Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 29: Kelicikan berujung petaka



Mara tak henti-hentinya mondar-mandir di lorong dekat lobby K.A.O. Ia sangat panik setelah Komandan Deri menunjukkan video rekaman yang dikirim oleh unit pengawas kota Desius.


"Sial.., ini gila. Pantas saja Evo kewalahan melawannya. Kakak pun sangat berhati-hati padanya. Aku harus mencari cara lain untuk memberinya hukuman," gerutu Mara.


Ditengah rasa bingungnya, muncul sebuah lingkaran sihir tepat dihadapannya. Itu adalah sihir teleportasi, dari lingkaran itu muncul sahabat baik Mara. Yakni Caroline.


"Carol, apa yang kau lakukan disini?" tanya Mara.


"Aku mengkhawatirkan mu. Karena itulah aku kemari," jawab Carol.


Ekspresi wajah Mara yang terlihat kesal, menandakan bahwa dirinya baru saja mengalami kegagalan. Ekspresi wajah Mara terbaca jelas oleh Carol. Perlahan Carol menghampiri sahabatnya.


"Mara, lebih baik kau mundur saja. Bukan karena aku meremehkan mu tapi ini karena aku peduli padamu. Aku tidak ingin kau bernasib seperti Evo. Kau sudah lihat, bukan? apa yang bisa dilakukannya (Darius). Meski kita menggabungkan kekuatan, kita takkan mampu menyaingi dia," ujar Carol.


Carol berhasil membujuk sahabatnya untuk mempertimbangkan hal ini. Ia ingin Mara memikirkan dampak yang akan menimpa dirinya jika ia gagal.


Apalagi Darius bukanlah orang yang mudah untuk ditumbangkan, baik secara fisik maupun mental. Bahkan didepan Ratu Oriery pun dia tidak gentar sama sekali. Mara terdiam sesaat, mempertimbangkan ucapan Carol.


"Tapi aku tidak akan tahu hasilnya, sebelum mencobanya. Akan ku kerahkan kekuatan langka ku, demi menghukumnya."


Mara memutuskan untuk tetap melanjutkan rencananya. Keputusan Mata membuat sahabatnya semakin gelisah.


"Kumohon Mara, kau harus mundur. Ayo kita rencanakan lagi cara yang lebih baik untuk menghukum dia. Caramu ini terlalu beresiko, kau pun melakukannya seorang diri," tukas Carol yang semakin khawatir.


"Aku tidak bisa mundur dari keputusan ku. Itulah harga diriku sebagai adik kandung Ratu Oriery. Jika aku kembali tanpa membawa hasil. Mau ditaruh dimana wajah ku?" ucap Mara.


Ia pun berbalik membelakangi sahabatnya.


"Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku takkan menyerah begitu saja. Aku sangat menghargai kekhawatiran mu itu. Carol."


Mara melangkahkan kakinya kedepan dan pergi meninggalkan sahabatnya itu. Carol sekuat tenaga, berusaha untuk membujuk kembali sahabatnya itu, akan tetapi tekad Mara sudah bulat. Ia tetap bersih keras untuk menjalankan misinya.


Sementara Carol hanya bisa terdiam pasrah melihat Mara yang pergi meninggalkannya. Semakin lama, perasaan dibenak Carol semakin resah. Ia merasa akan ada hal buruk yang terjadi pada temannya, apabila ini terus berlanjut. Tapi apa daya, ia sudah tidak dapat mencegah Mara lagi. Ia hanya dapat berdoa, semoga perasaannya itu salah.


...**************...


Mara pergi menghampiri Darius yang sudah bersiap di lapangan pelatihan. Dengan tubuh yang sudah renggang setelah pemanasan, ia siap untuk melakukan tes terakhir yang diminta oleh Mara.


Komandan Deri dan Seirus mengamati mereka dari jauh.


"Entah kenapa, aku lebih khawatir kepada Mara daripada Darius. Apa perasaanku ini salah?" ucap Komandan Deri.


"Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi jika memang Mara yang celaka, maka syukurlah," tukas Komandan Seirus.


Mara dan Darius sudah siap untuk memulai tes terakhir, yakni tes adu daya hancur. Dimana tes ini akan mengadu besarnya daya hancur antara ksatria dan pembimbing.


Dalam tes ini, sang pembimbing akan membuat sebuah perisai sihir untuk menahan serangan ksatria. Sedangkan ksatria harus mengeluarkan segenap tenaganya untuk membuat perisai itu hancur dengan satu kali serang. Perisai sihir yang digunakan bersifat Counter attack, jadi apa bila ksatria tidak berhasil membuat perisai itu hancur maka perisai itu akan memantulkan kembali kepada si penyerang.


Tes ini sangat beresiko, baik bagi sang pembimbing maupun bagi ksatria yang dibimbing. Oleh karena itu, hanya tingkatan Reguler keatas saja yang boleh memberlakukan tes semacam ini. Karena pada tingkatan itu, para ksatria Divisi sihir sudah mengetahui cara untuk memaksimalkan serangan yang akan dikeluarkan.


Mara sudah selesai menciptakan perisai sihirnya. Sementara Darius sudah bersiap dengan kekuatan laharnya. Kali ini, ia membentuk sebuah tombak dengan laharnya yang menyala. Mara tersenyum lepas melihat Darius yang akan segera menyerang.


"Ayo datanglah," ucap Mara dengan logat penuh kelicikan.


"Kuharap, kali ini tidak akan terlalu keras," batin Darius.


Darius menghentakkan kaki kanannya kedepan. Ia mengangkat tombaknya serta menyesuaikan posisi pinggul dan bahu sebelum melempar. Lalu ia melesatkan tombaknya. Tombak itu meluncur cepat dan langsung menghantam perisai sihir milik Mara.


Mara menahan serangan Darius dengan segenap tenaganya. Ada hal aneh yang terlihat saat tombak lahar milik Darius menghantam perisai sihir Mara. Perisai sihir itu terlihat menyala ketika sedang menerima serangan. Energi kekuatan pada tombak Darius semakin berkurang seiring berusaha untuk menembus pertahanan Mara.


"Tunggu dulu, itukan Mirror of Greedy. Itu sihir langka tingkat atas yang diciptakan oleh Mara. Dia menggunakan itu untuk tes ini? keterlaluan!"


Seketika emosi Komandan Seirus meledak.


"Dalam tes ini, pembimbing hanya boleh menggunakan sihir pertahanan tingkat medium bagi Regular dan Higher Defense untuk Expert. Tapi dia malah menggunakan Absolute Defense untuk menahan serangan seorang Beginner. Dia benar-benar tidak ingin Darius lulus dari pelatihan ini," jelas Komandan Deri.


Pertahanan Absolute Defense hanya boleh digunakan untuk menguji ksatria Divisi sihir yang sudah melewati tahap Expert dan siap untuk mengambil job serta masuk tingkatan Rank. Itu adalah salah satu tingkatan tinggi dalam Divisi sihir.


"Menggunakan Absolute Defense untuk menguji Beginner. Ini sudah melanggar standar. Darius takkan mampu menembusnya. Perisai itu akan semakin menyerap kekuatan serangannya setiap kali serangan itu berusaha menerobos pertahanan Mara," jelas Komandan Seirus.


Dengan kata lain, saat ini Mara menerima energi dari kekuatan serangan Darius yang sedang diserap oleh perisai sihir itu.


"Ayo, serap lebih banyak. Setelah semuanya ku serap, selanjutnya akan ku kembalikan serangan itu kepadanya," batin Mara seraya tersenyum licik.


Ia terus menyerap serangan itu. Semakin lama, tubuhnya terasa semakin panas. Kulitnya pun perlahan melepuh. Ini diluar dari yang sudah ia rencanakan. Kekuatan yang telah ia serap terlalu besar, hingga tubuh Mara tak mampu menampungnya dengan baik. Kekuatan itu malah menimbulkan efek negatif terhadap tubuh Mara sendiri.


"Kekuatan macam apa ini...?! apa ini sungguh sihir...?!"


Mara meronta kepanasan. Perlahan kulitnya semakin meleleh. Hingga bagian terdalam kulitnya pun perlahan terlihat.


"AAARGH..!!!! SIHIR MACAM APA INI..!!?"


Api mulai timbul dan membakar bagian belakang tubuh Mara. Mirror of Greedy pun melemah lantaran Mara tidak lagi sanggup untuk menahan dan menyerap serangan yang telah ia terima.


"Oiy, yang benar saja. Dia terbakar," ucap Komandan Deri yang ternganga menyaksikan kejadian itu.


Komandan Serius yang berada disampingnya terdiam tanpa sepatah kata. Ia terkejut bukan main, menyaksikan Mara yang terkena timbal balik oleh kelicikannya sendiri.


"Gawat! kalau seperti ini, dia bisa mati terbakar hidup-hidup," lekas Darius berlari menuju Mara yang tubuhnya tengah terbakar.


"PANAS..!!! TOLONG AKU..!!!!"


Mara menjerit begitu keras. Tombak lahar milik Darius sudah mulai meretakkan perisai sihir, Mara. Sesaat kemudian perisai itupun hancur, tombak lahar melesat tepat ke arah kepala Mara yang sedang menjerit.


Di waktu yang tepat. Darius memantulkan tombaknya ke langit dengan tendangan kaki kirinya. Nyaris saja tombak itu mengenai kepala Mara. Sementara itu tubuh Mara masih terlahap api.


Darius mencoba memadamkan api yang menempel pada tubuh Mara dengan cara memukul-mukul api itu dengan telapak tangannya dan menggulung-gulungkan tubuh Mara ke tanah guna memadamkan api yang ada pada tubuhnya.


Akan tetapi itu semua tidak berhasil. Komandan Deri dan Seirus pun ikut membantunya. Komandan Deri berusaha memadamkan api itu dengan kekuatan angin miliknya, tapi tetap tidak berhasil.


Giliran Komandan Seirus yang menggunakan elemen es untuk membekukan bagian tubuh Mara yang terbakar oleh api, namun hasilnya sama saja nihil. Es yang Komandan Seirus keluarkan, malah mencair.


"Astaga! sihir macam apa ini? kenapa tidak bisa dipadamkan?" tanya panik Komandan Deri kepada Darius.


"Aku tidak tahu, bukankah dia menahan serangan ku. Lalu mengapa tubuhnya bisa terbakar? padahal serangan ku belum menyentuhnya," balas Darius.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Komandan Seirus yang juga panik. Padahal diawal dia ingin Mara yang celaka.


Komandan Deri langsung menghubungi semua unit Healer Rank S yang ada di K.A.O beserta para ksatria Divisi sihir specialis elemen dingin (air dan es).


Sementara Komandan Seirus berusaha untuk memadamkan api yang membakar tubuh Mara selagi bantuan belum datang. Darius begitu panik, ia tak tahu harus berbuat apa. Ia berfikir dalam-dalam, berusaha mencari cara untuk menyelamatkan nyawa Mara.


"Mengapa tubuhnya bisa terbakar? padahal serangan ku masih tertahan oleh perisainya," tanya Darius.


"Tubuhnya terbakar karena berusaha menyerap kekuatan dari serangan mu lewat perisai sihirnya. Ia berniat untuk menyerap dan memantulkan serangan yang kau luncurkan kepadanya. Tapi tak disangka, kekuatan mu terlalu besar sehingga tubuhnya tak dapat menampung kekuatan mu dan pada akhirnya ia pun terbakar. Apa kau tidak tahu cara untuk menolongnya? jika terus begini, dia akan mati terbakar," jelas Komandan Seirus.


Mendengar penjelasan itu, seketika Darius teringat akan sesuatu.


"Menyerap? astaga... aku memiliki kemampuan untuk menyerap. Kenapa itu tidak terpikirkan oleh ku," batin Darius yang kesal karena lupa terhadap ability nya sendiri (Chapter 4).


Segera Darius memeluk tubuh Mara yang terbakar.


"Darius, apa yang akan kau lakukan?" tanya Komandan Seirus.


"Lihat saja, aku pasti bisa menyelamatkan nyawanya," balas Darius.


Darius mulai mengaktifkan kemampuan menyerapnya. Dalam pelukan Darius, perlahan api yang melahap tubuh Mara mulai padam. Api itu terserap ke dalam tubuh Darius hingga tak tersisa.


Komandan Seirus tercengang menyaksikan kejadian itu.


"Bagaimana mungkin? kemana perginya semua api itu?" inilah yang menjadi tanda tanya di kepala Komandan Seirus.


Darius menghela nafas lega. Nyawa Mara berhasil ia selamatkan. Luka yang diderita Mara cukup berat, karena api menyebar cepat ke seluruh tubuhnya. Unit Healer pun datang dan langsung mengobati Mara yang tak sadarkan diri didalam pelukan Darius.


Bersambung......