Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 36: Kejaran



Sedikit demi sedikit Mara membuka mata, ia mendapati dirinya berada di sebuah kamar bersama dengan seorang gadis kecil disampingnya. Dengan tubuh yang masih terluka, ia berusaha bangkit.


"Ugh.."


Si gadis kecil menyadari suara Mara, ia menghampiri Mara yang memaksakan diri untuk berdiri.


"Jangan bergerak dulu, lukamu masih parah Aku baru saja memberimu heal potion," ucap Si gadis kecil.


Mara tak dapat merasakan tangan kirinya yang sudah bengkok membentuk huruf L.


"Lukamu parah sekali, kuharap bantuan akan segera datang."


Gadis kecil membantu Mara untuk kembali ke ranjang, ia memberikan satu heal potion lagi kepadanya.


"Siapa kau? dimana ini?" tanya Mara.


"Aku Desmona dan sekarang kau berada di rumahku. Tubuhmu masih terluka, jadi jangan banyak bergerak," balasnya.


Mona membantu Mara kembali ke ranjang dan meminumkan sebotol heal potion ukuran sedang.


"Akan kuingat itu, terima kasih atas bantuan mu," ucap Mara dengan sangat bersyukur.


"Sama-sama," balas Mona.


Mona melakukan segala sesuatu yang ia bisa untuk menolongnya, ia berusaha meluruskan tangan kiri Mara yang bengkok. Sebelum itu, ia menyuruh Mara menggigit sebuah handuk guna menahan suara teriakannya.


Kretek..!


"Hmmmm...!"


(Suara teriak kesakitan Mara teredam)


Mara sangat kesakitan ketika tangannya diluruskan, tangan kanannya begitu erat mencengkram bantal yang berada disampingnya. Sungguh rasa sakit yang bukan main, segera Mona mengambil obat Pain resistance (penghilang rasa sakit) dari dalam lemarinya, lalu memberikannya kepada Mara. Obat ini berguna untuk meredakan rasa sakit.


25 menit berlalu, obat Pain resistance mulai bekerja dengan baik.


Perlahan-lahan rasa sakit Mara mulai mereda, meski Mara masih merasakan nyeri di sekujur badannya. Mona membawakan Regular Heal Potion, lalu ia duduk tepat disamping Mara.


"Sekali lagi, aku berterima kasih padamu. Kau handal dalam mengobati, jahitan mu sangat rapi. Dimana kau mempelajari semua ini?," tanya Mara, setelah menanggapi luka di dadanya yang telah dijahit, tangan kirinya pun sudah dibalut dan diberi penyangga (sementara).


"Ibuku adalah seorang Healer, ia mengajariku cara untuk teknik medis sejak aku masih kecil. Meskipun tidak terlalu mahir dan belum menguasai sihir penyembuh, setidaknya aku bisa memberimu pertolongan sementara," ujar Mona.


Mona berhasil menghentikan pendarahan Mara, akan tetapi tulang rusuk dan tangan kanan Mara masih patah dan ada organ dalam tubuhnya yang terluka akibat tusukan Iraken. Heal potion saja tidak akan mampu mengobatinya, itulah mengapa Mona memberikan Pain resistance kepada Mara, supaya Mara dapat bertahan lebih lama sampai bantuan datang.


Mendadak terdengar suara seseorang dari luar, lekas Mona memeriksanya, ia melihat keluar jendela. Rupanya Iraken dan kawan-kawan masih berlalu lalang di sekitar area rumahnya, bahkan mereka mulai mendekati rumah Mona.


"Ya ampun.., mereka kesini. Sebenarnya apa yang mereka cari?" ucap Mara panik.


Situasi semakin genting dan Mona pun makin ketakutan, melihat sekelompok pria bersenjata mendekati rumahnya. Mara yang menyadari Mona yang mematung didekat jendela pun datang menghampiri dengan langkah tertatah-tatah. Ia melihat sekelompok orang yang mengejarnya mulai mencium keberadaannya.


"Sekitar satu setengah jam," jawab Mona.


"Baguslah, itu lebih dari cukup."


Mara mengeluarkan lingkaran teleportasi, tubuhnya yang masih belum pulih membuat pembuatan lingkaran sihir itu gagal seketika. Walaupun rasa sakit ditubuhnya sudah tidak terlalu terasa, akan tetapi ia tidak punya cukup tenaga. Mona langsung menoleh ke arah Mara.


"Apa yang kau lakukan? " tanya Mona.


"Sekelompok orang-orang bersenjata yang mendekati rumah mu itu mengincar ku. Karena itulah mereka mendekat kemari, aku harus segera pergi dari sini," jawab Mara.


"Apa....?!"


Kepanikan Mona melunjak.


"Bantuan takkan datang tepat waktu, lebih baik aku segera pergi dari sini," ucap Mara.


"Tunggu dulu, tapi lukamu bagaimana?" tanya Mona khawatir.


"Selama efek obat penahan rasa sakit ini belum habis, aku masih bisa pergi jauh," jawab Mara, padahal tenaganya tidak cukup.


"Apakah rumahmu punya jalan keluar lain selain pintu depan?" tanya Mara.


"Iya, ada pintu belakang didekat dapur," jawab Mona.


"Antar aku kesana."


Sesuai dengan keinginannya, ia diantar menuju pintu belakang. Mona memberitahu bahwa setelah membuka pintu ini, akan terlihat jalan tunggal yang menuju ke arah jalan raya. Dengan sedikit terhuyung, Mara mendekat dan memegang daun pintu.


"Biarkan aku membantumu," ucap Mona.


"Tidak, kau cukup membantuku sampai disini saja. Kau sudah melihat, bukan? betapa menakutkannya mereka. Apa kau mau berurusan dengan mereka?" balas Mara.


Mona pun terdiam, perkataan Mara ada benarnya. Tetapi meninggalkan wanita terluka di kejar oleh sekelompok pria bersenjata bukanlah hal yang bisa dibiarkan.


"Aku sangat bersyukur karena kau mau menolong orang yang tidak kau kenal, tapi cukup sampai disini saja. Gadis kecil seperti mu tidak boleh sampai terseret masalah yang bukan urusanmu," ucap Mara, ia membuka pintu belakang. Mona hanya dapat terdiam memandanginya.


Sebelum keluar, Mara menoleh ke belakang sejenak. Menatap gadis kecil yang sangat ringan tangan dengan perasaan penuh syukur, tidak dibayangkan nasibnya jika Mona tidak menolongnya.


"Aku berhutang nyawa padamu, sampai jumpa," ucap Mara, lalu ia pergi meninggalkan kediaman Mona.


Mona hanya dapat mematung, melihat Mara pergi. Ia tidak tahu harus berkata apa, ia tidak bisa membiarkan Mara yang terluka pergi sendirian tapi disamping itu dia juga tidak mau berurusan dengan para pria bersenjata itu. Sungguh bimbang dirinya saat ini.


"Semoga, dia baik-baik saja," batin Mona.


Bersambung....