Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 63: Penetapan perwakilan



POV Raven.


Lokasi: Grand Mansion.


Raven menghubungi programmer kepercayaannya yang bernama Lin, ia meminta bantuan terkait masalah pendaftaran Darius ke NGB.


"Lin, apa kau bisa membuat data gelap (palsu) untuk memasukkan dia ke NGB?" tanya Raven, serius.


"Maaf pak, itu terlalu berbahaya karena data sudah masuk lingkup bangsawan secara privat, jika sampai ketahuan kita bisa terjerat hukuman berat dari pihak bangsawan," balas Lin.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih."


"Sama-sama, pak."


Raven menutup panggilan.


Tidak ada jalan untuk membawa Darius ke NGB tanpa sepengetahuan dari Ratu Oriery, pastinya Sang Ratu takkan mengizinkan orang yang melanggar hukumnya ikut serta dalam NGB.


Dia begitu membenci Darius dan sudah beberapa kali mencoba mencelakainya.


"Kurasa aku harus meminta maaf kepada tuan atas ketidakmampuan ku ini."


Sesaat kemudian, ia melihat sebuah mobil mewah berhenti didepan mansion.


Terlihat Darius keluar dari dalam mobil itu bersama dengan Nova beserta anak buahnya.


"Tuan sudah kembali," batin Raven.


Ia langsung menyiapkan minuman manis kesukaan tuanya dan merapikan sofa, tak berselang lama Darius mengetuk pintu.


Raven menyambut kehadirannya dengan begitu hormat serta mempersilahkan dia untuk duduk di sofa yang empuk, di meja sudah ada minuman yang telah Raven sediakan.


Raven mengambil sebuah handuk kecil untuk mengusap keringat yang mengalir di pipi tuannya.


"Kau tidak perlu menyeka keringat ku, aku bisa melakukannya sendiri," ujar Darius.


"Tidak apa-apa tuan, ini adalah kewajiban saya," balas Raven.


"Kau ini selain begitu."


Setelah selesai mengusap keringat tuannya, ia menundukkan kepala dengan wajah yang suram.


Bibirnya bergetar ketika hendak bicara, seolah hendak mengatakan kalimat yang begitu berat untuk diutarakan.


"Ada apa? apa terjadi sesuatu?" tanya Darius.


"B.., bbb..., begini tuan, saya tidak bisa mendaftarkan anda ke kompetisi NGB sesuai dengan yang anda inginkan, maafkan kekurangan saya yang sangat fatal ini," ujar maaf Raven, ia tidak berani menatap wajah tuannya sendiri.


"Tidak perlu minta maaf, aku sudah mengetahui itu, pimpinan Seis sudah memberitahu kepadaku tentang sistem keanggotaan bangsawan masa kini dan dari situ bisa disimpulkan bahwa aku tidak diakui oleh mereka (para Hunt)," jelas Darius sambil meneguk minuman manis.


"Wah..., minuman ini memiliki madu didalamnya," batinnya, setelah minum.


"Ini sangat keterlaluan tuan, jika terus begini kehormatan anda akan diinjak-injak oleh cicit-cicit anda sendiri tanpa mereka tahu bahwa anda adalah leluhur mereka," ujar kesal Raven.


"Karena itulah aku akan bertindak mulai detik ini, sudah banyak waktu yang ku habiskan untuk mengenal era ini dan sekarang saatnya untuk bergerak," ucap Darius kemudian ia bangkit dari duduknya.


"Tapi sebelum itu, aku ingin jalan-jalan keluar sebentar," lanjutnya.


"Biarkan saya menemani anda."


Mohon Raven.


"Tentu saja boleh."


"Terima kasih, tuan."


Mereka berdua pun bersiap dan hendak keluar dari ruangan, tetapi...


Ting....! Tong....!


Bel pintu berbunyi ketika Darius hendak membukanya.


"Biar saya yang membukanya."


Raven membukakan pintu dan rupanya Mona, Hilda dan Agni datang mengunjungi mereka berdua.


"Kak Darius...!"


Mona melompat dan memeluk erat Darius.


"Lama tak jumpa, orang tuaku mengajakku keluar kota selama seminggu lebih jadi kita tidak bisa bertemu," jelas Mona seraya mempererat pelukannya.


"Kau ini," ucap Darius seraya tersenyum, ia mengusap kepala Mona beberapa kali.


"Kalian juga datang, bagaimana kabar kalian?" tanya Darius kepada dua naga bersaudara Hilda dan Agni.


"Kami masih dalam masa pemulihan, sayap kanan ku patah karena mu," jawab Hilda seraya membuang wajah.


"Hilda kau ini, kami kesini untuk mengantar gadis ini saja, dia ingin kami mengantarkannya kemari ketika bertemu dengan kami didepan toko daging," tukas Agni.


Darius beralih pandang ke Mona.


"Bukankah letak rumahmu tidak jauh dari sini?" tanya Darius.


"Aku ingin merasakan sensasi menaiki naga dan ternyata rasanya luar biasa, karena itu aku meminta tolong kepada mereka, lagi pula mereka sahabat kak Darius, kan?"


Jawaban yang amat polos.


"Astaga, ternyata hanya karena itu."


Darius menepuk dahi dibuatnya.


"Oh.... ya kak, penampilanmu terlihat berbeda dan seingatku tandukmu tidak se-lengkung itu," sahut Mona.


"Perihal itu akan kuceritakan nanti, hari ini aku ingin jalan-jalan, apa kau mau ikut?"


Kedua mata Mona berbinar mendengar itu.


"Sungguh aku boleh ikut? aku mau ikut," jawab Mona dengan semangat tinggi.


Kemudian Darius menggendong gadis cilik itu.


"Kalian ikut juga?" tanya Darius kepada dua naga bersaudara.


Mereka berdua menggelengkan kepala dengan kompak.


Meskipun Hilda menghindari kontak mata tetapi itu tidak masalah bagi Darius, ia begitu bangga dengan ras naga yang mau mengayomi makhluk yang lebih lemah dari mereka.


Darius menyampaikan kekagumannya terhadap salah satu ras naga yang tak lain adalah salah satu ras terkuat di dunia ini.


"Terima kasih karena sudah mau menuruti keinginan egoisnya, ras naga sungguh ringan tangan sampai mau repot-repot mengantarkan gadis kecil ini kemari, semoga kau mendapatkan timbal balik lebih besar atas kemurahan hati mu."


Ucap Darius kepada Agni.


"Aku juga berterima kasih untuk doamu itu," tukas Agni, merasa senang.


Selanjutnya Darius menoleh ke arah Hilda yang sedari tadi tidak mau memandangnya sama sekali.


"Kau pun juga Hilda, semoga dengan buah kebaikan yang telah kau lakukan, keanggunan mu akan tetap terjaga hingga ratusan tahun kedepan," puji Darius.


Hilda yang awalnya membuang wajah kini menatap Darius dengan rona merah di kedua pipinya, ia merespon terhadap perkataan yang Darius ucapkan.


"Kau ini terlalu sopan, cukup bilang terima kasih saja, huh...!"


"Mengapa kau kesal? apa aku salah bicara?"


"Tentu salah, itu terlalu sopan."


Sikap Hilda membuat Darius kebingungan, padahal dia tidak sedang menyinggungnya.


Ia hanya berterima kasih selayaknya seorang ksatria yang berterima kasih kepada orang lain, tetapi reaksinya malah begini.


Agni yang juga heran mulai memperhatikan adiknya, sangat terlihat bahwa kedua pipi Hilda benar-benar merona merah dan itu bukan warna sisik.


"Apa kau sedang sakit? pipi mu merah sekali," ujar Agni.


"Kakak ini bicara apa? jangan asal bicara, ayo cepat kita pulang, banyak tugas rumah yang harus kita selesaikan," ucap Hilda, kesal entah mengapa.


Semua orang disana sama sekali tidak tahu penyebab rasa kesalnya.


"Hilda sopanlah, ada pak direktur disini," tukas Agni.


Tetapi Hilda malah melangkah pergi dengan lekas.


"Eh? Hilda?"


Agni pun menjadi semakin bingung dengan sikap adiknya ini, membuatnya harus meminta maaf atas sikap adiknya yang kurang sopan.


"Maafkan perilaku adik saya, pak direktur, tak seharusnya dia bersikap begitu."


Agni menundukkan kepala dengan tulus.


"Tidak perlu menundukkan kepala, aku tidak keberatan, lagi pula umur adikmu baru 45 tahun, masih belum bisa berpikir dewasa sepertimu," balas ramah Raven.


Umur Agni 120 tahun.


"Kalau begitu saya pergi dulu, semoga hari anda menyenangkan."


Agni memberi hormat kepada Raven lalu kemudian menyusul adiknya keluar mansion.


Mona sedari tadi menarik lengan baju Darius, ia ingin tahu kemana ia akan dibawa jalan-jalan oleh kakak favoritnya ini, harapannya Darius ingin mengajaknya pergi ke tempat hiburan seperti mall ataupun taman bermain.


"Kita mau pergi kemana? apa kita akan jalan-jalan ke taman?" tanya Mona.


"Hmmm..., mari kita lihat seluk-beluk kota ini, bisa jadi kita dapat menemukan sesuatu yang lebih menarik," balas Darius seraya mengulurkan tangannya kepada Mona.


Mona merasa senang, ia langsung menggenggam erat tangan besar Darius.


Secara diam-diam Raven meraih ponsel di sakunya, ia menghubungi seseorang dan berbicara dengan nada yang lirih.


"Segera siapkan mobil tanpa sopir pribadi, hari ini aku yang akan menyetir," ucapnya lirih.


...***********...


Lokasi: Markas bangsawan Hunt, Casterial Mansion.


Jaraknya tidak terlalu jauh dari K.A.O.


Didalam mansion megah itu, ratu Oriery telah menetapkan orang-orang yang akan menjadi perwakilan dalam kompetisi NGB tahun ini, keputusan ini juga sudah ia rundingkan bersama dengan para bawahannya yang lain di ruang singgasana.


"Yang akan mewakili Hunt adalah Caroline, Arnoldi, Tara dan Gient, kalian semua akan mengikuti NGB," titah Ratu tanpa bisa diganggu gugat.


"Kita harus bisa memenangkan kompetisi ini dan mendapatkan Medallion of Glory, itu adalah target kita dan untuk ini aku tidak menerima kegagalan, paham?"


"Baik, ratu."


Seluruh bawahannya seketika patuh tanpa ada keberatan.


"Mara, kau boleh istirahat tapi sebelum itu kau bisa mengambil berkas mu terlebih dahulu di kantor ku," ucap Ratu.


"Baik, kak."


Mara lekas menuju ruang kantor Ratu untuk mengambil berkas kerjanya, jumlahnya ada sekitar 30 berkas dan semuanya tentang desain senjata sihir yang diusulkan oleh para Hunt di markas.


"Aduh banyak sekali," keluh Mara, ia benar-benar sudah lelah.


Tumpukan berkas itupun hendak diangkatnya namun tanpa sengaja ia melihat secarik kertas dengan tanda tangan Ratu diatasnya, itu adalah surat persetujuan untuk perwakilan kompetisi NGB.


Anehnya data perwakilan dalam surat itu kosong, tidak tercantum di surat itu nama orang/peserta yang akan mewakili Hunt dalam kompetisi NGB, tetapi sudah tertempel tanda tangan Ratu beserta stempel resmi bangsawan Hunt didalam surat kosong itu.


"Datanya tidak terisi sama sekali, kakak pasti sudah terlalu lelah sampai tidak menyadari bahwa ia menandatangani surat dengan data yang kosong," ucap Mara seraya menghela nafas lalu ia kembali mengecek kembali data perwakilan Hunt di meja kakaknya.


Surat persetujuan atas nama Carol, Arnoldi, Tara dan Gient masih lengkap 4 buah.


"Lalu surat persetujuan kelima ini untuk apa?"


Mara seketika bingung.


Padahal perwakilan Hunt hanya ada 4 orang saja, tetapi ia menemukan surat persetujuan kelima untuk perwakilan NGB.


"Lalu surat kelima ini untuk siapa?" batin Mara.


Dia pun memperkirakan penyebab logis kakaknya menandatangani surat kelima yang tidak lain adalah lebihan dari jumlah surat persetujuan yang telah ditentukan.


"Mungkin kakak terlalu lelah sampai tidak menyadari jumlah surat persetujuannya kelebihan satu buah, lebih baik kubawa saja dulu."


Mara melipat rapi surat itu lalu memasukannya kedalam saku, ia pun mengambil berkas kerjanya dan segera enyah dari kantor kakaknya.


Bersambung....