
Manticore mencapai titik terkuatnya, resistance sihir di tubuhnya nyaris mutlak.
Ratu menggunakan sihir langka yang gemerlap bagai bintang, sinarnya yang menyilaukan menerpa Manticore dengan amat dahsyat.
Sayangnya itu tidak menimbulkan efek sama sekali, monster itu sama sekali tidak tergores.
Area sekitar telah menjadi lautan lahar akibat sihir itu, kemampuan ini membuat Darius bergumam akan Ratu.
"Mirip seperti sihir Drake, tapi jauh lebih lemah dan tidak seimbang kekuatannya."
Saat ini Darius hanya bisa diam dan melihat, bukan karena ia tidak sanggup melawan monster itu tapi dikarenakan Ratu mengatakan ini kepadanya beberapa saat lalu...
"Kami tidak butuh bantuan mu."
Begitulah ucapan Ratu, padahal jika mereka bekerjasama akan jauh lebih baik.
"Padahal aku ingin mengajaknya bekerjasama, kuharap kalian tidak menjadi makan siang bagi monster itu," batin Darius.
Sementara itu Hilda kembali pingsan karena terkena pukulan telak diwajahnya, kini dia berada dalam pangkuan Darius.
"Dasar naga betina," sindir Darius.
Satu demi satu anggota Hunt tumbang lantaran terpental keras, monster itu kini mengeluarkan gelombang area efek yang mengurangi energi siapa pun yang berada dalam jangkauan nya.
Ini semakin membuat Hunt kesulitan bahkan Ratu nyaris tak berkutik dibuatnya.
"Hei Ratu, kau tidak apa-apa? rambut mu sudah mulai berantakan lo," sindir Nanta dari arah belakang.
"Siapa kau berani menyindir ku...!"
Ratu menjadi emosi.
"Apa maksudmu? aku hanya mengingatkanmu saja kok," balas sindir Nanta.
"Awas kau nanti."
Ratu tidak terima dirinya disindir, terutama oleh anggota bangsawan Seis yang menjadi musuh bebuyutannya.
Namun saat ini itu tidaklah penting, lawan yang ada dihadapannya takkan memberinya waktu untuk menghela nafas.
"GROAAA...!"
Auman menggema ke segala penjuru kota, setelah itu Manticore berhenti menyerang dan mengubah lapisan kulitnya menjadi sebuah tempurung yang keras.
Tempurung yang kerasnya melebihi baja, dimana kekuatan sihir takkan mampu menembus nya.
"Dia berhenti menyerang?" batin heran Darius.
Sempat Darius merasakan firasat buruk akan auman itu, entah mengapa.
Semua yang berada di sana pun bertanya-tanya, mengapa monster itu mendadak mengurung diri di dalam tempurung? apakah monster itu menyerah? rasanya mustahil.
"Ada apa ini? dia mengurung dirinya didalam lapisan kulit kerasnya dan terdiam begitu saja, apa dia sedang menyiapkan sesuatu?" batin Ratu.
Sementara itu seluruh Hunt tetap melanjutkan penyerangan meski serangan mereka tak mampu menggores sedikit saja lapisan kulit Manticore.
"Tetap lanjutkan serangan...!"
Perintah keras Ratu.
Setelah berusaha cukup lama untuk menembus pertahanan Manticore, mendadak suara gemuruh terdengar dari atas langit.
Gemuruh itu mengundang perhatian semua orang, mereka berbondong-bondong melihat ke arah asal gemuruh itu.
"APA?!"
Darius berteriak keras setelah melihat ke arah langit.
Sebuah meteor jatuh mengarah tepat ke arah para ksatria Hunt, seketika membuat para ksatria berhamburan menghindarinya.
"Astaga..., bagaimana bisa ini terjadi?!"
Ratu kesal sekaligus panik.
Ia langsung menciptakan pelindung kristal guna menahan hantaman meteor, sihir ini sangatlah boros energi hingga membuat tubuh Ratu terasa lemas.
"Bertahanlah kak."
Mara lekas memberikan energinya kepada Ratu, sekaligus membantu Ratu untuk memperkuat pelindung kristal nya.
Meteor menghantam pelindung kristal dengan amat keras, perlahan-lahan pelindung kristal mulai rontok.
Para anggota Hunt yang tersisa berusaha membantu Ratu untuk memperkuat pelindungnya, sayangnya meteor itu sangat berat.
Darius yang menyaksikan itupun langsung mengambil tindakan, ia meraih rontokan kristal pelindung yang sekiranya tajam lalu melompat tinggi menebas meteor besar itu.
"Cih..., bagaimana bisa Manticore mengeluarkan meteor seperti ini...!"
Sekuat tenaga ia menebas keras meteor panas yang ia tahan dan berakhir dengan terbelahnya meteor itu menjadi puluhan potongan, pecahan meteor itu menyebar ke seluruh area kota, menyebabkan area tengah kota terbakar hebat.
"Jika terus begini maka kerusakan akan terus bertambah, kita harus bekerja sama untuk membunuh monster ini," ucap Darius kepada Ratu yang sudah melemah.
"Aku tidak mau bekerjasama dengan pengguna senjata yang mengaku sebagai Hunt," balas Ratu.
"BERHENTI BERPEGANG TEGUH PADA HUKUM BANGSAWAN MU YANG KONYOL DAN MULAI LAH BEKERJASAMA DENGANKU...!"
Bentak keras Darius yang membuat semua orang terkejut termasuk Ratu sendiri, belum pernah ada yang berani membentak Ratu sampai seperti ini.
Saat ini semuanya hanya dapat terdiam sunyi dengan mata terbelalak menyaksikan kejadian itu.
"Wibawa, bakat, ilmu dan kebijaksanaan mu, semua itu hanya menjadi kenangan yang berlalu jika kau mati disini, lihatlah para pengikut mu yang masih harus kau pimpin," tegur keras Darius seraya memperlihatkan para Hunt yang terluka.
Ratu memandangi para pengikutnya yang kewalahan, banyak diantara mereka yang cedera serta nyaris kehilangan nyawa.
Kepemimpinan Ratu yang terlalu memandang remeh musuhnya dan tidak mendengarkan pendapat orang lain telah mengundang jatuhnya korban luka.
"Jangan sampai kau menyia-nyiakan luka dan darah yang telah mereka tumpahkan, tetaplah hidup untuk mereka semua," ujar Darius.
Ratu terdiam seribu bahasa, ia tidak bisa menyangkal perkataan yang Darius ucapkan.
Ia tidak boleh membuat jerih payah para pengikutnya terbuang sia-sia, ia tidak mau menjadi seorang pemimpin yang buta dan gagal.
Untuk pertama kalinya, hatinya berhasil diketuk oleh sosok yang sangat ia benci.
"Baiklah, untuk kali ini saja kita akan bekerjasama, tapi tetap ingat dimana posisi Darius," ucap Ratu.
Darius sangat senang mendengarnya.
"Terima kasih, karena kita akan bekerjasama jadi izinkan aku membantumu untuk berdiri."
Perlahan Darius mengulurkan tangannya kepada Ratu, meski awalnya ragu namun pada akhirnya Ratu menyambut uluran tangannya.
"Ukh..."
Ratu merasakan ada sesuatu yang menyengat nya tepat ketika ia menggenggam tangan Darius.
"Kau baik-baik saja?" tanya Darius.
"Iya, aku tidak apa-apa," jawab Ratu.
Sengatan tadi masih begitu terasa, membuat Ratu bertanya-tanya dalam batinnya.
"Barusan itu apa?"
Ratu sama sekali tidak tahu dari mana datangnya itu, setelah merasakan sengatan tadi ia merasakan ada perbedaan didalam tubuhnya.
Sekujur tubuhnya tidak lagi merasa lemas seolah energi didalam tubuhnya telah terisi kembali, kekuatan sihirnya terasa meluap-luap.
"Apa ini hanya perasaan saja atau memang energi ku benar-benar pulih?" tanya Ratu dalam batin.
Disaat yang bersamaan, monster itu telah keluar dari tempurungnya dan langsung meluncurkan peluru sihir yang melesat kencang.
"Awas...!"
Teriak Ratu.
Secara refleks ia mengaktifkan kekuatan es nya yang langsung membekukan monster itu beserta seluruh peluru sihirnya, bukan hanya monster itu saja melainkan segala yang ada dihadapannya pun membeku tertutup es yang keras dan sebening kristal.
"A..., apa...?"
Ratu terkena rasa kejut mendadak.
"Kerja bagus Ratu, itulah yang kuharap kan darimu," puji Darius.
Lalu ia menoleh ke arah Mara beserta para Hunt yang tersisa.
"Kenapa kalian terdiam kaku seperti pilar istana? ayo cepat serang...!"
"Bbb..., ba... ik."
Seluruh Hunt kembali membentuk formasi setelah mendapatkan teguran lantang dari Darius.
Mereka semua menyerang balik monster itu dengan Darius yang berada di garis depan.
Sementara itu Ratu masih meratapi kedua tangannya putihnya yang tengah diselimuti oleh aura sihir yang membara, ia masih tidak percaya dengan apa yang barusan ia lakukan.
Sebuah kekuatan besar mendadak muncul dari dalam tubuhnya tanpa ia sadari, kekuatan yang melebihi ekspektasinya.
Ini membuat kemampuan sihir Ratu pun meningkat sangat pesat, untuk sejenak Ratu mengira-ngira darimana kekuatan ini berasal.
Ia pun teringat saat ia merasakan sengatan ketika menyentuh tangan Darius yang kekar, bersamaan setelah ia merasakan sengatan itu, kekuatan ini pun muncul.
Berdasarkan semua itu muncullah perkiraan mustahil dipikiran Sang Ratu.
"Apa jangan-jangan ini semua karena dia? ini sungguh mustahil," batin Ratu sambil memandangi Darius yang sedang bertarung.
Bersambung.....