
...Pengumuman...
...Ayo terus dukung cerita ini agar bisa lebih berkembang dan author makin semangat, jangan lupa untuk beri like dan komen juga 👍👍👍...
...Silahkan beri usulan dan koreksi jika ada typo atau alur cerita yang tidak pas....
...Selamat membaca....
...*********...
Rina menarik nafas dan melantunkan lagu mellow lembut, begitu nyaman didengar. Suara emasnya menarik perhatian seluruh makhluk hidup disekitarnya, burung-burung yang berterbangan di langit langsung turun berbondong-bondong. Mereka bertengger rapi diatas pepohonan dan mendengarkan nyanyian dari Rina.
Tupai didalam pohon, tikus mondok di dalam tanah, mereka semua keluar dari sarangnya dan langsung pergi menuju sumber suara merdu yang masuk ke telinga mereka. Suara dari bidadari yang menyanyikan lagu damai membuat semua terpesona.
"Apa-apaan ini? tupai, tikus, burung, rusa bahkan kuda, semua hewan yang seharusnya berada di hutan berbaris rapi disini," ucap kaget Arnoldi, lalu tiba-tiba ada seekor monyet yang naik ke pundaknya.
"Aduh..., hei...., jangan sembarangan naik," ucap risih Arnoldi.
Sungguh keajaiban, baru kali ini Ratu menyaksikan fenomena seperti ini.
"Mereka semua datang untuk menyaksikan dia bernyanyi, betapa indah suaranya," batin Ratu.
"Ini luar biasa," kagum Mara.
Tak lama kemudian, halaman depan markas K.A.O dipenuhi oleh hewan-hewan liar. Seluruh penghuni K.A.O serentak keluar setelah mendengar suara idola mereka, termasuk para komandan.
"Rina Clascof ada disini...!!!!"
Teriak salah satu penghuni K.A.O yang gemar terhadap Rina, teriakannya itu mengundang seluruh penghuni yang lain untuk keluar.
Semakin lama didengar, semakin merdu. Inilah kelebihan Rina sebagai bintang penyanyi. Julukannya sebagai bidadari panggung bukanlah isapan jempol belaka, ia lebih dari sekedar penyanyi biasa. Suasana jadi semakin ramai setelah suara Rina menggapai telinga para penduduk kota.
Seketika, tempat itu langsung dipenuhi banyak orang, lahan parkir K.A.O pun jadi penuh dibuatnya, lantaran begitu banyak orang yang memarkir kendaraan mereka disana. Niat Rina untuk membantu Mara pun berubah menjadi konser besar.
"Wah..., disini jadi ramai. Sepertinya aku bisa menarik biaya dari mereka yang parkir disini," gumam Raven, disaat seperti ini ia masih mencari keuntungan.
Sorak ramai dari para penggemar memeriahkan konser tanpa tiket masuk ini, ini membuat Rina jadi makin bersemangat untuk memberikan suara merdunya kepada mereka yang haus akan keindahan seni bernyanyi.
"RINA...! RINA...! RINA...!"
Sorak ramai para penggemar disertai tepuk tangan keras, mereka yang menonton sampai lupa untuk berkedip, tak ada yang mampu menolak pesona Sang bidadari yang bersenandung indah didepan mata. Tak satupun dari mereka yang mempedulikan kehadiran hewan-hewan liar yang berbaris rapi disana.
"Wah...., luar biasa, tak kusangka aku bisa menghadiri konser Rina Clascof secara gratis. Ini terasa seperti mimpi."
"Tidak ada kabar tentang konser ini di website resmi milik Rina, latar tempatnya pun tidak diduga (didepan markas pusat K.A.O), gratis pula. Ini sungguh konser free Rina Clascof."
"Syukurlah aku bisa menyaksikan konser Rina secara cuma-cuma."
"Semangat kak Rina...!!!"
"Kau yang terbaik, Rina...!"
Itulah ucap dan sorak semangat para fans Rina yang setia. Inilah yang menjadi sumber semangat Rina untuk mengembangkan bakat bernyanyinya, sorakan penyemangat mendorongnya untuk mempersembahkan yang terbaik.
..."Tulusnya tangis sedih~...
...turun membasahi pipi~...
...menghias melodi, dawai yang rapuh ini~🎶"...
...(Reff lagu Rina)....
Orang-orang yang menyaksikannya mengangkat dan melambaikan tangan mereka mengikuti irama lagu, tentram rasanya jiwa mereka. Tidak pernah mengecewakan, itulah kalimat yang mencerminkan sosok Rina Clascof di mata para penggemarnya.
Padahal Rina bernyanyi diiringi iringan musik seadanya, hanya Baltov dengan biolanya saja yang menjadi pengiring lagu tersebut, namun itu tidak mempengaruhi kualitas lagu yang Rina bawakan. Lagu yang Rina bawakan tetap luar biasa.
5 menit berlalu....
Rina telah selesai membawakan lagunya, semua penonton bertepuk tangan dengan tersenyum senang. Mereka meneriakkan kata "lagi" secara terus-menerus, mereka tidak puas jika hanya mendengar sebentar.
Raven memanggil para petugas keamanan untuk menertibkan para penggemar Rina yang semakin memenuhi halaman depan markas pusat K.A.O, termasuk para binatang yang berada disana. Rina perlahan datang menghampiri Mara, mereka berdua pu saling pandang.
"Sekarang, coba nona buka semua perban ditubuh nona," ucap Rina.
Ratu merespon ucapan Rina dan memerintahkan bawahannya untuk membuat dinding batu sebagai ruang tertutup bagi Mara saat ia membuka balutan perban di tubuhnya, baju ganti untuk Mara pun sudah disiapkan.
Beberapa bawahan yang lain membantu Mara untuk melepaskan perban dan proses pembukaan perban ditubuh Mara dipenuhi kekaguman luar biasa, sebuah keajaiban yang sulit dipercaya terjadi disana.
"Tubuhku sembuh, kulit ku kembali seperti sediakala, mustahil," batin Mara setelah melihat tubuhnya.
Salah satu bawahan memberikan baju ganti kepada Mara dan ia lekas memakainya, setelah semua selesai, dinding batu pun dilenyapkan. Terlihat lah Mara yang sudah sehat terawat tanpa ada satupun goresan ditubuhnya. Ratu sungguh tidak menyangka ini terjadi, sungguh ini bagai mimpi.
"Bagaimana bisa? adikku sudah kembali pulih dengan sempurna, apa yang sebenarnya terjadi? padahal dia hanya bernyanyi," ucap Ratu bingung akan apa yang terjadi.
Ratu merasa kagum, kaget dan bingung di waktu yang bersamaan, pulihnya Mara secara tiba-tiba menimbulkan tanda tanya besar di kepalanya. Hingga ia menduga satu hal.....
"Jangan-jangan nyanyiannya tadi....," batin Ratu menduga satu hal, hal ini pun juga terpikirkan oleh Arnoldi.
"Jangan-jangan bernyanyi adalah metode perantara sihir penyembuh yang ia gunakan untuk memulihkan nona Mara? tidak salah lagi, ini sangat tak biasa dan menakjubkan," ucap Arnoldi yang baru menyadari hal itu.
Para Hunt saling berbisik satu sama lain, membicarakan keajaiban dari suara Sang bidadari yang tak hanya sekedar merdu, namun juga memiliki kemampuan Heal yang diluar dugaan.
"Kakak, lihatlah..., aku pulih total dan semua luka bakar serta patah tulang di tubuhku sudah sembuh. Ini sungguh hebat," ucap kagum Mara.
Ratu memeluk adiknya penuh rasa syukur, Rina tersenyum menyaksikan itu.
"Ratu, dengan ini, maukah kau memaafkan saudara ku, Iraken?" tanya Rina.
"Baiklah, akan kumaafkan dan kuanggap kasus penyerangan terhadap adikku tidak pernah terjadi," ucap tegas Ratu.
"Terima kasih atas kebaikan hati anda, saya sangat bersyukur," tukas Rina.
Arnoldi datang kehadapan Ratu, ia menunjukkan jadwal pertemuan yang harus dihadiri Ratu saat ini dan pertemuan itu akan dilaksanakan 4 menit lagi. Ratu yang melihatnya pun langsung bergegas, namun sebelum itu ia mendatangi Rina lagi. Ia ingin menyampaikan sesuatu.
"Chariot Seis, mereka beruntung memiliki kau sebagai saudara. Katakan kepada mereka bahwa aku mengampuni mereka kali ini dan aku tidak akan menoleransi jika kejadian seperti ini terjadi kembali," ucap tegas Ratu.
"Baik Ratu," balas hormat Rina.
Ratu tersenyum, lalu kemudian kembali ke kerumunan para Hunt. Mereka semua mengaktifkan sihir teleportasi dan hendak pergi pulang ke markas mereka, sempat Mara menatap senang Rina karena sudah ditolong. Ia tidak tahu bagaimana nasibnya jika Rina tidak menolongnya.
Mara melempar senyum lebar kepada Rina sebelum ia pergi.
"Terima kasih, akan kuingat kebaikan mu ini seumur hidupku," kata Mara, sebelum akhirnya ia menghilang dari pandangan.
Sempat Rina melambaikan tangan kepadanya meski terlihat hanya sekilas, merasa sangat lega hati Rina, karena berhasil mencegah peperangan antar dua bangsawan besar. Beruntung dirinya bisa menyembuhkan Mara dengan kekuatannya.
"Maafkan aku pak, aku sudah mengadakan konser di wilayah K.A.O tanpa izin. Saya siap bertanggung jawab akan hal ini," mohon maaf Rina.
"Tidak masalah, lagi pula ini semakin menguntungkan bagiku. Aku akan menagih biaya parkir mereka (para fans) semua, ngomong-ngomong kau sangat hebat. Tak terpikirkan olehku, bernyanyi adalah metode mu dalam menyalurkan sihir penyembuh. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku, melihat metode penyembuhan seperti itu," tukas jelas Raven.
"Darimana kau mempelajarinya?" sambung tanya Raven.
Rina menggelengkan kepala.
"Aku sendiri juga tidak tahu, aku baru menyadari kemampuan ini saat masih sekolah dasar. Itupun tanpa disengaja," jawab Rina.
"Beruntung dirimu memiliki kemampuan hebat itu," puji Raven.
"Terima kasih atas pujiannya, pak," balas Rina.
Baltov kembali memperingati Rina, lekas Rina menutup pembicaraannya dengan Raven.
"Terima kasih atas kebaikan anda, pak Direktur. Saya pergi dulu," ujat Rina, undur diri.
"Hati-hati."
Rina melambaikan tangan kepada Raven dan masuk kedalam mobil bersama Baltov, ia langsung menyuruh sopir pribadinya untuk segera tancap gas. Ramainya kerumunan membuat mereka sulit untuk lewat, ditambah lagi para fans sangat bersemangat. Beberapa petugas K.A.O pun datang, lalu membelah kerumunan fans yang amat padat, mereka membukakan jalan keluar untuk Rina.
Berkat para petugas, akhirnya Rina beserta yang lain pun dapat keluar dari keramaian itu dan langsung pergi. Sangat merepotkan menghadapi para fans yang terlalu bersemangat, mereka sungguh fanatik terhadapnya.
"Baltov, umumkan pembatalan konser ku bukan depan dan juga umumkan penundaan world tour ku juga," perintah Rina dengan nafas terengah.
"Baik nona, akan segera saya laksanakan," balas Baltov.
Rina memegangi kepalanya yang mulai pusing, ini adalah efek samping dari kemampuan heal miliknya. Ia serasa ingin pingsan dibuatnya, meskipun kemampuan penyembuhan nya luar biasa, ada sesuatu yang harus di tumbalkan untuk kemampuan yang hebat itu.
"Dasar Iraken, dia sungguh arogan. Andai dia tidak asal bertindak, aku tidak perlu mengeluarkan kekuatanku," gerutu Rina.
Kemudian ia menyuruh Si sopir untuk menyetir lebih cepat, karena ia ingin segera beristirahat di rumah.
Kemampuan Rina Clascof:
-Sihir penyembuh, song of healing.
catatan:
Sihir penyembuh yang luar biasa, dapat menyembuhkan luka apapun, kecuali maut. Memiliki keterbatasan, yakni sihir ini hanya biasa ditujukan kepada satu orang dan penggunaannya mengorbankan kesehatan dirinya sendiri, setelah menggunakannya ia harus beristirahat selama setengah tahun untuk memulihkan kesehatannya.
...***********...
Dalam perjalanan teleportasi menuju markas Hunt, ada satu hal yang baru saja Mara sadari. Sesuatu yang sempat terlupakan olehnya.
"Oh.... iya, kemana perginya gadis kecil yang menolongku tadi?" batin Mara.
Sementara itu, diatas atap markas K.A.O....
"Tolong...! tolong aku.....!"
Mona berteriak histeris, ia tersangkut di atas atap markas tanpa ia sadari. Ini akibat amukan Ratu Oriery yang mengundang badai sebelumnya, kencangnya angin badai membawanya terbang keatas atap dan tak ada seorang pun yang menyadari itu, bahkan Mara yang sebelumnya ia obati.
Kehadiran Mona sempat terlupakan karena hadirnya Rina disana. Juga Mara melupakan keberadaan Mona karena terlalu senang akan kesembuhannya, beginilah nasib Mona sekarang.
"Siapapun tolong aku...! huwaaaa....! aku takut ketinggian..!"
Mona ketakutan setengah mati.
...****************...
Disuatu tempat di kota Tideo....
Komandan Deri terbangun dari tidur, ia bangkit dan merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Sambil menguap, ia menggapai jam Beker diatas meja yang berada disamping ranjangnya.
"Sudah pukul 16:00," ucap Komandan Deri.
Ia menaruh kembali jam itu ditempatnya, lalu menoleh ke samping kirinya. Terlihat Komandan Seirus tengah tidur lelap disampingnya, mereka berdua tidur bersama sepanjang siang, tanpa sehelai benang pun yang menempel pada tubuh mereka.
Dibalik selimut putih, mereka melekat begitu erat dan serasih.
"Seirus, bangunlah," ucap Komandan Deri.
Komandan Seirus pun terbangun perlahan, komandan Deri keluar dari ranjangnya dan langsung mengambil seragamnya didalam lemari. Sementara Komandan Seirus masih mengusap-usap mata. Komandan Deri memakai pakaiannya sambil menghadap ke arah cermin yang berada tepat disampingnya.
"Deri, terima kasih karena sudah berbaik hati menemaniku," ucap Komandan Seirus.
"Sudah berulangkali kukatakan, kau tidak boleh mencintaiku lagi. Aku sudah bukan diriku yang dulu," balas Komandan Deri.
Komandan Seirus tersenyum lebar menyeringai ke arahnya, seolah ada sesuatu yang lucu.
"Maafkan aku, tapi aku belum bisa melupakan mu. Kenangan buruk itu terus menghantuiku dan membuatku sulit menerima kenyataan," tukas Komandan Seirus.
Kemudian ia menghampiri dan memeluk komandan Deri dari belakang, dalam kondisi masih tak berbusana.
"apa kau marah padaku?" tanya Komandan Seirus, tepat disamping telinga.
Mendengar hal itu, ekspresi Komandan Deri nampak berbeda. Ia nampak terdiam untuk beberapa saat, lalu kembali fokus mengenakan seragam. Ia menarik nafas panjang sebelum hendak bicara kepada Komandan Seirus.
"Tidak, aku hanya tidak ingin kau terus menerus mencintaiku. Aku paham, kejadian itu masih terus terngiang di ingatan mu, tapi berusahalah untuk memandang kedepan. Kita sudah tidak bisa seperti dulu lagi, Seirus," kata Komandan Deri.
"Baiklah, akan ku usahakan."
Raut wajah Komandan Seirus pun berubah, ia terlihat begitu murung. Ingatan kelam di masa lalu terus menghantui pikirannya, ingatan akan kejadian tragis yang menimpanya dan Komandan Deri.
"Andai waktu bisa terulang, aku tidak akan mempercayai wanita itu," ucap Komandan Seirus dan itu terdengar oleh Komandan Deri.
Penyesalan terlukis jelas pada raut wajah murung Komandan Seirus, ia sungguh berharap dapat kembali ke masa itu dan mengubah kesalahannya. Ditengah kemurungan itu, tangan kanannya digenggam erat oleh rekannya seperjuangannya, yakni Komandan Deri.
Dengan senyum tulusnya, komandan Deri berusaha menghapus kemurungan dari wajah rekannya.
"Memang berat, tapi berusahalah untuk melupakannya. Ingatlah, meski kita tidak bisa seperti dulu, tetapi kita masih tetap bisa terus bersama. Karena itulah, kau tidak boleh kalah dari trauma di ingatan mu," tegas Komandan Deri, menyemangati.
Perkataan Komandan Deri serasa menyentuh hati rekannya, komandan Seirus senang mendengar hal itu. Ia membalas genggaman tangan Komandan Deri dan keluar dari ranjangnya.
"Ayo bersiap, kita akan segera kembali ke markas," ajak Komandan Deri.
Komandan Seirus membalas dengan anggukan, lalu ia membalas senyuman rekannya itu.
"Aku senang, kau masih sama seperti dulu," batin Komandan Seirus.
Bersambung....