
Rasa kesal meliputi hati dan setiap langkah kakinya. Sepanjang jalan yang ia lalui meninggalkan bekas yang mencolok di tanah. Pedang yang menemaninya selama bertahun-tahun telah hilang beberapa menit yang lalu. Darius sangat geram, itu adalah pedang pemberian raja Reivan untuknya.
Sudah banyak pertempuran yang ia lewati bersama pedang itu dan berkat pedang itu juga Darius berhasil membawa banyak kemenangan untuk kerajaan Ezius juga untuk Invandara. Sungguh sial nasibnya, kehilangan barang yang sangat berharga baginya.
"Monster sialan!, bisa-bisanya dia membuatku kehilangan pedangku." Luapan kekesalan Darius semakin besar. Beberapa pohon ia pukul hingga hancur. Beberapa menit lalu, sesosok monster bertangan empat menyerangnya di tengah perjalanan. Monster kelaparan itu menyerang dengan membabi buta. Darius berusaha menangkis serangan itu, namun pedangnya malah terhempas lantaran serangan yang begitu keras.
Ia berhasil mengalahkan monster itu dengan tangan kosong. Tetapi sekarang dia bingung mencari pedangnya. Darius tidak tahu kemana arah pedangnya terhempas. Ia turut sesal karena kurang waspada.
"Kau sangat ceroboh." Suara Pamella tiba-tiba muncul. "Kenapa kau bisa lengah seperti ini? hingga kehilangan senjata mu."
"Bagaimana kau tahu aku kehilangan pedangku? apa kau bisa melihatku dari sana?" tanya Darius. Untuk menenangkan diri, ia duduk bersandar di sebuah pohon didekatnya. Darius menepuk dahi, meratapi kesialan yang menimpanya.
"Berkat kembalinya salah satu inti ku, sedikit dari kemampuan ku pun kembali. Sekarang aku bukan hanya dapat berbicara denganmu lewat telepati, tapi juga bisa melihatmu lewat cermin reflektor." Jawaban detail dari Pamella.
"Apakah dengan hilangnya pedang itu kini kau tidak bisa melakukan apa-apa?" tanya Pamella. Sudah berulang-kali Darius menjelaskan padanya bahwa Darius bukanlah ksatria dengan satu bakat saja. Tanpa pedang pun ia masih bisa bertarung. Yang membuat Darius gelisah adalah jika pedang itu tidak dapat ia temukan lagi, karena itu barang berharga pemberian Sang raja.
"Aku sangat ceroboh." Darius sungguh kesal. Andai saja ia lebih siap beberapa menit lalu. Kejadian ini pasti tidak akan terjadi. Darius mengambil nafas panjang dan berusaha menenangkan pikirannya.
"Aku harus tenang, Yang mulia pernah berkata bahwa pedang itu ditakdirkan untukku. Jika pedang itu ditakdirkan untukku, maka pedang itu akan kembali padaku. Aku yakin sekali." Ksatria ini memantapkan dirinya dan membuang kekhawatiran. Ia memegang teguh keyakinan bahwa ia akan mendapatkan pedangnya kembali.
"Lebih baik aku terus melangkah dan menuntaskan urusan ini. Setelah itu akan kucari pedangku." Darius kembali melanjutkan perjalanan. Saat ini, ia berada di hutan yang agak jauh dari menara. Darius baru mengetahui adanya hutan lebat di dimensi ini.
"Sumber air disini kotor. Tapi semua tumbuhan disini dapat tumbuh besar." gumam Darius. Seperti yang Darius katakan, tidak ada sumber air yang bersih di dimensi ini. Didalam dimensi gelap hanya ada satu sumber air yang kualitas airnya jauh dari kata layak minum. Sumber air itu adalah sungai hitam.
Sesuai namanya, air sungai itu berwarna hitam dan baunya tidak sedap. Meski begitu, para monster menyukainya, mereka sering minum disana. Lantaran warna air yang hitam bagai tinta serta baunya yang menyengat, Darius lebih memilih minum sari tanaman liar yang rasanya sepat dibandingkan meminum air sungai itu.
Airnya yang mengalir hingga ke bawah tanah, memberi pasokan air untuk semua tumbuhan yang ada di dimensi gelap. Lebih tepatnya untuk semua tumbuhan abnormal. Air seperti itu hanya akan membuat tumbuhan normal menjadi layu.
Seluruh tumbuhan disini berukuran besar. Tak sedikit tumbuhan di tempat ini yang dapat bergerak dan memangsa segala yang mendekatinya. Salah satunya adalah tumbuhan hidup yang pernah Darius kalahkan saat baru lima hari terjebak di dimensi ini. Bagian dari tumbuhan itu ia manfaatkan, kayunya sebagai kayu bakar dan daunnya sebagai wadah untuk menampung sari tumbuhan liar yang biasa ia minum.
"Tunggu dulu..." Darius menghentikan langkahnya. Suatu getaran terasa mengguncang tempat Darius berpijak. Getaran yang semakin hebat itu mengganggu keseimbangan Darius hingga ia sulit untuk berdiri.
Apakah ini hanya gempa biasa? baru kali ini Darius merasakan gempa sekuat ini. Menurutnya ini bukanlah gempa biasa, getarannya serasa bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Seperti ada sesuatu yang sedang bergerak dari dalam tanah.
"Berhati-hatilah, aku merasakan inti tubuhku bergerak dari dalam tanah." Ucapan Pamella memberi sebuah petunjuk. Darius berusaha untuk menyeimbangkan dirinya ditengah getaran hebat yang mengguncang tanah. Getaran itu semakin mereda, nampaknya monster yang bergerak di dalam tanah telah beralih ke tempat lain. Meski tidak terlalu terasa, Darius masih bisa merasakan kemana arah getaran itu pergi.
Getaran itu mengarah ke sungai hitam. Terdengar suara gemuruh dari arah sungai, disusul dengan ledakan yang membuat air sungai menyembur ke langit. Seekor Hydra berkepala tiga muncul dari dalam sungai. Yang satu ini jauh lebih besar dari Hydra yang sering Darius hadapi.
"Dimana tepatnya letak inti tubuhmu itu?" tanya Darius. Saat ini ia masih mengawasi monster itu dari kejauhan. Hydra raksasa itu nampak mengamuk di area sungai.
"Astaga..." Pamella tersontak kaget akan sesuatu.
"Ada apa? kenapa kau terdengar seperti orang yang habis bertemu hantu?" Darius merespon terhadap Pamella yang terdengar seperti sedang terkejut. Apa yang membuat Pamella terkejut?.
"Monster itu memiliki ketiga inti tubuhku." Seperti yang Pamella katakan. Ini akan lebih sulit untuk dihadapi. Hydra itu memiliki ketiga inti Pamella yang tersisa, kekuatannya sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Pamella menyuruh agar Darius mundur sementara, ini terlalu berbahaya. Namun bagi Darius ini adalah kesempatan besar untuk menyelesaikan tugasnya dan membuka jalan pulang.
"Ini artinya aku hanya perlu mengalahkan monster itu saja, bukan? dengan begitu aku akan langsung mendapatkan ketiga inti itu. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini." itulah balasan Darius. Mendengar ucapannya itu, Pamella mulai menganggap Darius sebagai orang gila. Ia ingin melawan monster yang memiliki tiga inti ditubuhnya Sungguh keputusan yang nekat.
"Kau tidak akan sanggup menghadapinya Mundurlah, kita pikirkan cara lain," tegur Pamella. Darius tidak menghiraukannya sama sekali.
"Kita tidak akan tahu sebelum mencobanya," Balas Darius, lalu ia menghampiri monster Hydra yang sedang mengamuk itu. Pamella sungguh kesal dengan Darius yang tidak mau mendengarkan tegurannya.
Jika Darius sampai terbunuh, maka ia tidak akan pernah bisa mencapai wujud sempurnanya. Ia tidak berbuat apa-apa karena wujudnya masih belum sempurna, ia hanya bisa menyaksikan tindakan nekat Darius dari cermin reflektor.
"Dasar manusia gila!" Bentak keras Pamella. Sebelum ini pun Darius sudah pernah membuat keputusan gila dengan menahan meteor yang dijatuhkan Dark Lord, itu sama nekat dengan tindakannya saat ini.
Tanpa senjata, Darius maju kehadapan Hydra besar itu. Dengan satu lompatan dan satu pukulan, salah satu dari ketujuh tanduk di kepala Hydra berhasil ia patahkan.
Komunikasinya dengan Pamella mendadak terputus. Ini tidak wajar. Monster Hydra meregenerasi tanduknya yang patah. Dalam sekejap, tanduknya kembali seperti semula. Kemampuan regenerasinya yang cepat akan sangat merepotkan.
Berulang kali Darius melukai monster itu. Tapi kemampuan regenerasinya yang super cepat sungguh menyebalkan. Serangan Darius seolah tak berarti sama sekali. Tanpa henti, Darius tetap menyerang monster itu dengan kecepatan tinggi. Ia berhasil menghancurkan salah satu dari ketiga kepala monster itu, namun kepalanya yang hancur malah beregenerasi dan membelah diri menjadi dua.
Jumlah kepala monster itu terus bertambah seiring Darius terus-menerus menghancurkan kepalanya. Satu kepala berhasil ia hancurkan, tetapi malah tumbuh dua kepala yang menggantikan posisi kepala yang telah hancur. Tubuh monster itupun juga semakin mengeras.
Monster yang awalnya hanya punya tiga kepala, sekarang sudah memiliki sepuluh kepala. Regenerasi tubuh monster itu pun semakin cepat. Sekarang mustahil bagi Darius untuk memberi luka yang berarti kepada monster itu.
"Sial, tubuhnya terus beregenerasi dan kepalanya terus bertambah. Apa yang harus kulakukan?" Situasi jadi semakin sulit. Darius sudah mulai kehabisan tenaga.
"Eh!, bukankah aku punya kemampuan untuk menyerap kekuatan makhluk lain? mengapa aku tidak menggunakannya?" Darius menyadari kebodohannya. Tak terpikirkan olehnya akan hal itu.
"Jangan Darius!" Teriakkan Pamella membuat ksatria ini tersontak kaget. Sekarang Pamella telah kembali terhubung.
"Meskipun kau punya kekuatan untuk menyerap, tapi kau belum tentu bisa menampung dan mengadaptasi energi kekuatan yang masuk ke tubuhmu. Jika kau tidak bisa melakukan semua itu, maka nyawamu dalam bahaya." Peringatan keras dari Pamella. Belum lama Darius memperoleh kekuatan ini dan Darius sendiri belum mengerti betul cara menggunakannya.
"Cukup gunakan kekuatan ku yang barusan sudah kau serap. Fokuskan diri, rasakan energi panas membara yang mengalir dalam dirimu lalu lesatkan energi panas itu dalam bentuk serangan. Kau pasti bisa melakukannya." Instruksi yang cukup membantu dari Dewi yang wujudnya belum sempurna. Berdasarkan apa yang dikatakan Pamella, dengan konsentrasi tinggi Darius mulai memfokuskan diri.
Energi panas berhasil ia rasakan. Panas itu ia pusat ke kepalan tangannya, lalu ia melesatkan tinju disertai pusaran api yang maha dahsyat. Tinjunya berhasil menghanguskan semua kepala Hydra. Darius terpelanga akan kemampuannya itu.
"Apa ini artinya aku sudah menang?" Tanya Darius dengan mulut menganga.
"Belum, bodoh!" Bentak keras Pamella. Monster Hydra kembali beregenerasi. Semua kepala monster itu kembali utuh dan makin bertambah. Tidak disangka, monster ini masih hidup setelah menerima serangan fatal dari Darius.
Monster Hydra mengeluarkan electrical bom (Bom elektrik) dalam jumlah besar dan ukuran yang bukan main besarnya. Aura hitam menyelimuti sekujur tubuhnya. Muncul kristal-kristal yang juga melapisi sekujur dari monster besar ini. Kelihatannya monster ini jadi semakin waspada terhadap Darius. ia melapisi tubuhnya dengan pertahanan.
Tiba-tiba saja bongkahan kristal muncul dan mengekang kaki Darius. Kristal ini mirip dengan kristal yang melapisi tubuh Hydra. Ternyata Hydra bukan hanya mampu menggunakan kristal sebagai pertahanan saja, namun ia juga dapat memanfaatkanya untuk hal seperti ini. Begitu kerasnya kristal ini, sampai Darius tidak dapat menghancurkannya.
"GRAAA!!!" Auman Hydra yang menggelar.
Hydra meluncurkan semua bola electrical bom yang ia keluarkan ke arah Darius. Ksatria tangguh ini menahan sengat serta berat electrical bom yang menghantam dirinya. Sengatan listrik memperlemah kekuatan Darius. Ditambah semburan racun dari Hydra yang membuat bebannya semakin bertambah.
Ia berusaha menggunakan kekuatan penyerapan yang ia punya. Tetapi untuk menyerap energi sebesar ini, perlu waktu. Ditambah lagi, Hydra tidak memberinya kesempatan untuk menyerap. Hydra terus menyemburkan racun kepadanya. ia menerima serangan ketika ia sedang menahan serangan. Kondisi ini begitu mendesak.
Luka yang Darius terima sudah cukup parah. Tubuhnya pun sudah mulai melemah karena racun yang disemburkan oleh monster itu. Electrical bom telah gagal ia tahan. Ledakan elektrik yang hebat membuat tubuh ksatria muda ini terpelanting. Darah mengalir keluar dari bagian tangan dan kepala Darius.
Pengelihatannya mulai memudar. Rasa pusing dan sakit akibat ledakan tadi membuat segala yang dilihatnya terasa berputar-putar. Langkahnya pun jadi sempoyongan. Dalam keadaan seperti itu, Hydra masih tetap menyerangnya dengan ledakan electrical. Luka yang diderita Darius semakin parah.
"Mundurlah!, Jika terus begini, maka kau akan mati!. Sudah kubilang padamu untuk kembali ke menara, kenapa kau tidak mendengarkan ku?!" Bentak keras Pamella. Ia khawatir jika Darius mati disini. Ia tidak mau kesempatan untuk mendapatkan wujud sempurnanya sirna. Darius adalah jalan satu-satunya orang yang dapat mewujudkan keinginannya itu.
Darius bangkit dari jatuhnya dan langsung menahan electrical bom yang Hydra luncurkan ke arahnya. Kedua tulang lengannya mulai retak karena tidak kuat menahan beban serangan. Darius sudah berada di ujung batas kemampuannya. Ia tidak ingin mati disini dan ia juga tidak bisa mundur dari pertarungan ini. Tidak ada jalan lain baginya selain menang atau mati.
"Aku tidak menyesali keputusan yang sudah kuambil. Aku tidak akan mundur dari pertarungan ini dan aku tidak akan mati di tempat seperti ini!" Keyakinan serta semangat membara membakar jiwa ksatria dalam diri Darius. Kekuatannya mendadak meningkat drastis. Semua serangan yang diluncurkan oleh Hydra berhasil ia serap dalam satu kedipan mata.
Pamella yang menyaksikan itu terdiam mematung. Mata cantiknya terbuka lebar lantaran peristiwa yang barusan ia lihat.
"Mustahil!, tidak mungkin manusia dapat menyerap kekuatan sebesar itu dalam waktu singkat. Siapa dirimu sebenarnya, Darius?" Pamella sungguh ingin tahu. Sementara itu, Sang ksatria sudah siap untuk menyerang balik. Dengan kekuatan yang telah ia serap, Darius dapat mengeluarkan electrical bom yang sama persis dengan yang dikeluarkan oleh Hydra.
Bahkan ia dapat melipat gandakan kekuatan dari electrical bom miliknya hingga melebihi kekuatan dari electrical bom yang sebelumnya dikeluarkan oleh Hydra. Api jiwa ksatria yang menyala dalam diri Darius telah siap untuk menumbangkan lawannya.
"Sekarang giliran ku untuk menyerang. Bersiaplah untuk hancur, ular sawah!" gertak lantang Darius.
Bersambung....