Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 8: Invandara tahun 2030



Perasaan gelisah dan tidak percaya memenuhi pikirannya. tidak mungkin ini nyata, ia terkurung selama 400 tahun. Seharusnya, ia sudah menua layaknya manusia yang semakin tua seiring bertambahnya umur. Tapi mengapa ia tidak menua sama sekali? ini membingungkan.


Sekaleng soda yang baru saja dibelikan oleh Mona diteguk habis tanpa sisa. Sensasi minuman yang tidak pernah ia rasakan membuka matanya, lidah dan tenggorokan serasa tak puas bila hanya meminumnya sekali. Pikiran Darius langsung bersih dari kegelisahan.


"Anggur macam apa ini? ringan dan punya sensasi berbeda. Siapa orang jenius yang membuat minuman ini?" batin Darius.


Rasa kagum yang terbaca dari raut wajah Darius mengundang rasa heran pada Mona.


"Kenapa dia terlihat seperti terkagum-kagum? apa karena soda nya? ah..mana mungkin orang zaman sekarang tidak tahu soda. Mungkin saja kakak itu sedang mengagumi penampilannya sendiri. Ngomong-ngomong baju zirah dan pedangnya terlihat asli," pikir Mona.


Tidak sekalipun, Mona menyadari bahwa yang dihadapannya adalah ksatria dari era kerajaan. Ia membelikan satu soda lagi beserta Cup Noodle, seraya menunggu konser idol favoritnya mulai. Sebuah Cup Noodle ia berikan kepada Darius.


Aroma wangi bumbu mie instan itu menggoda siapapun yang menghirupnya, mengundang rasa ingin menyantap mie lembut bertoping bawang goreng yang menggoda itu. Darius mengambil suapan pertama, rasa gurih pedas yang pas, menari-nari di lidah. Tekstur mie yang kenyal membuat dirinya tak berhenti makan. Makanan seperti ini tidak pernah tersedia di istana.


"Pelan-pelan makan nya, nanti kau tersedak."


Tepat setelah Mona selesai berkata, mie itu langsung habis.


"Terima kasih atas makanannya," ujar Darius.


Mona agak kaget, baru sekarang ia melihat seseorang menyantap mie secepat itu, mangkuk mie instan yang telah kosong Darius berikan padanya. Untuk sesaat, Mona terdiam.


"Cepat sekali," batinnya.


Lekas Mona membuang mangkuk itu, sudah lima belas menit dan konser telah siap untuk dimulai. Sorak riang para penonton serta para Cosplayer yang hadir disana, meramaikan nuansa konser. Gadis berambut perak dan panjang muncul diatas panggung dengan pakaian anggun mempesona.


Cantik parasnya menebar rasa kagum di hati para penonton. Elok tubuh yang indah dan ramping menghipnotis ribuan mata. Bagai bidadari yang turun dari langit, segala kesempurnaan seorang wanita dimiliki oleh gadis itu. Paras cantik, tubuh ramping, warna mata yang indah, semuanya ada padanya. Kehadirannya disusul oleh seorang wanita yang tengah membawa mic.


"Selamat siang, para RFC!"


Seruan seorang wanita pembawa acara disusul sorakan meriah dari para penonton.


"Kalian pasti sudah tidak sabar, menantikan bidadari Invandara bernyanyi, kan?"


"Iya!!!" balas para penonton.


"Baik, sepertinya kalian sudah tidak sabar lagi. Ayo kita sambut dengan serempak, bidadari Invandara. Rina Clascof!"


Ramai riuh konser semakin memanas. Rina mulai menyanyikan lagu "Bunga dalam kelam". Ini adalah lagu andalan dan favorit dikalangan penggemarnya. Nada suara Rina yang halus, penampilan penuh energik, ia tampilkan didepan ribuan penonton.


Tidak ada yang berpaling pandang dari Sang bidadari. Darius menikmati alunan lagu yang ia nyanyikan. Meskipun Darius tidak mengerti jenis lagu apa ini, namun tetap saja lagu ini enak didengar. Sang bidadari memadukan suara merdunya dengan tarian yang membelalakkan mata. Semua orang sangat menikmati keindahan penampilan dari penyanyi hebat ini.


Akan tetapi tariannya itu memberi Darius pandangan yang kurang sehat.


"Apa gadis ini tidak keberatan bila pesona tertingginya dilihat banyak orang?" gumam Darius.


Nyanyiannya sungguh merdu, tetapi tarian serta pakaian yang kurang sopan (bagi Darius) memberi nilai negatif terhadap padangan mata orang lain. Itulah penilaian Darius terhadap Rina. Nampak di hadapan Mona, orang yang telah menolongnya berpaling pandang.


"Ada apa kak? kenapa kakak buang muka seperti itu?" Mona merasa kalau Darius tidak senang melihat idol yang bernyanyi diatas panggung.


"Aku suka suaranya tapi tidak pakaian dan tariannya. Dia menodai mataku," balas Darius.


Mona agak tersentak, baru kali ini ada orang yang tidak terpesona dengan penampilan anggun dari Sang bidadari Invandara. Ini agak aneh baginya. Menurutnya, tidak ada yang salah dari penampilan idol favoritnya itu. Memang pakaiannya agak terbuka, tapi itu sesuai dengan fashion terkini. Tidak terhitung golongan pakaian yang terlalu terbuka.


Pakaiannya hanya menampilkan bagian pundak, bahu, sedikit bagian perut dan sedikit belahan dada (menurut Mona) itu pakaian yang biasa dilihat. Mona masih memperhatikan Darius yang berpaling pandang.


"Kakak ini benar-benar serius dengan ucapannya," gumam Mona.


NGING!!! (bunyi keras alarm peringatan darurat) memecah keramaian konser.


Nuansa konser seketika hening. Sorak meriah para penonton berhenti. Mendadak alarm peringatan darurat kota Tideo menggema di telinga.


"Darurat! sesosok monster Hydra memasuki kota, diharapkan para penduduk segera menuju ke zona evakuasi. Saya ulangi, keadaan darurat! dimohon agar para penduduk segera menuju ke zona evakuasi, monster Hydra telah memasuki kota."


Pengumuman darurat dari pihak keamanan kota Tideo. Ini langsung menimbulkan kepanikan di tempat konser.


Para pasukan keamanan kota langsung turun memberi arahan evakuasi. Penduduk kota berlarian menyelamatkan diri. Pasukan keamanan berusaha mengevakuasi ribuan penduduk secepatnya. Suara dentuman langkah berat terdengar, suaranya semakin mendekat. Langkah berat itu menimbulkan guncangan yang membuat heboh seluruh kota.


"Semuanya! percepat langkah, cepat pergi menuju zona evakuasi!" Teriak salah satu pasukan.


Bayang-bayang besar mulai nampak. Sosok monster ular berkepala tiga muncul. Amukan monster itu merobohkan gedung-gedung besar disekitar area konser.


"Sial, dia sudah sampai duluan. Para penduduk belum seluruhnya diamankan," ujar salah seorang prajurit.


Kendaraan-kendaraan berlapis baja tiba di lokasi. Mereka memberi tembakan perlindungan.


"Cepat amankan para penduduk. Akan kami tahan dia selama mungkin," ujar seseorang didalam tank kepada prajurit yang mengevakuasi penduduk, lewat alat komunikasi.


"Baik, terima kasih atas bala bantuannya. Semuanya, ayo bergerak cepat menuju tempat evakuasi!"


Evakuasi kembali berlanjut. Mona berhasil tiba di zona evakuasi, ia menghela nafas sejenak. Lega sekali perasaannya setelah sampai di zona yang aman.


"Syukurlah, aku bisa sampai," ucapnya.


Zona evakuasi begitu ramai. Mona menebar pandang ke sekitar, memastikan Darius ada di zona aman ini. Tidak ia temukan tanda-tanda keberadaan Darius. Rasa resah timbul di hatinya, ia takut bila pemuda rupawan yang menyelamatkannya tidak sempat terevakuasi.


"Semoga kak Darius sudah berada di tempat yang aman," ucapnya, mengingat ada dua zona evakuasi.


Evakuasi selesai, para pasukan siap untuk menyerang monster yang memasuki kota. Helicopter dari stasiun berita meluncur ke lokasi munculnya monster, menayangkan peristiwa itu secara live. Banyak pasang mata yang melihat tayangan itu dilayar besar yang terpapang di sekitar area evakuasi.


"Hari ini, terjadi lagi penyerangan monster di negeri Invandara. Tepatnya di ibukota Invandara yang terletak di kota Tideo. Seperti yang kita lihat, para pasukan pertahanan kota yang dipimpin oleh Captain Lawrence Frost tengah bersiap untuk menyerang monster yang memasuki kota ini. Saya Lizzi Crown melaporkan dari tempat kejadian."


Reporter dari salah satu stasiun televisi terkenal di Invandara melaporkan kejadian tersebut. Disaksikan oleh seluruh penduduk Invandara.


"Kerahkan seluruh pasukan!" perintah Captain Lawrence Frost.


Semua pasukan bergerak sesuai perintah. Pasukan penembak jitu, pasukan penyihir, pasukan berpedang, pasukan bersenjata berat, pasukan penembak roket dan seluruh kendaraan tempur baik yang di darat maupun di udara, semua bergerak sesuai perintah. Mereka sudah berada di posisi masing-masing dan siap menyerang.


"Mulai penyerangan!" perintah Captain Lawrence.


Pasukan penyihir elemen air mengawali penyerangan. Gelombang air raksasa mereka hantamkan ke monster Hydra. Disusul oleh pasukan penyihir elemen listrik meluncurkan energi listrik ke arah monster yang sudah basah oleh air. Sengatan listrik yang semakin menjalar karena air, berhasil membuat Hydra mengerang kesakitan.


Pasukan penembak jitu juga meluncurkan serangan, bersamaan dengan pasukan berpedang. Baju zirah pasukan berpedang resistance terhadap listrik, jadi mereka tidak akan ikut tersengat. Meriam dan roket dari seluruh kendaraan baja, telah berhasil memukul mundur monster itu.


Serangan itu semakin mengobar amarah Hydra. Monster ular berkepala tiga itu menyemburkan cairan racun ke segala arah. Gedung-gedung serta lingkungan sekitarnya meleleh dalam hitungan detik. Lantaran kondisi tersebut, para pasukan penyerang jarak dekat terpaksa ditarik mundur. Mereka hanya bisa mengandalkan penyerangan jarak jauh untuk menghindari racun tersebut.


Penyerangan jarak jauh pun berakhir kegagalan. Semua kendaraan baja musnah terkena racun mematikan dari Hydra.


"Para pasukan keamanan kota sedang mengalami masa sulit. Kendaraan perang berhasil dihancurkan," ujar Si reporter yang menayangkan peristiwa itu.


Sudah dua puluh menit..


Pasukan keamanan semakin terdesak. Para pasukan penyihir sudah kehabisan tenaga dan pasukan penembak jitu sudah kehabisan amunisi. Jika terus begini, maka monster itu bisa memasuki pusat kota.


"Cih, kita tidak punya pilihan lain," decah Captain Lawrence.


ia memanggil salah satu dari prajuritnya.


"Hubungi pihak K.A.O, katakan kepada mereka untuk mengirimkan Knight Class S untuk membantu kita."


Sang prajurit melaksanakan perintah pemimpinnya. Sementara itu, mereka harus menahan monster itu sampai bantuan datang.


"Captain, mereka bilang kita harus bertahan dua menit. Mereka akan segera mengirimkan bantuan," ujar Si prajurit.


"Itu cukup singkat, kita harus tetap bertahan. Jangan biarkan monster itu memasuki pusat kota."


Para pasukan keamanan terus menyerang. Hydra melempar salah satu tank ke arah Captain Lawrence. Untungnya, Captain mampu menghindar. Amukan monster ini semakin menjadi-jadi. Pasukan keamanan tidak bisa menahannya lebih lama.


Secara mengejutkan, sebuah tinju keras mendorong mundur Hydra. Disusul dengan tebasan pedang yang makin mendorong jauh monster itu.


"Padahal itu tebasan terbaikku, tapi monster itu tidak lecet sama sekali," ujar orang yang menebas.


"Kalian datang juga, terima kasih karena sudah menolong," ucap Captain Lawrence.


"Anda tidak perlu berterima kasih Captain. Kami melakukan ini karena tanggung jawab yang sama," balas orang yang mendaratkan tinju ke monster Hydra.


"Aku Sebastian Field, Knight Class S. Sword Master."


"Aku Olson Disha, Knight Class S. Dangerous Boxer"


...ucap kompak mereka berdua....


Knight Class S mulai menyerang. Kekuatan dan kemampuan mereka berbanding jauh dengan para pasukan keamanan. Hydra dipukul mundur hingga menjauh dari pusat kota. Kekuatan mereka berhasil membuat roboh ular besar itu.


"Kuharap kau menyukai hidangan penutup mu ini, ular bodoh," ledek Bastian.


"Tentu, tinjuku ini akan menjadi hidangan yang mematahkan taring mu," ucap Olson.


Seluruh penduduk Invandara menyaksikan kehebatan mereka berdua.


"Wah.., kedua Knight itu menakjubkan."


"Mereka mampu melawan monster ganas itu berdua saja, sangat sulit dipercaya."


"Ayo kita dukung mereka, mereka pasti akan mengalahkan monster Hydra itu."


Ungkapan kagum banyak terlontarkan kepada mereka. Semangat juang membara memompa adrenalin mereka, hingga ke puncak tertinggi.


"Mereka berdua hebat," tukas Mona yang melihat kehebatan kedua Knight itu.


"Monster Hydra berhasil didesak. Sungguh luar biasa, kedua Knight Class S sungguh mengagumkan, ini sudah berarti akhir bagi Hydra perusak itu," ucap reporter.


Sebastian dan Olson berhasil melukai Hydra dengan usaha maksimal mereka. Tebasan beruntun dari Sebastian merontokkan sisik Hydra yang keras.


"Sebas, akan lebih baik jika aku yang menghancurkan sisik keras monster itu. Siapkan pedangmu untuk menebasnya ketika sisiknya sudah hancur," usul Olson.


"Rencana yang bagus, ayo kita lakukan."


Sebastian memejamkan mata, berfokus untuk memusatkan energi ke bilah pedang di genggamannya. Menjadikan itu sebagai serangan maksimal yang dapat menembus apapun. Olson tengah berusaha untuk merontokkan sisik di area leher Hydra. Tinju Gorila miliknya menghancurkan semua sisik di leher Hydra, kini celah bagian leher ular besar itu sudah terbuka tanpa pertahanan.


"Selesai sudah.."


SRIIING....!


Tebasan Sebas memenggal kepala Hydra dengan mulus. Seluruh warga Invandara yang menyaksikannya takjub dan senang. Akhirnya para Knight berhasil mengalahkan monster itu. Penduduk kota Tideo bisa bernafas lega.


"Mereka sangat hebat, dengan adanya mereka kita bisa merasa aman."


"Untunglah, kota Tideo adalah pusat K.A.O di Invandara."


Sanjungan begitu banyak penduduk berikan kepada kedua Knight yang berjuang demi mereka. Sementara itu, Olson membantu Sebas yang hampir pingsan. Ia terlalu banyak mengerahkan tenaga saat meluncurkan serangan tadi.


"Kau terlalu memaksakan diri, sini kubantu. Usap darah yang keluar dari hidungmu itu," ucap Olson.


Sebastian segera membersihkan darah yang keluar dari lubang hidungnya. Kepalanya juga pusing karena energi yang ia keluarkan melampaui batasannya.


"Kau juga, lagi-lagi kau menghancurkan dirimu sendiri," tukas Sebas, menyadari lengan kanan Olson sudah penuh darah. Tubuh Hydra jauh lebih keras dari perkiraan Olson.


"Mau bagaimana lagi, pengorbanan ini harus kulakukan. Kita tidak boleh membiarkan media sampai tahu kondisi kita."


Lekas Sebastian dan Olson menutupi kondisi mereka. Mereka berdua bersikap seperti biasa dengan senyum keberhasilan. Menutupi luka berat yang mereka dapatkan dari pertarungan tadi.


"Tunggu dulu, Hydra itu masih bergerak," tukas reporter.


Semua orang menyaksikan hal itu. Tubuh Hydra bergerak dan beregenerasi. Kepala Hydra tumbuh kembali bahkan berlipat ganda. Kini ada enam kepala yang tumbuh pada tubuh monster ular itu. Ini diluar perkiraan. Sebas dan Olson mengira kalau mereka berdua sudah benar-benar membunuh monster itu, tapi ternyata...


"Ini tidak bagus, kondisi ku masih buruk. Aku bahkan tidak bisa mengayunkan pedangku meski hanya sekali," batin Sebastian.


"Cih, menjengkelkan. Bagaimana mungkin ada monster yang hidup kembali setelah terpenggal? kedua tanganku sudah tak bisa lagi memukul. Bagaimana ini? apa yang harus kulakukan?" Olson kebingungan.


Para penduduk kembali resah. Mereka kaget mengetahui bahwa monster itu mampu beregenerasi. Hydra semakin mengamuk, ia menghancurkan beberapa Gedung besar hanya dengan satu kali semburan. Kedua Knight itu tidak dapat bertarung lagi, para penduduk yang menyaksikan tidak tahu akan hal itu.


Kibasan ekor Hydra menghempas tubuh kedua Knight itu. Hal ini semakin memperbesar rasa takut penduduk kota Tideo. Sisik Hydra semakin mengeras hingga menjadi kristal. Pertahanannya jadi berlipat ganda. Situasi jadi semakin sulit.


"Sial," ucap Olson yang bangkit setelah menghantam dua rumah didekatnya.


Ia lekas bangun dan menolong Sebas yang tengah pingsan. Hydra bersiap untuk serangan kedua. Kali ini serangannya terlihat jauh lebih kuat. Ia mengumpulkan semua racunnya yang mematikan hingga berwujud menjadi bola raksasa. Tak bisa dibayangkan jika racun sebesar itu meledak di kota ini. Sudah pasti, segala sesuatu di kota ini akan meleleh.


"Apa yang harus kulakukan?" Olson merasa kesal karena tidak berdaya.


Hydra meluncurkan serangan dahsyatnya ke arah Olson. Semua orang yang melihat itu menutup mata rapat-rapat. Mereka tidak sanggup untuk melihatnya. Olson hanya bisa pasrah dengan keadaan, ia melindungi Sebas yang tak sadarkan diri.


"Inikah akhir hidupku?" batin Olson.


SRING...! (terdengar suara tebasan)


Tiba-tiba saja semburan yang Hydra terpantul ke arah lain. Ledakan dari semburan itu teralihkan ke area kosong yang jauh dari pusat kota. Olson membuka matanya perlahan. Ia melihat sosok berzirah dengan pedang menyala dihadapannya. Sosok itu berdiri membelakangi dirinya.


"Kau punya jiwa ksatria yang kuat, itu adalah hal yang kusukai," ucap sosok itu.


"K..kau... siapa?" tanya Olson.


"Namaku Darius, jika kau ingin bertanya siapa diriku, akan ku jawab nanti. Sekarang, aku harus membersihkan ular sawah ini," jawab Darius.


Para penduduk yang menyaksikan lewat layar raksasa di dekat pusat kota pun terbelalak. Mereka tidak menyangka bahwa ada orang yang mampu memantulkan serangan sedahsyat itu.


"Seseorang muncul dan memantulkan serangan dahsyat dari monster Hydra. Apakah dia salah satu dari Knight Class S?" tanya reporter, yang menayangkan kejadian ini secara langsung.


"Dia siapa? kuat sekali."


"Dia memakai zirah dan pedang yang terlihat berwibawa, pasti dia Knight Class S. Tapi kenapa penampilannya berbeda sekali? atau mungkin dia Knight dari cabang K.A.O yang lain?"


"Semburan sedahsyat itu bisa dipantulkan..., yang benar saja"


Para penduduk yang menyaksikan kejadian ini sampai lupa untuk berkedip. Mona yang mengetahui sosok yang muncul di tempat kejadian itu.


"Kak Darius," ucap Mona seraya tercengang.


"Kau mengenalnya?" tanya salah satu penduduk.


" eh.. iya, dia orang yang menolongku tadi siang," jawab Mona.


Sementara itu, di tempat kejadian...


Darius mengarahkan ujung pedangnya ke arah musuh. Sebagai tanda menantang.


"Tak kusangka, aku akan bertemu makhluk sepertimu lagi," ucap Darius.


Hydra mengaum keras di depan Darius. Energi yang keluar dari tubuh Hydra itu, dapat Darius rasakan dengan seksama.


"Kekuatannya kecil? ini sungguhan atau hanya sekedar akal busuk makhluk itu (Hydra) saja supaya aku lengah?" Keheranan timbul dalam pikirannya. Ternyata Hydra yang ada didepannya memiliki energi kekuatan yang lemah (bagi Darius).


"Mengapa semua pasukan keamanan dan ksatria yang melawan monster ini bisa dibuat kewalahan oleh monster yang lemah seperti ini?" tanya Darius dalam batin.


"Mungkin saja Hydra ini hanya pura-pura lemah, aku yakin. Monster ini pasti punya jebakan," gumamnya.


Nyala api pada pedang yang digenggamnya semakin terang. Darius mengambil posisi kuda-kuda siap menyerang. Ia berkonsentrasi untuk menambah energi elemen panas pada pedangnya. Api, lava dan magma, ia gabungkan menjadi satu perpaduan elemen panas yang mematikan.


"Rasakan ini.."


Darius mengayunkan pedangnya...


SRING...!!!


Sekejap, Hydra raksasa itu terpotong lalu berubah menjadi abu lantaran serangan elemen panas yang maksimal. Darius sendiri juga kaget, ternyata Hydra yang ia hadapi memang lemah. Berbeda-beda jauh dengan yang ia lawan di dimensi gelap.


"Monster Hydra, berhasil dimusnahkan dengan sekali serang. Ini adalah rekor terhebat sepanjang sejarah. Baru kali ini, ada yang mampu mengalahkan monster kuat dalam hitungan detik. Saya Lizzi Crown, melaporkan dari tempat kejadian dan saya sangat takjub dengan apa yang saya saksikan."


Penduduk bersorak senang. Pahlawan tak dikenal dan tidak mereka ketahui asalnya telah berhasil menyelamatkan kota Tideo yang mereka sayangi. Olson hanya dapat terpaku diam, menyaksikan kejadian itu di depan matanya.


"Ini.. gila.." ucapnya terbata-bata.


Mona tidak bisa berpaling ke arah lain setelah melihat aksi Darius yang mengejutkan. Ia tidak menyangka bahwa pria rupawan yang ia anggap keren itu ternyata sekuat ini. Ia menatap kagum Darius dari layar besar dihadapannya.


"Kak Darius..., k.. kau sebenarnya siapa?" tanya Mona dalam hati.


Bersambung....