Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 68: Manticore



...PENGUMUMAN...


...Sorry karena telat up karena kondisi author lagi gak baik, jangan lupa beri vote, like dan comment jika ada penulisan atau alur yang kurang bagus....


...Terima kasih buat yang stay dengan karya ini😁😁😁😁...


...*********...


Kondisi kota Tideo memasuki tahap darurat, monster tak dikenal membabi buta dengan liar.


Evakuasi tidak berlangsung lancar karena ini terjadi secara mendadak, masih banyak penduduk yang tertinggal di tengah kota.


Ratu Hunt dengan kemurahan hatinya membukakan pintu kediamannya bagi para penduduk yang tidak bisa sampai ke tempat evakuasi, medan pelindung sempurna melindungi Casterial Mansion yang menjadi tempat agung Sang Ratu.


Para penduduk yang mengungsi disana di arahkan menuju ruang bawah tanah yang aman, disana sudah ada para healer yang siap untuk mengobati penduduk yang terluka serta banyak persediaan makanan dan air bersih.


Sementara itu di ruang singgasana...


"Bagaimana keadaan mereka yang mengungsi?" tanya Ratu kepada bawahannya yang bernama Perona.


"Sebagian besar dari mereka mengalami luka yang cukup serius, beberapa diantaranya mengalami patah tulang di bagian tangan," lapor Perona.


"Tapi para healer kita bisa menangani semua itu, mereka pasti akan tertolong," lanjut Perona.


"Aku tidak pernah meragukan kemampuan bawahan ku, pastikan semua yang cedera sembuh," titah Ratu.


"Baik, kami laksanakan."


Perona memberi hormat lalu pergi.


Ratu memeriksa keadaan diluar dari balik jendela, terlihat ledakan bertebaran dimana-mana beserta guncangan tiada henti.


Sebuah gedung rubuh akibat guncangan menindihi toko-toko kecil yang berada dibawahnya, auman monster terdengar keras dari kejauhan.


Ratu sangat kesal dengan kekacauan ini.


"Apa aku harus turun tangan?" batin Ratu.


Sempat terpikirkan olehnya untuk turun langsung menangani monster itu, sayangnya martabat seorang tidak membiarkan dia maju sebelum para bidaknya terlebih dahulu.


Mara datang menghampiri dengan membawa kabar buruk, ia melaporkan nya Ratu.


"Apa? jalur komunikasi putus mendadak?"


"Iya kak, para pengintai yang kita kirim jadi tidak bisa kita hubungi."


Perasaan Ratu pun jadi semakin buruk, ia mencoba memastikan sesuatu dengan sinkronisasi terhadap adiknya.


Beberapa detik kemudian....


Bibir Ratu bergetar karena kaget.


"Mustahil...."


Seluruh koneksi menghilang membuat segala alat komunikasi menjadi tidak berguna, bahkan Ratu tidak bisa melakukan telepati dengan adiknya sendiri.


"Apa maksudnya ini? apa karena monster itu?"


Ratu tercengang bukan main.


"Komunikasi terputus akibat musibah masih bisa terbilang wajar, tapi mengapa telepati juga terputus? padahal Mara hanya berjarak dua jengkal dariku, apa penyerangan ini sudah direncanakan?"


Dalam batin Sang Ratu menduga kemungkinan paling buruk yang bisa terjadi atas semua kendala yang tidak masuk akal ini, terputusnya komunikasi beserta telepati cukup memperkuat dugaan nya itu.


Raut wajah Ratu yang berubah disadari oleh Mara, mengundang rasa khawatir Sang adik.


"Ada apa kak? kenapa kau tegang seperti itu?" tanya Mara.


Tanpa menjawab, ratu langsung memanggil Absolute Weapon nya yang berwujud Staff dengan kristal hitam di bagian ujungnya, nama senjata ini adalah Amreial Eve senjata sihir terkuat di kalangan Hunt.


Mara terkejut setengah mati melihat kakaknya mengeluarkan senjata itu.


"Ada apa kak?! kakak kenapa?!"


"Mara ikut aku sekarang juga, bawa Absolute Weaponmu juga perintahkan semua Hunt untuk memperketat penjagaan disini, aku akan turun tangan untuk menangani ini," balas Ratu kemudian ia menghilang bersamaan dengan terangnya lingkaran sihir teleport.


"Ada apa ini? kenapa kakak tiba-tiba begitu?"


Mara terombang-ambing perasaan heran dan khawatir.


...***********...


Monster itu sudah kehilangan mata kirinya dan darahnya menyembur ke segala arah, Darius berhasil mencabut paksa matanya lantaran kesal dengan pengelihatan monster yang mampu membaca gerakannya.


Itulah yang membuat Darius bermandikan darah saat ini.


"Astaga jorok sekali," sindir Hilda.


"Bukan saatnya untuk bicara seperti itu, lihatlah ke depan," tukas Darius.


Hilda pun menoleh.


"Eh?"


Buaakkk....!


Ia mendapatkan pukulan telak di wajah sekaligus terpelanting sejauh 20 meter.


"Sudah kubilang, jangan alihkan pandangan dari musuh," tegur Darius atas kecerobohan Hilda.


Disaat yang sama aksi Darius yang berhasil merenggut salah satu pengelihatan Si monster sempat membuat Nanta terkesima.


"Hanya dengan tangan kosong? ini sungguhan?"


Sempat Nanta terlamun tetapi tidak lama, ia ingat bahwa pertarungan belum berakhir dan lekas kembali fokus.


Dengan ketelitian penuh Nanta berusaha mencari celah pertahanan tubuh monster itu, nampaknya ia cukup kesulitan.


"Aku tidak bisa sembarangan maju tanpa mengetahui kelemahannya, tapi..."


Nanta menghentikan ucapannya lalu melihat ke arah Darius yang bergerak maju menghantam monster tanpa pikir panjang.


".... Entah mengapa pemuda itu sama sekali tidak takut terluka," lanjutnya dalam batin.


"Dasar Manticore...!"


Teriak Darius bersemangat sambil menendang mundur monster itu, ucapan kerasnya terdengar jelas oleh Nanta.


"Tadi dia bilang apa? manticore? apa itu? ah..., ini bukan saatnya memikirkan itu, aku masih harus bertarung."


Melawan musuh abadi untuk pertama kalinya membuat Nanta sulit untuk menemukan strategi yang tepat, kerusakan disekitar semakin menyebar dan akan semakin merusak.


"Apa boleh buat, cuma ada cara ini saja."


Nanta menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya, ia memasang kuda-kuda untuk menyiapkan serangan terakhirnya, pedangnya sudah begitu rapuh akibat menebas kulit monster yang keras, sudah nampak tidak layak lagi untuk digunakan.


Dengan konsentrasi penuh ia memandang ke depan, mengunci target yang akan ia tebas.


"Jika kubuat sedikit saja celah ditubuhnya, pukulan Darius yang kuat pasti mampu menghancurkannya."


Perlahan ia mengumpulkan energinya hingga maksimum serta mendeteksi bagian paling rentan pada tubuh monster.


"Darius, kau kuat namun menghancurkan kerasnya kulit monster itu dengan tangan kosong sangatlah mustahil, kau hanya bisa melukai matanya yang tidak terlindungi oleh kulit," batin Nanta.


Ia mulai menghunus pedang beraura merah mencekam, bilah pedangnya seakan mengaum bagai singa yang akan menerjang.


"Akan ku buatkan celah untuk mu dengan teknik pedang tingkat atas yang ku kuasai."


Teknik pedang tingkat atas yang memberikan daya rusak parah terhadap musuh dan hanya dikuasai oleh tiga orang di dunia yakni...


"EMERALD BREAKER."


"Akan ku hancurkan kulit monsβ€”"


Nanta tiba-tiba terdiam.


Ia mengurungkan niatnya untuk melesatkan Emerald Breaker, setelah melihat pemandangan yang ada didepannya.


"Fyuh..., selesai juga," ucap Darius sambil menyeka keringatnya.


Saat ini ia tengah berdiri di atas jasad monster yang hanya tersisa setengah badan.


"Hey apa kau mau mengambil jantungnya? kelihatannya enak kalau dipanggang," tawar Darius dengan polosnya dihadapan orang yang tercengang kaku karena ulahnya.


Nanta berusaha menahan diri dari rasa kagetnya namun tak bisa, hingga pada akhirnya.....


"Eh...? EEEEEHHHHHHH......?!!!!"


Nanta pun berteriak heboh hingga suaranya menggema ke segala arah.


Bersambung....