Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 52: Terjadinya kejadian yang tidak diinginkan



Komandan Gio ternganga setelah tahu bahwa kabar tentang pimpinannya yang mengundang seorang Hunt kedalam istana perak adalah benar adanya.


"Kenapa pimpinan membuat keputusan yang ceroboh seperti itu?" komandan Gio merasa sangat kesal.


Nova bersedekap tangan menanggapi reaksi Gio yang kesal, ia sama sekali tidak heran melihat reaksi Gio yang sangat keberatan.


"Jika kau ingin protes, katakan itu kepada pimpinan utama," ujar Nova lalu ia hendak beranjak karena baginya rasa keberatan Gio sangatlah tidak penting.


"Lalu mengapa kau tidak merasa keberatan sama sekali?" tanya heran Gio.


Tanpa mempedulikan pertanyaan Gio, ia beranjak pergi. Nova ingin Gio mencari sendiri jawaban atas pertanyaannya itu, saat ini ia tidak ada waktu untuk mengurus protes orang lain terhadap keputusan atasannya.


"Lebih baik aku pergi mencari hiburan," batin Nova.


Sementara Gio masih terpaku diam setelah Nova tidak menghiraukan perkataannya.


...*********...


Sore harinya di kediaman Raven.


Grand Mansion.


Saat ini Raven ditimpa musibah yang diluar perkiraan. Tuannya yang sehat bugar mendadak drop.


Sudah hampir 4 jam mencari informasi tentang cara menangkal sihir Forbidden Summon tetapi tidak ada satupun petunjuk yang Raven temukan, seiring berjalannya waktu ia semakin khawatir dengan kondisi tuannya yang kian mengalami transformasi.


"Sial...., tidak ada petunjuk sama sekali."


Raven sangat kesal, ia merasa sangat tidak berguna bagi tuannya.


"Maafkan aku tuan, aku siap menerima hukuman apapun atas ketidakmampuan ku ini," batinnya.


Informasi tentang penangkal Forbidden Summon sangat sulit ditemukan, buku prasejarah tentang sihir itupun telah lama hilang sejak zaman kerajaan Ezius. Ini semakin mempersulit keadaan.


Raven mulai cemas, karena saat ini tuannya sedang menahan sakit lantaran pertumbuhan tanduk di kepalanya yang semakin menjadi-jadi, sekitar 3 jam yang lalu ketika Darius ingin makan.


Mendadak Darius merasakan sakit di kepalanya, rasa sakit itu nyaris saja membuatnya tumbang. Saat ini ia hanya bisa terbaring di ranjang kamarnya sambil menahan sakit yang semakin parah.


"Cih...., sial, tidak ada penjelasan mendetail ataupun informasi akurat tentang sihir ini. Sepertinya sejarah riwayat hidup Feredrit Marc yang diketahui hanya sebatas ini saja."


Rasa kesal, khawatir dan marah semuanya bercampur aduk, berulang kali Raven mencari informasi bahkan sampai menghubungi beberapa sejarawan terkenal akan tetapi hasilnya nihil.


Dalam sejarah kerajaan Xeranos pun juga tidak tertera bagaimana cara menangkal sihir terlarang ini, di sebuah web arkeologi sihir yang tersohor ada seorang sejarawan besar yang berasumsi bahwa sihir ini bagai perjalanan satu arah, dimana sekali saja meluncurkan sihir ini kepada seseorang maka tidak ada cara untuk mencabutnya.


Tentu ini membuat Raven semakin panik, situasi menjadi sangat genting dan Raven bingung harus berbuat apa, ia merasa kecewa kepada dirinya sendiri lantaran tidak bisa menolong tuannya.


"Apa yang harus kulakukan?"


Ia semakin gelisah, ditengah kegelisahan terlintas sebuah ide yang mungkin dapat ia gunakan untuk membantu tuannya.


Namun disamping itu Raven juga merasa ragu, karena idenya tidak lain adalah meminta bantuan kepada seseorang yang sebelumnya berniat untuk menyakiti tuannya.


"Apakah memang tidak ada cara lain selain ini? menyebalkan," ujar kesal Raven, kemudian menarik jas nya yang tergantung dan melangkah menuju pintu keluar.


Sempat ia menoleh ke arah tuannya yang berada di ranjang kamarnya sebelum ia menyentuh daun pintu.


"Tuan, aku akan menyelamatkan mu, karena itulah kumohon bertahanlah sebentar lagi."


Kembali ke kediaman Hunt.


Caroline ternganga lebar setelah tahu bahwa seorang Mara telah berbuat curang dalam NGB tahun lalu, ia mendengar itu langsung dari mulut Mara sendiri.


"Kau melakukan hal itu dalam NGB? aku sungguh tidak percaya," ujar kaget Caroline.


"Maaf, tapi memang begitulah kenyataannya, aku sudah berdosa karena mengotori kesucian suatu pertarungan dengan kecurangan, tanganku ini sudah sangat kotor," ucap Mara dengan sedikit terisak tangis.


Caroline menatap Mata dengan serius.


"Jadi inilah alasan mu sebenarnya, kau menghukum dirimu sendiri dengan tidak mengikuti NGB dan lebih memilih mengurung diri, begitu?"


Mara mengangguk.


"Dosa ku sudah begitu banyak, menghukum diri sendiri tidaklah cukup untuk menebus semua itu, kau tidak tahu berapa banyak orang yang sudah ku sakiti, ku curangi dan ku tindas...,"


"Aku jauh lebih buruk dari yang kau kira," lanjut Mara.


Penyesalan semakin membuat Mara terpuruk, bayangan akan rasa bersalah semakin menggerogoti dirinya. Caroline berusaha mencari cara untuk mengeluarkan Mara dari keterpurukan nya.


"Mmm... Mara, kau tidak boleh terpuruk seperti ini, memang benar kau salah tapi aku tidak tega melihat sahabat ku seperti ini."


Caroline menepuk kedua pundak Mara dan menggenggam nya erat seraya berkata.


"Tenangkan dirimu, aku juga akan membantu mu dalam menanggung beban ini."


Mara seketika terkejut mendengar ucapan itu.


"T..., tapi Carol, kau tidak ada hubungannya dengan ini, semua ini salah ku dan aku yang harus menanggung nya," ucap Mara.


Caroline mendekatkan wajahnya kepada Mara dengan raut wajah penuh kesungguhan.


"Bukankah aku sudah pernah bilang padamu? aku adalah sahabat sejati mu dan aku bersumpah akan terus bersamamu dalam setiap kondisi, jadi sekarang jangan menyuruhku untuk tidak menolong mu."


Mara terdiam seribu bahasa, ia sangat tersanjung sekaligus merasa bersalah karena sudah melibatkan Caroline. Untuk saat ini Caroline mengusulkan kepada Mara untuk tidak memberi tahukan hal ini kepada siapapun karena sebentar lagi NGB akan tiba.


Jika hal ini sampai terdengar dan menyebar maka Hunt takkan diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam NGB tahun ini, disamping itu Caroline berusaha mencari cara untuk menenangkan sahabatnya ini.


"Bagaimana kalau kita refreshing ke tempat yang menenangkan? seperti taman atau pantai, bagaimana?" usul Caroline.


"Taman? pantai? aku rasa aku sedang tidak mood untuk kesana," balas ragu Mara.


Tiba-tiba saja Caroline menggenggam erat tangan nya dan langsung menariknya.


"Eh... Carol.".


Mara terkejut setengah mati.


Sementara itu Caroline terus menyeretnya.


"Kita mau kemana?" tanya Mara.


"Nanti kau akan tahu," jawab Caroline sambil tersenyum dan mengedipkan mata ke arah sahabatnya.


Bersambung....