Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 16: Bangsawan Hunt



Mereka berdua saling menatap tajam. Darius dan Holmus. Keangkuhan yang Holmus pamerkan membuat Darius merasa muak. Begini kah Hunt di era ini? itulah pertanyaan yang ada di benak Darius.


"Darius Hunt, namamu tidak ada di daftar Hunt manapun. Baik itu di dalam maupun diluar Invandara. Dengan ini, kunyatakan bahwa kau menggunakan nama Hunt secara ilegal," ujar Holmus.


"Ibu dan ayahku memberikan nama mulia itu padaku. Siapa kau berani berkata begitu? dengan keangkuhan seperti itu, kau berani menyebut dirimu Hunt?"


Bara api seolah menyala-nyala di hati Holmus. Perkataan Darius yang tidak disaring langsung menusuk hatinya.


"Kau akan dikenai hukuman atas ucapanmu," ucap Holmus, emosi.


"Lakukan jika kau punya nyali," balas lantang Darius.


Seisi rumah sakit pun heboh. Para pengunjung didalamnya jadi cemas. Salah satu perawat yang menyaksikan itu, segera menghubungi pihak keamanan.


"Bisakah kita menyelesaikan ini di tempat lain? kita sudah membuat seisi rumah sakit panik," sahut Raven.


Suasana panas mulai mereda, mereka berdua masih ingat bahwa ini bukan tempat yang tepat untuk adu tangan. Mereka pun keluar dari rumah sakit dengan tertib. Raven memendam amarah atas kelancangan Holmus terhadap tuannya. Jika saja ini bukan rumah sakit, mungkin dia akan langsung meretakkan tengkorak Holmus dengan tinjunya.


Diluar, perselisihan masih berlanjut. Holmus masih bersih keras untuk membawa Darius ke pusat bangsawan Hunt untuk di adili. Sebagai Direktur K.A.O. Raven menegaskan kepada Holmus bahwa Darius adalah salah satu calon ksatria terbaik di K.A.O, tidak ada yang bisa membawanya tanpa ada kesepakatan antara Pimpinan bangsawan Hunt dan Raven selaku Direktur K.A.O.


"Apakah kau bertindak atas perintah atasan atau kau bertindak atas keinginanmu sendiri?" tanya Raven.


Holmus terdiam sesaat, mulutnya menggerutu kesal.


"Sebagai Direktur, aku perlu menerima surat kesepakatan dari pihak Hunt dan itu harus dari pimpinan Hunt sendiri," sambut Raven.


Tak sanggup Holmus menjawabnya. Ia hanya memasang wajah geram dihadapan Raven dan Darius. Ditengah nuansa tegang itu. Mendadak, seorang wanita bertudung putih datang dan menghantam kepala Holmus dengan semacam bola baja melayang.


Bruaakk!!!


Seketika, tubuh Holmus sudah berada di posisi terbalik.


Kepalanya menancap dalam sekali ke tanah. Sungguh mengejutkan, hadirnya wanita ini sangatlah tak terduga. Wanita yang tidak diundang ini memiliki ciri yang menarik. Tinggi badan yang beberapa centi lebih pendek dari Darius, paras cantik, warna kulit kecokelatan dan bentuk bibir yang sempurna. Sosok yang terlihat menawan ini, baru saja memberikan pukulan telak di bagian belakang kepala Holmus.


"Dasar bodoh! jangan bertindak diluar perintah!" bentak keras wanita itu.


Melihat ini, Darius hanya bisa menggaruk kepala. Ia tidak menyangka hal ini akan terjadi. Untuk sesaat, mata Darius terfokus pada bola baja yang melayang di atas kepala wanita itu. Itu adalah senjata sihir yang pernah Darius lihat dulu. Itu sejenis dengan senjata yang adiknya gunakan untuk latihan.


Sementara itu, para anak buah Holmus sedang gemetaran. Melihat atasan mereka terjungkir tak berkutik. Si wanita mengalihkan pandangannya kepada Darius dan Raven.


"Pak Direktur, mohon maaf atas kelancangan bawahan saya. Dia akan kami hukum berat untuk ini."


Wanita itu menundukkan kepala.


"Permintaan maaf kuterima. Sudah kuduga, orang ini bertindak atas keegoisannya sendiri."


Wanita bertudung putih terfokus pada Darius. Si wanita merasakan sesuatu yang tidak biasa ketika ia memandang Darius.


"Perkenalkan, namaku Caroline Hunt. Magical Leader ke-3 bangsawan Hunt. Aku sungguh merasa malu atas kejadian ini," ucapnya.


"Terima kasih karena sudah berbaik hati."


Caroline mengangkat Holmus yang tak sadarkan diri, lalu melempar Holmus yang pingsan kedalam bagasi salah satu mobil mewah yang terparkir didekatnya. Tidak lain dan tidak bukan itu adalah mobil milik Caroline sendiri. Untuk keduakalinya, pandangan mata Caroline terarah kepada Darius. Ia menghampiri Darius seusai mendorong paksa Holmus masuk kedalam bagasi mobil.


"Aku pernah melihatmu di TV, tak terpikirkan olehku, orang yang menghabisi Hydra dengan satu serangan adalah seorang Hunt. Aku tidak pernah melihat Hunt yang sekuat itu."


Wanita ini lebih ramah dari bawahannya yang angkuh. Darius dapat berkomunikasi dengan baik dengannya.


"Sekarang kau sudah melihatnya," ucap Darius.


Caroline tersenyum kecil menanggapi ucapan Darius. Bagi Carolina, Darius adalah sosok yang sangat menarik sejak pertama kali ia melihatnya. Di benaknya, ia merasa kalau Darius tidak seperti kebanyakan Hunt yang ia kenal. Itu menimbulkan ketertarikan pada diri Caroline terhadap Darius.


"Jika kau memang seorang Hunt, maka hukuman sudah menantimu. Pimpinan sudah mendengar kabar tentang dirimu, kini tinggal menunggu beliau mengambil tindakan," jelas Caroline.


Darius mendekati wajah kehadapan Caroline.


"Akan ku nantikan itu."


Balasan yang sangat berani dari Darius. Kini Caroline tersenyum lebih lebar setelah mendengar balasan Darius. Ia pun memerintahkan bawahannya yang lain untuk menyiapkan mobil, karena sebentar lagi ia harus akan kembali ke tempat yang menjadi pusat hukum bangsawan Hunt.


"Kau lebih bernyali dari yang kukira, ini membuatku tertarik. Kalau begitu, nantikan keputusan dari beliau. Sampai jumpa."


Caroline berbalik badan dan melangkah pergi. Tanpa menoleh ke belakang, Caroline melambai-lambaikan tangannya. Ia pun masuk kedalam mobil, lalu pergi. Meski sebelumnya Caroline sudah meminta maaf kepadanya, namun Raven masih marah karena kelakuan bawahan Caroline yang bernama Holmus.


Perlahan, Raven meredakan amarahnya, lalu kembali fokus melayani tuannya.


"Maaf, tuan. Saya tidak bisa melindungi tuan dari kelakuan lancang orang itu."


Raven menundukkan kepala serta turut sesal atas ketidakmampuannya.


"Tidak perlu minta maaf, aku memahami posisi yang sekarang adalah orang penting di kota ini. Kau tidak bisa bertindak sembarangan. Aku yakin, kau pasti akan menghantam kepala orang itu dengan tinjumu, jika saja kau bukan seorang Direktur," jelas Darius.


Raven begitu terharu atas kemurahan hati tuannya. Tidak sia-sia dirinya memberikan kesetiaannya kepada sosok Darius Hunt. Raven berjanji, akan lebih giat dalam melayani tuannya. Sementara itu, Darius menebar pandang ke sekitar. Mencari keberadaan Mona.


"Dimana gadis kecil itu?" tanya Darius kepada Raven. Sayangnya, Raven pun tidak tahu.


Sementara itu, rupanya Mona masih berada di dalam rumah sakit. Ia terpisah dari Darius dan Raven karena langkahnya yang lamban dan terlalu sibuk selfie. Sekarang, Mona tengah kebingungan. Ia tak tahu harus pergi kemana.


"Aduh..., aku tersesat. Kak Darius, pak Direktur, kalian dimana?" rengek Mona.


Dengan ceroboh, ia mengambil jalan secara asal yang membuat dia tertuju ke suatu ruangan yang bertuliskan "Kamar mayat".


"Huwaa....., aku salah jalan!"


Mona pun semakin tersesat.


Bersambung....