
Nuansa seketika hening. Darius dan Ratu saling menatap satu sama lain. Salah seorang pengawal Ratu, merasa kesal karena tatapan Darius dianggap memandang remeh Sang Ratu.
"Hey, jaga etika mu didepan Ratu. Jangan menatap beliau dengan pandangan seperti itu," tegur si pengawal.
"Ratu? jadi kau seorang ratu?" tanya Darius. Tanpa menunjukkan rasa hormat.
Urat kepala Ratu seketika terlihat, tanda marah. Perkataan Darius dinilai sangat tidak sopan. Ia bahkan tidak memanggil Ratu dengan sebutan Yang Muli. Sungguh perilaku yang tidak beretika.
"Kurang ajar! sudah kuduga kau Hunt gadungan!"
Semua pengawal langsung mengeluarkan senjata sihir mereka. Kebanyakan berupa Staff (tongkat sihir).
"Kalian semua, tenang. Aku yang akan mengatasi ini, lagi pula disini kita adalah tamu. Meskipun aku adalah seorang Ratu, aku harus tetap menghormati tuan rumah disini. Tidak sepatutnya kita mengacungkan senjata saat bertamu, kalian paham?"
para pengawal mengangguk, meskipun mereka masih merasa jengkel.
"Rupanya dia lebih beretika dari yang kukira," gumam Raven.
Ratu menatap ke arah Darius....
"Dia tidak tahu siapa aku? aku mulai meragukan kalau dia adalah Hunt," batin Ratu.
Semua kembali tenang. Ratu memerintahkan bawahannya untuk membawakan data yang ia minta. Bawahan Ratu pun datang dengan membawa sebuah berkas ditangannya. Ratu menunjukkan semua isi berkas itu kepada Darius.
"Apa ini?" tanya Darius, ia tidak mengerti isi dari lembaran-lembaran kertas yang Ratu tunjukkan kepadanya.
"Ini adalah daftar para Hunt yang ada didalam maupun diluar Invandara," jawab Ratu.
"Lalu? kenapa kau menunjukkan ini padaku?" tanya Darius, dengan polosnya.
Ratu jadi semakin kesal karena perilaku serta perkataan Darius sama sekali tidak mencerminkan rasa hormat kepadanya. Tapi sebagai seorang Ratu, Oriery Hunt tetap menjaga image dan wibawanya meski saat ini sedang kesal.
"Namamu tidak terdaftar di data Hunt manapun, baik didalam maupun diluar negeri ini. Jadi kesimpulannya, kau tidak diakui sebagai seorang Hunt oleh bangsawan Hunt sendiri," jawab Ratu.
Darius merasa heran dengan orang yang tengah berbicara dengannya. Sejak kapan nama Hunt yang ia sandang memerlukan persetujuan dari orang seperti dia?
"Tapi, sebagai Ratu yang memimpin bangsawan Hunt. Aku memberikan mu satu kesempatan untuk diakui sebagai Hunt."
"Ha?"
Darius mengangkat sebelah alisnya. Ia tak menyangka kalau wanita dihadapannya adalah pemimpin Hunt di masa sekarang.
"Aku tidak tahu siapa dirimu dan darimana asalmu. Tapi kekuatan mu sangatlah langkah, aura hitam yang kau keluarkan saat uji tanding, memiliki energi yang mirip dengan sihir...," ucap Ratu.
"Memang masih belum bisa dipastikan, itu energi sihir atau bukan. Dari hasil penelitian yang kuterima, kemungkinan besar kekuatan mu itu adalah sihir langka yang telah lama hilang," sambung Ratu.
Ratu menjentikkan jarinya, bawahannya pun langsung datang membawakan secarik kertas.
"Ini adalah surat kesepakatan sekaligus pengesahan. Dengan menandatangani surat ini, maka kau akan resmi diakui sebagai seorang Hunt, tentu ini bersyarat," jelas Ratu.
Ada prasangka mengganjal yang Darius rasakan terkait syarat dalam kesepakatan ini. Syarat apa yang akan Ratu berikan?
"Apa syarat yang kau maksud?" tanya Darius.
"Syaratnya sederhana, kau harus mematuhi hukum bangsawan Hunt. Memuliakan sihir dan menjadikan sihir sebagai satu-satunya senjata mu," jawab Ratu.
Itulah persyaratan dari Ratu. Darius menghela nafas setelah mendengarkan ucapan Ratu.
"Bagaimana? tawaran yang bagus, bukan? dengan begini, kau akan menjadi Hunt yang resmi diakui. Kau pun akan mendapat bimbingan untuk meningkatkan potensi kekuatan langka mu itu, bangsawan Hunt akan sangat senang jika memiliki sosok kuat sepertimu. Jangan sia-siakan kesempatan yang kuberikan ini," ucap Ratu.
Perlahan, Darius mengembalikan surat pengesahan itu kepada Ratu. Seisi ruangan tercengang hebat, berdasarkan cara Darius mengembalikan surat pengesahan tersebut kepada Ratu. Maka sudah jelas bahwa Darius menolak tawaran itu.
"Maaf, kesepakatan ini tak bisa ku setujui," ucap Darius.
"Apa kau sudah gila?! Yang Mulia baru saja menawarkan tawaran langka yang tidak pernah ia tawarkan kepada orang lain. Kau berani menolak tawaran beliau?!" bentak kasar Salah satu pengawal Ratu.
"Diam kau, ini keputusanku. Pedangku sudah ku anggap sebagai sahabat dalam perang. Pedangku ini, telah memberikan banyak kemenangan kepadaku. Aku tidak akan membuangnya hanya demi tawaran konyol ini," balas Darius.
"Beraninya kau!"
Seluruh pengawal Ratu menodongkan senjata sihir mereka. Tiba-tiba saja, seluruh tubuh mereka tidak dapat bergerak. Terlihat rantai yang tidak diketahui darimana datangnya, telah melilit seluruh tubuh mereka tanpa mereka sadari. Setelah mereka telusuri dengan pengelihatan, rupanya rantai itu berasal dari tangan Direktur K.A.O. Yaitu Raven.
"Sadarilah, dimana tempat kalian berpijak saat ini. Kalian sedang berada di ruangan ku, jika kalian berani membuat kerusakan disini? jangan salahku aku jika kalian akan pulang dengan merangkak," ancam Raven.
Situasi pun menjadi runyam....
"Sudah cukup!" bentak keras Ratu.
Ratu bangkit dari duduknya dan menatap Darius.
"Padahal aku sudah berbaik hati kepadamu, anak muda. Tapi kau sama sekali tidak menghargainya. Sebagai pemimpin bangsawan Hunt, aku tidak akan pernah mengakui dirimu," tegur keras, Ratu.
"Aku tidak memerlukan pengakuan dari orang sepertimu. Hunt adalah nama mulia yang orang tuaku berikan kepadaku. Kau tidak berhak memutuskan diriku pantas memakainya atau tidak," balas Darius.
Amarah Ratu semakin memuncak. Sekarang raut wajahnya sudah seperti seekor singa yang hendak menerkam mangsa. Ia ingin sekali membuat Darius tunduk padanya.
"Kau beruntung, kita sedang berada di mansion pak Direktur. Andai kata tidak, kau pasti akan tamat," ancam Ratu.
Darius mengacuhkan ancaman itu. Dengan kesal, Ratu meninggalkan ruangan. Ia bahkan tidak berpamitan kepada tuan rumah. Hatinya terbakar habis oleh api amarah. Raven melepaskan para pengawal yang barusan ia ikat, para pengawal itu berlari mengikuti Ratu mereka dengan penuh rasa takut.
"Oh ya, ada satu hal yang perlu kau ingat, Ratu."
Langkah kaki Ratu terhenti, ketika mendengar Raven berbicara.
"Jangan sekali-kali kau mengusiknya (Darius), dia berada dalam naunganku. Meskipun kau adalah pemimpin bangsawan Hunt, kami dari pihak K.A.O tidak akan segan untuk bertindak keras kepadamu, jika kau berani mengusik ataupun mencelakai dia. Ingat itu," tegur Raven.
Sang Ratu melangkah pergi dari ruangan Raven. Ia langsung pergi menuju pintu keluar Grand Mansion. Didepan pintu keluar, ada sosok yang mengenakan jubah bangsawan Hunt, nampak tengah menanti kedatangannya.
Ratu Oriery menghampirinya, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga sosok berjubah itu.
"Pastikan kau memberinya pelajaran, buat dia tidak bisa bertarung lagi, untuk selama-lamanya," bisik Ratu kepada sosok berjubah itu.
"Sesuai perintah anda, Ratu."
Sosok berjubah itu tersenyum licik, lalu ia ikut pergi bersama dengan Ratunya. Nampak ada sesuatu yang telah direncanakan oleh mereka berdua.
Bersambung....