyaan yang lebih intense lagi terlontar padanya.


"Ratu, saya mohon permisi, pagi ini adalah jadwal piket saya untuk menyiapkan gulungan sihir di ruang perlengkapan," ucap lirih Chloe.


"Pergilah, lakukan tugasmu."


"Baik."


Chloe pergi dengan sangat terburu-buru, sambil  terus diperhatikan oleh Mara.


Bergegas ia menuju kamarnya, jantungnya berdegup kencang, bersamaan dengan berderingnya ponsel di saku celananya.


Tertera dilayar ponselnya nomor tak dikenal tengah menghubunginya, dengan lekas ia mengangkat panggilan itu...


"Bisakah kau tidak terlalu sering menghubungiku? kebiasaanmu ini dapat membunuhku," ucap Chloe panik.


"Aku hanya khawatir padamu, bagaimana pekerjaan mu disana?"


"Aku baik-baik saja dan sejauh ini pekerjaanku lancar, apakah ada perintah baru?" balas tanya Chloe.


"Rencana pengambil alihan akan dipercepat, tapi sebelum itu kami ingin tahu apa yang kau dapat ."


Chloe menarik nafas panjang....


Selama 30 menit lamanya Chloe bercakap panjang dengan seseorang yang menghubunginya, hingga pada akhirnya pecakapan mereka berakhir.


"Kerja bagus Chloe, aku sudah mencatat semuanya, sekarang lanjutkan pekerjaanmu dan berhati-hatilah, juga ingatlah selalu bahwa masa depan kita semua bergantung pada peranmu ini."


"Aku paham, sampai jumpa lagi."


Chloe menutup telfon nya, ia merapikan rambutnya lalu kembali mengerjakan tugas rutin nya di Casteral mansion.


*******


POV Darius.


Seusai Mara mendapat teguran, ia pun kembali diberi tugas untuk membimbing Darius agar lebih mengenal lingkungan mansion. Seirus pun diizinkan ikut untuk menemani Darius, padahal hubungan antara dia dan Mara sangatlah keruh.


"Kalau begitu aku pergi dulu, kali ini jangan sampai tersesat lagi."


Ratu pergi menuju ruang singgasana.


"Dimana Raven dan Komandan Deri?" bisik Darius.


"Mereka berada dikamar yang berada dilantai 2, aku lupa berapa nomor kamarnya tapi aku tahu letaknya," balas Seirus.


"Baiklah, seperti yang dikatakan Ratu, aku harus mengajakmu mengenal lingkungan mansion, jadi sekarang ikutlah denganku," ujar Mara sambil memandu arah.


"Kita harus waspada."


Perjalanan berkeliling mansion pun dimulai, begitu banyak tempat yang Mara perkenalkan dan salah satunya adalah Trial Area, yakni tempat dimana para Hunt menguji perkembangan kekuatan sihir mereka atau menguji sihir ciptaan mereka sendiri. Ditempat ini Darius langsung menjadi buah bibir, entah apa pendapat para Hunt disana terhadap Darius, yang pasti ratusan pasang mata sedang menatapinya saat ini.


"Hei, anak baru."


Seseorang menyapa dari belakang.


Seorang pria berambut silver menghampiri dengan menggenggam tongkat sihir ditangannya...


"Selamat pagi, komandan Mara, maaf tidak menyapa anda terlebih dahulu," pria itu tersenyum kikuk.


"Kau selalu saja begitu," balas Mara.


Pria itu mengulurkan tangannya lalu memperkenalkan diri...


"Namaku Julian, senang bertemu dengamu."


Darius menjabat tangan nya.


"Kudengar kau berhasil mengalahkan Komandan Mara, jadi aku tertarik untuk berlatih dengamu nanti," bisik Julian, ucapannya agak menyindir jadi ia berbisik.


"Ehmmm..... Julian, aku dengar itu," sahut Mara.


"Ayolah Komandan, aku hanya -eh...."


Mara mengangkat tubuh Julian dengan sihir angin.


"Darius sedang dalam pengenalan lingkungan mansion, jika kau ingin berlatih denganya lain waktu saja," ucap Mara sambil tersemyum tetapi raut wajahnya nampak sangat kesal.


"Tunggu dulu komandan... tunggu, aku hanya... UWAAAAAAAAAAAA.....!"


Mara melempar Julian keluar jendela, orang-orang yang meyaksikan itu pun terdiam seolah tidak melihat apa-apa.


"Baiklah, mari kita lanjutkan."


Perjalanan berlanjut ke perpustakaan dan lab uji bahan, kedua tempat itu bersebelahan.


Biasanya para Hunt mempelajari suatu bahan dari buku perpustakaan lalu mereka mencari dan menguji bahan tersebut di lab, beberapa Hunt yang cerdas telah berhasil menciptakan bahan dan senjata baru yang membuat keuntungan bangsawan ini berkembang pesat.


Darius sempat mengambil salah satu buku sejarah disitu lalu memeriksanya dengan cepat, sejarah didalamnya persis seperti yang dikatakan Mara, alur sejarahnya berbeda dari yang seharusnya dan nama Darius tidak terlalu banyak dibahas.


"Semuanya tentang pencapaian Drake disini tertulis dengan baik, tentang aku dan rekan-rekanku tidak lengkap tanpa ada keterangan mendetail, juga...."


Darius melihat suatu bab yang membahas tentang keturunan Drake seusai wafatnya, sayangnya bab itu seperti terpotong atau tidak lengkap tetapi nama keturunan Drake telah disebutkan.


"Aleister dan Sonya Hunt....," gumam Darius.


"Darius, jika kau ingin membaca nanti saja," ujar Mara.


"Buku ini seperti nya tidak lengkap, apa ada yang versi lengkapnya?" tanya Darius.


Mara melihat jenis buku yang Darius baca.


"Oh, kau dapat menemukan versi lengkapnya di Casteral Library, untuk saat ini sedang ada renovasi disana jadi kau belum bisa kesana," jelas Mara.


"Cih, sungguh tidak beruntung, apa mungkin Mara tahu detailnya?" batin Darius.


"Mara, apa kau tahu apa yang terjadi pada keturunan Drake setelah ia wafat?" tanya polos Darius.


Hampir seisi perpustakaan melihat ke arahnya lantaran ia menyebut nama Drake tanpa menambahkan sebutan "Yang Mulia".


"Kau bodoh ya, nama yang mulia Drake tidak boleh diucapkan seperti itu," ucap lirh Mara sambil menoleh ke sekitar.


Mereka keluar dari perputakaan, lalu Mara menegur Darius karena perkataanya.


"Jangan bicara seperti itu lagi, kau sangat sembarangan."


"Kalau kau tahu cepat katakan," ujar Darius mengabaikan teguran.


"Ok, akan kuberitahu..., keturunan Yang Mulia Drake yaitu Pangeran  Aleister dan Putri Sonya, mereka bekerja sama membangun kerajaan setelah wafatnya ayahanda mereka..."


Berdasarkan penjelasan dari Mara, kedua anak Drake memiliki pemahaman dan kegemaran masing-masing sehingga keturunan Hunt terbagi menjadi jenis 2 yaitu Hunt dari keturunan Aleister dan dari keturunan Sonya.


Perbedaan antar keduanya terlihat jelas dari apa yang mereka percaya dan pahami, dimana keturunan Aleister memuja ilmu sihir sedangkan keturunan Sonya mengemban ilmu bersenjata mulai dari pedang hingga senjata jarak jauh.


Berdasarkan sejarah yang Mara ketahui, setelah 80 tahun sepeninggal Sonya Hunt akibat sakit, keturunan Sonya melakukan kudeta pada keturunan Aleister karena perebutan kekuasaan dan wewenang dalam mengatur kerajaan, juga keturunan Sonya merasa di anak tirikan oleh keturunan Aleister yang pada masa itu menjabat.


Padahal menurut pengakuan keturunan Aleister, semuanya di sama ratakan pada masa itu, mulai dari hak menempuh pendidikan sampai berdagang. Keturunan Sonya pun dituding serakah hingga terjadi perang saudara antar keduanya, pada akhirnya perang tersebut menewaskan seluruh keturunan Sonya.


Aleister yang pada masa itu masih hidup, sangat menyesalkan terjadinya perang saudara tersebut. Apalagi yang ia hadapi adalah keturunan kakaknya sendiri, dengan berakhirnya perang maka keturunan Aleister yang menguasai kerajaan secara total.


Begitulah yang diketahui oleh Mara sejauh ini.


"Rasanya ada yang ganjil, mungkin sisanya harus ku cari sendiri," batin Darius.


"Kau sudah puas? sekarang ayo kita lanjutkan," ujar Mara, ia pun kembali memandu arah.


Mereka lanjut berkeliling, sepasang mata mengintai mengawasi dari belakang tanpa mereka sadari.


Bersambung.....