
...Pengumuman...
...Author mohon maaf atas kelambatan dalam update Chapter. Saat ini Author sungguh sibuk kuliah 🙏🙏🙏...
...Untuk Chapter selanjutnya akan Author usahakan untuk up secepatnya karena nampaknya pembaca cerita ini mungkin sudah menurun karena author lambat up, author akan berusaha sekuat tenaga untuk up....
...Sekian terima kasih 🙏...
...**********...
"Periksa rumah itu!"
Iraken memerintahkan kawan-kawannya untuk memeriksa rumah yang berdiri didepannya, rumah itu tidak lain adalah rumah Mona.
Segera mereka masuk dan memeriksa seluk beluk rumah itu, mulai dari ruang tamu hingga kamar Mona. Mereka memeriksa segala tempat yang berpotensi menjadi tempat sembunyi untuk Mara, sayangnya tidak ada yang mereka temukan disana.
"Cih, pergi kemana dia? tidak mungkin dia berteleportasi dua kali dengan kondisi seperti itu. Ini mustahil," ucap Iraken.
Iraken memukul dinding rumah penuh kekesalan, hingga dinding itupun berlubang. Sekilas ia melihat seberkas cahaya dari sebuah ruangan, lekas ia menghampiri ruangan itu, ternyata itu adalah cahaya matahari yang masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang yang terbuka, memperlihatkan sebuah jalan keluar alternatif selain lewat pintu depan.
Mana ada pemilik rumah yang membiarkan pintu rumahnya terbuka disaat rumah sedang kosong? hal ini tidak wajar. Ketidakwajaran ini memberi sebuah firasat kuat terhadapnya.
"Dia pasti melarikan diri lewat sini, segera telusuri jalan ini..! temukan dia...!"
Perintah Iraken.
Serentak mereka menelusuri jalan terdapat di pintu belakang rumah itu, Iraken memimpin didepan. Sementara itu, terlihat Mona yang bersembunyi di atas loteng, itu adalah bagian yang luput diperiksa oleh Iraken dan kawan-kawan. Area loteng sangat sempit lantaran banyak barang-barang simpanan diatas sana, Mona nyaris tak dapat bergerak dibuatnya.
Mona menyaksikan Iraken dan kawan-kawan berhasil menemukan arah kemana Mara melarikan diri, ia melihatnya dari celah langit-langit rumah yang berlubang. Mona pun panik, ia khawatir jika mereka berhasil menyusul Mara.
"Semoga dia sudah pergi jauh," batin Mara.
...**************...
Mara berlari sekuat yang ia bisa, ia harus bisa sampai ke markas Hunt sebelum Iraken menyusulnya dan sebelum efek obat penahan rasa sakitnya hilang. Ia berlari dengan langkah yang tak teratur, semua orang menatapnya heran, karena dirinya masih memakai pakaian seorang pasien rumah sakit.
Mara terus mempercepat langkahnya, melewati kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang.
"Tinggal 500 meter lagi, semoga sempat," batin Mara.
Mara berlari sekuat tenaga, sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan Iraken tidak ada dibelakangnya. Tak berselang lama Iraken beserta kawan-kawanya pun menemukan keberadaannya, salah seorang kawan Iraken melihat Mara berlari membelah kerumunan. Jarak mereka tidak terlalu jauh dari target yang mereka incar.
"Kejar dia...!"
Tanpa pikir panjang, mereka pun kembali mengejar Mara. Sementara Mara yang mengetahui dirinya disusul pun panik, tak disangka keberadaannya akan diketahui secepat ini.
"Bahkan ditempat umum, mereka tidak ragu mengacungkan senjata. Iraken sudah tidak waras," ucap kesal Mara, padahal ia berencana lari ke tempat yang ramai supaya Iraken ragu untuk menghunus pedang, tapi ternyata dia lebih nekat dari yang Mara kira.
Penduduk sekitar yang menyaksikan pengejaran Iraken terhadap Mara pun terkaget-kaget, mereka berlarian lantaran panik melihat pria-pria bersenjata yang tengah mengejar seorang wanita.
"Minggir..!"
Teriak Iraken.
Iraken terus berlari memecah kerumunan, semua orang yang ada dihadapannya langsung menyingkir lantaran takut setelah melihat senjata yang dibawanya.
"Sialan, dia sungguh tidak waras," ucap Mara melihat Iraken yang terus mengejarnya tanpa ampun.
Segera Mara menciptakan dinding sihir yang menghalangi jalan, dinding itu begitu lebar hingga menghalangi mobil dan motor yang berada di jalan raya. Sayangnya, dinding itu dapat dengan mudah ditembus oleh Iraken, karena kekuatan Mara yang belum optimal.
Kondisinya yang sekarang tidak memungkinkan dirinya untuk menggunakan kekuatan sihir secara maksimal dan setabil, akan tetapi ia tetap berlari sambil terus menciptakan dinding sihir, meskipun semua penghalang itu tidak dapat menghalangi Iraken meski hanya selangkah.
"Sial..., percuma saja, sihir ku saat ini terlalu lemah. Ia dapat membelahnya semudah memotong puding, aku harus cari cara untuk lolos," batin kesal Mara.
Mara berhenti menciptakan dinding sihir dan melaju secepat mungkin sambil memikirkan cara lain untuk lolos dari kejaran Iraken. Disaat genting itu, terlintaslah sesuatu dipikiran Mara.
"Tunggu dulu, bukankah K.A.O tidak jauh dari sini?" batin Mara.
Mara yakin sekali, ia akan ditertawakan oleh mereka yang membencinya, jika mereka mengetahui seorang Tiamara Hunt tengah kewalahan dikejar oleh orang-orang yang dulu pernah ia tindas. Itu semua akan menurunkan kehormatannya sebagai bangsawan, disini Mara merasa bimbang untuk memilih antara nyawa dan harga dirinya.
"Bagaimana ini? apa yang harus kulakukan?"
Mara bimbang bukan main, jika ia memilih pergi ke markas Hunt, maka ia harus menempuh jarak 500 meter lagi. Sementara Iraken dan kawan-kawan sudah hampir menyusulnya.
Salah seorang teman Iraken melempar sebuah kapak yang nyaris mengenai telinganya. Mengetahui itu, ia langsung menuju K.A.O tanpa pikir panjang.
"Persetan dengan semua ini...!"
Ucap keras Mara, ia mempercepat lajunya sementara dibelakang banyak kapak yang melayang ke arahnya, ia berhasil menghindari semua kapal yang terlempar ke arahnya. Setelah berlari cukup lama, markas K.A.O pun terlihat. Mara sudah semakin dekat dengan keselamatannya.
Nyali para kawan-kawan Iraken menciut setelah melihat kemana arah Mara berlari.
"Lebih baik kita mundur. Lihatlah, dia pergi ke tempat yang tidak bisa kita jangkau," ucap salah seorang kawan Iraken.
Iraken semakin merasa kesal, ia tidak menyangka kalau Mara akan se-licik ini.
"Kalau begitu, akan ku habisi dia sebelum dia sampai ke K.A.O," ucap Iraken seraya merebut kapak yang dipegang oleh temannya.
Iraken memusatkan kekuatannya pada tangan kanannya yang memegang kapak, ia membidik dan menentukan akurasi yang tepat untuk lemparannya. Mara yang berlari tunggang langgang tidak menyadari akan hal itu.
"Sudah hampir sampai," ucap Mara.
Semenjak Iraken sudah membidiknya dari belakang. Iraken menambah nafas dalam, lalu melemparkan kapak yang digenggamnya secara horisontal.
"YIAAHHH...!!!"
Lemparan yang disertai teriakan keras itu melesat kencang dan membelah pepohonan yang berada di kedua jalan. Mara baru menyadari bahwa ada kapak yang melesat kencang ke arahnya, lantaran lengah, ia pun tidak siap untuk menghindari lemparan Iraken.
Kapak yang melesat itu berhasil menyusulnya dan berada beberapa centi dari tengkuknya, akan tetapi....
"Awas...!"
Seseorang tiba-tiba datang membantu Mara merunduk menghindari kapak itu. Mara tidak habis pikir, ia berhasil selamat dari maut untuk kedua kalinya. Mara langsung menoleh ke arah orang yang telah membantunya.
"Kau...., gadis kecil yang tadi," ucap Mara, mengetahui bahwa yang menolongnya adalah Mona.
"Kau baik-baik saja?" tanya Mona.
"Sudah kubilang, kau tidak perlu membantuku. Mengapa kau sungguh keras kepala?" tanya balik Mara.
"Berdebat nya nanti saja, sekarang kita harus segera lari," balas Mona.
Mona lekas membantu Mara untuk berdiri, ia merangkul Mara yang sudah kehabisan tenaga.
Disisi lain, emosi memenuhi kepala Iraken yang panas. Ia tidak habis pikir, padahal ia hampir berhasil menghabisi Mara, namun kehadiran Mona menggagalkan usahanya. Sungguh memuncak amarah dihatinya saat ini.
"SIAL...! SIAPA GADIS ITU...?!"
Ucap Iraken, amat geram.
Kawan-kawannya hanya diam terpelanga melihat betapa beruntungnya Mara, tak diduga oleh mereka kalau ada pihak lain yang akan datang membantu Mara.
Ketika Mona hendak membawa lari Mara, seorang pria berpakaian rapi dan bersepatu hitam datang menghampiri mereka berdua. Pria itu melangkah perlahan dengan kharisma tinggi dan menatap ke arah mereka.
Mulut Mara seolah terjahit saat pria itu datang mendekat ke arahnya.
"Apa yang terjadi disini?" tanya pria itu, ia melangkah semakin dekat hingga sosoknya terlihat jelas. Tatapan matanya begitu tajam, disertai ekspresi ekspresi penuh keseriusan.
Iraken beserta seluruh temannya mundur selangkah setelah mengetahui siapa sosok yang mendekat itu.
"Kau..., direktur utama Knight Academy Organization. Raven NightHunter" ucap Iraken.
Bersambung....