
Darius menghunus pedangnya. mengarahkan ujung pedang itu kehadapan Dark Lord yang keji. Mata yang berapi-api menatap tajam ke arah penguasa gelap itu.
"Makhluk fana datang ke dimensi gelap untuk menentangku? Tidak adakah otak di kepala kalian?" Dark Lord tertawa lepas karena menurutnya yang datang untuk menghadapi dirinya hanyalah makhluk rendahan tanpa daya dan kuasa.
"HEY! KEPALA KALENG! Tutup mulut besar mu itu. Kami datang kemari untuk mengakhiri semua kekejian mu." Darius dengan lantang menentang Dark Lord tepat di hadapannya.
Tubuh Dark Lord yang tinggi bak raksasa serta berzirah hitam itu bangkit dari tahtanya. Langkah kakinya yang berat menimbulkan guncangan ke area sekitar. Kelompok ksatria emas menaikkan kewaspadaan mereka dan bersiap untuk menyerang.
"Sepertinya kewarasan kalian sudah sirna dimakan kebodohan. Untuk mahkluk bodoh seperti kalian hanya satu hadiah yang bisa kuberikan. Yaitu rasa putus asa." Dark Lord mengayunkan pedang hitamnya.
"Glenn!, sekarang!" Darius memberi perintah.
"Baik"
Glenn menciptakan dinding pelindung besar. Dark Lord mengeluarkan tebasan besar yang mampu membelah bukit. Akan tetapi perisai sihir milik Glenn mampu menahan serangan itu. Glenn adalah seorang ahli sihir pelindung di kelompok ksatria emas. Sihir pelindungnya belum bisa ditandingi oleh ahli sihir manapun.
"Kerja bagus, ini kesempatan untuk maju. Serang!!!" Dengan luapan semangat yang membara Darius maju ke garis depan bersama dengan kedua temannya Fiona dan Kay. Darius yang merupakan seorang ahli pedang menyerang Dark Lord dengan kemampuan berperang nya yang kuat. Ia mampu bertarung imbang melawan mahkluk yang besarnya sepuluh kali lipat darinya.
Sriiing....
Tebasan Darius berhasil melukai tangan sang penguasa gelap.
"Ho... ternyata mereka punya kemampuan yang lumayan. Kukira kalian hanyalah sekelompok mahkluk bodoh yang ingin setor nyawa saja." Ucap Dark Lord sambil meratapi tangan kanannya yang terluka.
"Kepala kaleng!!! lihat kemana kau ha?" Fiona menerjang dengan kecepatan tinggi. Tubuh Dark Lord berhasil di lukai dengan kedua pisau besarnya. Seorang ksatria cepat terbaik di negerinya.
Fiona terpilih menjadi anggota kesatria emas karena bakatnya yang terletak pada kecepatan menyerang. Meskipun senjata miliknya tidak begitu besar namun itu tidak mengubah fakta bahwa serangannya sangat mematikan. Tubuh besar Dark Lord tersayat-sayat oleh serangan cepat dari Fiona.
"Satu lagi kecoa pengganggu." Dark Lord meluncurkan tinju ke tanah.
Hanya dengan satu kali tinju saja sudah menimbulkan gempa hebat. Darius kehilangan keseimbangannya hingga ia lengah dan tertendang oleh kaki raksasa Dark Lord. Ia terpental hingga ke garis belakang. Banyak darah yang keluar dari mulut sang pemimpin kelompok ksatria emas itu.
"Sial." Darius merintih kesakitan.
Dengan tanggap. Yui yang merupakan seorang ahli sihir penyembuhan langsung mengobati luka Darius. Dalam beberapa menit, luka Darius berhasil pulih.
"Jangan sampai lengah. jika kau tewas maka berakhir sudah nasib negeri Invandara," ucap Yui.
"Jika aku mati maka kalian harus melanjutkan perjuanganku ini," balas Darius.
"Tanpa mu, tidak ada peluang untuk mengalahkan kepala kaleng itu."
"Darius! kau baik-baik saja?" tanya kay sambil melesatkan panahnya ke arah musuh.
Panah Kay menjelma menjadi ular besar yang melilit tubuh Dark Lord. Pemanah sihir yang bisa membuat banyak trik. Kay sangat ahli dalam menghalau musuh-musuhnya. Kini Dark Lord terkekang tak berkutik dengan ular yang melilit tubuhnya.
"Mainan yang cukup bagus. Tetapi sebuah mainan tetaplah sebuah mainan," ucap Dark Lord.
"GRAAA!!!" Auman dari penguasa gelap menimbulkan kekacauan besar di medan perang. Ular besar yang melilit tubuhnya langsung sirna begitu saja. Semua luka yang telah dibuat susah payah oleh kelompok ksatria emas menghilang tanpa bekas.
Dark Lord melakukan serangan balasan. Tinju besarnya menghantam tubuh Fiona. Dia berhasil memprediksi arah pergerakan dari ksatria cepat itu. Fiona terpelanting sangat jauh hingga keluar dari area pertarungan.
"FIONA!" Teriak Darius.
Kay juga menjadi korban dari tinju penguasa gelap. Tubuhnya terpelanting menabrak Darius dan Yui. Situasi berbalik 180 derajat dalam beberapa detik. Kini kelompok ksatria emas dalam bahaya. Dark Lord berhasil mendesak mereka.
"Kalian datang ke dimensi gelap hanya untuk memberikan nyawa kalian saja. Usaha yang sia-sia. Tidak ada yang bisa mengalahkanku kerena aku penguasa yang abadi."
Dark Lord menunjukkan kuasanya. Sebuah meteor besar ia turunkan dari langit. Glenn dengan sigap membuat dinding pelindung. Sekuat tenaga, Glenn menahan hantaman meteor itu. Keluar darah dari mata dan hidung nya karena mengeluarkan banyak tenaga. Yui terus memberikan pemulihan kepada Glenn agar dia bisa bertahan.
"Bertahanlah Glenn." Yui mengeluarkan segenap kekuatannya untuk Glenn. Keadaan ini membuat Glenn kewalahan menahan berat meteor itu. Darah yang keluar dari mata dan hidungnya semakin banyak. Kesadaran Glenn semakin menurun. Retakan mulai terlihat pada dinding pelindung.
"Sial, dinding ini tidak bisa bertahan lebih lama lagi," ujar Darius.
Tanpa memikirkan kondisinya, Darius mengambil keputusan gila. Dia maju menghadang meteor besar itu. Tepat ketika dinding pelindung hancur, dia sudah berada di posisi yang mantap untuk menahan batu besar panas yang mengancam nyawa rekannya.
Darius menahan meteor dengan pedangnya. Kedua tangannya nampak terbakar diterpa panas yang hebat. Panas meteor mulai membakar sebagian wajahnya.
"YUI! GUNAKAN SIHIR TELEPORTASI MU!!!. SELAMATKAN GLENN!!!." Darius berteriak keras seraya menahan berat dan panas meteor.
"Tapi aku belum menguasai sihir itu dengan sempurna!, aku hanya bisa membawa satu orang, lalu bagaimana denganmu?" Rasa bimbang melanda Yui.
"LAKUKAN SAJA! AAARGH!!!" Panas mulai membakar tubuh Darius.
"DARIUS!!!" Teriak Yui.
"PERGILAH!"
Dengan berat hati dan tetesan air mata, Yui melakukan teleportasi. Meninggalkan Darius yang melindunginya setengah mati. Ia berpindah ke tempat yang jauh dari area jatuhnya meteor itu. Sementara itu Darius masih berjuang melawan batu besar itu sendiri.
"Seharusnya kalian sadari posisi kalian. Kalian adanya kalian di dunia ini hanya untuk melayaniku. Menyerahlah dan tunduk patuh kepadaku, manusia." Dark Lord menambahkan satu meteor lagi.
Darius semakin tertekan, kedua tangannya sudah semakin terbakar. Baju zirahnya mulai meleleh karena panas meteor.
"Kematian sia-sia seperti inikah yang kalian inginkan? Sungguh kebodohan yang tiada tara," ucap Dark Lord.
"AKU TIDAK AKAN MATI! SEBELUM MEMBELAH KEPALA KALENG MU ITU!!!"
Darius menguatkan kuda-kudanya. Memfokuskan kekuatan pada pedang dan menekan balik meteor itu.
"HIAAH!!!"
Sebuah tebasan dengan kekuatan penuh ia keluarkan. Tebasan nya berhasil membelah dua kedua meteor itu. Ledakan akibat terbelahnya meteor menyebabkan kerusakan dalam radius yang besar. Sempat Glenn membuat pelindung untuk melindungi Yui dari ledakan sebelum dia benar-benar pingsan. Dark Lord sungguh tidak menyangka bahwa ada manusia yang masih bisa berdiri setelah menerima dua hantaman meteor besarnya.
Tubuh Darius agak terhuyung. Dia berusaha tetap berdiri dihadapan musuh terbesarnya. Tekad yang tak pernah goyah mendorong Darius untuk tetap berjuang. Semua kekejaman penguasa gelap yang membuat isak tangis penduduk negeri Invandara harus berakhir disini. Ini semua demi masa depan penduduk negeri Invandara.
"Bahkan jika aku harus mati demi mengalahkan bajingan sepertimu, akan kulakukan demi negeri dan kerajaan ku." Darius mengarahkan ujung pedangnya kepada Dark Lord.
Dark mengayunkan pedang. Serangan kuatnya menghempaskan tubuh Darius hingga beberapa ratus meter. Dengan pendarahan berat, Darius berusaha bangkit dan menyerang balik. Rekan-rekannya yang lain masih tak sadarkan diri akibat serangan Dark Lord. Hanya tersisa Yui yang sudah kehabisan tenaga. Keputusasaan dan keraguan mulai menyelimuti hati Yui.
Yui meneteskan air mata. Dia merasa kesal terhadap dirinya saat ini. Terus-menerus ia memaksakan diri untuk mengeluarkan sihir demi membantu pemimpinnya, namun apa daya. Tenaganya sudah habis untuk menolong Glenn. Dia sudah mencapai batas dari kemampuannya.
"Ayolah!, apa aku sungguh tidak bisa berbuat apa-apa?!" ucap kesal Yui.
"Kubilang tunduk!" Dark Lord menendang Darius.
Berusaha membuat Sang pemimpin kelompok ksatria emas bertekuk lutut dihadapannya. Sudah berulang-kali dia memukul dan menendang, namun Darius tetap kembali berdiri dan menghunus pedang ke arahnya.
"Dasar manusia keras kepala!." Dark Lord mengambil ancang-ancang untuk mengayunkan pedangnya. Dengan kondisi luka yang begitu parah, mustahil bagi Darius untuk menghindari serangan Dark Lord.
"Matilah, makhluk rendahan," ucap Dark Lord lalu dia meluncurkan serangannya.
Darius mengambil posisi menangkis sambil menutup mata. Ia tahu tubuhnya tidak akan kuat menahan serangan ini. Dia juga sudah memperkirakan bahwa tubuhnya akan segera terhempas lebih jauh dari sebelumnya. Sudah berlalu beberapa detik, namun serangan itu tak kunjung sampai padanya.
Ia pun membuka mata. Sungguh terkejut ia mendapati Dark Lord yang terkekang oleh rantai-rantai besar dan bersinar. Rantai yang muncul entah darimana itu melumpuhkan pergerakan Dark Lord dan mengangkat Sang penguasa gelap itu ke atas.
"Apa ini?! Lepaskan aku! Lepaskan!!!" Dark berteriak meronta-ronta.
Rantai-rantai itu mengekangnya dengan kuat. Membuatnya tak berkutik. Yui yang melihat itu tercengang. Rantai itu melilit salah satu jari Dark Lord hingga putus. Kejadian itu disaksikan dengan sesama oleh Yui, pada akhirnya Yui menyadari sesuatu. Sebuah cahaya harapan kembali terlihat dimatanya.
Yui memaksakan diri untuk melakukan teleportasi ke tempat Darius. Ia menghampiri pemimpinnya yang terluka parah.
"Darius cepat Serang dia!, selagi dia tidak menyentuh tanah," ujar Yui yang menyadari kecacatan Dark Lord. Kuasa dan keabadian Dark Lord tidak akan aktif bila dia tidak menyentuh tanah.
"Dia berada terlalu tinggi di atas," balas Darius.
Disaat itu juga, dinding pelindung yang tersusun berurutan bagai tangga muncul dihadapan mereka.
"Sihir ini..., Glenn?!" Sontak kaget Yui.
Mereka berdua mengalihkan pandangan. Nampak Glenn yang mati-matian berusaha mengeluarkan segenap kekuatannya untuk membuat tangga itu.
"habisi... kepala kaleng itu.." Glenn bicara dengan terengah-engah.
Darius tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Lekas ia berlari menuju Dark Lord yang sedang terkekang. Seluruh kekuatannya ia keluarkan dengan luapan tekad. Kekuatan itu menimbulkan nyala api pada mata pedang yang ia genggam.
"HIAAH!!! DEMI INVANDARA!" Teriak lantang Darius.
Pedangnya yang berapi-api membelah tubuh besar Sang penguasa gelap. Dark Lord menjerit keras. Perlahan sekujur tubuhnya menghilang bagai abu yang tertiup angin.
"ARRGH!!!" jeritan kerasnya terdengar keras. Hingga Yui menutupi telinga.
Tubuh Dark Lord musnah dalam hitungan detik. Seketika Darius roboh dari posisi berdirinya. Yui dengan tanggap membantu pemimpinnya untuk berdiri. Dengan dibantu oleh Yui, Darius berjalan menuju rekan-rekannya. Fiona yang terpental ketika melawan Dark Lord, kini sudah kembali berkumpul dengan kelompoknya.
"Sudah berakhir kah?" tanya Fiona sambil memegang pinggangnya yang terluka.
"Sudah berakhir. Kita menang Fiona, kita menang..." jawab Yui.
Yui memeluk Fiona penuh binar kebahagiaan. Perjuangan mereka berakhir dengan kemenangan. Kini masa depan negeri mereka sudah aman. Mereka tak kuasa menahan air mata bahagia. Kay yang tidak sadarkan diri sudah mulai merespon, ia membuka mata perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah air mata yang mengalir membasahi pipi rekan-rekannya.
"Dimana kepala kaleng itu!? Apa kita sudah menang!?" Tanya Kay dengan heboh.
"Sudah berakhir, kawan. Kini masa depan negeri kita sudah aman," balas Darius.
Kay terpelanga melihat kondisi Darius. Yui menjelaskan apa yang sudah terjadi kepada Kay sambil mengobati luka Darius secara manual (tanpa sihir). Saat ini tenaga Yui sangat tidak cukup untuk mengeluarkan sihir.
Mereka semua bertanya-tanya tentang rantai yang tiba-tiba muncul entah darimana. Tidak ada yang menguasai sihir semacam itu di negeri mereka. Rantai misterius itu telah menyelamatkan mereka dan masa depan negeri mereka.
"Kita bahas itu nanti. Sekarang kita harus segera keluar dari dimensi ini," ucap Fiona.
Segera mereka bersiap untuk keluar dari dimensi gelap. Yui beristirahat sejenak, mengumpulkan tenaga yang cukup untuk menciptakan portal sebelum akhirnya membuka portal menuju Invandara.
Satu persatu dari mereka melewati portal itu. Hingga tiba giliran Darius untuk melewati portal itu dan kembali ke negeri tercintanya. Senyuman bahagia terlukis di wajahnya. Ia hendak portal Dengan perlahan.
Mendadak tubuhnya terpental ketika ia menyentuh portal antar dimensi itu. Semua rekan kelompoknya tercengang melihat itu terjadi. Mereka pun jadi panik dibuatnya. Darius kembali mencoba melewatinya, namun ia tetap tidak bisa.
"Kenapa Darius tidak bisa melewati portal, Yui?" Tanya Glenn dengan panik.
"Aku tidak tahu, kenapa ini bisa terjadi?"
Mereka mulai kebingungan. Yui berusaha keras menarik Darius melewati portal, tetapi Darius tetap tidak bisa melewatinya.
"Teman-teman, apa yang terjadi?" tanya Darius penuh kebingungan. Ia tidak mampu melewati portal seolah portal itu tak mengizinkan dia untuk meninggalkan dimensi gelap. Perlahan portal itu mulai menutup. Kepanikan mereka semakin menjadi-jadi, Yui berusaha keras mencegah tertutupnya portal itu.
"Cepat lakukan sesuatu atau dia akan terperangkap di dalam dimensi gelap!" ujar Kay.
"Aku sedang berusaha." Yui berjuang keras untuk menarik keluar Darius.
Portalnya semakin menutup. Hingga tak mungkin lagi untuk dilewati. Mereka semua tidak bisa berbuat apa-apa selain melihat Darius tak bisa keluar dari dimensi gelap.
"Darius!" teriak Yui.
"Teman-teman!"
Darius mencoba membuka paksa portal itu dengan kedua tangannya, namun itu hal yang mustahil. Pada akhirnya ia hanya bisa pasrah dengan keadaan. Teman-temannya begitu kesal karena tidak mampu menolongnya. Portal dimensi sudah hampir sepenuhnya tertutup.
"Darius!, aku berjanji akan mengeluarkan mu dari sana!. Kumohon bertahanlah, aku pasti akan membebaskan mu!" Ucapan keras Yui tersampaikan tepat sebelum portal itu tertutup.
"Teman-teman..."
Darius tertunduk lesu, meratapi nasibnya terjebak di dimensi kelam penuh kesuraman. Rasa senang memudar. Dia tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Ia tak bisa membawa kejayaan ke negeri Invandara bersama dengan teman-temannya.
Padahal perjuangannya begitu keras penuh luka, namun ia malah terjebak di tempat buruk seperti ini. Darius menampar pelan kedua pipinya. Dia berusaha menghilangkan pikiran negatif di kepalanya.
"Aku tidak boleh putus asa, yang terpenting Invandara sudah aman. Sekarang aku harus mencari jalan keluar dari sini, ini pasti tidak sulit." Darius kembali membangkitkan semangatnya. Baginya hal semacam ini tidak boleh menyurutkan semangatnya sebagai seorang pejuang.
"Lihat saja teman-teman, aku berjanji akan segera keluar dari sini dan menyusul kalian. Setelah itu kita akan merayakan kemenangan ini bersama-sama." Batin Darius.
Ksatria itu menguatkan kembali tekad. Dia mulai mencari jalan lain untuk pulang. Luapan semangat memberinya harapan.
"Aku pasti akan keluar dari sini"
Bersambung....