
Sudah 40 menit...
Hilda mondar-mandir kesana-kemari didepan ruang gawat darurat. Ia menunggu kabar tentang kondisi kakaknya dari dokter. Rasa gelisah serta tetesan air membendung dirinya. Ia tidak menyangka kalau kakaknya akan berakhir seperti ini.
"Sial! siapa sebenarnya orang itu? dia... dia... dia..., bagaimana bisa dia melakukan itu kepada kakakku?!" Hilda menggerutu penuh emosi.
"Tenanglah Hilda, kau membuat seisi rumah sakit jadi terganggu," sahut Jivan yang menemani Hilda ke rumah sakit.
Hilda tetap mondar-mandir meski sudah selesai menggerutu. Dokter keluar dari ruangan tempat kakaknya dirawat. Lekas, Hilda menghambat dokter itu.
"Bagaimana kondisi kakak saya, dok?" tanya Hilda.
"Kondisinya sudah membaik, tapi lukanya amat parah. Saya tidak menyangka, ada benturan keras yang menembus kulit naga. Sebenarnya, apa yang terjadi pada kakak anda?" tanya Dokter.
Hilda terdiam sesaat...
"Dia kalah dalam pertarungan," jawab Hilda.
"Jadi begitu, artinya lawan kakak anda sungguh kuat. Saya sebagai dokter, sangatlah terkejut. Baru kali ini, saya mendapati ras naga dengan luka separah ini. Setahu saya, ras naga punya sistem pemulihan yang mempermudah proses penyembuhan mereka. Tapi anehnya, sistem pemulihan pada tubuh kakak anda tidak bereaksi pada lukanya," jelas Dokter.
Hilda terpelanga hebat. Baginya, itu sangat tidak mungkin. Ras naga adalah ras yang memiliki pemulihan tubuh tercepat (setelah ras iblis punah). Tapi kenapa, kenapa ingin bisa terjadi?
"Mustahil, kau tidak sedang bercanda, kan?" Hilda menarik kerah baju Dokter.
"Hilda! hentikan," tegur Jivan.
Seketika, Hilda melepaskan tangannya dari Dokter.
"Saya bersumpah atas ilmu medis yang saya emban. Inilah yang terjadi," ucap Dokter.
Hilda meneteskan air mata, ia menerobos masuk ke ruang gawat darurat. Betapa sedihnya dia, melihat kondisi kakaknya yang dibalut perban di sekujur tubuh. Kakaknya hanya dapat menggerakkan mulut dan bola mata saja, selebihnya sudah mati rasa.
"Kakak..."
Hilda menghampiri kakaknya.
"Hilda..., maaf."
"Kakak tidak perlu minta maaf, ini bukan salah kakak," dengan sangat tersedu, ia menangis disamping kakaknya.
"Aku tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Aku sudah terlalu meremehkan lawan ku," ujar Agni.
"Kakak jangan khawatir, aku akan meminta pihak rumah sakit untuk mengerahkan petugas medis terbaik mereka untuk mengobati kakak," ucap Hilda.
Agni merasa sangat bersalah, ia tidak bisa menepati janjinya kepada adiknya. Sekarang, ia hanyalah makhluk malang yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"Dia..., dia bukan manusia."
Hilda merespon ucapan kakaknya...
"Agni's Dawn Blade milikku adalah harta suci yang sudah lama menjadi kebanggaan keluarga kita. Tak kusangka, senjata itu patah hanya dengan satu kali tinju," ujar Agni.
Datanglah Jivan yang sudah selesai meminta maaf kepada dokter, lantaran perilaku Hilda sebelumnya.
"Kau selalu bertindak ceroboh," ucap kesal Jivan.
Dengan pandangan miris, ia meratapi kondisi Agni yang sedemikian parah. Sementara itu, Hilda masih memikirkan tentang orang yang mengalahkan kakaknya. Pemandu uji tanding bilang kalau dia adalah manusia. Tapi tidak mungkin, manusia dapat memberi luka separah ini kepada kakaknya. Ditambah lagi, orang itu sudah mematahkan pedang Agni dengan tangannya sendiri.
"Aku akan menyelidiki orang itu," ucap Hilda.
"Apa maksudmu?" tanya Jivan.
"Orang yang sudah melukai kakak, aku tidak yakin kalau dia manusia. Ditambah lagi, luka akibat serangannya tidak dapat dipulihkan dengan kemampuan pemulihan yang tubuh naga miliki. Bukankah ini tidak wajar?"
Perkataan Hilda ada benarnya. Agni sadar, bahwa sistem pemulihan didalam tubuhnya tidak dapat bereaksi terhadap lukanya. Ini memperkuat keyakinan terhadap perkataan Hilda.
"Memang benar itu kenyataannya dan juga kalau tidak salah, dia memiliki sebuah tanduk di kepalanya. Manusia tentunya tidak ada yang bertanduk seperti itu," sahut Agni.
"Kalau tidak salah, namanya orang itu adalah Darius Hunt," ujar Jivan.
Setahu mereka, nama Hunt adalah nama bangsawan sihir terkenal. Keturunan Drake Hunt, mereka bangsawan yang memuliakan ilmu sihir. Sihir menjadi inti kekuatan mereka, para "Hunt" tidak pernah menggunakan senjata seperti pedang, tombak dan segala senjata yang dipakai oleh ksatria pada umumnya. Para keturunan Hunt selalu menggunakan equipment sihir, seperti tongkat sihir, spell book dan alat-alat sihir lainnya. Itulah yang mereka ketahui.
"Tapi mengapa, seorang Hunt yang satu ini memakai pedang ukuran besar sebagai senjata? bahkan dia tidak menggunakan sihir," Hilda terheran.
"Mungkin dia memakai sihir untuk menguatkan fisik," jawab Jivan.
"Itu tidak mungkin, aku sudah menggunakan kemampuan magic detector ketika melawannya. Aku tidak melihat sama sekali, aura sihir dalam dirinya. Semua serangannya adalah murni fisik. Tidak ada "Hunt" yang punya kekuatan fisik sekuat itu," sahut Agni.
"Kakak benar, aku sudah berulangkali bertemu dan bertarung dengan para "Hunt" dan mereka semua memiliki fisik yang tidak memadai untuk beradu fisik dengan ras naga, tapi sihir mereka sangat menyebalkan. Untuk melawan seorang Hunt, aku sampai harus menunjukkan wujud sempurna ku," jelas Hilda.
Ini sangat mengherankan bagi mereka. Baru kali ini, merek menemui seorang Hunt dengan fisik luar biasa. Bahkan mereka mulai meragukan bahwa Darius adalah seorang Hunt. Mendadak, seorang perawat masuk ke dalam ruangan.
"Tuan Agni, ada pengunjung yang datang menemui anda," ucap si perawat.
"Pengunjung? apakah itu ayah?" batin Agni.
"Persilahkan dia masuk," ucap Agni.
"Baik, tuan"
Si perawat keluar dari ruangan dan pengunjung yang hendak menjenguk Agni pun masuk. Betapa tercengangnya mereka, ternyata yang datang adalah Darius. Orang yang mereka bicarakan sedari tadi, kini menghampiri mereka.
"Kau..," Agni terpelanga bukan main.
Darius membawa banyak makanan dan ramuan yang terbungkus rapi di kedua tangannya.
"Hai," sapa Darius.
Bersambung.....