
"Sebuah pesan?" Darius meratapi batu itu penuh tanda tanya. Ia menemukan sebuah batu dengan sebuah yang terukir pada permukaannya. "Siapa orang yang mengukir pesan ini?" itulah pertanyaan yang ada di kepala Darius saat ini. Dengan teliti, Darius memperhatikan semua tulisan yang terukir pada batu yang ia temukan.
..."Untuk orang yang terjebak di tempat ini. Bacalah pesan ini. Pergilah ke menara hitam, 49 kilometer, tepat di barat sarang Hydra."...
Sekian pesan yang terukir pada permukaan batu itu.
Darius berfikir sejenak setelah membaca pesan tersebut. Ada beberapa pertanyaan di kepalanya.
"Menara hitam? aku belum pernah mengetahuinya. Siapa yang sudah mengukir pesan ini? lalu apa tujuannya?" Tanya Darius dalam batin. Terlintas sebuah kemungkinan dipikirannya.
"Apakah mungkin ini adalah petunjuk untuk keluar dari sini?" Kemungkinan ini memberi cahaya harapan bagi Darius. Meski ini masih sebuah kemungkinan, namun ia memutuskan untuk tetap mencobanya.
Ia masih belum tahu siapa penulis pesan itu dan apa tujuannya, mungkin ia bisa menemukan jawabannya dengan mengikuti arahan dari pesan yang ada pada batu itu.
Darius tahu harus pergi kemana terlebih dahulu. Ia sudah sering memburu monster aneh dengan kecepatan regenerasi super cepat, yang bernama Hydra.
Jadi dia tahu letak sarang monster itu. Laju lari cepatnya membuat ia sampai di sarang monster Hydra. Sayangnya, monster Hydra sudah tidak ada di dalam sarangnya. Darius sudah menghabisi semua Hydra di dalam sarang itu.
Dibandingkan dengan daging monster lain, Darius lebih menyukai daging Hydra. Karena menurutnya, daging Hydra lebih lembut dan mudah dikunyah. Itu menyebabkan dia terlalu sering memburu Hydra jumlah monster itu semakin sedikit. Bahkan kini sosok monster itu sudah tak lagi ia temui.
"Rupanya sarang ini benar-benar kosong. Apa mungkin mereka (Hydra) sudah punah?" Tanya Darius. Ia berencana membawa daging Hydra untuk menemani perjalanannya ke menara hitam itu. Tapi tak ada seekor pun Hydra yang ia temui.
"Ya sudahlah." Darius enyah dari sarang Hydra dan langsung pergi ke barat. Ia berlari kencang agar bisa cepat sampai ke menara hitam. Semakin lama, Darius semakin menambah kecepatannya. Rasa penasaran tak mampu ia bendung. Ia ingin segera tahu apa yang ada didalam menara itu. Didalam hati, ia berharap disana ada jalan untuk keluar dari dimensi ini.
Menara hitam yang menjulang tinggi telah nampak dimatanya. Ia pun berlari semakin cepat..., semakin cepat...
BLUAAAR!!!
Dan ia menabrak dinding menara lantaran tidak mampu menghentikan laju larinya. Dinding menara kokoh itu hancur. Darius sempat terpelanting sedikit. Ia menyadari dirinya sudah masuk kedalam menara tanpa melewati pintu masuk.
"Aduh..." Darius mengusap kepalanya yang agak pusing, kemudian menebar pandang ke sekitar. Bagian dalam menara lebih luas dari yang ia sangka. Cahaya-cahaya hijau yang bertebaran bagai kunang-kunang, menerangi seluruh bagian dalam menara. Entah darimana asal cahaya yang bertebaran ini.
"Siapa yang mendirikan menara sebesar ini di dimensi gelap? Dark Lord kah?" Batin Darius.
Darius menelusuri menara megah ini. Ada begitu banyak ruangan yang terdapat disini. Ini membuat dirinya kebingungan.
"Sekarang, kemana aku harus pergi?" Batin Darius, sambil menaiki tangga menuju lantai atas menara hitam. Ia pikir, mungkin diatas akan ada petunjuk yang dapat ia temukan. Sudah setengah jalan ia menuju lantai atas, mendadak sebuah cahaya kecil berwarna emas muncul tepat didepannya.
Cahaya yang tidak diketahui asal-usulnya itu menghadang Darius tepat di wajah. Darius tersontak kaget dibuatnya.
"Apa ini?!" kaget Darius, sambil mengibaskan tangannya bagai sedang mengusir nyamuk.
Cahaya itu mengelilingi Darius beberapa kali, lalu perlahan bertambah terang. Kemudian berubah menjadi sebuah garis yang bersinar. Garis itu seolah menunjukan arah menuju suatu tempat.
Darius tercengang terhadap apa yang ia lihat. Tangan nya mencoba menyentuh garis yang bersinar itu. Ia tidak tahu kemana garis ini akan menuntunnya. Apakah garis ini akan menuntunnya ke arah jalan keluar? atau sebaliknya? dengan keberanian besar dan masih agak terkejut, Darius pun mengikuti garis itu.
Dengan penuh kewaspadaan, ia mengikuti garis cahaya yang muncul dihadapannya beberapa saat lalu. Garis itu menuntunnya ke sebuah ruangan di lantai 3. Darius membuka pintu ruangan itu. Seketika, garis cahaya yang sudah menuntunnya kemari langsung lenyap tak berbekas, bersamaan dengan terbukanya pintu ruangan.
Didalam ruangan yang telah ditunjukkan oleh garis cahaya itu, terdapat sebuah altar besar. Nampak seperti altar yang digunakan untuk pemujaan. Dilihat dari penampilannya yang tak terawat, sepertinya altar ini sudah tidak digunakan selama berabad-abad. Diatas terdapat ukiran simbol yang menjadi lambang bagi makhluk yang dipuja.
Darius merasa asing dengan simbol yang ada di atas altar. Ia belum pernah melihatnya sama sekali. Keberadaan altar ini adalah tanda bahwa pernah ada yang tinggal didalam sini dan memuja sesuatu. Tapi siapa? lalu apa yang dipuja?.
"Selamat datang, ksatria dari negeri Invandara." Sebuah suara memecah nuansa hening. Reflek, Darius menodongkan pedang ke sumber suara. Sesosok wanita dengan wujud agak tembus pandang hadir dihadapan Darius. Aura kelam keluar dari sekujur tubuh wanita asing itu.
"Siapa kau? darimana kau mengetahui asal ku?" Tanya Darius, penuh kewaspadaan.
Darius mengerutkan dahi dan masih menodongkan senjatanya.
"Turunkan senjata mu, ksatria. Aku bukanlah monster liar yang akan menyerang mu." Pamella mendekati Darius. Masih dalam keadaan waspada, Darius menjaga jarak darinya.
"Penguasa dimensi gelap? apa kau sekutu Dark Lord?'' Tanya Darius.
"Tidak, aku disini ingin berterima kasih sekaligus memohon bantuan darimu," Jawab Pamella. Mendengar itu, Darius perlahan menurunkan senjatanya.
"Berterima kasih?" Darius tidak tahu jasa apa yang ia lakukan untuk Dewi ini, hingga ia berterima kasih kepadanya. Pamella menundukkan kepalanya, lalu menggenggam tangan kanan Darius.
"Terima kasih, Karena telah menghentikan Dark Lord. Berkat dirimu, aku punya peluang untuk mendapatkan kembali wujud sempurna ku." Begitulah ucapnya.
"Apa maksudmu?" Darius tidak mengerti.
"Berabad-abad yang lalu, aku dihancurkan oleh seorang Dewi langit saat peperangan antara dunia bawah dengan para penjaga langit terjadi. Tubuhku pun terbagi menjadi 5 inti..." Pamella menjelaskan.
"Kelima inti itu tersebar ke beberapa daerah di dimensi ini. Para makhluk disini pasti sudah menemukan kelima inti tubuhku dan memanfaatkannya untuk keuntungan mereka sendiri. Salah satu makhluk lancang yang menggunakan inti tubuhku hanya untuk keegoisannya adalah Dark Lord." Pamella melanjutkan penjelasannya.
"Jadi selama ini, kekuatan Dark Lord berasal dari dirimu?" tanya Darius. Pamella mengangguk pelan.
"Diriku yang ada di hadapanmu saat ini adalah wujud dari salah satu inti tubuhku yang sudah kau bebaskan dari Dark Lord. Karena itulah aku berterima kasih," jawab Pamella. Ia juga menjelaskan tentang seperti apa wujud dari inti tubuhnya.
Permata sihir yang memiliki berbagai kekuatan langka, itulah perwujudan dari inti tubuh Pamella. Darius teringat dengan Dark Lord yang mampu menjatuhkan meteor dari langit. Kekuatan sejenis itu sangat menguras energi dan membutuhkan waktu. Tapi Dark Lord bisa langsung menjatuhkan meteor dari langit dalam waktu yang sangat singkat. Itu sulit dipercaya.
"Rupanya Si kepala kaleng itu mencuri kekuatan milik seorang Dewi. Pantas kekuatannya sangat mengerikan." Gumam Darius.
"Aku senang kau mau datang kemari setelah melihat petunjuk yang kuberikan." Terjawab sudah rasa penasaran yang melanda sebelumnya melanda Darius. Jadi dia yang sudah mengukir petunjuk di batu yang mengarahkan Darius kemari.
"Sekarang tersisa empat inti yang belum terkumpul. Darius, aku ingin kau membantuku kembali ke wujud semula. Sebagai gantinya, aku akan mengeluarkan mu dari sini." Darius merespon cepat terhadap perkataan Pamella.
"Sungguh?" Darius terbelalak, hatinya dipenuhi rasa senang.
"Tentu, percayalah padaku. Aku akan mengeluarkan dirimu dari dimensi ini, setelah kau membantuku," jawab Pamella.
"Kuharap kau memegang teguh janjimu," ujar Darius.
"Seorang Dewi selalu memegang teguh janjinya." Pamella berkata dengan penuh kewibawaan. Sang ksatria merasa amat senang.
Akhirnya, setelah penantian panjang yang menyiksa. Ia pun menemukan jalan pulang. Pamella tersenyum melihat tingkah laku Darius yang terlalu senang. Setelah ini, ia akan segera keluar dari dimensi ini. Sungguh tak sabar dirinya ingin secepatnya bertemu lagi dengan keluarga dan teman-temannya.
"Satu hal lagi yang ingin kutanyakan padamu. Siapa yang membangun menara kokoh ini? setahuku, tempat ini adalah sarang monster. Jadi aku merasa heran bila ada yang membangun menara dengan altar di tempat berbahaya ini" Darius mengeluarkan pernyataan yang sedari tadi membelenggu pikirannya.
"Apakah ada orang lain yang berada disini selain aku?" lanjut tanya Darius.
"Menara ini dibangun oleh para pemuja ku pada masa sebelum terjadinya perang . Mereka adalah ras Nightmare. Mereka adalah makhluk yang mampu mengendalikan monster dan kekuatan gelap," jawab Pamella.
"Sayangnya, mereka punah akibat dampak peperangan yang melibatkan dunia bawah. Kini para monster disini menjadi liar lantaran kepunahan ras yang sanggup mengontrol mereka" Sambungnya. Jadi itu sebabnya, para monster disini begitu liar. Tanpa adanya ras Nightmare, para monster disini jadi tidak terkendali. Darius menyarungkan pedangnya yang masih terhunus, lalu mendekat pada Pamella.
"Kemana aku harus pergi mencari inti tubuhmu?" tanya Darius.
Bersambung....