Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 38: Akhir pengejaran



Suasana seketika berubah, seseorang yang tidak diinginkan kehadirannya pun muncul. Dengan demikian, pengejaran Iraken pun sia-sia. Raven menghampiri Mona dan Mara, mereka berdua sangat terengah-engah.


"Kau lagi, masalah apalagi yang ingin kau perbuat?" tanya Raven.


"Aku tidak merencanakan apapun, aku bersumpah. Kumohon, tolong aku.. (hosh..., hosh...)," jawab Mara terengah-engah setelah cukup lama berlari.


Raven mengalihkan pandangannya ke arah para pria yang mengejar Mara, ia maju perlahan dan memperhatikan lingkungan sekitar yang rusak akibat ulah Iraken saat melempar kapak.


"Tak kusangka bangsawan sepertimu akan bertindak nekad seperti makhluk primitif. Iraken," ucap Raven.


"Tanpa mengurangi rasa hormat, aku ingin kau untuk tidak ikut campur, direktur. Ini urusan ku dengan dia," tukas Iraken sambil menunjuk ke arah Mara.


"Caramu menyelesaikan urusan sangat tidak tepat dan itu cukup mengganggu ku," balas Raven, lalu ia berpaling pandang ke arah sebuah mobil yang setengah hancur, ada sebuah kapak yang menancap dia atas atap mobil tersebut.


Tidak lain, mobil itu adalah milik Raven. Ketika Raven hendak pulang, sebuah kapak terbang datang dengan cepat dan merusak mobilnya tepat disaat ia hendak membuka pintu mobilnya.


Hal ini membuat Raven amat terganggu, bahkan dia sudah merasa kesal.


"Kau harus bertanggung jawab," ucap singkat Raven.


Iraken yang masih emosi malah menalar ucapan Raven.


"Jangan ikut campur!"


Bentak Iraken.


Ia memerintahkan semua kawan-kawannya untuk menyerang, masing-masing dari mereka membawa senjata tajam yang berbeda-beda.


"Aku hanya ingin ganti rugi saja, tapi apa boleh buat? kau yang lebih dulu memicu tindak kekerasan," ucap Raven, serius.


Seluruh kawan-kawan Iraken menerjang ke arah Raven, tanpa pikir panjang. Semua tebasan dari senjata tajam yang mereka genggam mengarah pada satu target yang tidak bergerak, tanpa diduga target mereka mendadak hilang tanpa bekas.


Mereka menoleh kesana-kemari, mencari keberadaan Raven. Entah bagaimana cara Raven menghilang saat mereka hendak menerkamnya, suara langkah kakinya sama sekali tidak terdengar.


"Kemana perginya dia?!" tanya keras Iraken.


Kawan-kawannya hanya bisa geleng-geleng kepala, hingga tiba-tiba salah satu dari mereka mendadak tumbang.


Bruk!


Salah seorang kawan Iraken tersungkur di tanah, sontak itu mengejutkan mereka. Segera mereka membentuk formasi saling memunggungi agar dapat tetap terjaga.


"Dimana dia?" batin Iraken.


Tanpa mereka sadari, sebuah rantai merambat dari dalam tanah dan melilit tubuh mereka. Mereka semua langsung meronta-ronta setelah tahu tubuh mereka sudah terikat, disaat itulah muncul kepanikan yang luar biasa dalam diri mereka.


Bagai seekor hewan yang menonaktifkan kemampuan kamuflase miliknya, Raven muncul kembali di hadapan mereka. Iraken terpelanga bukan main, tak disangka Direktur utama K.A.O memiliki kemampuan sehebat ini.


"Kuberi kau dua pilihan, bertarung jawab atau mati terkubur, mana yang kau pilih?" ancam keras Raven.


"Jangan berlagak kau....! kau sudah ikut campur dalam urusan Chariot Seis. Kau takkan bisa lolos dari kami," tukas bentak Iraken.


Raven menatap serius Iraken.


"Sungguh miris, begini kah sikap para bangsawan zaman sekarang? aku sungguh salah sangka karena menganggap Invandara sudah benar-benar damai," ucap Raven.


Lilitan rantai Raven semakin mengencang, mereka yang terikat semakin merasa sesak. Iraken berusaha memanggil Absolute Weapon miliknya, namun gagal.


"Ada apa ini? mengapa aku tidak bisa memanggil senjataku?" tanya Iraken dalam batin.


"Merasa heran?" tanya Raven mendadak, ia melihat Iraken yang nampak sedang mencari sesuatu, yang tak lain adalah senjatanya.


"Rantai ini adalah Absolute Weapon milikku, segala teknik pemanggilan atau kekuatan sihir milik musuh, akan netral seketika saat musuh bersentuhan dengan senjataku ini. Kau takkan bisa memanggil Absolute Weapon selama masih terlilit oleh rantai ku," jelas Raven, lalu ia membanting Iraken dan kawan-kawannya ke aspal.


BLUAARR...!!!


Dalam sekejap, terciptalah lubang sedalam tiga meter di jalan beraspal. Mereka yang dibanting pun langsung terdiam dalam posisi kepala dibawah kaki diatas, kepala mereka tertancap dalam ke tanah. Raven menarik mundur Absolute Weapon miliknya karena merasa ini sudah usai, meskipun begitu ia tetap menuntut ganti rugi.


Raven berpaling ke arah Mara dan Mona.


Mona yang terpelanga hebat melihat aksi Raven hanya bisa mengangguk dengan pandangan kagum, sementara Mara terbungkam seribu bahasa.


"Absolute Weapon macam apa itu tadi?" batin Mara.


Raven menepuk tangannya tepat dihadapan wajah Mara dan membuat Mara tersadar dari rasa kejutnya.


"Eh.. i..., i.... ya?"


Mara merespon dengan gugup.


"Aku tidak tahu apa urusanmu dengan mereka, tapi jangan membawa kesialan mu kemari," tegur Raven.


"A..., aaapa?"


Mara tidak mengerti perkataan Raven.


"Lihatlah, gara-gara kau mobilku rusak. Andai kau tidak berlari kemari, ini tidak akan terjadi," balas Raven.


Mara yang gugup hanya dapat berkata "maaf" dengan lidah yang kelu, efek terkejut.


"Lagi pula, seharusnya kau masih dirawat di rumah sakit, bukan? mengapa kau bisa datang kemari sambil dikejar oleh bangsawan Seis itu?" tanya Raven, serius.


Ia terkejut saat melihat Mara datang ke K.A.O dalam kondisi masih memakai pakaian pasien rumah sakit. Ditambah lagi tubuhnya masih dibalut perban, ia tidak terlihat seperti pasien yang pantas dipulangkan.


Mara ragu untuk menjawabnya. Disela pertanyaan itu, tiba-tiba Mona mendekat dan menarik lengan baju Raven dengan tatapan berbinar.


"Lebih baik kita bahas itu nanti, sekarang kita harus segera membawanya ke rumah sakit sebelum efek obat penahan rasa sakitnya hilang," ucap Mona.


Mendengar itu, Raven pun mengerutkan dahi.


"Obat penahan rasa sakit?"


Raven sungguh bertanya-tanya, apa maksud perkataan Mona tadi. Namun Mona tidak ingin menjelaskan hal itu sekarang, karena ini waktunya tidak tepat. Raven mengambil ponsel dari sakunya dan langsung menelfon seseorang selama beberapa saat.


"Aku sudah menghubungi bawahan ku untuk membawa mobil cadangan kemari, kita hanya perlu menunggu saja," ucap Raven.


Sementara itu Mona dengan teliti memeriksa keadaan Mara, syukurlah efek obatnya masih bisa bertahan lama. Sehingga Mara tidak merasakan sakit saat jahitan pada lukanya terbuka dan robek, ketika ia berusaha lari dari kejaran Iraken.


Raven juga memanggil unit Healer untuk membantu Mona dalam mengobati Mara, meskipun unit Healer yang datang tidak lengkap, akan tetapi itu cukup untuk memberi perawatan sementara sebelum Mara dilarikan ke rumah sakit.


Pendarahan akibat luka yang kembali sobek sudah dihentikan dan beberapa jahitan luka yang rusak akibat banyak gerak pun sudah diperbaiki, sekarang hanya tinggal menunggu mobil cadangan datang.


Ditengah penantian itu, datanglah seorang pria besar dengan berbusana serba putih, menghampiri Iraken dan kawan-kawannya dengan amat tergesa-gesa. Kehadiran pria tak dikenal itupun langsung jadi pusat perhatian bagi mereka yang berada ditempat itu.


"Ssss..., siapa pria itu? apa dia hendak mengejar mu juga?" tanya Mona pada Mara, dengan nada gemetaran.


"Entah, aku tidak pernah melihat dia sebelumnya," jawab Mara.


Pria berbaju putih itupun lekas membantu Iraken dan kawan-kawannya keluar dari lubang sedalam tiga meter itu, hanya dengan satu tangan, ia mampu mengeluarkan Iraken dan kawan-kawan dalam waktu singkat. Sungguh kuat sekali otot tangannya.


"Bodoh...! sudah kukatakan berkali-kali untuk tidak bertindak sembarangan, tapi telingamu tidak pernah mendengarkan ucapan ku," bentak pria itu kepada Iraken yang sudah teler.


Ia membopong tubuh Iraken beserta kawan-kawannya yang lain dengan begitu mudah, tubuh Iraken seolah seperti sebuah karung kosong ketika pria itu mengangkatnya. Tubuh pria itu sangat tegap dan besar, nyaris menyamai postur tubuh Darius. Hanya saja, pria ini terlihat sedikit lebih tinggi dari Darius.


Dengan pandangan serius, pria besar itu menghampiri Raven, Mona dan Mara yang berada tepat dihadapannya, tatapan seriusnya semakin tajam seiring dia semakin berjalan mendekat ke arah mereka bertiga. Tatapan yang mengancam itupun membuat Raven menjadi waspada, ia sudah bersiap dengan Absolute Weapon miliknya.


Setelah ia benar-benar sampai dihadapan mereka bertiga, pria besar itu langsung menundukkan kepalanya.


"Mohon maaf atas kelakuan adik ipar ku yang tidak sopan. Aku siap bertanggung jawab atas segala kerusakan yang diperbuatnya," ucap pria besar itu, dengan tulus.


"Eh?"


Mara tidak menduga ini yang akan terjadi, ia pikir pria ini hendak melakukan sesuatu yang bar-bar seperti yang dilakukan oleh Iraken. Rupanya ekspetasinya melenceng jauh.


"Eh..., siapa pria ini?" batin Mona.


Bersambung.......