Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 51: Disisi lain hari libur



Pukul 09:00.


Nuansa kota Tideo kian ramai, banyak masyarakat yang menikmati hari libur dengan cara mereka sendiri, mulai dari bermain lempar tangkap di taman buah persik hingga bermain game elektronik.


Itulah yang masyarakat biasa lakukan di hari libur seperti ini, namun berbeda dengan yang dilakukan para perwakilan bangsawan. Hari libur ini menjadi kesempatan untuk mengasah kemampuan mereka sebelum bertarung dalam arena NGB nanti.


Di kediaman Hunt....


Nampak Caroline tengah berlatih keras untuk mewakili Hunt dalam NGB nanti, biasanya yang mewakili adalah Mara, tetapi Mara memutuskan untuk tidak ikut dalam NGB tahun ini dengan alasan ingin istirahat.


"Kenapa dia tidak mau ikut? apa dia baik-baik saja?" batin Caroline mencemaskan Mara.


Caroline tengah melatih sihir elemen cahaya miliknya, sihir ini menjadi salah satu senjata favoritnya dalam pertarungan, sihir ini ia anggap sebagai senjata kedua setelah sihir teleportasi dan es yang ia kuasai.


Baru saja ia mencemaskan Mara, tak lama kemudian orang yang ia cemaskan itu lewat dihadapannya sambil membawa semangkuk beri. Mara berniat untuk pergi ke dapur.


"Mara," sapa ramah Caroline.


Mara pun menoleh ke arahnya.


"Pagi, Carol."


Caroline menghampiri Mara.


"Akhir-akhir ini kau agak berbeda, apa yang terjadi dengan mu?" tanya Caroline.


Mara mengangkat sebelah alisnya.


"Maksudmu apa?" balas tanya Mara yang merasa bingung.


"Semenjak kau keluar dari rumah sakit tingkah laku mu jadi berbeda, akhir-akhir ini kau lebih sering mengurung diri di kamar, kau pun juga jarang berlatih padahal kau paling semangat jika perihal latihan dan sekarang kau tidak berminat untuk ikut serta dalam NGB," jelas Caroline panjang lebar.


"Mara, apa sebenarnya yang terjadi padamu?"


Mara agak gugup setelah mendengarnya.


"Tidak ada, aku hanya ingin istirahat saja," jelas Mara.


"Jangan berbohong, kau bukan orang seperti itu, kau selalu bersemangat sampai lupa istirahat ketika tahu NGB telah tiba, jangan-jangan kau sedang sakit?" duga Caroline.


Mara menggelengkan kepala.


"Tidak, aku tidak sakit, hanya saja...."


Mara tidak meneruskan ucapannya, itu membuat Caroline mengangkat sebelah alisnya.


"Hanya apa?" tanya Caroline penasaran.


"Akhir-akhir ini aku kembali teringat masa lalu, ketika aku bertarung di NGB dan itu membuatku tak bersemangat untuk ikut lagi," jawab Mara dengan agak suram.


Lantaran rasa penasaran Caroline pun bertanya.


"Maksudmu saat kau melawan Seis yang bernama Irana itu?"


Mara mengangguk.


"Kau menang telak pada saat itu, seharusnya dengan mengingat itu kau jadi lebih bersemangat bukannya lesu seperti ini," ucap Caroline penuh keheranan.


"Kau tidak mengerti, saat itu aku melakukan perbuatan yang keterlaluan tanpa kusadari, hingga membuat wanita itu terkapar di rumah sakit hingga saat ini," jelas Mara.


"Perbuatan ku itu sudah memicu api dendam di hati adiknya, kau pasti sudah mengetahui penyerangan yang dilakukan sekelompok Seis terhadap ku di rumah sakit. Semua itu adalah ulah adik Irana," lanjut Mara.


Tak sepatah kata pun dapat Caroline ucapkan, sahabat semasa kecilnya kini tengah terpuruk oleh rasa bersalah. Mara pun baru menyadari kesalahannya sekarang, kini ia merasa bodoh lantaran selama ini bersikap sombong.


Pada awalnya Mara meyakini bahwa kekuatan adalah sesuatu yang mutlak sekaligus menjadi patokan dalam membedakan kasta dan derajat seseorang, semakin kuat seseorang maka takdir akan semakin membelanya. Seperti itulah moto hidup Mara sebelum pada akhirnya Iraken mematahkan moto hidupnya yang egois itu.


Penyerangan Iraken terhadapnya saat itu telah membuatnya mempelajari hal baru bahwa setiap perbuatan seseorang akan ada timbal balik dari perbuatannya sendiri, sehebat apapun orang itu, ia akan tetap menerima akibatnya.


"Jika dipikir-pikir ucapan mu benar, kau sering terbawa suasana saat bertarung sehingga kau tidak menahan diri," kata Caroline.


"Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu, Carol."


Langsung Carol merespon perkataan Mara.


"Apa itu?"


Mendadak Mara sedikit membuang wajah darinya.


"Sebenarnya pada saat NGB tahun lalu...., a..., aku...."


Mara sedikit tersentak-sentak.


...************...


Di kediaman Seis.


Istana perak yang letaknya jauh dari Grand Mansion tempat Raven tinggal.


Cassanova sedang sarapan di temani adik kandungnya yang bernama Smith, cara Smith menyantap makanan terlalu lahap sehingga ia tersedak dan segera mengambil air minum.


"Makanlah perlahan, makanan mu tidak akan pergi kemana-mana jadi nikmatilah," tegur Nova.


Smith meneguk air dengan terburu-buru.


"Fuaah...., lega."


Ia sudah tidak tersedak lagi.


"Kau ini selalu saja begitu," ucap Nova.


"Kak, setiap orang punya cara tersendiri dalam menikmati makanan dan beginilah caraku," ucap Smith menalar teguran kakaknya.


"Tapi caramu itu tidak elegan, kita ini bangsawan, kita harus terlihat anggun dan berwibawa dalam keadaan apapun khususnya saat makan, ditambah lagi kita berdua wanita jadi sangat diharuskan untuk terlihat anggun, " tegur Nova untuk kedua kalinya sebelum ia menyantap daging lobster diatas piringnya.


"Tenanglah kak, kecantikan paras ku ini sudah cukup menunjukkan elegannya seorang bangsawan, jadi tidak perlu mengkhawatirkan caraku makan, haemm...," balas Smith lalu ia kembali makan dengan caranya sendiri.


Nova pun pasrah dengan adiknya yang bandel ini, berulang-kali di nasihati pun masih tetap begitu.


"Terserah kau saja."


Nova kembali melanjutkan sarapannya.


Setelah selesai makan, seorang penjaga istana menghampiri dirinya.


"Mohon maaf menggangu, saya hanya ingin menyampaikan bahwa Komandan Gio memanggil anda, beliau bilang ada hal penting yang perlu dibicarakan," kata penjaga itu.


"Gio? tumben sekali dia ingin bicara, kukira dia pria bisu, dimana dia sekarang?"


"Beliau ada di istana utama."


Nova bangkit dari tempat duduknya.


"Baiklah, aku akan segera kesana," ucap Nova.


"Baik, saya permisi dulu."


Penjaga istana undur diri dari hadapannya, lekas Nova pergi menuju istana utama.


Saat ini Nova sedang berada di istana wanita, dimana itu adalah salah satu bagian dari istana perak yang dikhususkan untuk ditinggali oleh para wanita Seis yang belum menikah.


Istana perak adalah istana yang bukan main ukuran besar serta luasnya, istana ini dibagi menjadi empat bagian yakni istana utama, istana wanita, istana ksatria dan istana bunga.


Istana utama adalah tempat berkumpulnya seluruh petinggi dan pimpinan bangsawan Seis guna merundingkan suatu masalah, rapat besar dan kegiatan penting lainnya. Istana ini hanya ditinggali oleh para Komandan bangsawan serta pimpinan Seis yang lain.


Istana wanita, sesuai namanya istana ini hanya ditinggali para kaum wanita dilingkup bangsawan Seis. Istana ini akan menjadi tempat tinggal para wanita hingga tiba waktu bagi mereka untuk menikah.


Istana ksatria ialah istana tempat tinggal para laki-laki, pimpinan sengaja memisahkan tempat antara laki-laki dan perempuan guna mencegah hal yang tidak diinginkan.


Yang terakhir adalah istana bunga, yakni tempat tinggal para pasangan yang sudah menikah. Setiap anggota Seis yang sudah menikah akan dipindahkan ke istana ini untuk tinggal bersama dengan pasangannya dan masih sesuai dengan nama, istana ini dikelilingi bebungaan lebat dan harum.


Itulah bagian-bagian istana perak yang menjadi tempat tinggal bangsawan ahli teknik bersenjata Chariot Seis.


Nova berjalan selama sepuluh menit dari istana wanita menuju ke istana utama guna menemui Komandan Gio yang terkenal akan keahliannya dalam menggunakan kapak, ia adalah orang yang sangat pendiam, jarang berkomunikasi antar sesama Seis dan pemikirannya sulit di tebak.


Karena itulah Nova menjulukinya dengan sebutan bisu.


Kini Nova telah sampai di istana utama dan pimpinan Seis sedang tidak ada di sana, hanya terlihat seorang pria yang tengah bersandar di salah satu pilar berlapis marmer disana.


Tidak lain dan tidak bukan itu adalah Komandan Gio.


"Ada perlu apa denganku?" tanya Nova.


"Maaf mengganggu waktu mu, tapi ada sesuatu yang harus kutanyakan," balas Komandan Gio.


"Akhirnya kau mau bicara, sudah sangat lama aku tidak mendengar suaramu, apa yang ingin kau tanyakan?"


Tanya Nova seraya berkacak pinggang, tiba-tiba saja tatapan Komandan Gio berubah menjadi sangat serius.


"Apa benar pimpinan akan mengundang seorang Hunt kedalam istana ini?"


Bersambung.....