
...Pengumuman...
Mohon maaf apabila suatu hari cerita ini terhapus. Author mengira kalau cerita ini tidak bisa berlanjut karena kesibukan yang begitu padat.
Tapi ternyata Author salah. Padahal Author sudah terlanjur me report cerita ini untuk dihentikan. Mungkin Author akan menyalin kembali cerita ini bila banyak yang meminati.
...Sekali lagi, mohon maaf atas kekeliruan Author 🙏🙏🙏🙏...
...*************...
Disebuah mansion besar di kota Tideo, yang dikenal dengan nama Grand Mansion.
Perlahan, namun pasti. Raven mengajarkan kepada tuannya cara membuka pintu ruangan yang memiliki sistem keamanan berupa kode hingga cara menggunakan kamera.
"Selamat tuan, anda sekarang bisa menggunakan kamera," ucap Raven disertai tepuk tangan.
Darius baru saja mengambil foto pertamanya. Hal kecil tersebut membuatnya sangat senang. Ia membayangkan jika di zamannya tersedia alat semacam ini. Pasti akan mudah bagi pasukan pengintai untuk mendapatkan info detail pemimpin pasukan musuh beserta gambar rupanya. Dengan begitu, akan jauh lebih mudah untuk menentukan target musuh yang akan diserang.
Namun bukan itu saja yang ada dibenak Darius....
"Andai alat ini sudah ada di zamanku, sesuatu yang ingin ku potret pertama kali adalah keluarga ku. Sayang sekali, manusia baru bisa menciptakan alat hebat ini sekarang," ucapnya.
Sangat ingin sekali, Darius melakukan itu. Sementara itu, Raven pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk tuannya. Semua bahan masakan dan peralatan masak telah ia siapkan. Matanya begitu berapi-api, seolah sedang berada di medan pertempuran.
"Akan ku pastikan, tuanku mendapatkan makanan paling lezat dan sempurna."
Dengan kecepatan tangan dewa (tidak juga sih), Raven mulai memasak. Gesit gerakan tangannya, memotong rapi bawang dan wortel. Ia mengeluarkan daging ayam dari kulkas dan langsung memisahkan tulang dari daging ayam itu. Tomat, cabai dan semua bumbu yang diperlukan, ia melempar semua itu ke atas dan menebasnya dengan pisau dapur. Kecepatan tangannya sungguh tak terkira.
Ketika semua bahan masakan itu turun, wujudnya sudah berubah menjadi bumbu halus dan jatuh tepat di atas mangkok yang sudah disediakan. Bumbu halus itu dicampur garam dan lada, lalu dilumurkan ke daging ayam yang sudah tak bertulang.
"Tuanku tidak boleh menunggu lama, akan ku panggang daging ini dengan tanganku sendiri."
Dengan elemental api yang ia kuasai. Raven memanggang daging itu, suhu panas saat memanggang ia sesuaikan agar kematangan daging menjadi sempurna.
10 menit kemudian....
Daging pun matang.
Raven menata masakannya dengan rapi dan cantik, lalu menyediakan masakan itu kepada tuannya.
"Tuan, makan siang anda telah siap," ucap Raven seraya menyuguhkan masakan ala restoran mahalnya.
"Terima kasih, kau sungguh luar biasa. Dari harumnya saja, aku bisa menebak rasanya."
"Sebuah kehormatan, mendapatkan pujian dari anda."
Darius mengambil gigitan pertama, seperti yang ia duga, rasa masakan Raven tidak membuatnya kecewa. Sungguh pelayan yang berbakat, dapat membuat masakan dengan rasa yang luar biasa lezat. Raven sungguh senang melihat tuannya tersenyum saat memakan masakan buatannya. Itu pertanda bahwa ia berhasil melayani tuannya dengan baik.
Ting! Tong!
Bel pintu berbunyi...
Raven memeriksa siapa yang datang ke tempatnya lewat kamera Doorbell.
"Halo, ini aku Mona. Gadis cute dengan twin tails hair yang imut dan lucu. Izinkan aku masuk menemui kak Darius."
Penuh percaya diri, Mona berpose sambil memohon didepan kamera Doorbell. Raven agak risih melihatnya. Ia jadi ragu untuk membukakan pintu.
"Tuan, ada yang datang kemari untuk menemui anda."
Darius merespon ucapan Raven, lalu melihat siapa yang ingin menemui dirinya.
"Gadis itu lagi rupanya, kurasa lebih baik izinkan dia masuk," ucap Darius.
"Baiklah, tuan "
Sebenarnya, Raven masih ragu untuk mengizinkan Mona untuk masuk karena dia terlalu ribut. Jika bukan karena tuannya mengizinkan, mungkin Raven akan melarang Mona. Ia membukakan pintu untuk Mona.
"Hai..., selamat siang. Dimana kak Darius?" tanya Mona dengan percaya diri.
"Dia ada di dalam," jawab Raven.
"Hei..., jangan menindih ku. Apa yang membuatmu sangat bersemangat seperti ini?"
"Tentu saja aku bersemangat, mana mungkin aku bertemu dengan mu dalam kondisi lesu."
Tingkah laku Mona sangat mirip dengan temannya Fiora. Salah satu rekannya dalam kelompok ksatria emas. Fiora Blanca, ksatria tercepat dari kerajaan Pelnoraf. Fiora selalu bertingkah penuh semangat seperti ini. Tidak terlupakan dalam ingatannya, tingkah laku Fiora yang lumayan bandel.
"*Ayo kita berangkat pemalas!, ini waktunya untuk latihan," ucap Fiora sambil melompat-lompat di atas tubuh Darius yang terbaring di ranjang.
Yui beserta rekan sekelompok nya tertawa melihat itu. Sementara Darius kerepotan dengan Fiora yang terus-menerus menjadikan dirinya sebagai papan trampolin.
"Kau ini, selalu saja begini. Apa yang membuat dirimu begitu bersemangat?" tanya Darius.
"Mana mungkin aku bertemu dengan mu dalam kondisi lesu, hari ini kita akan latihan jadi harus semangat," jawab Fiora.
"Dasar kau ini, menyingkirlah dulu. Aku tidak bisa bangun karena mu."
Fiora pun menyingkir, Darius merenggangkan otot-ototnya yang pegal.
"Komandan, ayo kita berangkat," ajak Fiora sembari tersenyum.
Darius membalas senyuman tulus itu.
"Baiklah, kalian pun nampaknya sudah siap. Ayo kita berangkat*."
Tingkah bandel Fiora selalu menjadi hal yang paling Darius ingat.
"Hey kak, kau kenapa melamun?"
Mona menyadarkan Darius dari lamunannya.
"eh.., tidak ada. Aku hanya teringat dengan teman lamaku. Kau sangat mirip dengan dirinya," jawab Darius.
"Benarkah? siapa temanmu itu?" tanya Mona.
"Kau pasti tidak akan percaya dengan jawabanku," balas Darius sambil mengusap kepala Mona.
"Ayolah, beritahu aku. Kita ini teman, kan?"
Padahal belum lama kenal, tapi Mona sudah berani sedekat ini. Gadis yang satu ini begitu ekspresif.
Sementara itu, Raven merasa terganggu dengan tingkah laku Mona yang seenaknya.
"Tuan, mengapa anda membiarkan dia bertingkah tidak sopan terhadap anda?" batin Raven.
Mona duduk sambil menggandeng Darius disampingnya. Ada sebuah sesuatu di benak terdalam Mona yang sangat ingin diungkapkan. Meski dengan rasa setengah ragu, Mona berusaha mengeluarkan suatu hal yang sedari kemarin membuatnya penasaran.
"Kak Darius, apa kau sungguh ksatria dari Ezius?"
Mona mengungkapkan rasa penasaran di benaknya.
"Seperti yang kukatakan kepadamu kemarin, percaya atau tidak tergantung pada dirimu sendiri. Tapi sebaiknya, kau merahasiakan ini dari siapapun. Karena zaman telah jauh berubah, lebih baik hal ini dirahasiakan saja," balas Darius.
Meskipun secara logika tidak masuk akal jika seorang ksatria dari era kerajaan Ezius masih hidup di abad ini, namun dalam hati Mona ada keinginan untuk percaya dengan apa yang telah Darius katakan.
"Baiklah, aku akan percaya dengan kakak. Aku yakin kalau kakak berkata jujur. Lagi pula aku sudah melihat kekuatan kakak yang begitu hebat dan berbeda dari semua ksatria yang pernah kulihat. Aku juga percaya bahwa orang yang dapat mengalahkan monster Hydra dengan satu serangan, memanglah ksatria sejati kerajaan Ezius. Aku percaya pada kakak," ujar Mona penuh keyakinan.
Darius senang mendengar itu. Mona juga berjanji untuk merahasiakan hal ini.
"Oh...iya, pria yang bersama dengan kakak ini direktur K.A.O, bukan? tapi kenapa dia memanggil kakak dengan sebutan tuan?"
Mona terlalu banyak bertanya.
"I..iya itu karena...."
Darius menjelaskan tentang Raven kepada Mona. Untuk kesekian kalinya, Mona terkejut. Ternyata Direktur K.A.O juga berasal dari zaman yang sama dengan Darius.
Bersambung....