
...PERHATIAN BAGI PARA PEMBACA...
...Jangan lupa untuk selalu beri like, vote dan rate. Supaya Author makin semangat untuk menulis cerita ini 😁...
...Silahkan beri saran apabila alur cerita kurang pas atau tidak nyambung. Ini demi kepuasan para pembaca, bila ada alur yang kurang pas akan segera saya perbaiki....
...Selamat membaca 😁😁😁...
...*****************...
Uji tanding telah berakhir. Darius menerima surat kelulusan tes dan resmi menjadi seorang ksatria K.A.O dan besok, akan ada upacara penyambutan untuk para ksatria yang telah lulus. Atas pencapaiannya ini, pelayanannya Raven langsung mengadakan BBQ yang berlokasi di atap gedung Grand Mansion. Yang hadir di acara BBQ itupun hanya mereka berdua saja dan khusus untuk mereka saja.
"Dengan begini, aku bisa menikmati kebersamaan bersama tuan. Tanpa ada gangguan," ucap Raven.
Ia menaruh sebuah daging lobster diatas panggangan. Raven juga menyediakan berbagai daging dan sayuran segar. Minuman, buah-buahan dan menu penutup lainnya. Semua ia sediakan hanya untuk tuannya. Sementara itu, Darius nampak sibuk menghabiskan daging panggang yang baru saja matang.
"Nyam... nyam... aem..," begitu lahap Darius, menyantap semua daging itu.
Ting! Tong! (bel pintu berbunyi).
Seketika, Raven menjadi waspada...
"Siapa yang datang kemari? jangan-jangan gadis manja itu?" pikirannya langsung terfokus pada Mona.
Ia pun mendatangi arah suara itu. Dari kamera Doorbell, terlihat dua orang ksatria dari K.A.O yang bertamu ke rumahnya. Wajah kedua ksatria itu sangatlah tidak asing bagi Raven. ia membukakan pintu untuk kedua tamunya. Mereka yang datang, merasa senang karena telah diizinkan untuk bertamu ke rumah Direktur K.A.O.
"Kalian Sebastian dan Olson, kan? tumben kalian berkunjung kemari," tanya Raven.
"Terima kasih karena sudah mengizinkan kami untuk bertamu. Kami berdua ingin bertemu dengan seseorang bernama Darius Hunt, menurut informasi yang kami dapat, dia tinggal bersama Direktur," jawab Olson.
Raven bertopang dagu...
"Mereka berdua ada perlu dengan tuan? benarkah? memangnya mereka berdua pernah bertemu dengan tuan?" batin Raven.
"Kami ingin mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang ia berikan. Andai kata saat itu dia tidak ada, kami berdua takkan tertolong," jelas Sebastian.
"Saat itu?" tanya Raven dalam batin.
Untuk beberapa saat, pikiran Raven dipenuhi tanda tanya. Raven akhirnya teringat, kejadian saat seekor Hydra yang menyerang kota Tideo. Saat itu, Darius menyelamatkan kedua ksatria ini, saat Hydra hendak menghabisi mereka ( Chapter 8).
"Oh... begitu rupanya, baiklah. Silahkan masuk, akan ku antar kalian berdua untuk menemuinya," ucap Raven.
Dengan senang hati, mereka berdua diantar menuju atap, untuk menemui Darius. Darius yang tengah makan pun tercuri perhatiannya karena kehadiran mereka berdua.
"Selamat sore, maaf mengganggu waktu makan mu," sapa Sebas.
"Kalian....., kedua ksatria yang melawan Hydra waktu itu, bukan?" tanya Darius.
"Iya, benar. Kami berdua ingin berterima kasih atas pertolonganmu waktu itu. Berkat kau, kami masih bisa hidup untuk melindungi kota ini," balas Olson.
Darius menghampiri mereka, lalu menepuk kedua pundak mereka. Olson dan Sebas merasa agak gugup dibuatnya.
"Tak perlu berterima kasih. Ksatria seperti kalian berdua tidak boleh tiada dalam waktu cepat. Kota ini, negeri ini, beserta seluruh penduduk disini. Membutuhkan ksatria sejati seperti kalian berdua. Aku yakin, selama ada kalian, para penduduk disini akan merasa aman," puji Darius.
Mendengar pujian itu, mereka berdua merasa agak bimbang. Mereka senang dipuji oleh Darius, namun pada kenyataannya mereka berdua masih belum cukup kuat untuk melindungi kota ini. Mereka jadi kurang percaya diri, meskipun sedang dipuji.
"Tapi..., kami berdua masih memiliki banyak kekurangan. Padahal kami sudah mencapai Class S (tingkatan ksatria tertinggi K.A.O). Ternyata semua itu masih belum cukup bagi kami untuk menjadi cukup kuat agar bisa melindungi kota ini. Melindungi kota saja kami kewalahan, mustahil bagi kami untuk bisa melindungi seluruh penduduk di negeri ini," ucap Sebas, kurang percaya diri. Ia merasa ragu pada dirinya sendiri.
Mendadak dan tanpa ragu, Darius menepuk bagian atas kepala Sebas. Sebas pun tersontak kejut dibuatnya. Olson pun juga bereaksi demikian. Perlahan, tangan besar Darius mengusap kepala Sebas yang mematung karena terkejut.
"Jangan meragukan dirimu dan jalan ksatria yang kau tempuh. Yakinlah, lampaui keraguan mu itu. Ingat, keraguan adalah cikal bakal awal dari sebuah kegagalan. Tetaplah maju, jadilah seorang ksatria sejati yang mengayunkan pedang untuk mereka yang perlu dilindungi. Aku akan selalu mendukung orang yang berani bertaruh nyawa melindungi untuk mereka yang lemah."
Sebas terdiam kagum, mendengar itu. Ucapan yang ia dengar, seolah menghapus keraguan terhadap dirinya sendiri dan kembali mengobarkan semangat serta menguatkan tekadnya. Meski hanya sebatas ucapan, namun ucapan itu memberikan kesan yang membekas dihatinya.
"T...t... terima kasih. Aku akan berusaha keras untuk menjadi ksatria yang dapat melindungi kota dan seluruh negeri ini," ucap Sebas penuh keyakinan.
Darius melepaskan tangannya dari kepala Sebas, lalu tersenyum lebar kepadanya.
"Begitulah semangat seorang ksatria."
Hanya dalam beberapa menit. Darius bisa akrab dengan kedua ksatria Class S itu. Karena mereka sudah bertamu, maka Raven pun mengajak mereka berdua untuk ikut serta dalam BBQ. Olson dan Sebas menerima ajakan itu dengan senang hati.
"Beraninya kau mengadakan pesta tanpa mengundangku."
Darius nyaris tersedak. Hilda dan Jivan muncul tanpa diduga. Mereka terbang sambil meratapi Darius beserta yang lain sedang mengadakan BBQ di atap Grand Mansion.
"Kenapa kau tiba-tiba datang kemari?" tanya Darius.
"Aku mencium bau yang sedap saat hendak pulang dari supermarket. Itu menarik perhatianku, jadi mengikuti arah datangnya bau itu hingga sampai kemari," jawab Hilda.
"Lalu, kau?" tanya Darius kepada Jivan.
"Eh...., kami pun juga sama. Bau sedap ini menarik perhatian kami. Rupanya asalnya dari kalian yang sedang BBQ," jawab Jivan.
Hilda turun mendatangi Darius dan yang lain.., disusul oleh Jivan.
"Apapun alasannya, aku harus ikut dalam BBQ ini. Tidak boleh ada yang protes," ucap Hilda dengan seenaknya.
"Hilda, jaga bicaramu. Kita sedang berada di kediaman pak Direktur," tukas Jivan, ia merasa tidak enak pada Raven.
"Serius? kami boleh ikut bergabung?" tanya Jivan, kedua matanya berbinar.
"Tentu saja, semakin ramai semakin baik," jawab Raven, setengah hati.
Pesta BBQ ini pun semakin ramai. Nuansa berubah menjadi begitu meriah. Padahal Raven membuat semua ini untuk menikmati kebersamaan bersama tuannya.
"Ya sudahlah, jika ini dapat membuat tuan merasa senang, aku tidak akan keberatan," batin Raven.
Pesta BBQ ini pun berlanjut...
...****************...
Tanpa tahu apa yang terjadi. Darius merasa kebingungan. Ia mendapati dirinya berada di sebuah tempat yang begitu putih dan kosong. Seingatnya, beberapa saat lalu ia sedang makan dalam pesta BBQ bersama dengan Raven dan yang lain. Tapi mengapa sekarang dirinya berada di tempat yang begitu hampa ini. Apa yang terjadi?
"Dimana ini? apa ada orang disini?!" teriak Darius. Ia tidak mendapat respon dari siapapun. Ia benar-benar sendirian di tempat aneh ini.
"Bagaimana aku bisa berada disini?" batin Darius.
Sekilas, ia melihat bayangan seseorang dihadapannya. Bayangan itu perlahan membentuk sosok yang samar. Semakin dipandang, wujud sosok itu semakin jelas. Hingga Darius bisa mengenali siapa sosok itu.
"I.. itu. Drake..."
Darius berlari menghampiri adiknya itu, penuh kerinduan. Sementara, Drake hanya terdiam. Meratapi kakaknya yang berlari menghampiri dirinya.
"Drake!" teriak Darius, sembari mempercepat laju larinya.
Bibir Drake bergerak, seolah hendak mengucapkan sesuatu...
"Selamatkan mereka....,"
Darius mendengar jelas ucapan adiknya itu.
"Mereka? mereka siapa? apa maksudmu, Drake?" tanya Darius. Laju kecepatan larinya semakin cepat.
"Kumohon, kak. Selamat mereka," ucap Drake kedua kalinya, disertai tetesan air mata.
"Apa maksudmu? siapa yang harus ku selamatkan?"
Ia masih tidak mengerti perkataan adiknya. Darius masih tetap berlari untuk menggapai Drake yang ada didepan mata. Wujud Drake perlahan pudar, bagai debu yang tertiup angin. Darius yang menyaksikan itu, melaju semakin cepat hingga batas maksimalnya.
Sayangnya, semua usahanya itu sia-sia. Tubuh adiknya telah memudar sepenuhnya, sebelum ia sempat menggapainya. Darius merasa terguncang melihat adiknya menghilang dari pandangannya.
"Drake!!!!"
...**************...
Darius terbangun dari tidurnya, jantungnya berdegup kencang dan sekujur tubuhnya berkeringat. Ia mendapati dirinya berada di meja makan.
"Rupanya aku tertidur, berarti yang tadi itu hanya mimpi? entah mengapa, mimpi itu serasa begitu nyata," ucap Darius. Sambil menyentuh dahi.
Ia melihat ke sekelilingnya. Rupanya ia masih berada di atap mansion. Disampingnya, sudah ada Hilda yang tengah tertidur pulas dengan menggenggam sebotol Vodka ular (minuman keras paling populer di Tideo) ditangannya. Sedangkan Olson dan Sebas sudah tidak ada disana. Nampaknya mereka pergi disaat Darius masih tertidur.
"Kakak, sudah bangun?"
Tiba-tiba saja, Mona muncul dari belakang. Ia berhasil mengagetkan Darius.
"Kau ini, tiba-tiba saja mengagetkanku."
"Aku sudah disini, sejak 20 menit lalu. Ketika aku datang, kakak sudah dalam keadaan tertidur," ucap Mona.
Menyadari wajah Darius yang berkeringat dingin. Dengan sigap, Mona langsung mengambilkan sehelai kain untuk Darius.
"Kak, kau berkeringat. Ini untukmu," ucap Mona, seraya memberikan kain itu.
"Terima kasih."
Darius pun mengusap seluruh keringat di wajahnya. Mona meratapi Darius sesaat, ia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari pria yang ada dihadapannya itu. Raut wajahnya begitu gelisah, nafasnya pun terengah-engah. Ini tidak seperti Darius yang biasanya. Apa gerangan yang membuat Darius sampai terengah seperti ini?
"Kau baik-baik saja, kak?" tanya Mona.
"Aku baik-baik saja, aku mendapat mimpi buruk saat tidur tadi. Itu cuma hal sepele," jawab Darius.
"Oh..., mungkin itu yang terjadi jika tidur dengan perut kenyang," ucap Mona, sembari tersenyum.
"Mungkin kau benar. Lain kali, aku tidak akan makan banyak sebelum hendak tidur," tukas Darius.
"Baiklah, akan kuambil kan segelas air untuk kakak."
Mona melangkah riang menuju dapur untuk mengambil segelas air. Sementara itu, pikiran Darius masih terngiang-ngiang oleh mimpi buruk tadi. Ia tidak menduga, mimpi yang menjadi bunga tidur akan terasa begitu nyata.
"Apa itu benar-benar hanya sekedar mimpi?" batin Darius.
Ucapan Drake didalam mimpinya, begitu merekat kuat dipikirannya. Meski begitu, Ia masih belum memahami maksud dari ucapan adiknya. "Tolong selamatkan mereka" itulah yang Drake katakan. Drake mengatakan itu dengan penuh kesungguhan. Darius ragu jika mimpinya ini hanya sekedar bunga tidur belaka. Mimpi ini seolah adalah menjadi sebuah pesan dari Drake untuk dirinya.
"Drake, apa yang telah terjadi padamu? kau ingin aku menyelamatkan siapa?" batin Darius.
Bersambung.....