Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 15: Hunt yang telah lama hilang



Mata mereka berempat saling bertemu. Tidak terlintas di benak mereka, bahwa Darius akan datang kemari. Hilda sudah gemetaran di depan orang yang memukul jatuh kakaknya.


"Kau, bagaimana kau bisa tahu aku ada disini? untuk apa kau kemari?" tanya Agni.


"Aku meminta seseorang untuk mencari tahu dimana tempat kau dirawat. Aku merasa bersalah karena terlalu berlebihan saat pertarungan tadi, jadi kubawa kan beberapa makanan dan heal potion untuk mu."


Darius meletakkan begitu banyak makanan dan potion disamping Agni. Dari jumlahnya saja, ini tidak bisa dikatakan "beberapa", banyak sekali makanan dan potion yang Darius bawa. Agni dan kawan-kawan tercengang dibuatnya.


"Hey, kau serius membawa semua ini?" tanya Agni kedua kalinya.


"Iya," jawab Darius singkat.


Sekitar 50 botol potion dan makanan. Ini semua adalah wujud permohonan maaf Darius. Hilda tak habis pikir kalau Darius akan melakukan ini. Sementara Jivan sedang bersembunyi di balik pot bunga, padahal itu hanya bisa menutupi hidungnya saja.


"Ehmm..., terima kasih. Tapi aku tidak bisa menerima sesuatu dari orang asing," ucap Agni.


"Aku bukan pengecut yang menaruh racun di dalam segelas anggur. Jadi terimalah," sahut Darius. Agni tak mampu berkata apa-apa.


Hilda sudah memeriksa potion dan makanan yang Darius bawa, semuanya bersih dan murni. Sudah banyak tindak kecurangan yang Agni alami sewaktu masih menjadi petarung gladiator Invandara, itu membuat dirinya menjadi waspada terhadap orang yang belum ia kenal.


"Aku tidak berpikir bahwa dampaknya akan separah ini," ucap Darius meratapi Agni yang terkapar di ranjang rumah sakit.


"Kau, aku tidak yakin kau manusia. Tandukmu itu mirip dengan tanduk milik salah satu ras naga," ucap Agni, menurut pendapatnya.


"Tapi dia tidak memiliki sisik dan sayap seperti kita," sahut Jivan.


Dengan memberanikan diri. Hilda menghadap Darius...


"Siapa kau sebenarnya? apa kau sungguh manusia? lalu, apa benar kau ini Hunt?" tanya Hilda tanpa ragu.


Darius tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Sesaat kemudian, Raven datang bersama dengan Mona yang sedang bersenandung riang.


"Yohoo, kak Darius," sapa Mona.


Atas perintah tuannya, ia mengajak Mona untuk ikut.


"Rupanya kondisi mu separah ini, sungguh diluar dugaan," ucap Raven.


Agni terkejut atas kehadiran Raven, direktur utama K.A.O datang untuk melihatnya. Hilda dan Jivan juga terkejut karenanya.


"Anda direktur K.A.O, bukan? saya tidak menyangka anda akan datang kemari," ucap Hilda.


"Aku hanya ingin memastikan kalau kau tidak tewas, keselamatan peserta uji tanding itu adalah tanggung jawabku juga," balas Raven singkat.


Tanpa melihat situasi, dengan spontan. Mona berfoto ria disana. Semua yang berada di dalam ruangan begitu heran dengan tingkah gadis yang satu ini.


"Hihi, semua fotonya bagus," ucapnya.


Mereka menghiraukan Mona dan kembali ke topik pembicaraan. Kali ini, Hilda menanyakan hal yang sama kepada Raven. Jawaban yang Raven berikan hanya sebatas kata "iya" saja. Itu kurang memuaskan bagi Hilda. Ia tidak setuju dengan jawaban yang ia terima.


"Mana mungkin dia manusia, lihat tanduknya." Hilda menunjuk tanduk Darius.


"Jika soal dia seorang Hunt atau bukan, aku masih percaya bahwa dia adalah Hunt. Meski dia sangat berbeda. Tapi aku tidak setuju jika anda berkata bahwa dia manusia," sambung Hilda.


"Hilda, kau ini tidak sopan dihadapan pak direktur," tegur Jivan.


"Ada penyebab tertentu, yang membuat dia memiliki tanduk dan itu sulit dijelaskan," balas Raven.


Hilda masih kurang puas dengan apa yang ia dengar dari Raven. Sementara itu, Darius bertopang dagu. Ia memikirkan ucapan yang Hilda lontarkan tadi.


"Dia tahu tentang marga Hunt? dan kenapa dia bilang aku adalah Hunt yang berbeda dari yang lain? apa maksudnya?" batin Darius.


Darius mendekat pada Hilda dan menanyakan tentang maksud ucapan Hilda sebelumnya.


"Kau sungguh tidak tahu tentang marga mu sendiri?" tanya Hilda heran.


"Yah..., karena aku dititipkan di panti asuhan di luar Invandara selama bertahun-tahun. Jadi aku tidak tahu apa-apa," jawab Darius dengan asal, ia berusaha menutupi jati dirinya yang asli.


Jawaban Darius membuat Hilda mengerutkan dahi, tapi itu tidak ia hiraukan. Dengan detail, Hilda mulai menjelaskan tentang Hunt yang hidup di era ini. Di zaman ini, marga Hunt adalah bangsawan sihir terkenal. Mereka adalah keturunan asli dari Raja Invandara sekaligus Master sihir tertinggi, Drake Hunt.


Mereka sangat memuliakan ilmu sihir. Dalam bidang sihir, mereka sangat terdepan. Hanya beberapa pihak bangsawan sihir saja yang dapat setara dengan mereka. Terkenal akan keunikan serta kemahiran dalam menggunakan ilmu sihir, membuat marga ini sangat disegani di seluruh dunia.


"Aku berhasil mengalahkannya, namun aku harus dirawat di rumah sakit selama 13 bulan karena luka fatal di sekujur tubuh," ujarnya.


Mendengar semua itu, ada hal yang sedikit mengganjal di pikiran Darius.


"Apakah mereka hanya menguasai sihir saja? atau mungkin mereka menguasai seni beladiri dan berpedang juga?" tanya Darius.


"Mereka semua ahli sihir, mereka tidak mengemban ilmu beladiri dan semacamnya. Karena itulah aku heran kepadamu, kau adalah Hunt pertama dengan kekuatan fisik luar biasa yang belum pernah kulihat. Ini membuatku ingin menampar pipi," jawab Hilda.


Berarti, keturunan Hunt yang sekarang mengikuti jejak adik Darius yang seorang ahli sihir. Andai Darius tidak terjebak di dalam dimensi gelap, mungkin para Hunt akan mengemban ilmu beladiri dan berpedang juga. Waktu untuk uji tanding ke-2 sudah hampir tiba. Darius harus kembali ke stadion uji tanding K.A.O.


"Uji tanding selanjutnya akan segera dimulai, kami harus segera pergi," ucap pamit Raven.


Darius dan Mona mengikuti langkah Raven yang hendak keluar dari ruangan.


"Tunggu," ucap Hilda mendadak.


"Ada apa?" tanya Darius.


Hilda menulis sesuatu di sebuah kertas kosong, lalu memberikannya kepada Darius.


"Datanglah ke alamat ini besok pagi, aku masih ada urusan denganmu."


Itulah pesan terakhir Hilda untuk Darius. Sudah sangat pasti, adik dari Agni masih belum terima atas kekalahan kakaknya. Apalagi, setelah Raven melihat baik-baik alamat yang diberikan oleh Hilda. Alamat itu tertuju ke sebuah daerah lapang yang jauh dari pusat kota. Ini adalah sebuah tantangan untuk Darius.


"Baiklah, aku akan datang," ucap Darius.


"Bye-bye kak naga, semoga cepat sembuh ya," ucap Mona sambil berjalan riang, keluar dari ruangan.


Mereka meninggalkan ruangan itu. Darius langsung menanyakan tentang marga Hunt kepada Raven.


"Saya tidak dekat dengan mereka, tapi mereka sungguh menekuni sihir, sama seperti yang mulia Drake. Dari informasi yang saya dapat, bangsawan Hunt di era ini melarang semua orang dalam marga mereka untuk mengemban ilmu lain selain sihir," jelas Raven.


"Maksudmu, para Hunt hanya boleh mempelajari sihir saja?" tanya Darius.


"Benar sekali, tuan. Saya juga pernah dengar bahwa jika salah satu dari mereka ketahuan mempelajari ilmu lain selain sihir, maka mereka akan menerima hukuman tertentu," jawab Raven.


"Apa-apaan itu?"


Darius merasa kesal mendengarnya...


"Saya sendiri juga heran. Sudah lama saya berusaha menggali informasi mendalam tentang mereka dan berencana mengubah tata hukum mereka. Tapi saya selalu gagal, maafkan saya, tuan."


Mereka melintasi lorong sambil membahas hal itu. Mendadak, sebuah rombongan menghadang jalan mereka. Ini sedikit menimbulkan rasa kejut. Rombongan itu dipimpin oleh seorang pria berjenggot dengan pakaian serba hitam putih.


"Maaf jika saya menggangu, saya adalah pemimpin divisi sihir ke-4 bangsawan Hunt. Nama saya Holmus Hunt," pria itu memperkenalkan diri.


"Sebuah kehormatan bertemu dengan anda, tapi bukankah ini tidak beretika? menghadang langkah kami di tengah jalan," sindir Raven.


"Saya mohon maaf juga untuk itu, ada hal yang ingin saya tanyakan."


Raven menatap serius pria itu...


"Ada apa?" tanya Raven.


"Saya sudah melihat uji tanding tadi dan pihak pemenang mengaku sebagai seorang Hunt. Dia tidak memiliki ilmu sihir, kami sebagai Hunt merasa terhina bila seseorang tanpa ilmu sihir mengaku sebagai salah satu keturunan Hunt," jelas Holmus.


"Saya sangat yakin, bahwa orang itu bukanlah seorang Hunt," Sambung Holmus.


Holmus melirik ke arah Darius...


"Apakah dia orangnya?" tanya Holmus sambil menunjuk ke arah Darius.


Dengan angkuh. Holmus mulai mendekati Darius...


"Siapa namamu?" tanya Holmus dengan sikap lancang.


"Darius Hunt," jawab Darius


Bersambung...