Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 69: Dibalik keabadian



POV Ratu Hunt.


Ratu berteleportasi ke ruang perlengkapan miliknya untuk memakai baju zirah, terlihat zirah cantik, kokoh dan berkilau dengan desain anggun serta dihiasi berbagai jenis permata di kedua bagian bahu.


Keseluruhan zirah Ratu terbuat dari logam mulia langka menyerupai platinum yang bernama Sky metal, di bagian dahi nya terdapat hiasan berupa permata biru safir yang indah.


Seluruh perlengkapan mewah itu kini menempel pada tubuh Sang Ratu, memberikan perlindungan tiada banding.


Persiapan telah selesai, segera Ratu keluar dari sana dan pergi menuju gerbang keluar.


Seluruh Hunt berbaris rapi secara otomatis ketika melihat Ratu mereka dalam kondisi siap bertempur, disusul kehadiran Mara yang sudah full armored serta membawa Absolute Weapon yang bernama Orion.


Hunt dengan kekuatan penuh bersiap untuk maju ke medan tempur dengan membawa 500 personil ahli sihir tingkat atas, biasanya Ratu akan memberikan motivasi terlebih dahulu sebelum membawa pasukannya ke medan tempur tapi karena kondisi darurat jadi ia langsung memerintahkan kepada pasukannya untuk bergerak.


Dibawah pimpinan Ratu mereka, para Hunt berbaris rapi didepan gerbang keluar.


Ratu tidak membawa seluruh anggotanya, hanya para ahli sihir tingkat atas saja.


Ia sengaja meninggalkan para anggotanya yang ahli sihir tingkat menengah, karena mereka lebih cocok menangani para penduduk yang terluka.


Dikala gerbang mansion terbuka, mereka melihat pemandangan yang tidak pernah mereka bayangkan.


Evo, Caroline, Arnoldi, Teresha beserta rekan-rekan mereka yang lain telah pulang dengan kondisi memprihatinkan, mereka semua kehabisan energi dan terluka.


Para Hunt yang pangkatnya lebih rendah dari mereka seketika tercengang hebat melihat para komandan mereka telah pulang dengan kaki pincang, raut wajah mereka yang biasanya percaya diri kini tergantikan dengan wajah lusuh dan kesakitan.


Mara dan beberapa bawah yang lain lekas membantu mereka semua, Evo dibopong menuju ruang medis bersama dengan Arnoldi dan Teresha sedangkan Caroline tetap disana untuk melaporkan apa yang ia lihat.


Caroline melapor kepada Ratu, setiap katanya juga terdengar oleh para Hunt yang lain.


Ketika Caroline telah selesai melapor...


"Ini sulit dipercaya walaupun kau yang melaporkannya, ternyata di dunia ini ada makhluk seperti itu," ucap Mara menanggapi laporan Caroline.


"Sihir seakan tak berefek terhadapnya, sejauh ini yang dapat melukainya hanya serangan fisik saja," ucap Caroline.


"Monster itu seakan abadi katamu?" tanya Ratu.


"Benar Ratu, dia sudah terbunuh beberapa kali namun selalu saja kembali hidup," jawab Caroline.


"Menarik, kita lihat apa monster itu masih akan bangun setelah ku hanguskan," ucap Ratu penuh percaya diri.


"T..., t..., ttapi Ratu, dia begitu resistance terhadap sihir," tukas Caroline mengingatkan.


"Apa kau baru saja meragukan kemampuan Ratu mu?" tanya Ratu, seketika membuat Caroline terdiam kaku.


"Aku berada di tingkatan berbeda dari kalian semua, apa kalian ragu padaku?" tanya Ratu kedua kalinya.


"Tidak Yang Mulia."


Seluruh Hunt menjawab dengan kompak.


"Bagus jika begitu, selama kalian percaya padaku dan keputusan yang kuberikan derajat akan selamanya mulia di mataku," puji Ratu kepada para bawahannya.


Ratu kembali fokus kepada Caroline.


"Pergilah ke ruang medis, obati lukamu dan makanlah untuk meregenerasi enemy mu, aku sangat senang kau bisa pulang dengan selamat," perintah Ratu.


"Terima kasih atas kemurahan hati anda Yang Mulia, maaf atas kegagalan saya yang membuat anda kecewa."


Caroline undur diri dari hadapan Ratu dengan penuh rasa malu akibat kegagalan.


"Sebetulnya kau tidak perlu minta maaf, aku sudah punya firasat akan semua ini," batin Ratu selepas Caroline pergi.


Kini Ratu kembali memimpin pasukannya, ia memerintahkan Mara untuk menyiapkan mantra teleportasi untuk berangkat, lingkaran sihir yang begitu besar pun muncul.


Dengan dibantu 50 pasukan yang lain, teleportasi pun siap untuk diaktifkan.


"Persiapan sudah selesai, menunggu perintah untuk berangkat...!"


Ucap tegas Mara.


"Bagus..., kita berangkat sekarang...!"


Perintah Ratu.


"Baik, kita berangkat...!"


Lingkaran sihir perlahan menjadi lebih terang, teleportasi pun diaktifkan.


...********...


Di lokasi pertarungan...


Saat ini Nanta tidak berhenti memandangi otot lengan Darius dengan mata berbinar, baru pertama kali dia melihat otot yang lebih kuat dibandingkan dengan teknik pedang terkuatnya.


"Hey bangun."


Plak !


Sedikit tamparan keras cukup untuk membuat Hilda siuman.


"Aduh pipiku, berapa lama aku pingsan?" tanya Hilda.


"Kurang dari 3 menit, bangunlah," jawab Darius.


Hilda bangun dalam keadaan terhuyung, bersamaan dengan itu pula kedatangan pasukan Hunt.


"Sudah kuduga kau akan datang," ujar Darius.


Lingkaran teleportasi muncul tepat dibelakang mereka disertai munculnya pasukan Hunt yang begitu banyak, dibawah kepemimpinan Ratu.


Ratu terkejut melihat medan pertempuran yang sudah sepi dan adanya bangkai monster yang dalam kondisi setengah hancur.


"Apa yang terjadi disini? dimana monster itu?" tanya Ratu.


"Itu disana, aku baru saja membunuhnya," balas Darius seraya menunjuk ke arah bangkai monster.


Para bawahan Ratu tercengang melihat ukuran bangkai tersebut serta darah yang begitu banyak berceceran dimana-mana.


"Jadi kau yang sudah mengalahkannya? aku tidak percaya," ujar Ratu.


"Aku selalu melakukan sesuatu yang mustahil di matamu Ratu, harusnya sebagai Ratu kau tahu pribahasa bahwa langit tidak hanya satu lapis," balas Darius yang seketika membuat Ratu geram.


"Kau gadungan, mengatakan hal seperti itu kepadaku," tukas Ratu.


"Masih ingin berdebat? akan lebih baik jika kita mengurus semua kekacauan ini bersama, utamakan penduduk terlebih dahulu," balas Darius membuat Ratu tidak dapat berkata apa-apa lagi.


Ratu sangat kesal terhadap Darius, tapi ia tidak bisa memungkiri kalau perkataan orang yang ia benci ada benarnya.


Ini bukan saat yang tepat untuk memberikan hukuman kepada Darius, apa lagi kondisi kota saat ini sangat kacau balau.


"Akan ku ampuni kau kali ini, tapi lain waktu kau akan menerima akibatnya," ujar tegas Ratu.


"Terima kasih atas kemurahan hati mu, lebih baik kau bersiap-siap karena tamu kita masih belum mati," tukas Darius.


"Apa maksudmu?"


Disela-sela percakapan mereka, bangkai monster yang hancur perlahan kembali meregenerasi, seluruh anggota tubuh monster itu menyatu kembali.


Sosok monster yang baru saja tumbang kini telah bangkit dan mengaum keras.


"Masih hidup? astaga, apakah monster ini tidak bisa mati...?!" ujar keras Nanta.


"Selama dia terkena sinar matahari, dia akan terus bangkit," sahut Darius.


"Eh? kau mengetahui kemampuan makhluk itu?" tanya Nanta.


"Tentu saja, dia seekor Haos Manticore yang memakan energi cahaya untuk bertahan hidup, semua orang tahu itu," balas Darius.


Yang benar adalah semua orang pada masa kerajaan Ezius mengetahui kemampuan makhluk bernama Manticore ini, sedangkan orang-orang di zaman ini tidak pernah mengetahui keberadaan Manticore karena sudah tidak ada buku yang mencatat sejarah tentang makhluk ini.


"Mengapa kau tidak mengatakan itu dari awal?" tanya Nanta.


"Kupikir kau sudah mengetahuinya, lagi pula diantara kita tidak ada yang memiliki kemampuan untuk menghalangi sinar matahari," jawab Darius dengan polosnya.


Sementara itu wujud Manticore kini sudah mulai sempurna.


"Ucapanmu ada benarnya, berarti yang kita lakukan sedari tadi hanyalah menahan monster ini saja," ucap Nanta.


"Benar, menahannya sampai dia (Ratu Hunt) datang kemari, hanya dia yang memiliki kemampuan untuk menutupi sinar matahari," tukas Darius penuh rasa percaya diri.


Nanta baru menyadari bahwa sedari tadi Darius telah menyusun rencana, terukir senyuman senang di wajah Darius yang menandakan bahwa rencananya telah berjalan dengan baik.


Darius merenggangkan otot-ototnya yang pegal sementara para pasukan Hunt sudah masuk formasi bertarung.


"Semuanya bersiap untuk menyerang...!"


Perintah tegas Sang Ratu.


Seluruh pasukan Hunt menyiapkan peluru sihir mereka, beserta jebakan ranjau sihir peledak.


Hilda sudah merasa lebih baik dan ia siap untuk kembali maju, kali ini dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.


"Monster itu akan ku bakar habis," ucap kesal Hilda.


Bersambung....