Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 18: Sesuatu yang masih menjadi tanda tanya



...PERHATIAN BAGI PARA PEMBACA!...


...Silahkan beri saran apabila alur cerita kurang pas atau tidak nyambung. Ini demi kepuasan para pembaca, bila ada alur yang kurang pas akan segera saya perbaiki....


...Selamat membaca 😁😁😁...


...**************...


Suara dentuman keras menyambut awal pagi. Tidak seperti orang normal pada umumnya, yang mengawali hari dengan sarapan atau segelas kopi sebagai penyemangat untuk mengawali rutinitas. Hilda menyambut awal paginya dengan satu pukulan telak, tepat diwajahnya.


"Ugh!"


Beberapa giginya rontok, kepalanya pun sudah berdarah-darah. Ia bersih keras untuk menantang Darius. Sesuai dengan permintaan Hilda, mereka bertarung di tempat yang sudah ditentukan oleh Hilda sendiri. Lokasinya sesuai dengan alamat yang ia berikan kepada Darius, kemarin.


"Berlatihlah lebih keras. Jika kau terlalu memaksakan diri seperti ini, maka kau tidak akan bisa mengikuti uji tanding tahap kedua. Masih ada waktu 4 minggu untuk mengobati luka serta memulihkan tenaga mu. Ingat, jangan menantangku lagi," tegur Darius.


Jivan yang bersama dengan Hilda hanya dapat histeris, melihat sahabatnya babak belur. Ia berlari menghampiri Hilda yang bersimbah darah dan langsung merangkulnya.


"Hilda, hentikan! kau tidak boleh keras kepala seperti ini. Ayo, kita pulang," ajak Jivan, penuh kekhawatiran.


"Ak...u belum... selesai. Uagh!"


Darah bercucuran keluar dari mulutnya. Ia sama sekali tidak memikirkan dampak dari keputusan yang ia ambil.


"Kau bodoh! mengapa kau selalu begini?" bentak Jivan. Ia berusaha menghancurkan sifat keras kepala sahabatnya.


Tak lama kemudian. Hilda terkulai lemas, ia tak mampu menahan beratnya rasa sakit. Disaat itu pula, datanglah Raven berserta tim medis kelas atas. Mereka membopong tubuh Hilda, masuk kedalam ambulance. Hilda langsung diantar menuju rumah sakit dekat pusat K.A.O.


"Dasar merepotkan."


Raven menepuk dahi, meratapi tindakan Hilda yang ceroboh.


"Sungguh aku berterima kasih kepadamu, pak Direktur. Anda masih mau membantu, meski ini diluar uji tanding. Saya sungguh berterima kasih," ucap Jivan.


"Ini sebenarnya diluar tanggung jawab K.A.O, karena pertarungan ini, diluar uji tanding. Tapi bagaimanapun juga, dia adalah petarung yang hebat. Sangat disayangkan jika K.A.O kehilangan dia," balas Raven.


Jivan sangat salut dengan Raven...


"Andai ini bukan perintah tuan, mungkin akan beda lagi ceritanya," batin Raven.


Jivan pergi, menyusul sahabatnya ke rumah sakit. Sementara Raven dan tuannya, kembali ke Grand Mansion.


Sesampainya di Grand Mansion....


"Seperti biasa, anda meluncurkan kepalan tanpa pandang bulu," ucap Raven. Mengingat beberapa saat lalu, Darius memukul wajah Hilda.


"Mau bagaimana lagi? meskipun dia wanita, tapi dia tetaplah seekor naga. Ia sama sekali tidak ragu untuk melawanku dengan wujud sempurnanya. Dia tidak memikirkan dampaknya terhadap penduduk sekitar, sungguh ceroboh," balas Darius.


Pertarungan tadi telah mengubah tanah lapang yang kosong (tempat mereka berdua bertarung), menjadi kolam lahar. Nyaris saja, penduduk sekitar terkena dampak dari pertarungan itu. Kini seluruh saluran berita di televisi, telah dipenuhi kabar tentang dampak dari pertarungan tadi.


Raven menyuguhkan anggur buatannya sendiri, kepada tuannya. Rasa dan kesegaran anggur buatannya, tidak mengecewakan dahaga tuannya. Darius sangat puas dengan anggur yang ia teguk. Raven senang melihat wajah puas Darius.


"Tuan, ada hal penting yang harus saya sampaikan."


"Apa itu?" tanya Darius.


Raven mengambil sebuah iPad, lalu menunjukkan video uji tanding kemarin. Pada bagian ketika Darius memukul Agni, ia menghentikan videonya dan men-zoom bagian tangan Darius yang hendak memukul Agni. Betapa terkejutnya Darius, mendapati hal yang tidak ia sadari sama sekali.


"Aura apa itu? kenapa aura itu muncul dari tanganku?" tanya Darius, bingung.


"Saya pun ingin menanyakan hal yang sama, tuan. Apakah tuan mendapatkan kekuatan baru ketika terjebak di dalam dimensi gelap?"


Darius mencoba mengingat kembali masa-masa ketika ia masih terjebak di dimensi gelap. Seingatnya, kekuatan baru yang ia dapatkan hanyalah elemen panas yang berasal dari salah satu inti tubuh Dewi Pamella. Itupun karena ia tak sengaja menyerapnya.


Hanya kekuatan itu saja yang ia dapatkan. Dia pun juga lupa memberi tahu Raven soal kekuatan penyerapannya ini. Mungkin lain waktu, ia akan memberitahu Raven. Aura hitam ini bukan berasal dari kemampuan menyerap milik Darius.


Ini sesuatu yang berbeda, tapi apa? bahkan Darius sendiri tidak tahu.


"Tuan, ada satu hal yang selalu lupa untuk saya tanyakan," ucap Raven.


Telinga Darius sudah siap untuk mendengarnya....


"Mengapa tanduk itu bisa tumbuh di kepala anda?" tanya Raven.


"Kukira kau sudah tahu soal ini," balas Darius sambil menunjuk-nunjuk tanduknya.


"Maaf, tuan. Tapi anda belum menceritakannya kepada saya. Saya pun selalu lupa untuk menanyakan hal itu."


"Benar juga," batin Darius. Kini ia merasa begitu konyol.


Raven duduk berhadap-hadapan dengan Darius.


"Tuan. Saya mohon, ceritakan apa saja yang telah tuan alami disana (dimensi gelap)."


Setelah menyadari kekonyolannya, ia pun menceritakan semua yang ia alami di dalam dimensi gelap kepada Raven. Tersontak kaget Raven setelah mendengar nama Dewi Pamella.


"Anda sungguh bertemu dengan Dewi Pamella?" tanya Raven.


"Iya, dialah yang membantuku keluar dari sini. Setelah aku membantunya," jawab Darius.


Darius menceritakan semuanya dengan detail. Raven sangat bersyukur, mengetahui Dewi Pamella masih hidup. Pamella adalah sosok yang menyelamatkan kaumnya dari kepunahan. Tanpa adanya Pamella, mungkin saat ini Raven tidak akan pernah terlahir dan melayani Darius.


Sungguh tersedu Raven, saat Darius menceritakan ketika ia terpaksa memakan daging monster untuk bertahan hidup. Sungguh perjuangan yang keras.


"Maaf jika aku lambat memberitahukan ini," ujar Darius.


"Tolong jangan meminta maaf, tuan. Anda tidak perlu minta maaf kepada pelayan sepertiku."


Raven bertopang dagu setelah mendengar semua penjelasan Darius. Ia tidak menyangka bahwa tuannya memiliki kemampuan untuk menyerap kekuatan. Tanduk di kepala Darius, adalah hasil dari kemampuan menyerap milik Darius saat mengkonsumsi daging monster.


Tubuhnya menjadi lebih kuat dan lebih tahan serangan seiring ia mengkonsumsi daging itu. Banyak sekali kemampuan yang Darius dapatkan dari monster yang ia makan mulai dari kecepatan, ketahanan fisik, sampai regenerasi tubuh.


"Ini diluar dugaan saya, anda memiliki kekuatan langka seperti itu," ucap Raven.


"Aku tahu, bahkan aku sendiri pun tidak menyangka nya. Dewi itu mengatakan sesuatu kepadaku, sebelum dia mengeluarkan aku dari tempat terkutuk itu. Ucapannya, masih melekat di ingatan ku..."


Ucapan Dewi Pamella yang berhasil membuat Darius meragukan bahwa dirinya adalah seorang manusia.


..."Darius, kau bukanlah manusia seutuhnya sejak kau lahir." Ucap Pamella....


...(Chapter 5)...


Pamella tidak mengucapkan itu tanpa dasar yang jelas. Pada kenyataannya, ada kekuatan dan kemampuan langka yang terdapat pada diri Darius dan Darius sendiri pun mengakui itu. Pamella bilang, bahwa kekuatan ini sudah ada pada Darius sejak ia lahir. Kekuatan ini baru bangkit ketika Darius terjebak dalam dimensi gelap.


"Berarti aura hitam ini adalah kekuatan milik tuan sendiri? dan tuan mengeluarkannya tanpa tuan sadari, lalu apa maksud beliau dengan mengatakan bahwa tuan tak sepenuhnya manusia?"


Darius menggelengkan kepala, ia tak tahu jawaban dari semua pertanyaan itu.


"Aura hitam itu, bisa saja kekuatanku. Meskipun aku tidak pernah tahu kekuatan macam apa itu. Tapi seingatku, aku adalah seorang anak petani apel yang diadopsi oleh Yang Mulia Raja Reivan. Itu saja yang ku tahu," ujar Darius.


Seluruh benaknya dipenuhi perasaan bimbang. Ia mulai ragu akan dirinya sendiri.


"Sebenarnya, aku ini apa?" batin Darius.


Raven tak sanggup melihat wajah bimbang tuannya. Ia pun memutuskan untuk berhenti bertanya. Mungkin yang dikatakan Dewi Pamella, benar. Bukti nyatanya terlihat jelas. Mulai dari kekuatan Darius yang besar dan langka, hingga penampilan Darius yang tidak menua meski sudah terkurung selama 400 tahun lamanya. Itu sudah cukup untuk membuktikan perkataan Dewi Pamella.


"Tuan, saya tidak peduli siapa sebenarnya diri tuan. Saya akan tetap melayani tuan, selayaknya seorang pelayan setia. Saya bersumpah."


Perkataan Raven sedikit menenangkan hati Darius. Beruntung sekali Darius, memiliki Raven sebagai pelayannya.


"Terima kasih, sekarang aku sudah lebih tenang. Aku akan berusaha mencari tahu tentang kekuatan apa yang ada pada diriku ini. Dengan begitu, aku bisa mendapatkan jawaban atas semua pertanyaanku," ucap Darius.


"Saya akan membantu anda, tuan," sahut Raven.


Supaya Darius dapat sepenuhnya menenangkan diri, ia pun meminta Raven untuk membuatkannya sebuah masakan yang spesial. Tentu, pelayannya melaksanakan apa yang tuannya minta, dengan sepenuh hati.


Ketika Raven hendak menuju dapur...


Ting! Tong! (suara bel pintu)


Raven merespon terhadap suara bel pintu...


"Siapa yang datang kemari sepagi ini? gadis badung (Mona) itukah?" batin Raven.


Ia pun melangkah ke arah pintu dan melihat siapa yang datang, lewat kamera Doorbell. Terlihat sosok wanita tinggi bersama dengan empat orang disamping kanan dan kirinya. Nampaknya, orang-orang yang bersamanya adalah para pengawal.


"Selamat pagi, tuan Raven. Perkenalkan, namaku Oriery Hunt. Ratu pemimpin bangsawan Hunt, aku datang kemari untuk bertemu dengan pemuda yang bernama Darius Hunt. Saya harap anda berkenan untuk mempertemukan saya dengannya."


Tutur kata yang halus, namun tatapannya tajam. Begitulah ekspresi wajah Ratu saat berbicara lewat kamera Doorbell. Raven tertegun mengetahui bahwa tamu yang datang adalah Ratu bangsawan Hunt. Ini terjadi lebih cepat dari perkiraannya.


"Aku tak menduga kalau dia akan langsung datang kemari, tanpa menghubungiku terlebih dahulu. Dia pasti datang kemari untuk bertemu tuan Darius. Awas saja, jika dia tidak bisa menjaga sikap seperti bawahannya, kemarin."


Bersambung......