Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 65: Sebuah rahasia



"Kau tidak apa-apa, maaf karena sudah menabrakmu."


Darius meminta maaf kepada orang yang ia tabrak tanpa menyadari bahwa itu adalah Ratu.


"Tidak apa-apa, aku permisi dulu."


Ratu meraih kacamatanya yang terjatuh dan langsung melarikan diri, ia tidak ingin dilihat siapapun dalam kondisi seperti ini, apalagi sambil membawa miniatur karakter game layaknya seseorang yang fanatik.


Darius hanya bisa terpaku heran terhadap orang yang ia tabrak tadi, orang itu langsung mengambil langkah cepat menjauh darinya.


"Orang itu terburu-buru sekali, padahal aku ingin memastikan tidak ada luka lecet padanya, tapi sepertinya dia baik-baik saja," ucapnya dalam hati.


"Ada apa tuan?"


Raven muncul dari arah belakang bersamaan dengan Mona, mereka baru saja kembali dari membeli jus buah persik.


Melihat raut wajah tuannya yang tak biasa membuat Raven penasaran terhadap apa yang terjadi pada tuannya selama ia pergi.


"Oh..., bukan apa-apa, tadi aku tanpa sengaja menabrak seseorang dan orang itu langsung berlari setelah ku tolong."


Darius menjelaskan semuanya.


"Mungkin saja dia orang yang sibuk, sehingga langsung berlari seperti itu," tukas Raven.


"Bisa saja begitu, ngomong-ngomong bagaimana dengan minuman yang kau inginkan, Mona?"


Tanya Darius.


"Jus nya habis, aku tidak mendapatkannya," jawab Mona.


"Kalau begitu buatkan satu untuk dia, Raven," ujar Darius.


"Baik tuan."


Ketika hendak beranjak....


Bluarrr....!


Suara dentuman terdengar keras dari kejauhan.


"Suara ledakan, nampaknya dekat sini," ucap Raven.


"Jangan-jangan ada monster lagi, kau jaga dia Raven, aku akan pergi menyelidikinya."


"Eh? tuan, tunggu dulu."


Darius langsung pergi tanpa mendengarkannya, padahal Raven ingin tuannya tidak turun tangan untuk hal semacam ini.


Apa boleh buat? majikannya bukanlah orang yang suka berpikir panjang sebelum bertindak, dimasa lalu pun Darius sering nyaris celaka lantaran sifatnya itu.


Kini hanya tinggal Raven dan Mona saja, mereka berdua saling menatap satu sama lain.


"Kak Darius akan bertarung kan? ayo kita lihat..!"


Mona mengucapkannya dengan sangat bersemangat.


"Kau ini, itu terlalu berbahaya, akan kubawa kau ke tempat yang aman," tukas Raven.


Namun Mona menggelengkan kepala lalu mengeluarkan sebuah kamera dari tasnya.


"Tidak mau, aku mau merekam aksi kak Darius dengan kamera baruku, aku baru membelinya dari kota Fuan dan harganya lumayan mahal, sekaranglah saat yang tepat untuk menggunakan kamera ini."


Ucapnya tanpa peduli akan bahaya.


Tentu Raven takkan membiarkannya, tanpa banyak basa-basi ia langsung menggendong paksa gadis itu tanpa memperdulikan rengekannya yang cerewet.


Mona meronta-ronta sekuat tenaga, akan tetapi semua itu sia-sia saja.


Raven takkan menuruti keinginannya.


Ronta si Mona setengah mati.


"Utamakan keselamatan dirimu sendiri, harga rekaman mu tak sebanding dengan nyawamu," tukas Raven sambil terus membawanya menjauh dari sumber suara ledakan.


...*********...


Di asal suara ledakan, di dekat sebuah pusat perbelanjaan besar kota Tideo.


Sosok monster berlengan enam setinggi 20 meter muncul entah darimana, makhluk aneh ini tiba-tiba saja mengamuk dan menghancurkan segala yang ada disekitarnya.


Para petugas keamanan kebingungan karena monster ini muncul begitu saja tanpa ada tanda-tanda terlebih dahulu, seakan monster ini dikirim menggunakan sihir teleport agar bisa muncul di tengah kota.


Komandan Gio dari Seis yang kebetulan sedang berada disana lekas mengambil tindakan.


"Yang benar saja, aku bahkan tidak merasakan tanda-tanda kehadirannya sama sekali," batinnya.


Komandan segera memunculkan soul weapon yang ia beri nama Cigarus, senjata berwujud kapak ini memiliki kemampuan untuk menahan serangan sihir tingkat menengah dengan kemampuan tebasan cahaya jarak jauh.


Radius tebasan jarak jauhnya mampu menempuh jarak sepuluh meter dan memiliki kekuatan yang cukup untuk menembus dinding emas setebal tiga puluh milimeter, itu untuk tebasan biasa.


Ia mengayunkan kapaknya sekuat mungkin lalu mengarahkan tebasan kuat ke bagian tangan monster itu.


Traang...! (suara desingan senjata tajam).


Kulit monster yang begitu keras begitu menyulitkan.


Komandan Gio terpaksa menjaga jarak karena monster itu mulai terfokus padanya.


"GRAAAA...!"


Raungan monster sangat dahsyat, menimbulkan tekanan angin yang menerpa habis kendaraan dan segala objek disekitarnya.


Sebuah mobil terhempas ke arah komandan Gio, segera komandan membelah mobil itu menjadi dua.


Disaat yang bersamaan, bala bantuan datang.


Arnoldi Hunt beserta rekannya Teresha tiba lokasi, selain mereka ada pula Nova dan Aqynanta yang datang untuk membantu.


Dengan sinis, sosok Arnoldi melirik ke arah para Seis seraya tersenyum menyeringai.


Tatapan mata kedua anggota bangsawan besar ini saling bertemu.


"Seis juga ada disini? sungguh kebetulan, mari kita buktikan siapa yang lebih efektif dalam menangani monster ini," ucap Arnoldi, memandang remeh.


"Jangan bersikap sombong dulu bocah, kau tidak lebih dari tikus yang bersembunyi dibalik kurungan yang kau beri nama "sihir."


Sindir balik Aqynanta.


"Tanpa adanya sihir di tanganmu, kau hanyalah bocah lemah," lanjutnya.


"Kita lihat saja, nenek," hujat balik Arnoldi.


"Apa kau bilang?!"


Emosi Nanta seketika naik, tetapi ia segera meredakan amarahnya itu.


Karena didepan mereka ada musuh yang harus segera di atasi.


Arnoldi menunjukkan kekuatan sihir cahaya miliknya, simbol beserta mantra sihir yang mandraguna lagi hebat muncul di sekitar tangan kanannya.


Dalam hatinya ia begitu yakin seyakin-yakinnya bahwa masalah ini mampu ia selesaikan dalam waktu singkat.


"Kalian para ksatria bersenjata akan segera melihat betapa agungnya ilmu sihir," batinnya penuh percaya diri.


Bersambung.....