Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chaper 79: After Party



Pukul 06:00


Setelah pesta pengesahan di malam yang panjang....


"Hmmm...., hooaammmm..."


Perlahan Darius membuka matanya yang serasa begitu berat, ia terbaring diatas ranjangnya yang berantakan dengan kondisi bantal dan guling berterbaran kemana-mana dan selimut putih menutupi setengah badannya .


Ia tidur terlalu larut semalam sampai sulit bangun pagi, ditambah lagi hari ini dia harus latihan dan mengeksplore Casteral Mansion guna mencari informasi.


"Sudah pagi, aku harus segera mandi dan berlatih."


Perlahan ia turun dari kasur, niat nya untuk beranjak terhenti setelah menyadari terdapat sesuatu dibalik selimutnya. Darius menarik selimut tidurnya dan mendapati seorang gadis berkacamata terbaring lelap, sontak ia terkaget hingga nyaris terpeleset.


"HEH?!  A.... APA? WANTA? SEJAK KAPAN?"


Darius memeriksa sekujur tubuhnya, dia masih memakai pakaian lengkap tanpa ada yang kurang begitu juga dengan wanita itu.


"Kurasa tidak terjadi apa-apa semalam, semoga saja," ucap Darius dengan perasaan was-was.


Tak berselang lama, gadis yang berada diatas tempat tidurnya terbangunkan sinar mentari yang menyilaukan. Perlahan gadis itu mengusap mata lalu menoleh ke arah Darius, dengan polosnya ia berkata....


"Selamat pagi."


"Ttttt...., tunggu dulu, kau siapa? mengapa kau bisa disini?" tanya gugup Darius.


"Apa kau tidak ingat? aku Chloe, semalam kita mengobrol-ria di pesta," jawabnya.


"Benarkah? aku tidak ingat, lalu mengapa kau bisa disini?" tanya kembali Darius.


"aku yang membopong mu kemari, semalam kau terlalu mabuk sehingga aku terpaksa bersusah payah membawa mu kembali ke kamar," jawab jelas Chloe.


"Sungguh? ergh...!  aduh! kepala terasa berat."


Darius tidak bisa mengingat apapun, pada akhirnya Chloe menjelaskan kejadian semalam.


Saat pesta semalam...


Ketika itu Darius seusai berbicara dengan Raven, banyak anggota Hunt yang menghampirinya untuk mengajak berkenalan dan salah satunya adalah Chloe.


Sebagai anggota baru, tentu dia menjadi pusat perhatian. Begitu banyak pertanyaan menghujaninya, terutama dari para wanita Hunt yang tertarik terhadap bentuk fisiknya.


Disisi lain terlihat Raven yang merasa khawatir karena dia belum bisa percaya kepada para Hunt, tetapi Darius memberinya isyarat yang mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja.


"Hei anak baru, berapa usiamu?"


"Apa kau juga menguasai sihir? kudengar kau adalah pengguna pedang?''


"Badanmu besar juga, apa suplemen yang kau minum?''


"Tanduk ini, kau berasal dari ras apa? naga? minotaurus?"


Pertanyaan yang terlontar semakin banyak sampai sulit untuk dijawab, ditengah situasi itu Caroline muncul dan meredakan nuansa yang begitu ricuh.


"Kalian bertanyalah satu-persatu, ribut begini hanya akan membuatnya bingung," tegur tegas Carol yang membuat mereka tertunduk diam.


"Maaf atas kelakuan mereka, mereka terlalu bersemangat," ujar Carol.


"Bukankah mereka membenci ksatria pedang sepertiku, kenapa sekarang mereka ingin akrab dengaku?" batin Darius.


"Ehmm..., bisakah kalian memberi kami ruang? ada hal penting yang harus kami bicarakan," ujar Carol, seketika para Hunt yang mengerubungi Darius pun bubar, menyisakan mereka berdua.


Carol duduk bersebelahan dengan Darius, gaun germerlap yang ia kenakan sempat mencuri perhatian Darius selama beberapa saat.


"Kalau tidak salah, namamu Caroline, bukan? kau belum pulih, tidakkah sebaiknya kau beristirahat," ucap darius, merasakan aura kekuatan Carol yang begitu lemah.


"Aku datang ke pesta ini hanya untuk mengobrol denganmu saja, bisa dibilang beginilah caraku menyambut anggota baru, aku juga ingin menyampaikan rasa terima kasihku karena berkat kau aku, teman-teman beserta Ratu dapat selamat dari amukan monster itu," balas Carol.


"Dan juga, terima kasih karena sudah mau menyelamatkan sahabatku Mara, kau menyelamatkan dia dari kecerobohannya meski sebelumnya dia mencoba mencelakaimu," lanjut Carol.


"Sama-sama, itu bukan yang pertama kalinya bagiku,'' ujar Darius.


Carol menuangkan anggur kedalam gelas Darius yang kosong, berhubung sekarang Darius sudah menjadi bagian dari Hunt. Carol mencoba untuk mengakrabkan diri dengan anggota barunya ini, meski sebenarnya Carol tidak ada bedanya dengan gadis-gadis yang sebelumnya mengerubungi Darius.


Mereka berdua berbincang-bincang sambil menikmati anggur serta hidangan yang disediakan, sejauh ini Carol merasa cukup nyaman mengobrol dengan pria baru dihadapanya. Lambat laun obrolan mereka semakin jauh, carol menceritakan pengalamannya selama tinggal di Casterak Mansion serta fasilitas apa saja yang tersedia didalamnya, informasi yang cukup bermanfaat bagi Darius untuk meng-explore mansion besar ini.


"Aku sama sekali tidak mengira bahwa pria yang di buron oleh Ratu, kini menjadi bagian dari kebangsawanan ini," ucap Carol.


"Terkadang kebenaran sulit untuk dipercaya," sahut Darius.


"Kau tahu? sejujurnya aku penasaran padamu sejak pertama kali kita bertemu, saat itu kau berkonflik dengan si bodoh Holmus dan kau sama sekali tidak gentar meski Holmus membawa nama Hunt atas keegoisannya sendiri, terlebih lagi kau pun bersih keras mengaku sebagai Hunt meski sedang menggengam sebuah pedang ditanganmu, itu agak konyol menurutku," ujar Carol.


"Padahal yang pertama kali membawa nama Hunt melambung tinggi adalah aku dan pedangku, aku jadi tidak sabar untuk segera mencari penyebab sejarah yang melenceng ini," batin darius, merasa sedikit jengkel.


Carol melanjutkan perkataannya....


"Tindakanmu saat itu memang begitu bodoh dan konyol, tapi entah mengapa..."


Carol memutus omongannya sejenak lalu menatap Darius.


"..... Entah mengapa aku merasa ucapanmu saat itu, tidak ada sedikit pun kebohongan didalamnya, terutama ketika melihat tatapan matamu yang begitu yakin dan tidak gentar, aku sampai meragukan diriku sendiri ketika menganggapmu sebagai pembohong," jelas Carol seraya tersenyum manis.


Raut wajah Darius seketika memerah, ia memalingkan wajah guna menyembunyikan rona pipinya, ini bukan pertama kalinya ia melihat wanita tersenyum tetapi Carol nampak berbeda.


"Kenapa aku tersipu seperti ini? ayolah, aku tidak boleh memandang cicit ku seperti ini."


Ini membuatnya merasa salah tingkah.


"Sepertinya sudah aku terlalu banyak minum."


Carol beranjak dari duduknya.


"Aku akan kembali beristirahat, ngomong-ngomong ternyata kau bisa menjadi kawan mengobrol yang asik, aku benar-benar menikmatinnya," ujar Carol seraya tertawa kecil.


"Sejujurnya aku lebih pemalu dari yang kau kira," balas Darius.


"Ahahaha..., kau sungguh lucu, sampai jumpa lagi, jangan terlalu banyak minum ya."


Beginilah perckapan mereka berakhir, Carol melambaikan tangannya lalu melangkah pergi.


Meninggalkan Darius yang rona pipinya belum menghilang,.


"Hah..., gadis itu, mungkinkah aku bisa meyakinkanya? lebih baik aku fokus pada penyelidikan ku dulu."


Malam semakin larut, pesta beriringan musik semakin terdengar berisik begitu juga dengan orang-orang yang ikut didalamnya. Sebuah botol anggur yang masih terisi penuh melayang ke arah darius yang sedang duduk, reflek insting tangan kanan Darius langsung menangkap botol itu tanpa perlu menoleh terlebih dahulu.


Darius melihat ke arah dimana botol itu terlempar, nampak seorang pemuda ber-tuxedo sedang melambaikan tangan ke arahnya.


"Hei anak baru, kemarilah...! ayo kita bertanding minum anggur, yang kalah harus melompat ke kolam renang...!" ucap lantang pemuda itu disusul tepuk tangan yang meriah.


"Bertanding? menarik."


"Darius, aku sudah dengar banyak tentangmu, namaku Aufred, aku adalah ahli sihir tumbuhan sekaligus peracik minuman terbaik disini."


"Senang bertemu denganmu."


Mereka nampak akur walau baru pertama kali bertemu. Aufred begitu murah senyum serta tutur katanya yang ramah membuat nyaman orang-orang yang berada didekatnya.


"Kau pasti sudah meminumnya tadi, itu adalah salah satu terbaik ku, bagaimana menurutmu?"


Aufred menunjuk anggur yang sedang Darius genggam.


"Ini bagus, aku yakin harusnya ini bisa menjadi lebih bagus lagi," balas Darius.


"Ahahaha..., akan kuusahakan, karena ini pesta penyambutan mu maka aku mengajakmu dalam tantangan ini."


Aufred menepuk tangannya beberapa kali, lalu datanglah beberapa pelayan yang membawa 5 kardus besar yang tiap kardusnya berisikan 30 botol anggur buatan  Aufred ukuran 1,5 liter.


"Peraturannya sederhana, yang menghabiskan anggur paling banyak dan bisa bertahan lebih lama maka dialah pemenangnya," ucap Aufred penuh percaya diri.


"Cukup mudah, mari kita mulai," sahut Darius.


"Kau terlihat bersemangat, baiklah kita mulai."


Aufred beserta orang-orang yang ikut menyaksikan mulai menghitung mundur.


"5...., 4...., 3...., 2..., 1....!"


Pertandingan dimulai, 20 menit kemudian.....


Darius memenangkan pertandigan lantaran  Aufred tumbang setelah minum 10 botol, sedangkan Darius berhasil menghabiskan 140 botol.


Para penonton disana tak habis pikir dengan apa yang mereka lihat, banyak dari mereka yang mengabadikannya dengan ponsel mereka masing-masing.


"Apakah ada penantang lagi?" tanya Darius dengan sangat berani.


"Aku...!"


Cientry yang entah dari mana datangnya tiba-tiba saja muncul dihadapan Darius.


"Apa aku mengenal mu nona?" tanya Darius.


"Aku Cientry dan sebentar lagi kau akan mengenal ku," jawabnya angkuh.


Para hadirin yang meyaksikan mersa sangat bersemangat, selama ini Cientry dikenal sangat tangguh dalam hal minum seperti ini.


Dia pernah menaklukan banyak orang dalam pertandingan minum anggur bahkan Ratu sendiri tidak sekuat dia jika dalam hal ini, akan menarik jika orang sepertinya bertanding melawan Darius.


"Bawakan anggur lagi kemari, cepat...!" perintah Cientry.


Lekas para pelayan kembali membawakan 5 kardus besar anggur lagi, kali ini anggur yang mereka bawakan jauh lebih keras.


"Jika kau kalah, jadilah budak ku selama satu bulan," ucap angkuh Cien.


"Baik, jika aku menang maka kau harus membantuku dalam segala hal," balas darius.


Pertandingan pun dimulai...


Setelah 2 jam lamanya,  pertandingan pun berakhir dengan Darius sebagai pemenangnya.


Cientry gugur di botolnya yang ke 30.


"Sial...., bagaimana bisa? (ngueg...!)"


Cientry serasa ingin muntah karena terlalu banyak minum, para pelayan segera membawanya pergi. Semua orang merekam kekalahan Cientry atas Darius, mereka semua tercengang karenanya.


"Apakah ada lagi?" tanya Darius untuk yang kesekian kali.


Para penantang pun berdatangan, pertandingan ini terus berlanjut hingga tengah malam dan berakhir dengan gugurnya 25 orang penantang termasuk Aufred dan Cien.


Darius pun terlelap karena terlalu banyak minum, dengan posisi kepala tergeletak diatas meja bar.


Chloe yang berada disana berinisiatif untuk membawa Darius kembali ke kamarnya, ia berusaha keras membopong tubuh Darius yang berat seorang diri.


Tidak ada yang membantunya karena semua orang terlalu fokus pada pesta,


"Ugh..., berat sekali," keluh Chloe.


Dengan jerih payah yang cukup keras, akhirnya ia berhasil membawa Darius kembali ke kamar.


"Aduh bahuku nyeri, sedikit lagi"


Chloe berusaha membaringkan Darius diatas ranjang, namun....


"AAAA...!!!"


Ia terpeleset dan ambruk bersama Darius tepat diatas kasur, yang pada akhirnya menyebabkan kakinya tertindih oleh tubuh darius yang cukup berat.


"Aduh kaki ku."


Chloe berusaha menarik kakinya yang tertindih.


"Darius bangunlah...!"


Tidak ada respon, darius sudah tertidur lelap.


Ia juga berteriak minta tolong namun suara musik yang berisik membuat suara teriakannya tak terdengar, ia berusaha sekuat tenaga sampai akhirnya ia tak sanggup lagi.


Sebagian besar tenaganya habis untuk membawa Darius kembali kedalam kamar, setelah cukup lama terjebak Chloe pun merasa lelah dan mengantuk. Ia pun akhirnya memutuskan untuk tidur dengan posisi kaki terjepit.


Itulah yang terjadi semalam.


Pagi pukul 06:00....


Darius kembali ingat setelah mendengar penjelasan dari Chloe.


"Astaga maafkan aku, ini memalukan," mohon Darius dengan amat sangat.


"Ehehe..., tidak masalah, sudah menjadi hal yang wajar orang mabuk ketika berpesta."


Wajah Chloe memerah sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak sedang gatal.


"Aku terlalu ceroboh sampai tidak menahan diri, aku bahkan sampai tidur seranjang dengan gadis yang tidak kukenal.''


Darius menepuk dahi karena tak habis pikir dengan tingkah lakunya, sesaat kemudian ia teringat akan raven dan yang lain.


"Oh... ya, kemana perginya Raven? komandan Deri dan Seirus juga, aku harus segera mencari mereka."


Bersambung....