Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 76: Musuh yang salah memilih lawan



Ramai riuh pesta semakin bergemerlap di tengah gelapnya malam, namun tidak semua orang di kediaman Ratu Hunt menikmatinya. Raven masih berbincang dengan tuanya terkait rencana untuk meneliti Hunt dari dalam sementara Ratu menghilang entah kemana.


Hal ini disadari dengan cepat oleh Darius, karena seorang Ratu adalah pusat perhatian utama dalam pesta.


"Sejujurnya aku bukan orang yang berpikiran negatif terhadap orang lain, tapi Ratu Hunt merupakan pengecualian untuk itu," ucap Raven.


"Kita tidak tahu seluk-beluk tempat ini, jadi lebih baik kita membiarkannya untuk saat ini," sahut Darius.


Tak jauh dari mereka, seorang Cientry perlahan mendekati meja makan dimana Darius memakan buah-buahan yang telah dihidangkan, ia merobek sedikit kulit dari salah satu buah apel berada diatas meja itu.


"Sedikit kejahilan tidak apa-apa, bukan?" ucapnya dalam hati seraya tersenyum licik.


Pada bagian apel yang terkelupas, ia memasukkan energi sihir kristal yang membuat daging didalam apel mengeras hingga nyaris sekeras permata.


Setelah melakukan itu, ia pun pergi menjauh.


Cientry kembali duduk bersama dengan sahabatnya Rossa, mereka berdua memantau dari kejauhan guna memastikan target yang mereka jahili memakan apel yang bagian dalamnya sudah dibuat mengeras oleh Cientry.


Tidak lain dan tidak bukan, target mereka adalah Darius yang sedang menikmati buah-buahan dengan santainya. Rossa begitu bersemangat, ia tidak sabar untuk melihat rahang Darius cedera akibat menggigit apel itu.


Rossa sama sekali tidak terima karena sebelumnya ia harus menyambut sosok yang ia benci sambil mengenakan gaun terbaiknya, meski itu perintah dari Ratu namun ia merasa sangat terhina.


"Kuharap semua giginya hancur setelah mengigit apel itu," ucap lirih Rossa kepada sahabatnya.


"Itu pasti, kurasa lebih dari itu..., ihihi," tukas Cientry seraya tertawa kecil.


Semua berjalan sesuai dengan prediksi Cientry. Darius meraih apel yang bagian dalamnya sudah mengkristal.


Perlahan ia hendak menggigit apel itu tanpa tahu bahwa itu adalah jebakan, mereka yang membencinya nampak begitu puas memandangi itu dari kejauhan.


"Ayolah, cepat gigit," batin Rossa yang tidak sabar untuk melihat Darius kesakitan seperti yang ia ekspektasi kan.


Begitu juga Cientry yang sedari tadi tersenyum menyeringai, pada akhirnya peristiwa yang mereka nanti-nantikan pun terjadi.


*Kraaaus ...!


Darius pun menggigit apel itu.


Rossa dan Cientry tersenyum lebar menyaksikan nya, sayangnya senyuman mereka tidak berlangsung lama setelah melihat Darius melahap setengah dari apel yang sudah dikristalkan oleh Cientry.


"Apel ini lebih berat dan renyah dari yang lain, apakah ini jenis baru? ini enak," ucap Darius tanpa menyadari bahwa apel itu adalah jebakan yang seharusnya membuat gigi dan rahangnya cedera.


Sementara itu Rossa dan Cientry terdiam mematung, mereka tidak bisa beralih pandang lagi dari sosok yang mereka awasi.


"Cien, apa kau benar-benar sudah membuat bagian dalam apel itu mengkristal? dia baru saja melahap apel itu dengan mudahnya," tanya Rossa.


"Tapi mengapa dia tidak kesakitan? harusnya giginya retak setelah memakan apel itu."


Rossa masih merasa ragu.


"Aku juga tidak tahu, aku pun mempertanyakan hal yang sama."


Selagi mereka berdua merasa bingung, tiba-tiba saja Mara datang menghampiri Darius, ia ingin menunjukkan ruangan yang telah disediakan untuk tempat istirahat Darius sebagai anggota Hunt.


Darius meletakkan apel yang sudah ia gigit setengahnya diatas meja makan, lalu pergi bersama Mara.


Disaat itulah Rossa menghampiri apel itu guna memastikan apakah bagian dalamnya sudah mengkristal atau tidak.


"Apa Cien sudah merapal mantra nya dengan benar?" bantin Rossa kemudian ia mengambil sebilah pisau untuk memotong apel itu dan hasilnya....


"I... ini."


Mulut Rossa ternganga lebar.


Setelah melihat pisau itu bengkok didepan matanya. Rossa tak sanggup berkata-kata lagi.


Ternyata benar bahwa Cientry sahabatnya sudah membuat apel itu menjadi kristal, perasaan kaget dan bingung pun bercampur aduk.


" I... i... ini mustahil, makhluk macam apa dia?" batin Rossa, tercengang.


Kedua tangannya perlahan gemetar, lambat laun kedua kakinya melemas membuatnya terduduk kaku.


"Rossa, kau kenapa?"


Cientry lekas membantu temannya berdiri.


"Hei, kau kenapa?" tanya Cientry kedua kalinya tetapi Rossa masih gemetaran.


Pandangan Cientry pun tertuju pada apel yang berada diatas meja, ia sangat yakin bahwa apel itu benar-benar sudah ia buat mengeras, terlihat dari bagian kulit apel yang sebelumnya sedikit ia kupas guna memasukan sihir pengkristalan kedalam apel itu.


Bahkan bagian dalam apel itu masih sangat keras, jauh lebih keras dari pada baja.


Cientry tidak dapat memungkiri kenyataan bahwa Darius baru saja memakannya.


"Pria itu..., apa dia monster?" batin Cientry dengan perasaan merinding.


Bersambung....