
Sebuah Limosin bergerak keluar dari kota Tideo. Mobil mewah itu ditumpangi oleh Ratu Oriery dan beberapa bawahannya. Limosin itu dikawal oleh empat mobil lainnya yang tidak lain adalah pengawal Ratu. Mereka sedang dalam perjalanan menuju Temple of Weryan. Tempat dimana bangsawan Hunt melatih dan mempelajari sihir yang menjadi kekuatan inti mereka. Yakni sihir Darkus Illuso.
Ratu melamun sepanjang perjalanan. Pikirannya tak henti-hentinya mengingat hal yang disampaikan oleh adiknya.
"Apa sebenarnya yang ia pikirkan? tiba-tiba saja mempercayai omongan pemuda yang tidak jelas asal-usulnya. Apa dia sudah gila?" batin Ratu.
Beberapa jam yang lalu, di rumah sakit....
Ketika ia masih menemani adiknya di rumah sakit. Mara menyampaikan sesuatu yang membuat jantung kakaknya nyaris meledak.
"Sepertinya kepala mu terbentur keras saat kecelakaan, sampai-sampai kau bicara ngelantur seperti ini, lebih baik kau istirahat, tenangkan pikiran supaya kau dapat kembali berpikir jernih," ucap Ratu yang tidak mempercayai perkataan adiknya.
"Tapi kak, semua yang dilakukan Darius sudah sangat tidak wajar dimata kita. Dia pernah mengalahkan Evo dengan mudahnya dan menghancurkan penghalang sihir mu hanya dengan tekanan udara (Chapter 21). Apakah itu normal dimata mu?" tanya Mara.
Ratu terdiam tanpa sepatah kata. Ia tidak dapat menjelaskan bagaimana Darius dapat melakukan sesuatu yang mustahil dimata para Hunt.
"Sebagai pemula dalam Divisi sihir, dia mampu mengeluarkan kekuatan elemen yang energi tidak dapat dirasakan, bahkan oleh ku. Dia juga berhasil menembus Mirror of Greedy serta membuatku menjadi seperti ini, bukan hanya itu saja. 2 jam yang lalu dia sanggup membunuh Pyroberus dengan satu serangan," jelas Mara.
"Apa kau bilang?" tanya Ratu yang tersentak mendengar ucapan Mara.
Mara meminta Ratu untuk memberikan ponselnya. Ratu pun menuruti keinginan adiknya, ia menyerahkan ponselnya kepada adiknya. Mara mengetik sesuatu pada pencarian di internet dengan jari-jarinya yang masih kaku. Rupanya yang dicari oleh Mara adalah situs berita.
Ia menunjukkan laman dari situs berita itu kepada kakaknya. Tentu, laman dari situs berita itu terpapang berita-berita terkini yang sedang hangat dan berita yang paling hangat disitu adalah berita tentang ksatria yang menghabisi seekor Pyroberus seorang diri. Foto dari orang yang menghabisi monster itupun terpapang disana.
"Itu... sungguh dia?" tanya Ratu, melihat foto Darius terpapang pada halaman berita.
"Iya kak dan ini bukan rekayasa. Pyroberus itu menyerang tepat di daerah ini. Darius berhasil mengalahkannya dan menyelamatkan banyak nyawa, termasuk nyawaku," balas Mara.
Berita aktual itu baru diliput hari ini. Ratu tidak dapat berkata sama sekali. Ia ingin mencari alasan untuk mengelak, tapi berita ini cukup membungkamnya. Mara sekali lagi, telah menunjukkan bukti bahwa Darius bukanlah orang biasa.
"Darius memiliki latar belakang yang tidak kita ketahui, dalam data bangsawan Hunt sama sekali tidak ada informasi tentangnya. Aku mulai berpikir bahwa yang dia katakan padaku, benar adanya," ucap Mara.
"Apa kau gila? kau ingin mempercayai pemuda yang latar belakangnya tidak jelas? dia hanya berusaha menipumu. Mana mungkin dia adalah Darius yang dikatakan dalam sejarah Ezius. Dia hanya berusaha untuk cari tenar didepan mu, karena dia pasti tahu kalau kau adikku," tukas Ratu.
"Orang yang hanya cari tenar, takkan mungkin memiliki skill sehebat itu, kak. Dia sudah membuktikan dirinya dihadapan kita semua, kemampuannya pun bukan sekedar omongan kosong belaka. Dia juga berhasil mengalahkan orang-orang terbaik kita, termasuk aku. Apakah begitu ciri orang yang hanya cari tenar?" tanya Mara.
Ratu tidak mampu membalasnya.
"Detik ini, aku Tiamara Hunt mengakui kekuatannya. Untuk saat ini, aku percaya bahwa Darius memanglah sosok yang tercatat dalam sejarah Ezius," jelas Mara.
"Mara...! apa kau sadar dengan ucapan mu?" tanya bentak Ratu.
"Untuk saat ini saja, aku percaya padanya. Aku masih akan tetap menyelidiki dia lebih lanjut guna memastikan kalau dia tidak berbohong. Kalau soal kekuatan, aku sepenuhnya mengakui dirinya, dia pantas ditakuti," ucap Mara.
Ratu merasa kesal sampai ia mengelus dada. Ia tidak percaya adiknya akan berkata seperti ini.
"Cukup, Mara. Jangan bicara lagi, aku muak mendengarnya. Mungkin aku memang harus memikirkan cara lain untuk menghukum pembelot itu, akan ku disโ"
"Jangan, kak."
Ratu terkejut mendengar Mara yang mendadak memotong ucapannya. Baru kali ini adiknya berani memotong perkataannya.
"Maaf jika aku tidak sopan. Tapi lebih baik kita hentikan saja ini, akui saja Darius sebagai salah seorang Hunt yang sah," jelas Mara
Seketika Ratu langsung naik darah.
"Aku paham. Tapi entah kenapa aku merasa kalau kita sudah merasakan hal yang salah. Ada perasaan yang kurasakan ketika dia menyelamatkan ku. Perasaan yang terasa erat, perasaan inilah yang mengatakan kepadaku bahwa perbuatan ini tidak benar," balas Mara.
Kedua bahu Mara dipegang erat oleh kakaknya. Tatapan matanya tajam membara, menandakan kemurkaan. Kedua alisnya saling bertemu dan urat kepalanya pun terlihat menegang.
"Apa yang telah ia lakukan padamu? hingga kau jadi begini," tanya Ratu.
"Ini tidak sepenuhnya karena dia. Aku berkata seperti itu, sesuai dengan apa yang kurasakan terhadap Darius. Aku pun tak tahu dari mana datangnya itu. Yang pasti aku merasa tindakan ini adalah yang terbaik," jawab Mara.
"Perasaan mu pasti sedang kacau. Sehingga kau berkata ngawur. Dengar Mara, jangan berkata seperti itu lagi. Aku tidak ingin adikku menjadi salah satu penghuni penjara bawah tanah. Paham?"
Mendengar itu, Mara langsung terdiam. Ratu melepaskan tangannya dari bahu Mara. Kemudian berpaling pandang.
"Akan kirim Caroline untuk menjaga mu disini. Pastikan kau beristirahat dengan baik, lekas lah sembuh."
Tangan Ratu menggapai gagang pintu dan hendak keluar dari ruang rawat.
"Kak..."
Suara Mara menghentikan Ratu untuk sesaat.
"Pemuda itu menyelamatkan ku, seperti kau menyelamatkan ku dulu. Aku hanya tidak ingin kau celaka karena ini," ucap Mara.
"Si Darius itu boleh saja memiliki fisik dan kekuatan yang kuat. Namun itu tidak membuktikan dirinya adalah ksatria dari era kerajaan Ezius. Lagi pula, sejarah mengatakan bahwa Komandan kelompok ksatria emas adalah seorang manusia dan pemuda bertanduk itu tidak mungkin manusia," balas Ratu. Ia pun meninggalkan ruang rawat.
Sempat ia menoleh ke belakang, melihat adiknya tertunduk sangat lesu. Sakit hatinya karena sudah terlanjur membentak adik kesayangannya. Sejujurnya ia tidak ingin melakukan itu, terpaksa ia melakukannya lantaran menurutnya pemikiran Sang adik sudah melenceng.
Dibalik pintu ruang tempat Mara dirawat, Ratu meneteskan air mata. Setelah beberapa saat, ia pun pergi meninggalkan ruang rawat adiknya.
...*************...
Setelah 3 jam perjalanan....
Ratu akhirnya sampai ditempat tujuan, sebuah kuil tersembunyi diluar kota Tideo. Temple of Weryan, yakni kuil tempat bangsawan Hunt melatih sihir Darkus Illuso.
Kuil ini terletak jauh didalam hutan yang berada di perbatasan dekat jalan masuk menuju kota Desius. Disinilah Hunt mempelajari dan melatih diri mereka untuk menguasai Darkus Illuso.
Sihir ini adalah sihir yang berkemampuan gelap. Kemampuannya pun beragam. Mulai dari kemampuan menciptakan Gate yang memungkinkan penggunanya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Sampai membuat ilusi serta serangan berdaya hancur tinggi. Bisa dikatakan, sihir ini adalah kekuatan utama Hunt.
Ilmu sihir ini hanya boleh dipelajari oleh kalangan Hunt saja. Bahkan Ilmu ini sangat dirahasiakan. Karena menurut sejarah yang dirahasiakan oleh Hunt, ini adalah sihir warisan dari Drake Hunt yang hanya ditunjukkan oleh para keturunan Hunt.
Kerahasiaan ilmu ini pun sangat dijaga. Para Hunt tidak akan membiarkan ilmu ini diketahui oleh dunia luar, karena dikhawatirkan akan ada pihak kotor yang mencoba untuk memanfaatkan ilmu ini untuk hal yang buruk. Sebentar lagi Ratu Oriery akan berlatih dalam penguasaan Dark Illuso.
Pengawal membukakan pintu mobil untuk Ratu dan Ratu pun perlahan keluar dari mobilnya. Ia disambut oleh seseorang berjubah Merah didepan pintu masuk kuil.
"Selamat datang, Ratu. Kehadiran anda sangat dinantikan oleh Penasehat agung," ucap orang berjubah merah.
"Bawa aku menemuinya," perintah Ratu.
"Baik, silahkan ikuti saya."
Bersambung....