
Seminggu kemudian....
Di pagi buta.
Darius dijemput oleh Nova beserta para anak buahnya karena hari ini adalah hari pertemuannya dengan pimpinan Seis, seperti yang dijanjikan minggu lalu.
"Bukankah kau bilang aku sendiri yang harus datang kesana?" tanya Darius.
"Pimpinan merubah rencana, ia memerintahkan kepadaku untuk menjemputmu," jawab Nova.
"Pimpinan mu sangat murah hati."
Padahal Darius sudah siap dan berniat berjalan kaki menuju istana perak, segala kerapian pakaiannya sudah diurus oleh Raven sehingga ia tidak perlu khawatir soal penampilan.
Raven memberikan jas hitam terbaiknya lengkap beserta sepatu pantofel hitam dan dasi merah, disini Raven juga memberikan sarung tangan hitam untuk menutupi kuku Darius yang tajam akibat perubahan fisiknya minggu lalu.
Penampilan seperti ini membuatnya merasa asing karena ia belum sepenuhnya beradaptasi dengan fashion masa kini.
"Entah mengapa orang-orang zaman sekarang merasa lebih berwibawa hanya karena sehelai kain merah yang diikatkan pada leher mereka, aku sama sekali tidak paham," batinnya.
Kain merah yang Darius maksud adalah dasi.
"Kau siap untuk berangkat?" tanya Nova.
"Tentu," jawab Darius.
"Aku pergi dulu, Raven."
Pamit nya.
"Baik, berhati-hatilah."
Darius pun ikut bersama mereka, didepan mansion sudah ada sebuah mobil Limosin putih yang siap mengantarnya ke istana perak.
"Silahkan masuk," ujar Nova seraya membukakan pintu mobil.
Dengan senang hati Darius menerima sikap ramah itu, mereka pun langsung berangkat ke istana perak.
Perjalanan yang mereka tempuh memakan waktu yang cukup lama karena letak istana perak sangat jauh dari Grand Mansion, selama perjalanan Nova mengatakan suatu hal kepada Darius.
"Ingatlah, pimpinan adalah orang yang sangat menyukai kesopanan, kuharap kau dapat bersikap seperti itu saat berhadapan dengannya," ujar Nova.
"Jangan khawatir, etiket kerajaan sudah kuhafal diluar kepala," jawab Darius.
Nova pun terdiam sesaat, ia tidak melepaskan pandangannya dari Darius selama perjalanan.
Hingga pada akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, mobil yang mengantar Darius telah memasuki lingkungan istana megah dan luas
Lingkungan yang dihiasi ribuan bunga indah lagi harum, sayangnya semua masih nampak gelap karena mentari belum terlihat sehingga cerahnya warna bebungaan terlihat samar di mata.
"Sudah sampai, ayo kita keluar," ucap Nova.
Mereka pun keluar dari mobil.
Nova beserta anak buahnya langsung mengantarkan tamu mereka kepada pemimpin Seis yang berada di istana utama.
Darius sungguh terpesona dengan desain istana yang memiliki ukiran cantik tersendiri di setiap dindingnya, pemahat pada masa kerajaan Ezius tak ada yang mampu membuat ukiran sedetail itu.
Ini membuatnya tertarik untuk mencari tahu siapa pengukir dari desain cantik pada dinding istana perak, struktur bangunannya pun tak hanya kokoh namun juga mengagumkan.
Nyaris menyamai istana Ezius pada masa pemerintahan Raja Reivan dulu, hanya saja disini terlihat jelas bahwa istana besar ini terbagi menjadi empat.
Saat ini Darius sudah melewati dua istana untuk sampai ke istana utama, para penjaga yang berada di sana langsung memberikan hormat atas kedatangannya.
"Pimpinan sudah menunggu di ruang tahta," ucap si penjaga.
"Jangan izinkan orang lain masuk kemari sebelum tamu belum pulang, paham?" tukas Nova.
"Baik, nona."
Para penjaga mempersilahkan mereka masuk.
Istana utama memiliki bagian dalam yang lebih besar dari yang dikira bahkan lorongnya melampaui besarnya gerbang masuk, ini membuat Darius bernostalgia akan masa-masa dimana ia dan adiknya tinggal bersama di istana.
"Sudah lama sekali aku tidak masuk lingkungan istana, rasanya ingin kembali ke masa itu," batinnya.
Saat melewati salah satu lorong...
Darius mendapati seorang seorang pria berambut merah tengah memperhatikannya dengan tatapan tajam seolah menganggap keberadaannya di sana sangat menggangu, sebisa mungkin ia menghiraukan pria tak dikenal itu.
Ia tidak menyangka akan ada yang menyambutnya dengan tatapan setajam itu.
"Kita sampai," ucap Nova.
Mulai dari sini dia sendirilah yang akan mengantar Darius menemui pimpinan, mereka pun memasuki ruangan dibalik pintu besar itu.
Hal yang pertamakali ditangkap oleh pengelihatan Darius adalah seorang wanita berzirah putih dengan rambut panjang terurai, wanita itu menggenggam sebuah pedang jenis Great Sword di tangannya, pedang itu sejenis dengan pedang yang Darius miliki.
"Selamat datang ksatria Hunt, aku sudah lama menanti mu," ucap wanita itu, menyambut Darius.
Darius membalasnya dengan sikap hormat, ia menundukkan kepala dan meletakkan telapak tangan di dada kirinya.
"Terima kasih sudah mau mengundang saya ke istana megah ini," balas Darius.
Nova yang memperhatikan Darius dari belakang pun bergumam.
"Dia bersikap lebih baik dari yang kukira, baguslah."
Wanita berzirah putih melangkah anggun mendekati Darius, tercium aroma wangi semerbak dari tubuhnya.
"Perkenalkan namaku Eruna Seis, pimpinan utama bangsawan Chariot Seis."
"Nama yang indah untuk seorang ksatria," puji Darius.
"Terima kasih, kau pandai berkata manis, angkat kepala mu dan jabatlah tanganku."
Perlahan Darius mengangkat kepalanya lalu menjabat tangan putih Eruna, tangannya terasa begitu keras saat bersalaman.
"Tangannya terlatih dengan sangat baik, dia pasti sangat tangguh," batin Darius.
Tak berselang lama, mereka selesai bersalaman dan mulai melempar senyum antara satu sama lain.
"Senang bertemu dengan ksatria hebat seperti mu," ucap Eruna.
"Terima kasih atas pujiannya, saya dengar anda ingin merekrut saya untuk bergabung dengan Seis," balas Darius.
"Benar sekali, mari kita bicarakan itu di tempat yang lebih nyaman."
Eruna mengajaknya ke ruangan lain untuk membicarakan hal itu, tak lupa Nova selalu mengawalnya sepanjang waktu.
Berdasarkan apa yang Darius amati saat ini, sosok Eruna Seis adalah wanita sempurna dari segi penampilan, parasnya cantik, murah senyum dan fisiknya terlatih dengan baik.
Wanita seperti ini begitu jarang ditemui, namun ada juga keanehan yang Darius tangkap dari dirinya.
"Wangi tubuhnya semerbak sekali, bahkan terlalu wangi," batin Darius.
Mereka sampai di sebuah ruangan penuh lukisan bernuansa santai lengkap dengan meja serta kursi cantik yang tersusun rapi di sana, juga sudah ada beberapa kue kering dan secangkir minuman panas diatas meja.
"Silahkan duduk," ujar Eruna.
Mereka berdua duduk dengan posisi saling berhadapan dalam jarak yang begitu dekat, dari sini wangi tubuh Eruna semakin terasa hingga membuat Darius merasa agak risih.
"Apa dia memang terlalu banyak memakai wewangian? ini aneh atau mungkin...," batin Darius sambil menjaga senyuman dihadapan Eruna.
Terlintas sebuah dugaan terhadap Eruna di dalam pikiran Darius saat ini.
"Nova, tinggalkan kami berdua, ini perintah."
"Baik."
Lekas Nova pergi dari ruangan itu, meninggalkan mereka berdua.
Eruna menyadari ketidaknyamanan Darius terhadap wanginya, itu membuatnya merasa bersalah terhadap tamunya sendiri.
"Maaf jika aku membuatmu risih, pelayan ku tanpa sengaja menumpahkan parfum hingga mengenaiku, jadi wangi tubuhku terlalu menyengat."
Darius merespon baik terhadap ucapan itu.
"Syukurlah, saya baru saja ingin menanyakan perihal itu," balas Darius sambil menghela nafas.
"Kau terlihat lega mendengar ucapan ku tadi, memangnya ada apa?" tanya Eruna.
"Maaf jika lancang, tapi ayahku pernah berkata kepadaku, aku harus mewaspadai orang yang terlalu wangi," jawab Darius.
Eruna pun heran mendengar itu dan langsung bertanya lagi.
"Bolehkah aku tahu apa alasannya waspada terhadap seseorang yang terlalu wangi?"
"Ada dua alasan mengapa seseorang bisa menjadi terlalu wangi, alasan pertama karena kecerobohan diri sendiri maupun orang lain, lalu alasan kedua adalah..."
Darius menatap serius Eruna...
"... Demi menyembunyikan bau darah."
Bersambung...