Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 20: Uji tanding tahap 2 part 1



4 minggu berlalu...


Pagi ini, tidak ada tanda-tanda pergerakan dari bangsawan Hunt. Raven agak curiga, mana mungkin bangsawan seperti mereka takut terhadap perkataannya kemarin. Ada sedikit kekhawatiran dibenak Raven.


"Apa mereka benar-benar melepaskan tuan? atau ada sesuatu yang mereka rencanakan," ia hanyut dalam bimbang.


Hal ini tetap tidak menurunkan kewaspadaan seorang Raven. Penjagaan terhadap Darius semakin ia perketat. Disituasi seperti ini, mau tidak mau, ia harus protective. Untuk memperkecil kemungkinan akan bahaya yang dapat mendekati tuannya.


..."Uji tanding tahap kedua akan segera dimulai. Diharapkan untuk para peserta/calon ksatria untuk segera berkumpul di lobby."...


Waktu dimulainya uji tanding telah diumumkan. Semua peserta uji tanding sudah berada di lobby. Mereka hanya perlu menunggu nama mereka dipanggil, saat itu tiba, mereka akan masuk ke arena untuk menunjukkan bakat bertarung mereka.


Seluruh peserta uji tanding sangat bersemangat. Mereka tidak sabar untuk menunggu giliran mereka. Sementara itu, ksatria Hunt dari era kerajaan sedang sibuk menghabiskan sarapannya.


"Raven membuatkan ku udang goreng yang lezat. Jumlahnya pun banyak, aku sungguh berterima kasih padanya atas sarapan yang enak ini," ucap Darius.


Ia terlena akan lezatnya masakan. Ia tak sadar kalau Hilda sudah berada disampingnya.


"Hey, pria kurang ajar."


"HUAA!!"


Darius terjungkal ke belakang. Wajah Hilda yang masih diperban bagai mummy tiba-tiba muncul didepan wajahnya. Ia terkejut setengah mati.


"Kenapa reaksi mu begitu? huh?" tanya Hilda, ia nampak begitu kelam hari ini.


"Aduh..., kukira kau mayat hidup," balas Darius, polos.


Hilda menggeram dibuatnya. Perkataan Darius selalu tidak disaring terlebih dahulu.


"Kau yakin ingin ikut uji tanding dengan kondisi begitu?" tanya Darius.


"Aku ini bangsa naga, luka seperti ini takkan membuatku mundur."


Balasan yang cukup mengagumkan. Hilda berhasil membuat Darius merasa salut pada dirinya. Hampir seluruh anggota tubuh Hilda terbalut oleh perban, tapi melihat gerak tubuh Hilda yang nampak normal. Mungkin saja, seluruh persendiannya sudah mulai pulih. Entah... bagaimana dengan lukanya.


"Tetap saja, kau masih perlu perawatan. Lihatlah tubuhmu yang dibalut perban itu, aku sangat yakin kalau luka mu masih belum sepenuhnya sembuh. Kembalilah ke rumah sakit," tegur Darius. Tak mungkin ia membiarkan Hilda bertarung dengan kondisi seperti ini.


"Perban ini hanya untuk menutupi bekas luka saja. Seluruh luka ditubuh ku sudah sepenuhnya sembuh. Ucapan mu itu salah besar," balas Hilda.


Darius mengangkat sebelah alisnya...


"Benarkah? kau yakin?"


Darius masih sangat ragu. Mendadak, Hilda melesatkan tendangan kuat ke arah Darius. Reflek, tangan Darius langsung menangkis serangannya.


"Apakah orang sakit bisa menyerang sekuat ini?" tanya Hilda, penuh percaya diri.


"Oh..., jadi kau sungguh pulih dari cedera mu."


Ia pulih lebih cepat dari yang Darius perkirakan. Dari luar, pengawas uji tanding sudah mulai memanggil nama para peserta satu-persatu. Semua peserta semakin bersemangat. Saat-saat yang mereka tunggu telah tiba.


Pertandingan pertama hingga ke-5 telah berlalu dan memakan waktu 4 jam. Darius dan Hilda masih menunggu giliran mereka tiba.


Ditempat lain, sebagai Direktur K.A.O, Raven ikut mengawasi jalannya uji tanding ini. Ia duduk di kursi khusus yang telah disediakan, bersama dengan para Dewan Keamanan Invandara. Raven menyaksikan dengan teliti, sengitnya uji tanding hari ini. Setelah beberapa lama, ia melihat sesuatu yang langka.


Ada sosok tak diduga yang ikut menyaksikan uji tanding didalam stadion uji tanding ini.


"Itukan, Oriery Hunt. Tumben sekali dia datang kemari untuk menyaksikan uji tanding secara langsung," batin Raven.


Raven kembali memutar otak, bagaimana mungkin sosok terhormat yang jarang nampak didepan umum, kini hadir untuk menonton uji tanding. Bukankah ini janggal?


"Dia pasti datang kemari untuk tujuan lain, tapi apa?"


Raven masih belum bisa mengungkapnya...


...******************...


5 jam berlalu...


Giliran Hilda dan Darius masih belum tiba. Entah berapa lama mereka harus menunggu.


"Lama sekali, apa memang selama ini?"


Darius mulai heran, sementara itu Hilda....


"...........fyuuu...."


"Cih, naga betina ini sangat berisik," risih sekali Darius dengan suara dengkuran itu.


Ditengah nuansa tak nyaman itu, terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah Darius. Langkah kaki itu berasal dari sepatu hak milik seorang wanita tinggi dan berambut pirang. Semua mata para peserta yang berada di lobby, langsung terfokus ke arah wanita itu.


Wanita bertubuh elok itu menghadang Darius dengan tampilan modis.


"Hai tuan, masih ingat aku. Aku Catherine Magnera, kau ingat?" tanya Catherine.


Darius bertopang dagu....


"Hmmm..., kau wanita yang memberiku sebuah kertas dengan namamu yang tertera disana beserta angka-angka yang tidak jelas itu, kan?"


Yang Darius maksud adalah kartu nama.


"Ya benar, itu kartu namaku. Karena kau tidak menghubungiku sama sekali, jadi aku langsung datang kemari untuk menemui mu. Bagaimana? apa kau menerima tawaranku?"


Tawaran untuk bergabung dengan kelompok Sabertooth. Catherine berharap besar, ia sungguh ingin Darius mau bergabung dengannya. Selain karena Catherine tertarik pada kekuatan Darius yang luar biasa, ia juga terpukau pada wajah rupawan ksatria ini. Catherine ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang sosok Darius Hunt.


"Aku senang kau menawarkan ini kepadaku, tapi mohon maaf. Aku tidak bisa menerimanya."


Seketika, Catherine merasa shock dengan jawaban yang ia terima. Ia pikir bahwa dirinya akan mampu mendapatkan Darius dengan mudah. Pangkatnya sebagai pemimpin kelompok Sabertooth, rupanya sama sekali tidak menarik minat Darius untuk bergabung dengannya.


"T... tapi kenapa?" tanya Catherine.


"Aku memutuskan untuk mencari rekan kelompok ku sendiri. Yah.., aku sudah dengar kalau kau adalah pemimpin salah satu kelompok ksatria terhebat di kota ini. Tapi jika aku masuk ke kelompok mu dan langsung menjadi tenar serta disegani, rasanya tidak seru sama sekali. Jadi ku putuskan untuk memulainya dari awal," jawab jelas Darius.


Menjadi anggota Sabertooth memang akan membawa wibawa tinggi serta rasa disegani secara instan kepada Darius, karena pastinya yang diizinkan untuk masuk ke dalam kelompok Sabertooth adalah ksatria hebat saja. Tapi bagi Darius, itu tidak memberinya keseruan dalam bekerja keras. Itulah alasannya menolak tawaran Catherine.


"Maaf, aku tidak bisa menerima tawaran itu," ucap Darius.


Catherine tertunduk suram, orang-orang disekitarnya mematung tak bersuara. Mereka baru saja menyaksikan seorang Catherine Magnera, pemimpin kelompok Sabertooth, baru saja ditolak. Padahal mereka semua berharap bisa bergabung menjadi anggota kelompok ksatria terhebat di Tideo. Ini sangat bertolak belakang dengan Darius.


"B.. baiklah, aku menghargai keputusan mu. Sampai jumpa."


Catherine undur diri, ia pergi dengan perasaan suram yang pekat. Ini membuat Darius merasa tidak enak padanya.


..."Peserta yang akan bertarung selanjutnya adalah Darius Hunt."...


Giliran Darius pun tiba, ia segera mengambil pedang kesayangannya dan langsung masuk ke arena.


"Kuharap, lawan ku kali ini bisa membuatku tertantang," batin Darius.


...***************...


Kini, Raven tak lagi fokus pada uji tanding. Saat ini, ia mengkhawatirkan tuannya. Ia khawatir jika kehadiran Ratu Oriery menjadi sebuah pertanda bahwa bangsawan Hunt telah merencanakan sesuatu. Tapi apa?


..."Peserta yang akan bertarung selanjutnya adalah Darius Hunt."...


Darius pun muncul, bersamaan dengan dipanggilnya namanya. Semua penonton bersorak untuk Darius. Mereka begitu mengagumi ksatria ini, yang telah membuat mereka kagum dengan pertarungan uji tanding tahap pertama, beberapa minggu yang lalu.


..."Lalu yang akan menjadi lawannya, seorang Caster handal dari bangsawan Hunt. Evoryo Hunt."...


"Apa?!"


Raven terkejut, mendengar bahwa lawan yang akan tuannya hadapi adalah seorang Hunt. Sosok Evoryo Hunt pun menampakkan diri, ia memakai jubah kehormatan yang hanya didapatkan oleh penyihir kelas tinggi saja. Bahkan di dada kanannya sudah ada lencana Iberyon (lencana yang hanya didapatkan oleh penyihir yang telah lulus dari pembinaan ilmu sihir bangsawan Hunt). Kini, terungkap sudah rencana bangsawan Hunt. Raven terlambat untuk menyadarinya.


"Jadi begitu, Ratu sialan itu mengirim salah satu bawahan terbaiknya untuk masuk ke uji tanding K.A.O. Dengan begini, dia bisa mencelakai tuan tanpa menimbulkan konflik dengan K.A.O. Sungguh licik," batin Raven.


Yang lebih mengherankan adalah, mengapa Evoryo Hunt bisa menjadi lawan Darius? apakah ini sebuah kebetulan? lekas Raven memeriksa data rute pertandingan uji tanding tahap kedua.


Didalam data itu tertulis bahwa lawan Darius sekarang adalah Nielkov Sonva dari ras Elementalia. Tapi kenapa lawannya malah Evoryo Hunt?


"Sial, dia pasti melakukan sesuatu terhadap petugas yang mengatur rute pertandingan. Sehingga, bawahannya dapat menjadi lawan tuan Darius," gerutu Raven, penuh rasa kesal.


Sayangnya dia tidak dapat berbuat apa-apa, karena pertandingan sudah terlanjur ditetapkan. Senyum kepuasan terukir diwajah licik Ratu Oriery.


"Ayo, hancurkan pemuda kurang ajar itu," batin Ratu disertai senyum menyeringai.


Sementara itu, seorang Evoryo Hunt telah sepenuhnya siap untuk melaksanakan perintah licik Ratunya.


"Atas perintah Ratu, aku Evoryo Hunt akan memberikan hukuman kepada mu atas kelancangan mu terhadap Ratu dan atas penggunaan nama Hunt secara ilegal. Bersiaplah, Darius," batin Evoryo.


Bersambung.....