Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 58: Sisi gelap bangsawan



Eruna tersenyum lebar setelah mendengar perkataan Darius, ia terlihat senang karena orang yang dia undang memiliki kemampuan yang melebihi ekspektasinya.


"Ayahmu sampai mengetahui hal sedetail itu? pasti dia memiliki pengalaman bertarung yang dalam, pantas saja kau dapat tumbuh menjadi ksatria yang hebat," puji Eruna.


"Terima kasih telah memuji beliau," balas Darius.


Eruna berdiri membelakangi dinding.


"Baiklah, kau pasti sudah sangat penasaran mengapa aku mengundang mu kemari, bukan?"


Tiba-tiba dinding di belakang Eruna terbelah dua lalu muncul layar monitor besar dari belahan dinding itu, ini mengejutkan bagi Darius yang belum mengetahui teknologi modern.


"Sebelumnya aku ingin meminta maaf atas ketidaksopanan ku," ucap Eruna lalu kemudian layar monitor itu menyala.


"Apa?"


Darius tidak paham mengapa Eruna meminta maaf.


Monitor menampilkan segala aksi yang Darius lakukan saat uji tanding bulan lalu sampai saat dia bertarung melawan Pyroberus, disinilah Darius mengetahui bahwa selama ini Seis telah mengawasinya.


"Aku begitu kagum setelah menyaksikan pertarungan mu dalam uji tanding bulan lalu, mulai dari kekuatan fisik beserta teknik mu dalam menggunakan pedang sangatlah luar biasa dan itu membuatku tak dapat menahan hasrat untuk mengetahui lebih dalam tentang mu," jelas Eruna.


"Tak kusangka selama ini aku diawasi, mengapa kau begitu tertarik padaku? bukankah diluar sana ada banyak ksatria kuat lainnya," tanya Darius.


Eruna menggelengkan kepala beberapa kali.


"Kau berbeda dari yang lain Darius, para ksatria hebat diluar sana tidak ada yang seperti dirimu, kebanyakan dari mereka lahir dari keluarga besar ataupun bangsawan yang memiliki basic kemampuan bersenjata seperti bangsawan Ragnar, Solvista, D'archain dan bangsawan ksatria lainnya."


Perlahan Eruna mendekati Darius dengan langkah yang anggun, ia mendekatkan wajahnya dengan tatapan dalam.


"Sedangkan kau adalah ksatria pengguna pedang yang lahir dari bangsawan Hunt yang mengharamkan senjata dalam lingkup mereka," ucap Eruna lalu ia menjauhkan wajahnya lalu kembali duduk berhadapan dengan Darius.


"Bagaimana kau bisa lahir dari bangsawan seperti itu?" tanya Eruna penasaran.


"Ceritanya panjang, yang pasti aku memilih jalan yang berbeda dari mereka," jawab Darius.


Eruna nampak sangat senang.


"Oh..., pemberani sekali, kau seperti melakukan pemberontakan terang-terangan terhadap Hunt, apakah Oriery tidak menjatuhkan hukuman terhadap mu?"


"Maksudmu Ratu Hunt? dia tidak melakukannya," jawab Darius.


Eruna pun bertopang dagu.


"Hmm..., aneh sekali, padahal dia orang yang tidak mentoleransi orang yang melanggar hukum Hunt," ucap Eruna.


"Apa tujuan mu merekrut ku?" tanya Darius mendadak.


"Oh ya, aku sampai lupa topik utama pembicaraan kita, tujuanku merekrut mu adalah menyelamatkan dirimu," jawabnya.


Bingung, itulah yang melanda Darius saat ini, setahunya ia tidak terancam oleh apapun dan merasa tidak perlu diselamatkan dari apapun, apa maksud dari ucapan Eruna?


"Maaf, tapi aku baik-baik saja," ujar Darius.


Eruna mengeluarkan remot dari sakunya dan memencet salah satu tombol, tayangan pada layar monitor pun berganti, sekarang monitor menampilkan waktu ketika Evoryo dan Mara hendak mencelakai Darius sewaktu tes uji di K.A.O.


"Yakin?" tanya Eruna dengan tatapan menyeringai.


Darius hanya bisa diam.


"Mereka akan terus mempersulit dirimu, dengan berada dalam lingkup kami, kau akan terlindungi," ucap Eruna lalu ia melangkah ke belakang Darius.


"Bakatmu yang hebat serta fisikmu yang kuat akan sia-sia dalam lingkup Hunt yang angkuh itu, mereka hanya mengakui sihir sebagai sejatinya kekuatan tanpa memperdulikan yang lain, apa kau betah hidup bersama orang-orang seperti itu?" tanya Eruna, ia nampak. memprovokasi.


"Jika kau bergabung dengan kami, semua bakatmu akan diakui dan kau pula akan disegani, aku juga sudah menyiapkan posisi petinggi Divisi untukmu jika kau mau bergabung," jelas Eruna.


Eruna mengulurkan tangannya dengan halus, ia membuka lebar kesempatan besar untuk Darius.


"Bergabunglah dengan kami dengan satu syarat," ucapnya.


"Apa itu?" tanya Darius.


"Buang nama Hunt dari identitas mu."


...*******...


Di kediaman Hunt...


Mara tengah mengurung dirinya di kamar, ia sedang tidak ingin diganggu siapapun.


Semua tugasnya diserahkan kepada rekannya yang tidak lain adalah Carol, saat ini ia benar-benar tidak ingin sibuk dan ingin beristirahat.


Terlihat ia sedang fokus bermain ponsel dengan serunya, memainkan game bernama Magic Adventure yang telah menjadi game favoritnya sejak ia masih berada di bangku SMA.


Disana ia juga berinteraksi dengan salah satu kawan lamanya lewat chat system, ia mencurahkan segala beban pikirannya.


Aura: ini sudah genap 4 tahun kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu? apa kau masih sama seperti dulu?


Chat dari salah satu kawan lamanya.


"Aura, kukira kau sudah pensiun dari game ini," batin Mara.


Mara membalas chat kawannya.


Aura sedang mengetik....


Aura: sudah punya pasangan belum? 😜


"Pertanyaan menyebalkan itu lagi," ucap Mara lalu ia mengetik pesan.


Tiamara: sampai berapa kali kau akan bertanya seperti itu?


Aura: jangan marah, aku cuma bertanya 😆 ngomong-ngomong bagaimana persiapan mu untuk NGB nanti?


Tiamara: aku tidak ikut.


Aura: Hah?! kenapa? 😟


Tiamara: aku lelah.


Aura: apa kau sedang sakit? 😢


Tiamara: tidak, aku sedang lelah saja.


Aura: ini tidak seperti dirimu 🤔


Mara minum teh sejenak sebelum membalas pesan dari Aura.


Tiamara: bukan urusanmu.


Aura: kau ini selalu saja dingin 😤


Aura mengirimkan sesuatu kepada Mara, rupanya itu adalah item langka berupa staff level 159.


Tiamara: item ini kan..., ini item mahal seharga 2000 cash, kau memberikan ini padaku? serius?


Aura: tentu, anggap saja ini hadiah untuk pertemuan kita setelah sekian lama, meskipun secara tidak langsung.


Tiamara: terima kasih.


Aura: jangan sungkan, aku akan segera log out karena sebentar lagi Winter akan datang.


Tiamara: Winter? maksudmu Willi?


Aura: iya, kami akan berkencan sebentar lagi.


Tiamara: kalian berkencan? tunggu dulu, sejak kapan kalian berpacaran?


Aura: hehe..., rahasia, kalau begitu aku log out dulu, sampai bertemu di NGB.


Tiamara: Jangan menghindari pertanyaan ku.


Aura log out.


"Dasar, bisa-bisanya dia tidak menjawab," batinnya.


Ia pun ikut log out kemudian mematikan ponselnya.


Mara menggenggam erat selimut merah maroon yang menyelimutinya, ia merasa agak sebal entah mengapa.


"Padahal dulu Aura dan Willi musuh bebuyutan dalam kelas sihir, tak kusangka mereka sekarang berhubungan dekat."


Untuk sesaat Mara terlamun membayangkan Aura yang telah berpasangan dengan orang yang dulu musuh bebuyutannya, dalam hatinya ia terus bertanya-tanya, bagaimana bisa dua orang yang bermusuhan sejak berada di bangku sekolah, kini dapat bergandengan tangan?


Itu mustahil baginya, ini membuatnya ingin tahu bagaimana itu bisa terjadi.


"Dasar Aura, aku jadi penasaran dibuatnya, dari musuh menjadi sedekat itu..., bagaimana itu bisa terwujud?"


Mara menarik selimutnya hingga menutupi setengah wajah, sambil terus tenggelam dalam lamunan.


Terlintas bayangan Darius dalam lamunannya, orang yang paling ia musuhi sekaligus orang yang telah menyelamatkannya dan itu tidak hanya sekali saja, sekarang ia terikat sinkronisasi erat dengan pria itu.


Banyak hal yang terjadi diantara mereka berdua, sampai-sampai Mara kini merasa ragu untuk memusuhinya.


Sambil terus terbayang, Mara berkata dengan lisannya.


"Dia..., jika dia memang musuh tak mungkin dia sebaik itu, apa aku bisa sedekat itu dengannya?"


Ia mengucapkan itu secara spontan tanpa ia sadari.


Bayangan akan sosok Darius membuatnya terlamun cukup lama, hingga pada akhirnya ia pun sadar.


Mara menggelengkan kepalanya lalu menepuk keras kedua pipinya, raut wajahnya memerah bagai tomat yang masuk masa panen.


"Apa sebenarnya yang kubayangkan, astaga...!!!"


Mara merasa sangat malu dengan apa yang ia bayangkan, ia menutupi wajah merahnya dengan bantal nya yang empuk sementara kedua kakinya terus meronta kesana-kemari tak tentu arah.


"Kenapa aku memikirkan si bodoh itu? itukan tidak penting..., aduh... Mara, kenapa kau membayangkan orang bodoh seperti dia...?!!!"


Ia merasa salah tingkah.


"Mungkin ini karena aku kurang tidur, lebih baik aku tidak sekarang..."


Bersambung....