
Perlahan kedua mata Mara terbuka. Ia mendapati dirinya berada di ruangan yang amat putih dan sekujur tubuhnya diliputi perban. Bola matanya melirik ke sekitar lalu ia termenung sesaat.
"Ini...., rumah sakit? tubuhku terasa berat," batin Mara.
Mara hanya dapat menggerakkan mata, kepala, mulut dan beberapa jarinya. Lalu ia kembali melihat-lihat ke sekitarnya. Mara berusaha menggerakkan kepalanya untuk menoleh ke sebelah kanan. Disebelah kanannya sudah ada Darius yang tertidur diatas kursi. Darius tidur dengan posisi punggung menyender ke dinding, kedua tangannya bersedekap dan kepalanya tertunduk kebawah.
Kehadiran Darius cukup membuat Mara terkejut. Mara tidak tahu mengapa Darius berada di kamar rawatnya. Apalagi saat ini dia sedang tertidur tepat disebelahnya.
"Kenapa dia ada disini? apa yang sudah terjadi padaku?" batin Mara.
Mara tidak dapat mengingat baik kejadian yang menimpanya, yang ia ingat hanyalah tubuhnya yang terbakar. Ia lupa penyebab yang telah membuat tubuhnya sampai menjadi seperti ini. Mara kembali melihat ke arah Darius, tepat di atas sebuah meja yang berada di sebelah Darius. Terdapat banyak makanan dan heal potion yang sudah tertata rapi.
"Semua makanan dan potion itu, untukku?"
Mendadak Mara merasakan pusing yang amat sangat.
Rasa pusing itu terasa selama beberapa menit, bersamaan dengan hilangnya rasa pusing itu.
Mara pun kembali ingat terhadap apa yang telah menimpanya, sehingga ia harus terbaring di ranjang pasien rumah sakit. Semua kejadian saat pelatihan ia ingat dengan jelas.
"Aku sudah gagal. Maafkan aku, kakak. Aku sudah membuatmu kecewa. Aku gagal menghukum Darius Hunt."
Mara menyadari kegagalannya akan tetapi dihatinya tidak ada rasa kecewa sama sekali, yang ada hanyalah rasa lega. Ia pun heran, mengapa dia tidak merasakan kekecewaan? padahal ia gagal menjalankan misinya.
Seolah kegagalannya ini adalah hal yang benar untuknya. Ia tidak tahu apa yang membuat dirinya merasa seperti itu.
"Apa yang terjadi denganku? aku gagal, namun aku lega. Mengapa?" batin Mara seraya melirik ke arah Darius.
"Pemuda itu, siapa dia sebenarnya?"
Darius mulai terbangun, ia menguap serta meregangkan tubuhnya sejenak. Ia langsung bertatap pandang dengan Mara yang sudah siuman.
"Mara, kau sudah sadar. Syukurlah," ucap Darius.
"Apa kau yang sudah membawaku kemari?" tanya Mara.
"Tim medis yang membawamu kemari. Aku hanya membantu mereka untuk membawamu masuk kedalam binatang yang bernama mobil ambulance itu," jawab Darius.
"ha? binatang? dia serius mengatakan itu?"
Mara seketika heran.
"Mobil ambulance itu kendaraan," ketus Mara.
"Oh....., benarkah? di zaman ini kendaraan nampak asing bagiku," balas Darius.
"Zaman ini? apa maksudmu? memangnya kau berasal darimana?" tanya Mara.
"Oh..., soal itu. Kau akan sulit mempercayainya," balas Darius.
Darius semakin mendekat pada Mara. Nampak ia ingin mengatakan sesuatu yang amat serius.
"Sebagai sesama Hunt. Kuharap kau dapat mempercayai ini," ucap Darius.
"Memangnya kau siapa?"
Mara begitu penasaran. Darius sudah berulangkali membuat dirinya terkejut. Mulai dari kekuatannya yang tak biasa sampai perasaan aneh yang Mara rasakan saat Darius menyelamatkan dirinya. Mara sangat ingin tahu, siapa sebenarnya Hunt jantan ini.
"Aku adalah Komandan kelompok ksatria emas dari era kerajaan Ezius. Sekaligus kakak dari sosok yang kalian junjung tinggi kehebatan ilmu sihirnya, yakni Drake Hunt."
Pandangan mata Mara langsung terbelalak lebar. Ini adalah jawaban yang cukup mengejutkan untuknya.
"Kakak dari Drake Hunt? apa kau serius berkata seperti itu? kau tidak sedang mabuk, kan?" tanya Mara beruntun. Ia tidak menyangka Darius akan berkata seperti itu.
"Sulit dipercaya, bukan? karena itulah aku ragu untuk mengatakannya secara langsung," tukas Darius.
Nuansa seketika berubah drastis.
"Dalam sejarah Hunt, memang tertulis nama Darius. Akan tetapi dia dikatakan sebagai bawahan yang paling dipercaya oleh Yang Mulia Drake Hunt sebelum beliau menjadi seorang Master sihir. Lagi pula, itu sudah 400 tahun lamanya. Tidak mungkin Darius itu masih hidup," jelas Mara.
Darius agak tersentak, setelah tahu bahwa dalam sejarah Hunt ia dikatakan sebagai seorang bawahan, bukan kakak dari Drake.
Mara juga memberitahu bahwa sosok Darius masih menjadi misteri dan tidak ada yang tahu siapa dirinya. Tidak ada bukti dalam sejarah yang mengatakan bahwa sosok Darius ini berasal dari Hunt.
"Sosok Darius dikatakan sebagai Komandan hebat yang berhasil mengalahkan Dark Lord bersama dengan kelompok ksatria emasnya.
Tapi tidak ada bukti sejarah yang mengatakan bahwa dia adalah seorang Hunt ataupun kakak dari Yang Mulia Drake dan belum bisa ku percaya kalau dia adalah kau," ujar Mara panjang lebar.
Darius bertopang dagu sesaat, setelah mendengar semua penjelasan dari Mara.
"Sejarah peperangan melawan Dark Lord tidak berubah. Didalam sejarah itu, nama depanku tercantum baik. Namun mengapa nama belakangku tidak?" batin Darius.
Darius kembali memandang Mara.
"Jadi begitu kah yang sejarah katakan tentang diriku?" tanya Darius.
"Memang seperti itulah sejarahnya dan kau tidak mungkin Darius yang dimaksud dalam sejarah itu," balas Mara.
"Lalu apa lagi yang sejarah katakan tentang Si Darius itu?" tanya Darius kedua kali.
"Darius adalah seorang komandan terpandang. Baik itu di kerajaan Ezius maupun di kerajaan yang lain..."
Mara menceritakan seperti apa sosok Darius dalam sejarah sebelum Drake Hunt menjabat sebagai penguasa kerajaan Ezius sekaligus Master sihir pertama.
Dia menceritakan semuanya dengan rinci. Darius pun tersenyum-senyum sendiri melihat Mara yang terus bercerita tanpa menyadari bahwa orang yang ia ceritakan sedang berada dihadapannya.
"Hal luar biasa yang paling kuingat dari sosok Darius ini adalah dia mampu melawan musuh yang sepuluh kali lipat lebih besar darinya dan mampu membelah meteor dengan satu tebasan," jelas Mara. Sejarah yang Mara jelaskan ini ada pada Chapter 1.
"Kau menyukai ksatria pedang rupanya," ucap Darius.
"Jangan salah paham. Aku kagum padanya karena berkat dia Yang Mulia Drake dapat terselamatkan dari ancaman Dark Lord dan dapat menjadi penerus Raja Reivan. Itu saja," tukas Mara.
NGIIIING..!!!!! (alarm peringatan berbunyi).
Alarm peringatan berbunyi disaat mereka berdua sedang bicara.
..."Peringatan..! sosok monster Pyroberus memasuki kota. Sekali lagi, sosok monster Pyroberus (anjing api raksasa) memasuki kota."...
"Cih..., rupanya monster itu muncul disini. Mara, kita harus segera pergi," ucap Darius.
Lekas ia menggendong Mara dan pergi keluar. Terlihat para pasien beserta pengunjung rumah sakit berbondong-bondong untuk menyelamatkan diri. Di pintu keluar, mereka saling berdesakan. Berebut giliran untuk keluar. Darius pun kesulitan untuk melewati mereka.
"Tidak ada cara lain lagi," ucap Darius.
Bluaarr!!!
Darius menghancurkan dinding yang ada didekatnya. Menciptakan jalan keluar sendiri. Ia pun keluar lewat dinding yang sudah ia hancurkan tadi. Monster Pyroberus sudah semakin berada dekat dengan rumah sakit. Monster itu menyemburkan material panas ke segala arah. Menciptakan kebakaran besar dilingkungan kota Tideo.
Dalam kondisi genting. Raven datang dengan mobilnya. Ia berniat untuk menjemput tuannya. Darius pun berlari menghampiri Raven.
"Anda baik-baik saja?" tanya Raven.
"Aku baik-baik saja. Raven ku titip dia."
Darius menyerahkan Mara kepada Raven.
"Baiklah, senjata anda sudah saya siapkan dibelakang," ujar Raven.
Raven membukakan bagasi mobilnya. Didalamnya terdapat sebuah pedang yang menjadi sahabat dalam perang bagi Darius.
"Terima kasih."
Darius mengambil pedangnya dan langsung pergi menghampiri monster Pyroberus. Mara yang melihat tindakan Darius pun tercengang.
"Hey, apa kau sudah gila?! menghampiri monster itu sendirian sama bunuh diri..! hey..!"
Mara berteriak sekuat tenaga, namun Darius tidak menghiraukannya. Raven masuk kedalam mobil. Ia pun mulai menyetir mobilnya dan membawa Mara ke tempat yang aman.
"Bagaimana dengannya (Darius)? dia akan mati jika kita meninggalkannya," tanya Mara.
"Dia akan baik-baik saja, percayalah," balas Raven.
Mara tidak mengerti jalan pikiran Raven yang membiarkan seorang ksatria maju sendirian menghadapi Pyroberus. Mereka pun sampai di gerbang keluar. Namun saat hendak keluar dari area rumah sakit, mendadak jalan terhalang oleh api. Membuat Raven terpaksa berhenti.
"Kendaraan takkan bisa lewat, kita harus keluar," ucap Raven.
Raven membantu Mara untuk keluar dari mobil dan mencari jalan keluar yang lain. Sementara itu, monster Pyroberus semakin brutal. Monster itu mulai melakukan sesuatu yang besar. Ia mengumpulkan segala kekuatannya di langit. Seluruh bebatuan panas beserta api yang membara bercampur menjadi satu. Menciptakan sebuah meteor yang dapat menimbulkan dampak kehancuran berskala besar.
"GRAAAA...!!!"
Pyroberus mengaum keras dan langsung meluncurkan meteornya. Mara terkejut menyaksikan kejadian itu. Masih banyak orang yang berada dalam jangkauan serangan meteor itu, termasuk dirinya. Akan ada banyak korban jiwa jika meteor itu sampai menghantam tanah.
"Kita harus segera pergi dari sini....!"
Mara sangat panik. Ia tidak tahu harus lari kemana. Jangkauan serangan meteor itu terlalu besar dan luas. Tak mungkin baginya untuk menghindar dari meteor raksasa itu.
"Jangan panik. Percayakan ini kepadanya (Darius)," tukas Raven.
"Apa maksudmu....?! sebentar lagi meteor itu akan menghantam kita dan kau menyuruhku untuk tenang..?!"
Kepanikan Mara semakin melunjak.
"Lihatlah baik-baik," ucap Raven sambil menunjuk ke arah seseorang yang berada di kejauhan.
Mara memperhatikan kemana arah Raven menunjuk. Nampak Darius yang berada di tepat di area jatuhnya meteor. Darius menghunuskan pedangnya ke arah meteor yang berada tepat diatasnya. Tidak habis pikir Mara kalau Darius akan berada disana.
"Darius, apa yang dia lakukan?" batin Mara, yang mengamati Darius dari jauh.
Darius memasang kuda-kuda dan menarik nafas panjang. Ia memusatkan seluruh konsentrasi beserta kekuatannya dalam satu bilah pedang. Pedang yang ia genggam pun menyala merah. Terlihat aura hitam kembali muncul pada tangannya yang sedang menggenggam pedang. Darius menyadari akan hal itu.
"Aku tidak tahu dari mana asal aura hitam ini. Yang terpenting saat ini..."
Darius melompat tinggi ke langit, menghadang meteor itu.
"Aku...."
Ia mengambil ancang-ancang yang tepat untuk mengayunkan pedangnya. Meteor itu semakin dekat dengannya.
"Aku harus bisa menghancurkan batu besar ini."
Sringgg!!!! 3× (suara tebasan).
Darius mengayunkan pedangnya, ia menebas meteor raksasa itu beserta dengan monster Pyroberus.
Dalam satu kedipan mata, meteor itu pun berubah menjadi potongan-potongan kecil yang bertebaran sedangkan monster Pyroberus terbelah menjadi dua. Mara yang menyaksikannya sampai lupa untuk berkedip.
"Syukurlah aku bisa menghancurkan meteor itu. Tapi untuk kesekian kalinya, aku terlalu berlebih-lebihan. Sulit sekali untuk mengendalikan kekuatan ini. Untuk sekarang mungkin tidak apa-apa," ujar Darius.
Sejujurnya, ia tidak sengaja menebas monster Pyroberus hingga terbelah dua. Darius berniat untuk melawan monster itu setelah menghancurkan meteor, akan tetapi malah begini jadinya. Itu diluar dari perkiraannya.
Sementara itu. Mara masih tertegun berat akan peristiwa yang ia saksikan. Ia kembali teringat akan sosok Darius yang ada dalam sejarah. Darius yang memimpin kelompok ksatria emas. Darius yang mampu membelah meteor dengan satu tebasan. Kini ia tengah melihat sendiri sosok Darius itu didepan matanya.
Darius yang telah selesai membereskan monster, langsung datang menghampiri Mara dan Raven.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Darius.
"I... i... ya," jawab Mara gugup.
"Syukurlah kalau begitu."
Darius mengusap kepala Mara yang masih tercengang. Lalu memandang dekat wajah Mara.
"Nah... Mara, apa sekarang aku sudah mirip seperti Darius yang kau ceritakan itu?" tanya Darius.
..."Hal luar biasa yang kuingat dari sosok Darius ini adalah dia mampu melawan musuh yang sepuluh kali lipat lebih besar darinya dan dia mampu membelah meteor dengan satu tebasan."...
...ucapan Mara beberapa menit lalu....
"Iya, ssss.. sudah," jawab Mara, penuh kelu di lidahnya.
Bersambung.......