Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 56: Evolved



Masih di Grand Mansion....


Deri membuka katalog monster untuk mencari data makhluk yang cirinya mirip seperti Darius, meskipun berulangkali dia mengatakan bahwa dia manusia.


"Sudah 200 halaman tapi tidak ada yang mirip," ujar Deri sambil terus membalik halaman demi halaman buku itu.


Selagi ia mencari data, nampak terjadi percakapan serius antara Carol dan Darius.


Disitulah Darius menceritakan apa yang terjadi padanya ketika masih terkurung di dalam dimensi gelap.


Mulai dari caranya bertahan hidup sampai bagaimana cara ia keluar dari sana, semuanya ia ceritakan secara rinci kecuali pertemuannya dengan Dewi Pamella.


"Terkurung di dalam dimensi lain?"


Carol mengangkat sebelah alisnya.


"Lalu kau bertahan hidup dengan memakan daging monster yang kau kalahkan?"


Darius mengangguk.


Mara tiba-tiba merasa mual setelah mendengar itu.


"Dimana kamar mandi?" tanya Mara kepada Raven.


"Dibelakang, dekat dapur."


Segera dia berlari ke belakang untuk muntah.


"Nampaknya kau sudah membuatnya jijik," ujar Carol serata memperhatikan Mara yang berlari menuju kamar mandi.


Kembali ke percakapan antara Carol dan Darius.


"Jadi kau melawan musuh dari dimensi lain dan terkurung didalam dimensi itu setelah mengalahkan nya, hmm..."


Carol bertopang dagu.


"Ada apa?" tanya Darius.


"Cerita mu kebetulan persis seperti kisah seorang bawahan Yang Mulia Drake Hunt pada masa Ezius dulu," ujar Carol.


"Ada sosok yang dulu pernah menjadi pedang sekaligus perisai Yang Mulia Drake sebelum dia menjadi raja, namanya sama seperti namamu tapi marga bangsawan nya masih misteri, apa mungkin kau adalah orang itu?"


Carol menatap Darius dalam jarak yang amat dekat sampai nyaris bersentuhan hidung.


"Aku sudah dengar dari Mara, kau mengaku sebagai kakak dari Yang Mulia Drake ketika menjenguknya di rumah sakit," ucap Carol.


"Awalnya setelah aku mendengar itu, kukira itu omong kosong tapi..."


Perlahan mata Carol melirik ke arah Mara yang baru saja keluar dari kamar mandi lalu kembali memandang Darius.


"... Setelah melihat sinkronisasi mu dengannya, muncul keinginan untuk percaya dengan perkataan mu," ucapnya.


Darius merespon dengan senyuman, sampai kemudian Mara kembali berada diantara mereka.


"Sampai dimana percakapan kita tadi? oh ya, kau memakan daging monster dan itu yang membuat tubuhmu berubah," ujar Mara yang baru datang.


"Sebenarnya bukan daging monster yang membuatku berubah seperti ini, tapi..."


Ucapan Darius terpotong sesaat.


"... Ada kekuatan didalam diriku yang membuatku dapat menyerap kekuatan dari setiap makhluk yang ku makan dan kekuatan ini juga mampu menyerap sihir," jelasnya.


"Menyerap katamu?"


"Iya."


Sekilas Mara teringat akan sesuatu...


"Menyerap?"


Dia teringat saat ia diselamatkan oleh Darius ketika ujian kelulusan Divisi sihir tingkat beginner, ketika itu ia terkena senjata makan tuan dan untungnya Darius mau menyelamatkan dirinya.


"Ketika kau menolong ku saat ujian kelulusan, suhu elemen panas yang membakar tubuhku tiba-tiba mereda dengan sendirinya, apa itu karena kekuatan mu?" tanya Mara.


"Benar, lebih baik kalian tidak menayakan asal kekuatan ku ini, karena aku sendiri juga tidak tahu," tukas Darius.


Tentu ini mengejutkan, karena kekuatan seperti itu tidak pernah ada dalam dunia sihir.


"Anehnya, perubahan fisik ini masih terus berlangsung, padahal aku sudah tidak lagi memakan daging monster, inilah yang membuatku heran," lanjutnya.


Tak berselang lama Raven ikut dalam percakapan mereka, dia mengungkapkan rasa kecurigaannya terhadap Hunt.


Awalnya ia menduga kalau semua ini adalah ulah sihir Forbidden Summon yang dilancarkan Hunt kepada tuannya.


"Itu sihir diluar dari yang diajarkan Yang Mulia Drake, kami tidak mempelajarinya," tukas Carol.


Kini semuanya sudah jelas bahwa yang terjadi kepada Darius adalah murni berasal dari dirinya sendiri, bukan dari pengaruh sihir kiriman.


Beralih ke Deri yang masih sibuk mencari data di buku katalog monster, sepertinya ia mulai lelah mencari data monster yang ia inginkan hingga ia berhenti di halaman ke 888.


Ada satu monster yang cirinya menyamai penampilan Darius saat ini.


Deri menunjukkan data yang ia dapatkan dalam katalog itu.


Data katalog monster pada halaman 888 menunjukkan data tentang makhluk mitologi yang tengah lama hilang, namanya adalah Hyper Demon.


Makhluk ini memiliki ciri yang sama persis seperti Darius, tetapi dalam gambar ilustrasi yang ada didalam buku, makhluk ini memiliki enam sayap tanpa adanya daun bibir.


Itu membuat seluruh giginya yang tajam nampak begitu jelas, makhluk ini hidup dan tinggal di dunia bawah sebelum terjadinya peperangan antara para penjaga langit dengan para makhluk dunia bawah.


"Kau pernah melihat makhluk ini?" bisik Darius pada Raven.


"Aku tidak pernah melihat makhluk mengerikan ini seumur hidupku," balasnya.


Raven yang seorang makhluk dunia bawah sendiri tidak pernah sekalipun bertemu dengan makhluk ini.


"Disini tidak ada keterangan yang mengatakan bahwa makhluk ini sudah punah, jadi... masih ada kemungkinan makhluk Hyper Demon masih ada,"ujar Deri sambil melirik Darius.


"Jangan melihatku seperti itu," tukas Darius.


Ia tidak suka ketika Deri menatapnya seolah dia adalah makhluk mengerti yang ada didalam buku katalog itu.


Deri menutup bukunya, ia mulai fokus pada Darius yang sedari tadi menggaruk-garuk benda menyerupai permata yang ada di dahinya.


Perlahan Deri menghela nafas sesaat, dengan nada halus ia berkata...


"Baiklah kalau begitu, kita lanjutkan pembahasan ini lain waktu."


Ia beranjak dari sofa lalu merangkul sahabatnya yang pingsan akibat pukulan teflon.


"Sudah ingin pergi?" tanya Raven.


"Iya pak, saya punya sesuatu yang harus diteliti, lagi pula nampaknya rekan saya sudah masuk terlalu dalam ke dunia mimpinya," jawabnya seraya melirik Seirus yang nampak pulas.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih karena sudah membantuku. "


"Dengan senang hati."


Mereka berdua bersalaman sebelum Deri beranjak dari sana.


Tak lama kemudian Mara dan Carol pun juga ikut pamit, mereka harus kembali ke markas Hunt sebelum Ratu mereka tiba di sana.


Sesekali Mara melirik ke arah Darius dengan tatapan malu, tidak seperti dirinya yang biasa.


Carol sedikit berbincang dengan Darius sebelum pergi..


"Hey, kau dengan mudahnya menceritakan semua itu kepada kami, apa kau tidak khawatir jika aku melaporkan semua yang kau katakan tadi kepada Ratu?" tanya Carol.


"Aku sama sekali tidak keberatan, terserah padamu ingin melaporkannya atau tidak," balas Darius.


"Untuk seorang ksatria, kau tidak waspada," tukas Carol.


"Sebaliknya, kalian yang seharusnya waspada, karena aku tidak mengandalkan kekuatan ini untuk bertarung."


Darius mengepalkan tangan kanan nya.


"Aku tidak akan bisa menjadi ksatria hebat jika hanya bergantung kepada kekuatan seperti itu karena menjadi kuat tidaklah praktis, lagi pula aku ingin bermain imbang dengan kalian," tukasnya.


"Apa?"


Carol tidak mengerti maksud perkataan Darius.


"Aku merasa bosan karena semenjak bebas dari dimensi laknat itu, aku selalu bisa mengalahkan musuhku hanya dengan satu serangan, itu sangat membosankan..."


"... Aku ingin sesekali merasakan serunya pertarungan, oleh sebab itu cobalah untuk mencari cara agar bisa bermain imbang denganku dengan semua informasi yang kuberikan tadi," ucap Darius penuh rasa percaya diri.


Carol tersenyum kecil mendengarnya.


"Kau sungguh bodoh."


Carol berpaling wajah lalu merangkul Mara dengan kedua tangannya.


"Meskipun ini terdengar konyol tapi harus kuakui bahwa kau memang pantas disebut Hunt, sampai jumpa," ujar Carol sebelum menghilang dari pandangan.


Ia menggunakan teleportasi untuk pergi.


Raven mendekati tuannya, ada hal yang perlu ia pertanyakan.


"Apa tidak masalah membiarkan mereka mengetahui perihal kekuatan anda tuan?"


"Tidak masalah, lagi pula mereka berdua tidak se-bandel cucu-cucu Drake yang lain," balas Darius.


"Baiklah jika anda berkata seperti itu."


Raven menundukkan kepala, mematuhi tuannya.


"Kalau begitu, bisakah kau menyiapkan makanan untukku Raven?"


"Baik, segera saya laksanakan."


Bersambung....