Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 73: Pergerakan



...Pengumuman...


...**Halo semuanya, mohon maaf jika author meninggalkan cerita ini terlalu lama dikarenakan hp author rusak, meski butuh waktu lama tapi akhirnya author mendapatkan hp yang baru, sekali lagi author minta maaf atas kesalahan ini....


...Author juga akan menghafal ulang cerita ini karena lumayan banyak alur yang author lupa, jadi mohon ingatkan author jika ada alur yang salah, sekian terima kasih🙏🙏🙏**....


...**********...


POV Ratu Hunt.


Berlokasi di Casterial Mansion, ratu meremas erat bantal empuknya yang berwarna merah maroon, terlihat banyak sekali buku yang berselingkrah disekitarnya, ia berfokus untuk mencari informasi tentang kekuatan yang ia dapatkan dari kontak fisik dengan Darius beberapa puluh menit lalu, tanpa henti mencari sana-sini, dari buku satu ke buku yang lain bahkan ia juga sudah browsing ke berbagai situs arkeologi sihir dengan ponsel dan laptop nya guna mencari informasi yang ia inginkan tetapi hasilnya nihil.


"Sial..., mengapa sama sekali tidak ada petunjuk? aku benar-benar ingin tahu," resah Ratu.


tok...! tok...!


Terdengar suara seseorang mengetuk pintu.


"Siapa? ada perlu apa?" tanya Ratu.


"Ini aku kak."


Jawab suara yang tidak asing, yakni Mara.


"Oh, silahkan masuk."


Dengan izin Ratu, ia pun masuk kedalam ruangan.


Hal mengejutkan yang ia lihat adalah kamar kakaknya yang berantakan, penuh dengan buku-buku yang berserakan.


"Kakak, aku hanya ingin melaporkan bahwa persiapan untuk menyambut Darius sudah siap, " ucap Mara.


"Bagus, pastikan semuanya berjalan dengan baik," sahut Ratu.


Mara tidak dapat membendung rasa penasaran nya setelah melihat perilaku aneh kakaknya.


"Kakak sedang apa?" tanya Mara.


"Aku hanya sedang belajar saja," jawab bohong Ratu.


"Tapi mengapa kau membuka banyak buku, ponsel dan laptop mu sekaligus? bukankah itu terlalu banyak?" lanjut tanya Mara.


"Ya, aku sedang ingin menjelajahi sesuatu yang baru, jadi aku membuka semuanya sekaligus," jawab bohong untuk kedua kalinya.


"Baiklah kalau begitu, aku akan kembali mengawasi kinerja bawahan yang menyiapkan makanan," ucap Mara dengan nada lirih.


"Berhati-hatilah, meskipun hanya mengawasi orang memasak namun kewaspadaan tetap harus tajam," ucap Ratu.


"Baik, kak."


Mara pergi dari kamar Ratu.


Setelah Mara berada diluar, ia melihat jelas ada yang tak beres dengan kakaknya, tetapi ia berusaha memalingkan dugaan itu karena sejak dulu kakaknya memang terkenal rajin, meski cara belajar kakaknya kali ini sangat berbeda dari biasanya.


"Sebaiknya aku tidak berfikir macam-macam," batin Mara.


...***********...


POV Darius.


Darius telah kembali pulang setelah pertarungan melawan Manticore, ia disambut oleh Mona yang rewel akibat tidak diizinkan untuk merekam Darius ketika sedang bertarung melawan monster, siapa lagi jika bukan Raven yang melarangnya.


"Aku pulang," ucap Darius.


"Selamat datang kak," " balas Mona penuh semangat.


"Selamat datang kembali," balas Raven seraya menundukkan kepala.


"Kau menjaganya (Mona) dengan baik, Raven," ujar Darius.


"Dia berkali-kali merengek, tapi saya tidak menghiraukan," balas Raven.


Mona menatap sebal Raven.


"Pemimpin K.A.O sungguh jahat, padahal aku ingin merekam kak Darius dengan kamera mahal ini," ucap lesu Mona seraya meratapi kamera mahal yang ia bawa.


"Kau harus lebih mempedulikan nyawa terlebih dahulu, jika terjadi sesuatu yang buruk kepadamu maka itu akan menjadi kegagalan ku karena aku seorang ksatria," jelas Darius dengan nada halus.


"Raven, ada yang harus kita bicarakan," ujar Darius.


"Baik, tuan."


Mereka berdua pun pergi ke ruang tengah untuk berbincang, disana Darius menceritakan kepada bawahannya itu tentang apa yang ia dengar dari mulut seorang Ratu Hunt.


Ini cukup membuat Raven terkejut sekaligus curiga, bulan lalu Ratu memusuhi Darius bahkan berusaha menghalang-halangi kelulusan Darius dari Divisi sihir tingkat beginner, sekarang dia tiba-tiba mengakui bahwa Darius adalah seorang Hunt.


Jelas ini menimbulkan kecurigaan besar dalam pikiran Raven.


"Sudah sangat jelas dia mempunyai maksud tertentu, ini bisa jadi jebakan," tukas jelas Raven.


"Dia bilang akan menyambutku di tempatnya malam ini, aku sejujurnya bimbang antara datang atau tidak, habisnya dia bukanlah sosok yang mudah memaafkan seseorang dalam satu malam, jadi bagaimana menurutmu? haruskah aku datang?"


Darius meminta pendapat.


Raven berfikir sejenak untuk menentukan langkah yang tepat, dia masih memiliki prasangka buruk terhadap bangsawan Hunt di era ini.


Sebagai seorang bawahan yang protectif, tidak boleh sampai ada kesalahan yang dapat merugikan ataupun mencelakai tuannya, baginya setiap kesalahan adalah hukuman mati untuknya.


"Jika tuan ingin datang, maka saya akan menyiapkan pengawalan, tapi semua itu tergantung keputusan tuan ingin datang atau tidak," usul Raven.


Menurut Darius, pengawalan tidaklah perlu karena dia cukup percaya terhadap kekuatan yang ia miliki, tetapi....


"Baiklah, aku akan datang dengan pengawalan yang kau berikan, semoga kali ini Si Ratu sombong itu bersungguh-sungguh," ucap Darius.


Raven terlihat senang mendengar perkataan tuannya.


"Baik tuan, saya akan siapkan pengawalan untuk anda."


...*********...


POV Casterial Mansion.


Nampak jelas dari depan gerbang markas besar bangsawan Hunt, dua orang petinggi Hunt yang merasa kesal karena mendapatkan perintah untuk menyambut tamu yang akan datang ke Casterial Mansion.


Kedua petinggi itu adalah Lavionate 'Rossa Hunt dan Arnoldi Hunt, ini adalah pertama kalinya mereka mendapatkan tugas serendah ini dari pimpinan mereka.


"Cih..., mengapa harus aku yang bertugas untuk menyambut? bukankah kita punya kepala pelayan disini?"


Ujar kesal Rossa sambil menginjak puntung rokok bekas ia hisap.


"Diamlah, jika Ratu sampai tahu maka kepala mu tidak akan lagi berada ditempat yang seharusnya," bisik Arnoldi.


Rossa adalah seorang ahli sihir panas, ia mendapat julukan Inferno Rose dari prestasinya di kejuaraan sihir antar akademi, dia adalah murid dari Tiamara Hunt yang tak lain adalah adik kandung Ratu.


Memiliki sifat pemarah, sombong juga eksklusif dalam berteman dan cenderung ambisius dalam mengejar prestasi apapun dalam pendidikan ilmu sihir.


Dia memiliki perawakan yang ideal, berambut merah panjang dan memiliki warna kulit yang agak gelap, badannya pun cukup tinggi. Rossa sangat menggemari pakaian berwarna merah ataupun hitam seperti gaun yang sedang dipakainya saat ini.


Sejujurnya ia tidak berniat menyambut tamu dengan gaun ini, karena gaun ini biasa digunakannya untuk berdansa setiap kali ada pesta yang dirayakan di kediaman Hunt, namun sayangnya Ratu memerintahkan dia untuk memakainya ketika menyambut Darius yang akan datang ke Casterial Mansion.


Sungguh ini membuat Rossa kesal, yang membuat dia kesal sebenarnya bukan karena Ratu memerintahkan dia menyambut tamu dengan menggunakan gaun terbaiknya, melainkan karena tamu yang akan dia sambut adalah orang yang paling hina di mata dia.


Yakni Darius.


"Aku sungguh tak sudi menyambut Hunt gadungan itu sambil memakai gaun ku yang paling bagus, andai ini bukan karena perintah Ratu, sudah kutolak mentah-mentah perintah ini," ucap kasar Rossa.


"Bagaimana pun juga Si Hunt gadungan itulah yang menyelamatkan Ratu beserta teman-teman kita dari keganasan monster tadi siang," sahut Arnoldi.


"Apa?" tanya Rossa yang tidak paham.


"Dia bertarung bersama kami saat itu, dia maju ke garis depan dan menjadikan dirinya perisai untuk melindungi teman-teman kita sebelum pada akhirnya Ratu berhasil membunuh monster itu," jelas Arnoldi.


Rossa yang mendengarnya langsung membuang wajah.


"Oh..., jadi dia cari muka agar di akui sebagai Hunt, cara yang licik," tukas Rossa.


"Aku rasa tidak, aku benci mengakui ini tapi dia sungguh bertarung dengan baik tanpa memikirkan kebencian kita terhadapnya, tidak mungkin orang yang hanya cari muka bersedia bertaruh nyawa di mendan pertarungan," balas Arnoldi.


"Apapun alasannya aku tetap tidak sudi, lihat saja nanti, aku akan menantangnya bertarung satu lawan satu dan akan ku perlihatkan kekuatan dari Hunt yang sebenarnya," ucap Rossa penuh percaya diri.


Arnoldi kehabisan kata untuk menanggapi temannya yang satu ini, mereka pun kembali fokus terhadap tugas mereka sebagai penyambut datangnya tamu.


Bersambung.....