Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 59: 7 hari menjelang NGB



Istana perak...


"Maukah kau bergabung dengan kami?"


Eruna dengan senang hati mengulurkan tangannya untuk Darius dengan persyaratan yang telah ia ucapkan, tatapan mata berbinar serta senyumannya yang lebar menunjukkan rasa senang.


Sangat tidak mungkin Darius menyetujui persyaratan yang membuang nama mulia yang diberikan oleh mendiang kedua orang tuanya, bibirnya mulai bergerak hendak mengucapkan penolakan terhadap persyaratan tersebut.


Namun sesaat sebelum itu, Eruna menarik kembali tangannya...


"Hanya bercanda, mana mungkin seorang ksatria mau membuang nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya? dari gerak bibirmu, aku sudah tahu kau hendak menjawab apa," ujar Eruna dengan santainya.


Kemudian ia memakan kue kering yang tersedia di meja, sementara tamunya tengah bergelimang tanya


"Dia bisa membaca gerak bibirku dalam waktu singkat, pengelihatannya sungguh tajam," batin Darius.


Ia terdiam sejenak sebelum pada akhirnya buka suara.


"Lalu apa maksud dari persyaratan tadi?" tanya Darius


"Aku hanya menguji saja, maaf jika itu menyinggung perasaanmu," jawab Eruna, seraya menghabiskan kue yang ada ditangannya.


"Ujian? bukankah ujian seorang ksatria adalah tantangan dan latihan fisik?" batin Darius yang kebingungan.


Lalu ia kembali fokus pada Eruna.


"Seorang ksatria yang sebenarnya takkan mau membuang jati dirinya, itulah yang dikatakan oleh ayahku sebelum beliau meninggal dan sekarang aku berhadapan dengan orang yang sungguh menerapkan ucapan beliau, aku jadi semakin tertarik padamu," jelas Eruna.


"Kau tetap menjaga nama margamu meskipun kau tidak diakui oleh kaum mu sendiri, sungguh berhati baja, sangat disayangkan Hunt tidak mengakui mu," lanjutnya.


Ia pun selesai dengan penjelasannya dan langsung mengungkapkan maksud sebenarnya kepada Darius, segenggam surat yang sebelumnya pernah ditujukan oleh Nova kini berada ditangannya.


"Nova pasti sudah menunjukkan surat kepada mu, memang didalamnya berisi kesepakatan untuk bergabung dengan kami tetapi kau tidak perlu membuang nama margamu."


Nada bicara Eruna mulai agak lirih.


"Secara logis kau bisa langsung bergabung dengan kami tanpa mengubah nama marga karena tidak ada pengakuan dari bangsawan Hunt dirimu, identitas mu dalam data anggota Hunt pun juga tidak ada, yang berarti nama belakangmu tidak akan dianggap."


Darius seketika naik darah.


"Apa-apaan itu?!"


Ucapnya dengan nada tinggi, dalam sekejap mata disekitar Darius sudah ada 12 ksatria yang menodongkan senjata yang berbeda-beda ke arahnya, entah dari mana mereka berasal bahkan tidak terlihat pintu ataupun jendela yang terbuka guna menjadi jalan bagi mereka untuk masuk ke dalam ruangan.


Ujung senjata 12 ksatria itu berada 2 cm dari tenggorokan Darius yang langsung membuatnya terdesak.


"Dari mana mereka berasal? aku sama sekali tidak mendengar suara langkah kaki mereka," batin Darius terkejut.


Raut wajah Eruna seketika menjadi geram, urat wajahnya pun menegang.


"Turunkan senjata kalian...! dia tamuku, beraninya kalian menodongkan senjata ke arahnya..!" titah Eruna dengan nada keras.


12 ksatria itupun patuh dan langsung menundukkan kepala.


"Maaf atas kelancangan kami," ucap salah satu dari mereka.


"Cepat keluar dari sini!"


"Baik."


Mereka keluar dari ruangan, suasana kembali tenang.


"Maaf atas ketidaknyamanan ini."


Ujar Eruna dengan sangat bersalah.


"Sayalah yang bersalah, karena terlalu emosi membuat nada bicara saya melunjak tinggi."


Mereka kembali bercakap-cakap.


Eruna menjelaskan tentang seperti apa bangsawan masa kini terutama dalam sistem keanggotaan, setiap bangsawan memiliki daftar anggota serta riwayat keluarga secara turun-temurun yang dapat menjadi bukti keterikatan darah terhadap suatu bangsawan.


Contohnya seperti Eruna yang memiliki riwayat keluarga ksatria Seis yang melayani Raja kerajaan Xeranos sejak ratusan tahun yang lalu, kakek buyutnya bernama Chailis Seis yang menjabat sebagai komandan pada era perlawanan terhadap Dark Lord.


"Chailis Seis? rasanya aku pernah dengar nama itu?" nama itu terdengar familiar di telinganya.


Darius berusaha mengingat kembali dimana ia mendengar nama itu.


Beberapa saat kemudian...


"!"


Ia teringat akan sesuatu.


...********...


(flash back).


Kerajaan Xeranos, tahun 1413.


Kerajaan Xeranos mengalami serangan dadakan tepat di area ibukota, saat itu kerajaan Ezius mengirim 4000 bala tentara untuk membantu.


Ditengah kekacauan ibu kota, ada seorang anak kecil yang menangis karena terpisah dari ibunya.


"Ibu..., ibu dimana...?"


Anak itu begitu ketakutan saat melihat sekelompok besar prajurit monster berwajah seram berlari ke arahnya dengan menggenggam senjata berlumuran darah.


"Tolong aku...! ibu...!"


ia berteriak penuh rasa takut dan putus asa, sayangnya semua tidak berguna, yang bisa dilakukannya hanyalah menutup mata.


Pasukan Dark Lord sudah dekat dan hendak membelah dua anak itu dengan senjata tajam mereka, dalam keadaan genting itu..


SRING...!


Suara tebasan begitu terngiang di telinga.


Anak kecil itu memberanikan diri untuk membuka mata, seketika ia langsung tercengang.


Nampak di kedua mata mungilnya seorang ksatria berzirah emas datang pada timing yang tepat, ia memenggal kepala pasukan Dark Lord dengan Great Sword yang ia genggam.


Anak kecil itupun selamat dengan cipratan darah di lengan bajunya, sang ksatria emas membuka helmnya dan melihat ke arah anak kecil itu.


"Kau tidak apa-apa nak?" tanya sang ksatria.


Anak itu hanya bisa mengangguk.


"Kau bisa bergerak?"


Anak itu tidak menjawab, sekujur tubuhnya terlihat gemetaran.


"Dia pasti ketakutan karena melihat pasukan Dark Lord," batin sang ksatria.


Kemudian ia mengambil beberapa kain lusuh yang ada disekitar dan menjadikannya alat yang dapat mempermudahnya untuk menggendong si anak kecil di punggungnya.


Sang ksatria menggendong anak kecil itu di punggungnya dan bersiap untuk membawanya ke tempat evakuasi masyarakat ibu kota.


Mendadak tanah disekitar naik dan menghalangi jalan menuju tempat evakuasi, disaat yang bersamaan munculah salah satu Jendral perang Dark Lord yang bernama Qyusar.


Makhluk mengerikan dengan empat tangan yang menggenggam kapak bernoda darah, ia baru saja membantai 400 tentara Xeranos seorang diri.


"Pemimpin kelompok ksatria emas, Darius," ucap Jendral Qyusar, dia menyebut nama yang tak lain adalah nama dari Sang ksatria emas tersebut.


"Kau mengenalku?" tanya Darius.


"Kau adalah ancaman yang harus dilenyapkan, atas perintah Lord, kau akan ku kelenyapkan," suara Jendral Qyusar sangat mengerikan.


Membuat si anak kecil ketakutan.


"Kau akan segera kubereskan, kehadiran mu hanya akan menakuti anak ini," tukas Darius dengan tatapan tajam.


Ia bersiap dengan pedangnya.


Tubuhnya perlahan membesar dan jumlah tangannya pun bertambah, raut wajahnya begitu menakutkan hingga tak mampu digambarkan hanya dengan kata-kata.


Si anak kecil pun semakin takut dan menangis keras.


"Ibu...! aku ingin ibu...!"


jeritnya.


Darius yang mendengar jerit tangisnya pun tak tinggal diam.


"Hei jagoan kecil, jangan menangis, selama bersamaku kau akan baik-baik saja."


Isak tangis anak itu berhenti sesaat, sang ksatria menoleh ke arahnya dengan senyuman percaya diri.


"Padahal aku berencana untuk membawamu ke tempat yang aman, tapi tanah yang meninggi itu menghalangi jalan keluar..."


"... Kau tidak perlu takut, aku pasti akan membawamu kembali kepada ibumu, karena itulah kau jangan menangis hanya karena monster jelek ini."


Darius menatap wajah Jendral Qyusar tiada gentar, sikapnya nampak membawa pengaruh terhadap.


Anak kecil yang awalnya ketakutan kini menatap kagum dirinya, tetesan air matanya tak lagi mengalir.


"Ayo kita kalahkan dia dan segera berjumpa dengan ibumu," ujar Darius dengan sangat bersemangat.


Si kecil mengangguk seraya menyeka air matanya yang tersisa.


"HIAAAH...!!!"


Darius melangkah maju menyerang dengan keberanian tinggi, bertarung sambil menjaga anak yang ia gendong di punggungnya, ini membuat nuansa pertarungan menjadi sangat sengit.


4 jam kemudian...


Bala tentara dari kerajaan Windland datang dengan 5000 unit prajurit berzirah dan 400 unit batalion pemanah.


Pasukan Dark Lord berhasil dipukul mundur, jendral Qyusar yang memimpin mereka telah tewas di tangan pimpinan kelompok ksatria emas.


Hampir 90% masyarakat ibukota berhasil selamat dari kekacauan itu.


Ditempat evakuasi...


Terlihat ribuan orang yang menangis karena bersyukur atas keselamatan mereka adapun yang menangis karena kehilangan orang yang mereka sayangi.


Ditengah kerumunan orang-orang yang tengah mencari anggota keluarga mereka yang terpisah karena serbuan tentara Dark Lord, terlihat sosok wanita berbaju merah tengah panik bertanya kesana-kemari guna mencari keberadaan putranya.


"Adakah dari kalian yang melihat putraku? ia memiliki tanda lahir menyerupai bulan sabit ditangannya, adakah dari kalian yang melihatnya?" tanya wanita itu.


Semua orang menggelengkan kepala kepadanya.


Ia pun bertanya kepada para prajurit Xeranos mengevakuasi masyarakat ibukota, akan tetapi mereka mengaku tidak menemukan keberadaan putranya dalam evakuasi.


Wanita itupun semakin panik dan menggila, ia terus memohon kepada para prajurit untuk mencari putranya yang hilang.


"Kumohon...! temukan putraku..., dia masih berada di ibukota...," mohon wanita itu.


Akan tetapi para prajurit tidak bisa memenuhinya.


"Maaf tapi kami tidak bisa, kami harus membawa para rekan kami yang terluka untuk segera diobati, hari pun sudah mulai gelap, itu akan mempersulit evakuasi kami dalam mencari korban yang selamat."


"Aku akan melakukan apa saja asal putraku ditemukan...! kumohon... temukan putraku...!"


Prajurit berusaha menenangkan wanita yang histeris itu, ia tidak tega melihat tangis seorang ibu yang mengkhawatirkan putranya yang hilang.


"Maafkan kami, tapi inilah batasan kami sebagai seorang prajurit, sekali lagi... maafkan kami."


Si Prajurit hanya bisa mengatakan "tabah" dan "bersabar" kepada wanita itu, si wanita menangis darah atas putranya yang tidak ditemukan.


"Ibu...!"


Terdengar suara familiar yang memecah duka.


Si wanita berbaju merah pun langsung menoleh ke sumber suara itu, terlihat putranya tengah digendong oleh seorang ksatria dalam keadaan sehat tanpa cedera.


Segera ia berlari menghampiri putranya.


"Nah... jagoan cilik, temui ibumu."


Darius menurunkan anak itu.


"Ibu...!"


Ia berlari mendekati ibunya, mereka berdua berpelukan dalam rasa syukur.


Sang ksatria penyelamat tersenyum menyaksikan momen ini, ia sungguh lega karena dapat mempertemukan mereka kembali.


"Syukurlah, dengan begini tugasku terlaksana dengan baik," batin Darius, kemudian berpaling pandang.


"Syukurlah kau baik-baik saja," ujar sang ibu yang tak kuasa menahan air mata.


"Kakak ksatria melindungi ku, dia yang menjagaku sampai aku bisa bertemu dengan ibu."


Anak itu menunjuk ke arah Darius yang hendak melangkah pergi, tak mungkin ibunya membiarkan penyelamat putranya pergi begitu saja tanpa menerima ungkapan terima kasih.


"Tunggu, tuan..."


Panggilnya.


Suara terdengar oleh Darius, ia pun menoleh ke belakang.


"Terima kasih karena sudah menyelamatkan putra saya, entah bagaimana cara saya agar bisa membalas hutang budi ini, sungguh saya berterima kasih," ungkapnya sambil menundukkan kepala.


"Xeranos dan Ezius adalah kerabat dekat, sudah sepantasnya kita saling menolong satu sama lain."


"Jadi anda dari kerajaan Ezius, sungguh mulia sekali hati anda, aku akan berdoa setiap malamnya untuk kemakmuran kerajaan Ezius yang sangat ringan tangan."


"Terima kasih untuk itu."


Si anak kecil yang diselamatkan terus memandangi Darius dengan tatapan berbinar kagum, hal itu disadari oleh ibunya.


"Tuan, bolehkah saya memohon satu hal kepada anda?" tanya wanita itu.


"Permohonan apa?" tanya balik Darius.


"Saya mohon, berkati anak saya dengan doa dari anda, saya ingin kelak ketika ia sudah dewasa, dia dapat tumbuh menjadi ksatria hebat seperti anda," jawab wanita itu.


"Saya mohon, tuan," lanjutnya.


Darius berfikir sesaat, karena ia sama sekali belum pernah memberkati seseorang dengan doanya.


"Sejujurnya aku belum pernah memberkati seseorang seumur hidupku, tetapi untuk jagoan cilik yang satu ini, akan kulakukan," tukas Darius.


Wanita itu pun terlihat sangat senang, ia mendekatkan putranya kepada Darius.


"Putraku Chailis, mohon berkatilah dia dengan doa mu, tuan."


Ibu Chailis membiarkan Darius menyentuh tangan kanan putranya, dimana pada punggung tangan putranya yang memiliki tanda lahir menyerupai bulan sabit, tanda lahir itu dikecup tulus oleh Darius.


Seusai mengecup, ia berkata...


"Ku doakan kau dengan segala benih kebaikan yang ku perbuat selama hidupku, Chailis akan menjadi seorang ksatria yang kuat serta bijaksana dengan segala tetes keringat dan pengorbanan."


Kemudian ia mengusap kepala Chailis beberapa sebelum pada akhirnya mengecup bagian keningnya.


Ibu Chailis merasa sangat bahagia setelah Darius memberikan doanya, sementara Chailis sendiri tak dapat meredam kebahagiaan itu dan langsung memeluk Darius.


"Hei jagoan cilik, kau bersemangat sekali," ucap Darius.


"Terima kasih kak, aku tidak akan pernah melupakan kakak, selamanya..."


Bersambung....