Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 2: Darius Hunt



Waktu telah lama berlalu...


Sang ksatria pahlawan masih bertahan hidup di dalam dimensi yang kelam. Tinggal di dalam goa yang lumayan besar. Dengan sebuah api unggun sebagai satu-satunya penghangat dan sumber pencahayaan. Darius sudah lupa berapa lama dia terjebak di dalam dimensi gelap ini.


Dimensi yang dihuni berbagai makhluk buas, besar dan aneh. Sarang monster adalah julukan yang tepat untuk tempat ini. Disini tidak ada satu pun tumbuhan dan hewan yang sewajarnya dikonsumsi ataupun sumber air yang bersih serta layak untuk diminum.


Darius memakan daging monster yang ia kalahkan untuk mengatasi kelaparan. Sari dari tumbuhan liar disekitarnya ia jadikan sebagai pemuas dahaga, pengganti air. Hanya itu yang bisa dilakukannya untuk tetap bertahan hidup. Dia tidak ingin mati sebelum kembali ke negerinya dan bertemu kembali dengan keluarga serta teman-temannya.


Sudah sangat lama Darius terjebak di dimensi gelap. Selama itu juga dia memakan daging monster yang tidak sepatutnya dikonsumsi. Daging ia makan memberikan dampak yang sangat terlihat pada tubuhnya. Tumbuh satu tanduk di kepalanya, matanya menghitam dengan pupil berwarna merah dan kemampuan fisiknya kian meningkat. Tubuhnya pun menjadi lebih besar dibandingkan dulu.


Darius menyadari perubahan tubuhnya yang kian menonjol. Namun dia tidak punya pilihan lain. Di tempat ini tidak ada sumber makanan lain yang bisa ia dapatkan.


Mendengar perutnya mengeluarkan bunyi, ia langsung mengambil pedangnya dan keluar dari goa tempatnya berteduh. Ia harus segera mencari makanan untuk mengisi perutnya.


"Kali ini, apa yang bisa ku makan?" Batin Darius, sambil menyusuri area disekitarnya.


Sesaat kemudian, terlihat sesosok monster harimau besar dipandangnya. Dengan langkah sunyi, Darius mendekati monster itu. Ia sudah siap menyerang dengan pedang ditangannya.


Namun insting tajam monster itu berhasil mendeteksi kehadirannya. Monster harimau itu menyadari posisi Darius. Niatan Darius untuk menyerang secara diam-diam pun terbatalkan.


Monster itu menatap tajam Darius dan menunjukkan taringnya yang runcing. Kukunya yang besar dan tajam sudah bersiap untuk mengoyak tubuh Sang ksatria dari Invandara itu. Darius mengantisipasi pergerakan yang akan dilakukan oleh monster itu.


"GRAAA!!!"


Auman yang disusul dengan serangan cepat. Monster harimau itu menyerang dengan kuku yang tajam. Cakaran nya mampu menghempaskan angin tajam yang memotong rapi bebatuan yang berada disekitarnya.


Bagaikan memotong buah, angin itu memotong mulus batu yang amat keras. Dengan brutal, monster itu terus meluncurkan serangannya.


Menyadari mangsanya menghilang, monster itu berhenti menyerang. Darius tiba-tiba menghilang dari pandangan monster itu. Tanpa diduga, Darius sudah berada tepat dibelakang monster itu. Pedang yang digenggamnya sudah berlumuran darah.


Monster harimau itu mematung tak bergerak. Area bagian leher monster itu mulai mengeluarkan darah. Sesaat kemudian, kepala monster itu terpotong dan menggelinding ke tanah. Darah keluar deras dari monster yang sudah terpenggal itu.


Ternyata Darius menyerang dengan kecepatan yang lebih tinggi tepat disaat monster itu menyerangnya. Ia bergerak sangat cepat hingga monster itu tidak melihat pergerakannya. Bahkan monster itu tidak sadar bahwa kepalanya sudah terpenggal ketika ia menerjang Darius. Sungguh kecepatan yang abnormal untuk seorang manusia.


"Seingatku, untuk menghadapi monster seperti ini aku memerlukan tenaga lebih dan waktu yang lama. Tetapi sekarang sudah tidak." Batin Darius. Meratapi perubahan abnormal pada tubuhnya.


Peningkatan kemampuan fisik Darius semakin drastis seiring ia terus mengkonsumsi daging monster. Sekarang dia bertanya-tanya di dalam batinnya.


"Apakah aku masih manusia?"


Dia khawatir jika penampilannya akan menakuti orang-orang yang melihatnya. Wujudnya yang sekarang pasti akan menjadi pusat perhatian bila ia kembali ke Invandara.


Rasa bimbang melanda hatinya, Darius mulai memikirkan reaksi teman-teman dan keluarganya ketika melihat dirinya yang sekarang. Apa mereka akan tetap menerimanya dengan kondisi seperti ini?.


"Ayolah.., untuk apa aku memikirkan hal yang tidak-tidak? mereka keluargaku dan teman-temanku, mereka pasti akan mengerti aku dan kondisi ku. Lagi pula aku jadi begini demi bertahan hidup agar bisa bertemu mereka lagi." Darius membuang pikiran negatifnya.


"Benar sekali, mereka akan tetap menerima diriku. Aku tidak boleh berprasangka buruk terhadap mereka, karena mereka sangat menyayangiku." Semangat Darius kembali terpompa. Dengan semangat yang sudah pulih, ia membawa monster buruannya ke goa.


Hari ini dia menjadikan monster harimau sebagai santapannya. Jauh sebelum itu dia sudah memakan berbagai macam monster. Mulai dari yang wujudnya biasa hingga yang paling aneh. Gurita raksasa, naga, Hydra dan lain sebagainya. Semua itu sudah ia santap.


Ketika pertama kali ia memburu monster di dimensi gelap, ia nyaris kehilangan nyawa.


Berangsur-angsur seiring meningkatnya kemampuan fisiknya. Berburu monster bukan lagi hal sulit baginya.


Kini dia hanya perlu beberapa menit saja untuk mendapatkan monster buruan. Darius sampai di goa, ia langsung menguliti monster hasil ia berburu. Daging monster itu ia santap mentah-mentah dengan lahap. Sementara kulitnya ia manfaatkan sebagai alas untuk tidur.


Darius terpaksa memakan mentah setiap daging itu. Sejak pertama kali dia mendapatkan monster buruan, ia sudah mencoba untuk mengolah daging itu menjadi daging yang matang dengan cara membakarnya. Namun daging itu tidak terbakar sama sekali. Tidak sedikit pun bagian daging itu yang terpengaruh oleh api.


Entah apa kandungan didalamnya yang membuat api tidak mempan. Itulah yang memaksa Darius memakan daging mentah selama terjebak di tempat yang buruk ini.


Darius melepas penatnya seusai makan. Ia merebahkan diri di alas tidurnya. Berharap esok hari ia akan temukan jalan pulang.


...—/—/—...


Kerajaan Ezius. Negeri Invandara, Tahun 1630....


"Kakak, ayo kita bertarung lagi!" Seorang remaja bernama Drake memaksa kakaknya bertarung.


"Hari sudah mulai gelap, kita sudahi dulu untuk hari ini. Lagi pula kita sudah bertarung 34 ronde mulai dari pagi buta. Apa kau tidak merasa lelah?" Tanya Darius kepada adiknya yang tetap bersih keras.


"Aku tidak akan berhenti sampai bisa mengalahkan mu, kak." Drake masih tetap keras kepala. Dia tidak terima karena selalu kalah dari kakaknya.


Setiap hari, ia selalu menantang kakaknya dalam hal apapun. Mulai dari berenang, menangkap ikan dan masih banyak lagi. Bahkan dia ingin menang dari kakaknya dalam pertarungan juga.


Drake menghabiskan waktu semalaman untuk berlatih menggunakan pedang. Supaya dia bisa mengalahkan kakaknya. Tetapi hasilnya sama saja, dia tetap kalah.


"Sudahlah, tidak baik untukmu memaksakan diri seperti itu. Sini.., ku gendong." Darius mengangkat adik tercintanya ke punggungnya.


Sementara itu Drake merengut kesal. Dia sudah gigih berlatih semalaman selama 10 bulan ini. Namun tak membuahkan hasil. Sekarang dia harus pulang dengan digendong oleh kakaknya lantaran kakinya sudah benar-benar pegal akibat pertarungan tadi. Itu semakin menambah rasa sebalnya.


"Hei, jangan cemberut begitu. Tadi kau bertarung cukup bagus. Kau nyaris bisa melukai dahi ku," puji Darius, ia berniat menghapus wajah cemberut adiknya.


"Itu tidak membuatku senang sama sekali, kak," jawab Drake.


"Jangan memasang wajah suram begitu. Besok, kau boleh menantangku lagi. Pastinya setelah aku selesai bertugas." Ucapan Darius menyalakan api semangat adiknya. Wajah cemberut Drake pun sirna.


"Baiklah kalau begitu, besok aku akan menantang kakak lagi. Bukan hanya dalam pertarungan saja, kuharap kau siap untuk tantanganku, kak," ujar Drake penuh semangat.


Darius senang melihat senyuman adiknya. Mereka berdua kembali pulang ke istana, sebelum hari semakin gelap. Grand Elzim adalah istana besar yang berada dipusat kota Tideo, juga menjadi pusat pemerintahan kerajaan Ezius di negeri Invandara. Disana lah tempat Darius dan adiknya tinggal.


Kedua bersaudara ini di adopsi oleh Reivan Warden selaku raja penguasa Kerajaan Ezius. Kedua orang tua mereka terbunuh oleh pasukan Dark Lord yang menyerang desa tempat Darius dan adiknya tinggal dulu.


Ketika itu Darius masih berumur 7 tahun dan adiknya Drake masih berumur 3 tahun. Mereka lahir di keluarga petani apel dan tinggal di desa kecil yang agak jauh dari pusat kerajaan. Desa itu menjadi korban pertama kekejaman Dark Lord ketika Sang penguasa gelap itu pertama kali menampakkan diri.


Raja beserta pasukan kerajaan sampai disana setelah desa itu sudah porak-poranda. Sang raja turut sesal atas keterlambatannya.


Ia memerintahkan pasukannya untuk memeriksa seluruh desa guna memastikan, apakah masih ada penduduk yang selamat? salah satu pasukannya menemukan dua anak yang bersembunyi di dalam ruang bawah tanah yang berada di sebuah rumah kecil.


Sang raja mengadopsi kedua anak itu sebagai bentuk penebusan atas keterlambatannya menyelamatkan desa beserta seluruh penduduknya. Sang raja merawat dan melatih anak yang dia adopsinya hingga tumbuh besar.


Kini salah satu dari kedua anak itu mendapat wewenang untuk mengomandani kelompok ksatria emas sekaligus menjadi ksatria tertinggi di kerajaannya. anak itu adalah Darius.


Diusianya yang ke-26 tahun. Darius menaiki puncak kesuksesan sebagai ksatria. Dia berhasil merebut kembali sebagian daerah yang dikuasai oleh Dark Lord. Beberapa kota besar di Invandara sudah berhasil ia amankan dari pasukan Dark Lord. Sang raja turut berbangga atas keberhasilan anaknya.


Kehebatan Darius sampai terdengar hingga ke wilayah kerajaan lain. Bahkan ke seluruh negeri. Tiga kerajaan yang bertetangga dengan kerajaan Ezius, yakni Xeranos, Pelnoraf dan Windland. Semua kerajaan itu mengakui Darius.


Karena itulah dia mendapatkan hak untuk memimpin kelompok ksatria emas, yakni kelompok yang terdiri dari ksatria-ksatria terbaik dari semua kerajaan yang ada di negeri Invandara. Kelompok ini dibentuk oleh keempat kerajaan dengan tujuan untuk mengalahkan Dark Lord. Demi menyelamatkan negeri Invandara dari kemusnahan.


Adiknya Drake yang sudah mencapai prestasi di bidang akademi sihir kerajaan dan berhasil menjadi pemimpin pasukan sihir di usia yang masih sangat muda. Ini memberikan dampak besar terhadap kemajuan militer kerajaan.


Raja mulai berfikir kalau yang ia temukan di desa yang telah hancur itu bukanlah sekedar dua anak manusia saja. Melainkan cahaya harapan bagi kerajaannya dan bagi Invandara.


"Dari mana saja kalian? kenapa baru pulang saat malam begini? dan mengapa kalian tidak membawa pengawal ketika keluar dari istana?" Tanya Ratu Obella penuh rasa khawatir. Darius dan adiknya berlutut memberi hormat.


"Maafkan kami ratu. Kami terlalu asyik berlatih, hingga lupa waktu," jawab Darius.


"Maafkan kami karena lupa membawa pengawal," ucap Drake. Padahal alasan mengapa mereka tidak membawa pengawal karena mereka menginginkan privasi.


Karena status mereka yang berpengaruh besar terhadap kerajaan membuat mereka selalu dikawal kemanapun mereka pergi. Jadi kali ini mereka sungguh ingin menghabiskan waktu berdua sebagai saudara.


"Aku mengkhawatirkan kalian, anak-anak ku." Ratu mengusap kepala kedua anaknya. Ratu Obella menderita kemandulan, Sehingga dia tidak memiliki keturunan. Ia bersyukur Sang raja menjadikan dua ksatria hebat ini sebagai anaknya. Ratu menyayangi mereka lebih dari dirinya sendiri.


Ratu mengizinkan kedua putranya berdiri lalu ia memberikan pelukan kepada mereka berdua. Sebelum pada akhirnya salah satu pengawal datang menyampaikan pesan.


"Pangeran Drake, Yang mulia memanggil anda. Sebentar lagi anda akan mengesahkan diri anda sebagai calon pewaris tahta selanjutnya" ucap pengawal itu.


Jantung Drake seakan berhenti berdetak mendengar kabar itu. Ia langsung menatap ke arah kakaknya.


"Tapi kakak, kau adalah orang yang akan mewarisi tahta kerajaan," sahut Drake.


"Aku sudah menyerahkan posisi itu kepadamu, adikku." Jawaban yang mengejutkan dari seorang kakak.


"T... tapi kenapa?" Drake masih tidak mengerti mengapa kakaknya menyerahkan posisi yang amat berharga itu kepadanya.


"Aku ini bodoh. Kecerdasan ku keluar hanya ketika sedang bertarung saja. Kau lebih pintar dan bijak dariku, kaulah yang lebih pantas. Aku akan tetap bertahan sebagai komandan ksatria emas," jawab Darius sambil menepuk bahu adiknya.


"T.. tapi aku tidak sekuat dirimu." Drake gugup luar biasa. Darius menyentuhkan dahinya ke dahi adiknya. Dengan wajah tersenyum ia berkata, "Kerajaan ini lebih membutuhkan kebijaksanaan daripada kekuatan. Aku yakin, dengan kebijaksanaan mu, kerajaan ini akan lebih makmur dan aku disini akan melindungi mu, karena aku lebih kuat."


Dengan penuh rasa gugup. Drake menerima dirinya sebagai calon pewaris tahta selanjutnya. Berkat dukungan kakaknya, ia pun siap untuk mengemban posisi penting ini. Ditengah nuansa itu, Darius mendapatkan kabar bahwa dia ada rapat dengan para ksatria emas.


Ia pun undur diri dari hadapan ratu dan adiknya. Darius pergi ke ruang rapat kerajaan. Disana seluruh kesatria emas yang berasal dari seluruh kerajaan berkumpul.


Glenn Ornin: Ahli sihir pelindung dari kerajaan Xeranos.


Fiona Blanca: Ksatria tercepat di Invandara dari kerajaan Pelnoraf


Kay Runin: Pemanah sihir dari Windland.


Yui Clascof: Ahli sihir penyembuhan dan perpindahan dimensi, yang juga dari Windland.


Mereka berkumpul untuk membicarakan strategi untuk mengalahkan musuh utama Invandara. Darius ahli pedang yang berasal dari Ezius memimpin kelompok ini.


Yui sudah menemukan cara untuk pergi ke dimensi gelap, namun tidak semua orang bisa pergi kesana. Hanya orang-orang yang punya kekuatan yang tertentu saja yang bisa melalui portal menuju dimensi gelap.


"Jadi kita tidak bisa membawa pasukan?" Tanya Glenn. Yui mengangguk.


"Seperti yang ku jelaskan kepada kalian. Hanya orang dengan kekuatan tertentu saja yang mampu melewati portal menuju dimensi gelap," jawab Yui.


"Itu bisa berarti tidak semua dari kita bisa masuk kesana." Kay mengambil kesimpulan.


"ini menyebalkan." Fiona geram sambil memainkan pisau favoritnya.


"Jadi orang seperti apa yang mampu masuk kesana?" Tanya Darius.


"Yang bisa masuk ke dalam dimensi gelap hanyalah orang-orang seperti kita." Jawaban Yui membuat seluruh ksatria yang berada di ruangan terbelalak.


"J.. jadi hanya kita saja yang mampu masuk kesana?" tanya Glenn. Yui menjawab dengan anggukan.


"Sebenarnya ada satu orang lagi, yakni pangeran Drake. Aku sudah melihat energi dari kekuatan semua orang dari masing-masing kerajaan termasuk kita," jelas Yui.


"Setelah aku melakukan pemeriksaan kecocokan energi dan penelitian selama empat tahun. Akhirnya aku mengetahui bahwa portal masuk ke dimensi gelap hanya bisa dilewati oleh orang-orang berkekuatan langka." Yui melanjutkan penjelasannya.


"Jadi maksudmu aku punya kekuatan langka?" tanya Darius. Karena setahunya, dirinya hanyalah ksatria yang mengandalkan fisik untuk bertarung. Meskipun fisiknya jauh lebih kuat dari manusia biasa.


"Itu benar, kau memiliki kekuatan langka selain kekuatan fisik, namun kau belum menyadari itu," jawab Yui.


Jika Yui berkata bahwa Drake punya kekuatan langka, Darius tentu percaya. Karena adiknya bisa mendapatkan prestasi di akademi sihir berkat kekuatannya yang berbeda dari yang lain. Namun Yui juga berkata bahwa Darius juga memiliki kekuatan langka. Ini membuat Darius kebingungan.


"Memang kekuatan apa yang kumiliki selain fisik?" Tanya Darius untuk kedua kali.


"Aku tidak tahu, tapi aku bisa merasakan kekuatan itu dari dirimu." Jawaban itu semakin membuat Darius kebingungan.


"Kita kesampingkan soal kekuatan langka mu, Darius. Sekarang kalian sudah tahu bahwa hanya kalian dan pangeran Drake yang mampu pergi kesana. Jadi apa rencana kita?" Tanya Yui. Mereka mulai memikirkan rencana yang tepat. dua jam berlalu dan mereka masih belum punya rencana yang matang. Akhirnya Darius mengambil cara keputusan yang ada.


"Kita akan pergi kesana sendiri untuk mengalahkan Dark Lord dan aku tidak akan melibatkan adikku untuk rencana kita kali ini." Darius menyampaikan rencananya. Sejujurnya, sulit untuk mengalahkan Dark Lord jika hanya mereka saja yang menghadapinya. Namun tidak ada pilihan lain selain ini.


"Tapi jika pangeran Drake membantu, maka kita akan lebih mudah menghadapi Dark Lord," ucap Yui.


"Dia adalah calon raja Ezius selanjutnya. Aku tidak akan membiarkan dia mati, sebelum dia menjadi raja dan memakmurkan kerajaan Ezius dan seluruh penduduk Invandara," Balas Darius. Semua ksatria memahami perkataan Darius dan menyetujuinya. Mereka pun menetapkan rencana ini sebagai jalan untuk mengalahkan Dark Lord.


Keesokan harinya....


Kelompok ksatria emas melaksanakan rencana mereka. Darius sudah lengkap dengan pedang dan baju zirahnya. Ia siap untuk berangkat. Seluruh rakyat Kerajaan Ezius menyemangatinya ketika ia mulai berangkat.


"Tunjukkan kekuatan ksatria Ezius kepada penguasa gelap itu, Komandan!" Sorak salah seorang prajurit.


Seluruh penduduk Invandara memberikan semangat dan harapan mereka kepada para ksatria emas yang akan berjuang demi mereka. Semua petinggi dari masing-masing kerajaan datang memberikan doa sebelum mereka berangkat. Raja Reivan, Ratu Obella dan Pangeran Drake memberi doa kepada putra mereka yang akan berjuang.


"Kalahkan musuh mu dan pulanglah dengan selamat. Bawakan kemenangan untuk Ezius dan Invandara," ucap Raja, Sang Raja mengecup kening putranya.


"Pulanglah dengan selamat," ucap Ratu, ia juga memberikan kecupan kepada anaknya.


"Jangan sampai kalah, sebelum aku yang mengalahkan mu," ucap Drake, la memeluk kakaknya itu.


Pemberian doa kepada para ksatria sudah usai. Yui sudah membuka portal menuju dimensi gelap. Seluruh penduduk Invandara memberikan penghormatan kepada mereka.


Penghormatan itulah yang terakhir mereka lihat sebelum mereka masuk kedalam dimensi itu.


Itulah yang terjadi sebelum Darius terperangkap di dalam dimensi gelap.


...—/—/—...


Saat ini di dalam dimensi gelap.....


Darius kembali menelusuri dimensi yang ia tak ketahui ujungnya. Dalam perjalanannya menelusuri dimensi ini, banyak monster yang menghalanginya, tapi pada akhirnya monster itu berakhir menjadi santapannya. Tepat di sebuah tempat yang luas, Darius melihat sebuah batu yang berbeda dari batu-batu yang lain. Warnanya hijau tua dan terukir sebuah tulisan di batu.


..."Untuk orang yang terjebak di tempat ini. Bacalah pesan ini...."...


Bersambung...