
Semuanya seketika hening, pergerakan Darius dan Komandan Torgia terhenti, seorang wanita berambut pendek dengan menggenggam sebuah Long Sword (pedang sepanjang setengah meter) ditangannya melerai kedua ksatria hebat ini.
"Astaga, komandan pertama," ucap Komandan Torgia dengan tercengang.
Mereka berdua melangkah mundur dan menyarung kan senjata mereka masing-masing.
"Sudah kuduga ini akan terjadi," ucap Komandan pertama.
Ia berjalan menghampiri Raven yang tengah menyaksikan kejadian itu, tak lupa Komandan pertama memberi salam kepada Direktur nya lalu berdiri tegap.
"Mohon maaf atas gangguan ini, pak. Saya berjanji ini takkan terulang lagi," ucap Komandan pertama, lalu ia menghampiri Komandan kedua.
Sementara itu Darius merasa terkesan, kehadiran Komandan pertama yang dadakan tak sempat ia sadari. Gerakan yang begitu cepat hingga Darius tak merasakan hawa kehadirannya.
Sosok wanita tinggi bertubuh ramping yang menjabat sebagai Komandan pertama Divisi Sword Master, ia adalah seorang Sword Master handal sekaligus wakil dari pada pemimpin bangsawan Seis, yakni Cassanova Seis.
Sering dipanggil dengan sebutan Nova, ia adalah orang pertama yang memecahkan rekor pembasmian monster tercepat serta ksatria dengan kecepatan tertinggi. Berwajah tegas serta tatapan yang mengintimidasi adalah ciri khas dari wanita ini.
Ialah yang telah mengkonfirmasi penobatan Darius sebagai Sword Master tanpa sepengetahuan Komandan Torgia.
"Mengapa kau bisa berada disini?" tanya Komandan Torgia.
"Aku kemari untuk menghentikan mu, sudah kuduga kau akan berbuat seperti ini," jawab Komandan Torgia.
Darius hanya bisa menyimak pembicaraan mereka.
"Aku sudah mengkonfirmasi penobatan Darius sebagai seorang Sword Master dan aku juga meminta maaf karena terlambat memberi tahu mu," ujar Komandan pertama.
"Tapi bagaimana bisa kau menobatkan dia begitu saja? dia sama sekali belum mendapatkan bimbingan dariku dan Komandan Sword Master lainnya," tanya Komandan Torgia penuh keberatan.
"Bicara soal tes, semua itu tidak perlu dilakukan, ia telah membuktikan dirinya dengan aksinya mengalahkan monster yang memasuki kota, bahkan dia berhasil mengalahkan adik dari Ratu Hunt," balas Komandan pertama.
"Sungguh? adik Ratu Hunt kalah olehnya?"
Komandan Torgia tidak mengerti.
Komandan Nova menjelaskan detail apa yang membuat Darius langsung dinobatkan sebagai Sword Master, mulai dari aksinya mengalahkan Hydra dengan satu serangan (Chapter 8) hingga mengalahkan Pyroberus (Chapter 31) semua tugas itu bukanlah tugas yang mudah dan butuh lebih dari satu Sword Master untuk menyelesaikannya.
Komandan Nova mengetahui semua ini berdasarkan bukti akurat yang ia dapatkan dari pihak K.A.O sendiri dan dari informan yang ia bayar untuk menyelidiki Darius.
Komandan pertama juga sudah mendengar kabar tentang Darius dari Olson dan Sebastian yang diselamatkan oleh Darius saat berhadapan dengan Hydra (Chapter 8), semua penjelasan itu membuat mata Komandan Torgia sedikit terbuka untuk melihat kelayakan Darius sebagai Sword Master.
Komandan Torgia bertopang dagu sesaat.
"Meskipun begitu, dia tetap harus melewati ujian dariku dulu," ucap Komandan Torgia bersih keras pada prinsipnya.
Sesaat sebelum Komandan pertama ingin kembali berbicara, Darius mengangkat tangan menyela kedalam pembicaraan mereka.
"Komandan kedua, ujian mu sudah ku lalui," ucap Darius sambil menunjukkan kesepuluh cincin Komandan Torgia ditangannya, beserta jari jemari Komandan Torgia sendiri.
"APA...?!!!"
Komandan kedua pun histeris setelah tahu kesepuluh jarinya telah terpotong rapi, seluruh orang yang menyaksikannya pun mematung lantaran amat tercengang. Sekejap mata semuanya bersimbah darah.
Komandan Nova lekas mengambil tindakan dan membantu rekan satu Divisinya itu.
"AAAARGH...!!!"
Jerit Komandan kedua.
"Apa yang kau lakukan? bodoh...!!!" bentak Komandan Nova pada Darius.
"Dia yang memintanya, jadi kulakukan apa yang ia katakan padaku," balas polos Darius.
Tetapi Komandan Nova tidak sempat merespon karena fokus menolong rekannya, Komandan Torgia menjerit keras kesakitan atas lukanya.
Raven yang awalnya khawatir pada tuannya kini berbalik khawatir pada Komandan Torgia, ia pun langsung mengeluarkan persediaan obat dan perban dari bagasi mobilnya. Keadaan seketika penuh keresahan, darah berceceran dimana-mana.
Sekitar 3 menit lamanya, pendarahan Komandan Torgia berhasil dihentikan berkat pertolongan Raven, meskipun rasa sakitnya masih sangat terasa.
Sekarang hanya perlu mengantarkannya ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan medis lebih lanjut, sudah dipastikan perlu operasi untuk menyambungkan kesepuluh jarinya ke terpotong itu.
Komandan Nova kembali memandang Darius.
"Astaga, tak kusangka kau sebodoh ini," ujar Komandan pertama sambil menatap Darius e terdiam bingung.
"Apa tindakan ku tadi salah?" tanya Darius.
"Tentu saja, bodoh...!" bentak Komandan Nova.
"Lalu bagaimana caraku merebut cincin nya tanpa memotong jarinya?" tanya balik Darius dengan polosnya.
"Cincin di jarinya akan ia lepaskan satu persatu jika kau berhasil memenuhi kesepuluh syarat kelulusan dalam ujiannya," jelas Komandan Nova.
"Syarat kelulusan?"
Darius sama sekali tidak mengerti, terpaksa Komandan Nova menerangkan semua syarat itu.
Syarat kelulusan Ujian Komandan Torgia:
Memiliki stamina yang baik dan tahan lama.
Memiliki insting serta prediksi terhadap serangan dadakan.
Dapat merasakan arah datangnya serangan meski wujud musuh tidak nampak.
Menguasai betul senjata yang dipilih.
Multitalenta terhadap senjata lain (tidak diwajibkan).
Tidak menggunakan amarah.
Dapat melindungi dan menutupi kelemahan sendiri.
Dapat melawan rasa takut ketika berhadapan dengan lawan, phobia maupun kematian.
Menghapus kata "menyerah" untuk membuka jalan menjadi Sword Master.
Itulah semua syarat kelulusan dalam ujian Komandan Torgia dan Darius tidak mengetahui itu semua.
Ia fikir bahwa cara untuk merebut kesepuluh cincin itu adalah dengan memotong.
"Aduh..., tak kusangka akan berakhir seperti ini, bahkan aku tidak sadar jariku sudah terpotong. Pantas saja kau diluluskan dengan cepat," batin Komandan Torgia.
Lalu ia tersenyum ke arah Darius.
"Baiklah, aku mengakui mu Darius, kau pantas menjadi Sword Master," ucap Komandan Torgia seraya menahan sakit.
"Maaf, aku tidak tahu metode membimbing mu seperti itu. Aku sungguh ceroboh," ucap Darius.
"Tidak masalah, aku tidak sendirian. Aku bersama dengan seorang teman yang dapat membantuku dalam keadaan seperti ini," ucap Komandan Torgia seraya menoleh ke kanan dimana tidak ada siapapun di sana.
Perlahan muncul sosok gadis berbaju hitam dari arah kanan Komandan Torgia, wanita itu muncul seperti seekor bunglon yang menonaktifkan kemampuan mimikri miliknya.
"Seorang assassin, dari Divisi Rogue?" tanya Komandan Nova.
Komandan Torgia mengangguk.
Seorang assassin yang berasal dari ras Beast tipe Macan, semua itu terlihat jelas dari sekujur tubuhnya yang dipenuhi totol hitam dan taring panjang yang dimilikinya. Assassin itupun lekas menuju Komandan Torgia yang tengah cedera.
Mendadak wujud Komandan Torgia berubah menjadi potongan kayu, menunjukkan bahwa yang selama ini berada dihadapan mereka hanyalah sebuah cloning yang dikendalikan dari jarak jauh.
"Ini...., hanya cloning rupanya, dasar kurang ajar," ucap kesal Komandan Nova yang sebelumnya mengkhawatirkan rekannya itu.
"Ini trik yang sama seperti yang dimiliki Jendral pasukan Dark Lord dulu, kalau tidak salah namanya Lovarus," batin Darius, trik ini membuat dirinya bernostalgia.
Sementara Raven dapat bernafas lega setelah mengetahui itu cuma cloning.
Assassin yang baru muncul itupun memberikan sebuah surat untuk Komandan Nova.
"Apa ini?" tanya Komandan.
"Surat tugas Komandan Torgia, dia hendak pergi ke luar negeri untuk beberapa bulan kedepan," jawabnya.
"Lagi-lagi pergi keluar kota."
Komandan Nova mengambil surat dan kemudian assassin itupun undur diri. Ia langsung menghilang di balik hampa.
Dengan rasa lega, Komandan Nova kembali menghadap direkturnya untuk kembali meminta maaf atas gangguan yang disebabkan oleh rekannya dan kelulusan Darius sudah resmi diakui oleh seluruh Komandan Divisi Sword Master.
"Saya berjanji, ini takkan terulang lagi," ucapnya.
"Ku terima permintaan maaf mu, kembalilah berlatih, sebentar lagi NGB akan diselenggarakan, bukan?"
Komandan pertama pun mengangguk.
"Apakah dia (Darius) juga akan ikut?" tanya Komandan Nova.
"Oh..., benar sekali, dia akan ikut," jawab Raven.
Disini Komandan Nova berpikir dalam soal Darius yang berasal dari Hunt, ia sangat kaget saat pertama kali ia tahu bahwa Darius adalah pengguna pedang, Olson lah yang pertama kali memberitahu dirinya.
Ia merasa ragu jika Hunt akan mengikut sertakan Darius dalam NGB nanti lantaran Darius yang sudah jelas melanggar hukum Hunt dan satu hal lagi yang membuatnya penasaran.....
"Hey, Darius," panggilnya.
"Ya, ada apa?"
"Ada hal yang ingin kutanyakan."
"Apa?"
"Kau berasal dari ras mana?"
Tanya terus terang, komandan.
"Aku manusia," jawab Darius dengan mantap.
Komandan Nova memiringkan kepalanya sedikit.
"Serius?" tanya Komandan.
"iya."
"Dengan tanduk, taring dan kuku yang tajam seperti itu? kau menyebut dirimu manusia?"
Darius terdiam sejenak untuk pertanyaan ini, ia bingung menjawabnya.
"Emmmm..., ini ceritanya panjang, banyak yang terjadi padaku di masa lalu hingga aku menjawab sepatah ini," balas Darius.
Komandan kurang puas dengan jawaban itu.
"Begitu ya, baiklah lagi pula itu privasi mu, aku hanya merasa penasaran saja. Baiklah, sampai jumpa, sampai bertemu lagi pak Direktur," pamit Komandan Nova seraya melambaikan tangan.
"Sampai bertemu lagi," balas kompak Raven dan Darius.
Darius masih terus memandangi Komandan Nova yang melangkah pergi meninggalkannya.
"Wanita yang menarik," batinnya, lalu ia melangkah menuju Raven yang berada di ambang pintu mobil.
Raven membukakan pintu mobil untuk tuannya.
"Tuan, silahkan masuk."
"Terima kasih, Raven."
Mona si cerewet merenggut kesal kepada Darius.
"Kakak lama sekali sih, kita bisa telat kalau begini," ucap kesal Mona yang tidak mengetahui apa yang terjadi di luar.
"Maafkan aku, ada sedikit urusan tadi. Sekarang kita bisa berangkat," tukas Darius.
Mona yang awalnya kesal pun tersenyum senang, ia kembali bersemangat, akhirnya ia bisa berangkat ke tempat yang diinginkannya.
"Oke, ayo berangkat," ucap Mona penuh semangat.
Raven menyalakan mobil dan langsung berangkat tancap gas menuju ke tempat yang Mona inginkan.
...***********...
Disisi lain....
Lord Elvion, Castia beserta tiga jendral kepercayaan Lord sudah dekat dengan Tideo, mereka dapat melihat megahnya kota itu dari kejauhan.
"Itulah tempat yang kita tuju," ucap Castia.
"Ingatlah tujuan kita baik-baik, kita harus memastikan kalau itu benar-benar dia, setelah itu akan kupikirkan lagi untuk langkah selanjutnya. Kalian paham?" tanya Lord Elvion.
"Siap, kami paham," jawab serentak para jendral.
"Baguslah, ayo kita mulai investigasi ini."
Bersambung......