
Setelah keluar dari dimensi gelap...
"Kau tidak apa-apa?" Darius mengulurkan tangan kepada seorang gadis yang ia tolong. Dengan sangat bersyukur, gadis itu menerima bantuan Darius.
Gadis cantik dengan rambut terkuncir dua, baru saja diganggu oleh sekumpulan pemuda dari ras ogre. Ras yang satu ini agak bandel. Meskipun sudah ada perjanjian damai antara Raja Reivan dengan Zolga sang pemimpin ras Ogre, namun masih saja ada ke-onaran yang terjadi karena ulah mereka.
Para Ogre pengganggu tersungkur takut dihadapan Darius. Bahkan ada salah satu dari mereka yang kencing di celana. Darius menggelengkan kepala atas kejadian memalukan yang ia saksikan.
"Apakah kewibawaan Ogre sudah serendah ini?" ledek Darius, menatap miris ogre yang mengompol.
"S.. siapa kau? dari mana kau muncul?" tanya bingung salah satu Ogre yang kakinya terkilir akibat menendang tubuh keras Darius.
"Darius Hunt, ingatlah namaku seumur hidup kalian. Bawa namaku kepada raja kalian, sampaikan bahwa jika kejadian ini terus berlanjut maka perjanjian damai akan dihapus oleh Raja kerajaan Ezius," jawab Darius.
Ogre itu malah kebingungan setelah mendengar perkataan Darius...
"Raja siapa? kerajaan apa yang kau maksud?" tanya lagi si Ogre.
Darius membaca jelas sorotan mata yang kebingungan itu. Apa mereka Ogre liar? sehingga mereka tidak mengerti siapa pemimpin ras Ogre atau mungkin mereka dari kelompok Ogre tertentu?
"Kalau begitu, sampaikan namaku kepada pemimpin kalian. Cepat!" bentakan Darius membuat mereka lari tunggang langgang.
Baru saja Darius menikmati awal kebebasan, ia sudah disambut dengan perbuatan tak terpuji yang dilakukan oleh para Ogre. Tak terkira dirinya akan menemui hal seperti ini.
"Terima kasih atas bantuannya, kak."
"Sama-sama, sudah sewajarnya bagi seorang ksatria melindungi penduduk terutama seorang wanita. Kebetulan sekali aku bertemu dengan seseorang, ada hal yang ingin kutanyakan," ujar Darius.
"Apa itu kak?" tanya gadis itu.
"Apakah saat ini aku berada di Invandara?" gadis itu merespon dengan senyum dan anggukan. Darius merasa lega mengetahui dirinya benar-benar telah kembali ke tempat asalnya.
Mata gadis itu berbinar melihat sosok pria dihadapannya. Ini pertama kali baginya, melihat seseorang dengan ciri yang belum pernah ia temui. Berbadan besar dan tegap, wajah rupawan serta memiliki tanduk di kepala yang menurutnya keren. Meskipun ia masih heran, bagaimana bisa seorang pria muncul tiba-tiba lalu menolongnya. Ditambah lagi, pria dihadapannya itu memakai zirah emas yang agak usang dan membawa sebuah pedang.
"Mungkin kakak ini adalah cosplayer yang sedang mencari tempat yang tepat untuk background foto," batin gadis itu.
Itulah pandangan si gadis terhadap Darius. Menyadari tatapan si gadis yang berfokus terhadap tanduk di kepalanya, Darius sedikit memalingkan diri.
"M..maaf, penampilanku pasti membuat mu takut," ujar malu Darius.
"Tidak kak, bagiku penampilanmu cukup keren."
Tanggapan gadis itu mengenai wujudnya begitu melenceng jauh dari yang ia perkirakan. Darius pikir penampilannya akan mengundang rasa takut bagi siapapun yang melihatnya. Ternyata malah sebaliknya.
"Terima kasih atas pujian mu, bolehkah aku meminta bantuan? aku ingin pergi ke pusat kerajaan Ezius di kota Tideo," mohon Darius
"Kakak sekarang sudah berada di Tideo," balas si gadis.
"Sungguh?" Darius tersontak senang.
"Iya kak, kita sedang berada di taman buah persik dekat pusat kota," balas si gadis.
"Syukurlah.." ini berarti Darius bisa secepatnya bertemu dengan keluarganya, nafas lega Darius hembuskan. Senang sekali dia mendengar perkataan gadis itu. Ia pun meminta gadis itu untuk menunjukkan jalan.
Dalam perjalanan menuju ke pusat kerajaan, mereka berdua mengobrol sedikit. Darius merasa asing dengan penampilan gadis yang bersamanya ini. Memang dari segi paras dan warna kulit, gadis ini memiliki semua ciri khas dari penduduk kerajaan Ezius. Namun pakaiannya tidak mencerminkan sosok wanita dari Ezius.
Sedari tadi, gadis itu memegangi sebuah benda berbentuk persegi dengan kaca yang menempel pada benda tersebut. Apakah itu cermin?
"Cermin mu unik sekali, kau membelinya dimana?" tanya Darius. Gadis itu mengerutkan dahi, pertanyaan itu terdengar agak konyol di telinganya.
"Kakak ini bicara apa sih? ini bukan cermin. Ini smartphone, ayahku yang membelikan ini untukku kemarin," jawab si gadis.
"Apa itu smartphone?" tanya lagi Darius yang tidak paham tentang apa itu smartphone.
Gadis itu tertawa lepas, ia menganggap bahwa Darius sedang bercanda.
"Kau ini ada-ada saja kak," ucapnya. Ia tidak tahu bahwa Darius bertanya serius kepadanya.
"Oh ya, kita belum berkenalan. Namaku Desmona, nama kakak siapa?" gadis itu mengulurkan tangan, hendak berjabat...
"Namaku Darius Hunt, putra raja Reivan." Darius menjabat tangan gadis itu.
Mendengar hal itu, si gadis makin tertawa terbahak-bahak. Darius menjadi heran, memangnya apa yang lucu dari perkataannya tadi.
"Akting mu bagus juga kak, kau pantas menjadi seorang aktor," ucap gadis itu.
"Aktor?" Darius makin bingung, ia tidak tahu apa itu aktor.
Mereka sudah sampai di gerbang keluar dari taman buah persik. Disitulah Darius melihat sesuatu yang membuat dia terbelalak. Kota Tideo sudah tidak lagi seperti dulu. Gedung-gedung tinggi berdiri kokoh, banyak makhluk dari berbagai ras termasuk manusia yang berlalu lalang di kota dengan akrab.
Jalanan beraspal serta kebisingan kota yang tidak seperti yang ia duga, baru pertama kali dilihatnya. Darius sungguh asing dengan nuansa kota Tideo sekarang. Apalagi dia tidak tahu nama makhluk berbadan besi yang sedang dikendarai oleh para penduduk kota ini (mobil dan motor).
"Inikah Tideo?" tanya Darius.
"Iya."
"Kenapa begitu banyak istana disini? bentuk istananya pun aneh, Apakah raja yang membangun semua ini? lalu makhluk apa yang mereka kendarai?" tanya Darius sambil menunjuk ke arah sepasang kekasih yang sedang menaiki sebuah bus.
"Kau ini, masih saja bersandiwara. Ini semua bukan istana tapi gedung perusahaan dan juga mansion. Lalu yang mereka kendarai bukan makhluk hidup tapi kendaraan. Kau sungguh lucu, kak" jawab Desmona.
Darius menelan ludah. Ini bukan kota Tideo yang ia kenal. Tidak ada peternakan yang biasa mudah dijumpai di kota Tideo, tidak ada orang yang mengendarai kuda, tidak ada pedagang-pedagang yang menjual hasil pertanian di pinggir jalan. Semua itu sudah tidak ada. Ditambah lagi ada kendaraan aneh yang membuatnya tercengang.
"Apakah ini benar-benar Invandara? apakah ini benar-benar kota Tideo yang kukenal?" tanya Darius dalam batin.
Desmona melihat arlojinya, ia menyadari ada hal yang tidak ingin ia lewatkan. Ia pun punya inisiatif untuk mengajak Darius ikut dengannya.
"Sebagai tanda terima kasih, aku akan mengajak kakak untuk menonton konser Rina Clascof hari ini. Akan ku belikan tiketnya untuk kakak," ujar Desmona sambil menarik tangan Darius.
"Siapa itu Rina Clascof?" tanya Darius seraya ditarik oleh Mona.
"Masa kakak tidak tahu sih? dia itu penyanyi populer di tahun 2030 ini. Suaranya ketika bernyanyi bagai malaikat yang bersenandung," jawab Mona.
"Tahun 2030?" Darius tertegun, setelah menyadari sesuatu yang sulit dipercaya.
"Jadi sekarang aku berada di Invandara tahun 2030" gumam Darius disusul sontak kaget yang bukan main, dalam batin. Terakhir kali Darius berperang melawan Dark Lord pada tahun 1630, maka artinya...
"Tidak mungkin! ini berarti sudah 400 tahun aku mendekam di dalam dimensi busuk itu!" heboh Darius dalam batin.
Bersambung......