
Sudah 15 menit Mara memandu anggota barunya untuk melihat-lihat seisi Casteral Mansion, kali ini ia memperkenalkan ruangan supply tempat tungku-tungku penyimpanan mana berada.
"Ruangan ini adalah tempat supply mana, dimana kami membuat potion yang beragam dari melimpahnya mana disini, kebanyakan orang-orang yang bekerja disini adalah peracik handal dan gemar berkreasi dengan potion,'' jelas Mara.
Ia melihat Darius nampak melamunkan sesuatu.
"Hei, kau baik-baik saja?"
Suara Mara langsung menyadarkan Darius dari lamunannya.
"Tidak ada, bisa kau lanjutkan penjelasan mu," balas Darius.
Jawaban yang agak meragukan, namun Mara tidak mempermasalahkan itu.
"Sekarang, ayo kita pergi ke ruang pelatihan summon."
Selama perjalanan ke tempat pelatihan summon, disitu Darius terus memikirkan sejarah Hunt yang terpecah belah. Inilah yang ia takutkan selama ini, tidak hadirnya ia pada masa setelah perang Dark Lord memberikan dampak negatif karena itu membuat Hunt kehilangan satu pembimbing.
Menjadikan Hunt dimasa kini menjadi kurang arahan sehingga memuja sihir dan mengabaikan yang lain, mereka bahkan tidak menganggap saudara mereka yang dari keturunan Sonya Hunt sebagai sesama mereka lagi.
"Ini jauh lebih buruk dari dugaanku," batin Darius.
Mereka akhirnya sampai di ruang pelatihan summon, didalamnya sedang banyak orang-orang yang melatih sihir pemanggilan atau bisa dibilang sihir yang digunakan untuk memanggil suatu makhluk penjaga yang akan membantu didalam pertarungan.
"Disinilah kami melatih sihir summon dan ini adalah ruangan pelatihan terbesar, ruangan ini didesain untuk memprediksi besarnya makhluk panggilan yang akan muncul nanti," Jelas Mara.
Darius melihat ke sekitarnya, banyak orang yang berlatih keras bahkan ada yang terkapar karena kelelahan. Beberapa orang disana berhasil memanggil makhluk penjaga mereka masing-masing, ada yang berupa seekor anjing, tupai bahkan beruang.
Nampak yang paling berhasil disana adalah Rossa yang berhasil memanggil seekor elang merah yang gagah, ia tersenyum sombong didepan semua orang.
Bersamaan dengan momen itu, ia menoleh ke arah pembimbingnya yakni Mara yang sedang bertugas memperkenalkan seluk-beluk Mansion kepada anggota baru.
Dengan riangnya ia mendekati Mara tanpa lupa memberi hormat.
"Selamat pagi nona Mara, senang bertemu anda," salam Rossa.
"Pagi, Rossa, kulihat kau mengalami perkembangan hari ini," ucap Mara.
Seekor elang merah yang baru saja Rossa panggil pun bertengger di pundak nya.
"Kau sudah memberinya nama?" tanya Mara.
"Ya, aku memberinya nama Agni, dia cocok untuk nama itu, warna nya yang membara menggambarkan nyala api, sungguh anggun sekali," jelas Rossa.
Rossa membusungkan dada lalu tersenyum angkuh menghadap Darius, komandan Seirus yang berada tepat di samping Darius pun menyadari hal itu.
Mendadak seluruh hawa di ruang pelatihan summon menjadi sangat dingin, elang yang bertengger di pundak Rossa pun merasa terancam, terdengar suara langkah hewan berkaki empat tepat dari belakang Mara.
Marsa yang menoleh ke belakang secara refleks pun terpelanga....
"Astaga, makhluk summon milik siapa ini?" batin Mara, melihat sosok harimau putih besar dengan aura hawa dingin di sekujur tubuhnya.
Harimau itu menggeram, membuat elang panggilan Rossa terbang menjauh.
"Hei, makhluk apa ini?! siapa pemiliknya?!" teriak Rossa sambil menahan dingin.
Harimau itu duduk tepat di samping komandan Seirus, harimau yang terlihat gagah berprilaku layaknya kucing ketika komandan Seirus mengusap kepalanya.
"Oh maaf, aku tidak sengaja summon peliharaan milikku," ucap komandan Seirus. sambil menatap sinis Rossa.
"Dia memanggil tanpa perlu membaca mantra?" batin Rossa terkejut.
Seluruh pandangan tertuju pada komandan Seirus sekarang.
"Hmmm..., ini kan Harimau Iceberg, dulu aku dan Drake sering memburu hewan satu ini di hutan salju di area timur kerajaan, dagingnya lembut dan cocok dimakan dengan kecap asin," gumam Darius, bernostalgia.
"Baiklah, aku tidak ingin semua orang disini mati kedinginan," ujar komandan Seirus lalu ia membatalkan sihir summon nya, harimau besar itupun menghilang.
"Sejak kapan kau memiliki peliharaan seperti itu?" tanya Mara.
"Sejak apa yang telah kau lakukan pada Deri," jawab Seirus.
Mara pun terdiam seribu bahasa, sementara itu Darius yang mendengar percakapan mereka merasa penasaran, ia sama sekali tidak tahu masalah apa yang terjadi antara Mara dengan komandan Seirus dan Deri.
Nuansa hening itupun pecah saat Rossa masih berprilaku sombong setelah ditekan seperti tadi.
"Yah, setidaknya itu bukan berasal dari summon dia (Darius), komandan Divisi dari K.A.O sangat sesuai ekspektasi," ucap ledek Rossa.
"Setiap orang punya kelebihan masingmasing bahkan ada yang tersembunyi, jangan pernah meremehkan orang di sekitar mu," sahut Seirus.
"Rossa, dia adalah anggota baru kita, tolong perbaiki sikap mu," ujar Mara.
"Maaf nona Mara, tapi bukankah nona sendiri yang mengajarkan kepadaku bahwa jika seorang Hunt tidak bisa menguasai sihir sesederhana ini, maka nama Hunt miliknya perlu dipertanyakan?" sahut Rossa.
"Iya, namun itu pengecualian untuk Darius," jawab Mara.
"Mengapa bisa begitu? bukankah itu sudah tercantum sendiri dalam hukum Hunt," balas Rossa.
"Rossa, berhenti membantah!"
Rossa pun terdiam setelah mendengar suara lantang dari Mara, secara lembut Darius menepuk pundak Mara.
"Jangan terlalu membentak, nanti kau akan terkesan terlalu berpihak padaku ku, itu akan berujung prasangka buruk sehingga para murid mu akan merasa seperti di anak tirikan, aku akan mengikuti cara main peraturan disini, hanya untuk sekarang saja," jelas Darius.
Ia pun maju menghampiri Rossa.
Rossa tersenyum licik.
"Buktikan itu, dengan memanggil makhluk hasil summon mu sendiri, entah itu makhluk tingkat rendah atau menengah yang terpenting kau mampu memanggil makhluk summon mu sendiri," ucap Rossa.
"Baiklah, Mara bisakah kau menunjukkan sekilas caranya kepadaku?"
Mara pun menjelaskan tentang apa itu sihir summon (pemanggil), sihir ini adalah sihir tingkat menengah dimana seorang ahli sihir dapat memanggil makhluk yang sesuai dengan karakteristik nya untuk membantunya dalam melakukan suatu kegiatan, entah itu bertarung ataupun dalam kegiatan lainnya.
"Untuk memicu sihir ini kau harus menggunakan darah mu di telapak tangan, ada mantra yang dapat membantu mu mempermudah proses pemanggilan tapi mantra itu mustahil dihafal dalam waktu singkat," ujar Mara.
"Tidak perlu mantra kalau begitu, cukup tunjukkan caranya padaku," balas Darius.
"Kau yakin?"
Mara merasa agak ragu, sehebat apapun Darius, dia tidak memiliki sihir didalam tubuhnya, sehingga mustahil baginya untuk melakukan summon meski dengan mantra sekalipun.
"Fokuskan seluruh energi dan aura pada makhluk ingin kau tuju, jangan terlalu tegang karena itu akan memperhambat proses summon dan membebani pikiran mu," jelas Mara.
"Jangan pikirkan berapa banyak energi yang kau gunakan, cukup pakai seperlunya, yah aku juga tidak tahu ini akan berhasil padamu atau tidak, karena kau tidak memiliki sihir."
Seirus maju dan membisikkan sesuatu ke telinga Darius.
"Aku akan membantu mu dengan sihir ku," bisik Seirus.
"Jangan, itu sama saja curang," balas Darius.
"Lalu bagaimana kau melakukannya tanpa sihir?"
Darius bertopang dagu sesaat, ia berusaha memikirkan strategi untuk tantangan yang satu ini...
Setelah cukup lama berfikir, terlintas ide nekat dipikirannya.
"Aku akan mencoba membuat energi sihir timbul dari dalam diriku, meski hanya sedikit kemungkinan untuk itu," ucap Darius.
Ia pun menggigit ibu jarinya hingga berdarah lalu meneteskan darah nya ke telapak tangan, perlahan ia mulai berkonsentrasi pada setiap titik kekuatan ditubuhnya.
Mara masih merasa ragu, ia memperhatikan Darius dengan perasaan gugup.
"Bahkan aku belum memberi tahu cara memicu sihir didalam tubuh, apa kau yakin bisa melakukannya dengan caramu?" batin Mara mengingat betapa sulitnya ia mempelajari ilmu sihir.
Komandan Seirus pun juga sama, ia menghabiskan separuh hidupnya agar bisa menjadi seperti sekarang.
Perlahan hawa disekitar ruangan serasa mencekam, aura hitam pada diri Darius kembali muncul dan makin membesar.
Darius mengingat kembali ke masa lalu, dimana ia pernah bertanya kepada Drake tentang apa itu sihir....
"Apa itu sihir? apa kau ingin belajar kak?" tanya Drake dengan mata yang berbinar-binar.
"Tidak, aku hanya penasaran saja, mereka yang kau latih dapat memunculkan api, es bahkan batu dari tangan kosong, aku hanya penasaran bagaimana caranya," jawab Darius.
Drake bangkit dari duduknya.
"Sihir adalah sebuah energi yang berada jauh dalam diri manusia, dimana energi tersembunyi itu dapat diubah menjadi apa saja yang mereka butuhkan bila berhasil dikuasai, bagiku sihir adalah seni yang indah, aku bisa berkarya membuat kembang api, rangkaian bentuk air bahkan aku dapat membuat makanan ku sendiri," ujar Drake kemudian ia menghentakkan kakinya lalu tumbuh lah pohon buah persik.
Buah dari pohon itu langsung tumbuh dan rontok, menimpa Darius yang berada dibawah nya.
"Oops, maaf," ucap Drake.
"Tidak masalah, ini manis," balas Darius.
"Beginilah sihir bagiku kak, energi kekuatan yang dapat digunakan untuk membuat suatu karya yang indah dan hal lain yang bermanfaat untuk semua orang, kuharap suatu saat aku bisa menyebar luaskan ilmu sihir ku ini agar semua orang dapat menikmati keindahan dan kebaikannya, termasuk kau juga kak," jelas Drake sambil tersenyum.
"Aku? kau sungguh baik, tapi aku tidak punya kekuatan sihir."
Darius menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia agak malu ketika adiknya bicara seperti itu.
"Jangan menyerah kak, suatu saat kau akan menemukannya, sihir yang kau buat sendiri."
Begitulah percakapan mereka ratusan tahun yang lalu....
Sementara itu diruang pelatihan summon, aura hitam Darius semakin pekat membuat orang-orang disekitarnya kesulitan untuk bernafas.
"Sial, apa-apaan dia itu," ucap Rossa dengan nafas tersentak.
Darius merasakan ada energi yang terbentuk ditubuhnya, segera ia menggunakan nya sambil membayangkan makhluk yang ia tuju.
"Aku merasakannya, energi sihir, dia berhasil membuat nya," batin Mara yang hampir terdorong ke belakang akibat besarnya aura hitam.
Seberkas cahaya muncul dari telapak tangan Darius lalu perlahan semakin terang, sesaat kemudian cahaya itu meredup bersamaan dengan munculnya sosok makhluk raksasa yang nampak seperti wanita, ukuran nya yang besar membuat atap ruang pelatihan summon jebol seketika.
"Aduh..! dimana aku? tempat apa ini?"
Makhluk raksasa itu berbicara.
Seluruh orang yang berada disana mematung ketakutan kecuali Darius, pandangan makhluk itupun tertuju kepada sosok pria yang baru saja memanggilnya.
"Kau? kau Darius, bukan?"
Makhluk itu mengenali Darius, begitupun Darius yang nampak familiar dengan makhluk ini, ia pun berusaha mengingat dimana ia pernah bertemu dengan makhluk ini, hingga pada akhirnya dia ingat...
"Kau, dewi yang membantuku saat aku masih terjebak di dimensi gelap itu, kan?" tanya balik Darius.
Bersambung....