
Dua hari lamanya...
Pertarungan tiada istirahat ini masih berlanjut. Belum ada salah satu dari mereka yang tumbang. Ksatria yang tak ingin melepas keinginannya untuk keluar dari dimensi gelap dan Hydra dengan tiga inti tubuh dewi didalam tubuhnya, pertarungan antara mereka berdua masih belum mendapatkan seorang pemenang.
"Ular yang keras kepala. Ternyata meski aku mampu menyerap dan melipat gandakan serangan yang kuterima, namun pelindung kristalnya menetralkan segala daya hancur dari serangan ku. Ini menyusahkan." Keadaan dari kedua belah pihak sudah terluka berat.
Hydra sudah tidak mampu meregenerasi kepala-kepalanya yang telah hancur. Sekarang hanya terersisa dua kepala. kristal yang menyelimuti tubuh Hydra perlahan rontok. Darius pun juga sama. Kaki kiri dan tangan kanannya patah. Regenerasi tubuhnya yang masih lamban, tidak mampu memulihkan lukanya. Mereka berdua sama-sama tidak mampu untuk bergerak lagi.
"Mundurlah! dengarkanlah perkataan ku ksatria bodoh!" Bentak Pamella. Ia gelisah seraya menggigit jari. Kekhawatiran akan kehilangan kesempatan untuk kembali ke wujud sempurna, mulai menghantui pikirannya.
"Menyebalkan sekali, aku hanya bisa menyaksikan kebodohan manusia itu dari sini. Andai aku bisa pergi ke sana." Kekesalan Pamella memuncak. Dalam kondisi seperti itu, Darius masih memaksakan diri untuk bertarung. Pamella makin kesal melihat itu.
"Drake..., aku akan segera kembali bertemu denganmu," ucap Darius dengan nada lirih. Darius mencoba menggunakan kekuatan Pamella yang ada ditubuhnya. Dengan tangan penuh darah, ia menciptakan sebuah pedang dari element lahar. Posisi siap menyerang telah ia ambil. Dengan satu tangan dan satu kaki, ksatria ini bertekad kuat untuk mengalahkan lawan.
Racun berwujud cairan, Hydra semburkan dalam jumlah besar. Darius tidak dapat menghindari serangan itu sepenuhnya. Bahu kirinya terkena racun. Masih ada tenaga yang bisa digunakan untuk melesatkan satu serangan lagi. Pedang lahar membara ia ayunkan. Seluruh tenaga yang tersisa ia manfaatkan untuk serangan ini.
"Akulah yang akan memenangkan pertarungan ini!" Teriak lantang Darius. Serangan terakhir telah ia luncurkan, tebasan hebat itu mengenai Hydra. Serangan itu mengakibatkan ledakan dengan radius yang cukup luas. Sungai hitam sampai mengering karenanya. Semua bagian tubuh Hydra bertebaran ke segala penjuru.
"Apakah aku sudah menang?" tanya Darius dalam batin. Setelah ledakan dahsyat berakhirnya, nampak setengah tubuh Hydra yang hangus. Sebagiannya lagi telah hancur. Darius melukis senyum di wajah atas kemenangannya. Tidak sia-sia setiap darah dan keringat yang ia keluarkan. Dengan begini kebebasan akan segera ia dapat.
Darius mengangkat tinggi pedangnya. Ujung pedang ia arahkan ke langit suram dimensi gelap....
"DRAKE...!!!, kakak mu akan segera pulang. Darius Hunt... akan kembali ke Invandara!" teriak lantang Darius, merayakan keberhasilan.
Tiga cahaya dengan kilauan warna yang berbeda datang muncul dari tubuh Hydra yang telah mati. Darius menyadari kilaun cahaya tersebut. Kaki patahnya berjalan payah mendekati cahaya yang sudah menyilaukan pandangannya. Tiga inti tubuh Pamella telah berhasil didapatkan. Lengkap sudah semua yang ia butuhkan untuk mencapai kebebasan.
"Akhirnya..." Ucap Darius lirih. Setelah berhasil meraih ketiga inti yang ia cari, Darius hilang kesadaran. Rasa sakit, lelah serta luka telah menumbangkan badan tegap ksatria muda ini. Ia roboh disamping Hydra yang sudah jadi bangkai.
Perasaan hatinya tenggelam dalam rasa senang. Dalam pingsannya, ia membawa rasa senang itu bersama dengannya...
...—/—/—...
Terbangun di tempat yang berbeda. Pikiran Darius langsung dipenuhi rasa bingung, mengapa ia bisa berada di tempat seperti ini. Seingatnya, ia berada di area sungai hitam. Sehabis menghadapi Hydra raksasa, tapi mengapa sekarang ia berada di hutan lebat dengan pepohonan berdaun merah?
"Ini dimana? apakah Dewi Pamella yang memindahkan aku kemari?" tanya Darius. Matanya menebar pandang ke sekelilingnya.
Seorang wanita yang membawa bayi lewat tepat didepan Darius. Wanita itu berlari kencang, dibelakangnya ada sekelompok prajurit yang tengah mengejar wanita itu. Dari penampilan dan senjata lengkap yang mereka bawa, Darius yakin kalau para prajurit itu punya niatan buruk.
"Mereka prajurit dari kerajaan mana? mengapa mereka mengejar wanita yang tidak berdaya?" tanya Darius. Ada sedikit rasa kesal terpatri di hatinya. Tidak sepatutnya seorang prajurit hendak menyakiti seorang wanita tanpa daya. Apalagi wanita itu sedang membawa bayi, itu semakin merusak citra seorang prajurit sejati.
Darius segera mengambil tindakan. Ia memukul salah satu dari prajurit itu. Tangan Darius malah menembus prajurit itu, seolah para prajurit itu adalah hantu. Ia juga berusaha menghadang jalan para prajurit yang sedang mengejar wanita itu. Tetapi mereka malah menembus tubuh Darius. Wujud mereka maya. Sama sekali, Darius tidak dapat menyentuh mereka dan mereka tidak menyadari keberadaan Darius sendiri.
"Apa yang terjadi? mengapa aku tidak dapat menyentuh mereka?" Darius bertanya-tanya. Ia berlari, menyusul para prajurit yang itu. Mereka berhasil memojokkan wanita yang mereka kejar diujung jalan yang ternyata adalah jurang yang dalam. Mereka menodongkan tombak tajam mereka ke arah wanita itu.
"Menyerahlah!, Serahkan dirimu dan anak itu kepada raja kami sekarang juga!!!" Bentak salah seorang prajurit.
Si wanita melihat wajah bayinya sejenak lalu menatap tajam prajurit itu. Ia mengibaskan sedikit rambut merahnya lalu menarik nafas...
"Kalian akan membayar atas perbuatan kalian!, anak ini akan menjadi kepunahan bagi kalian!" Bentak lantang si wanita. Kemudian ia menjatuhkan dirinya bersama dengan bayi itu ke jurang. Darius terkejut bukan main.
Masih menjadi tanda tanya bagi Darius terkait kejadian yang ia lihat ini. Apa maksud semua ini? dan siapa wanita itu?
"Apa aku sedang bermimpi? ini pasti mimpi, kan?"
Dalam hatinya, ia merasa terhubung dengan wanita asing yang barusan dilihatnya. Tapi kenapa ia merasakan sesuatu seperti itu terhadap orang yang tidak ia kenal?
Ditengah kebingungan, cahaya terang datang menerpa...
"Darius..."
Suara yang memanggil namanya muncul bersamaan dengan cahaya itu. Suara tanpa sumber itu terus memanggil namanya.
Perlahan cahaya yang menyilaukan redup. Darius membuka matanya. Ia mendapati dirinya terbaring di ruang altar dengan Pamella disisinya. Darius bangun dari posisi tidur, ia melihat semua lukanya telah sembuh. Tulang-tulang yang patah telah pulih.
"Berapa lama aku pingsan?" tanya Darius.
"Dua minggu, ku ucapkan terima kasih karena telah membantuku," jawab singkat Pamella.
Terasa ada yang berbeda dengan badan tegapnya, namun hal itu tak dihiraukannya. Pamella memberinya jamuan berupa daging panggang dan minuman, terlihat mewah di mata Darius. Tapi...
"Ini daging monster, kan? bagaimana cara mu mengolahnya menjadi matang?" tanya Darius, agak gugup. Baru pertama kali di dimensi ini ia melihat hidangan ala kerajaan. Yang lebih mengejutkan lagi adalah semua daging yang ada di depannya telah matang dibakar.
Ia masih ingat ketika berkali-kali mencoba mengolah daging monster menjadi matang dengan proses pembakaran. Tapi semua itu sia-sia. Daging monster tidak terpengaruh oleh api dan sekarang dihadapannya ada daging monster yang matang. Ini menimbulkan rasa kejut terhadapnya.
"Daging monster di dimensi ini hanya bisa terpengaruh oleh api sihir. Membakarnya dengan api biasa hanya akan berujung sia-sia," jawab singkat Pamella sambil memberikan segelas minuman kepada Darius.
Minuman manis yang begitu fantastis di lidah dan tenggorokan. Sudah sangat lama, Darius tidak merasakan minuman seperti ini. Daging panggang nya pun lezat. Lidah Darius serasa hidup kembali setelah sekian lama memakan makanan mentah. Saat ini, ia serasa bagai di surga.
Meskipun hanya sekedar jamuan saja, bagi orang yang bertahan hidup di dalam dimensi suram selama bertahun-tahun lamanya dengan memakan sesuatu yang mentah dan tak layak, baginya ini adalah berkah yang turun dari langit. Lahap sekali Darius menyantap semua daging itu.
"Wah..., nikmat. Perutku sampai penuh," ucap Darius, disusul sendawa besar.
"Sudah kenyang jagoan?" tanya Pamella sambil berkacak pinggang.
"Terima kasih atas kebaikan mu. Padahal aku adalah orang asing, tapi kau begitu baik padaku," jawab Darius.
"Kau ini bicara apa? kau sudah bekerja untukku, jadi sudah sewajarnya kau mendapatkan imbalan. Aku akan menepati janjiku," ujar Pamella.
Darius sudah menantikan ini. Pamella mengajaknya keluar dari menara. Disana, Pamella menunjukkan wujud sempurnanya. Tubuh Pamella membesar, tingginya pun jauh melebihi menara hitam. Sayap merah menyala ia kepak kan, menimbulkan hempasan angin kencang. Tanduk dengan lekuk sempurna muncul di kepala Pamella, api hitam menghiasi keanggunan tanduknya.
Bagai semut dan gajah. Seperti itulah perbandingan antara Pamella dan Darius saat ini...
"Wah..., kau ini Dewi atau monster?" sontak kagum Darius.
"Tidak sopan, aku ini Dewi sungguhan. Hanya saja aku berbeda dari yang lain dan lebih mengerikan." Jawaban singkat dari Pamella. Dewi penguasa dimensi gelap ini, menyerahkan sebagian kecil kekuatan dari inti tubuhnya kepada Darius. Ini adalah wujud dari rasa terima kasihnya.
"Aku juga akan memberi tahu dirimu satu hal sebelum kau pergi," ujar Pamella.
"Apa itu?"
"Darius, kau bukanlah manusia seutuhnya sejak kau lahir." Tidak diragukan lagi, tentu ini mengundang sontak kaget dalam diri Darius.
Pamella menjelaskan muasal dari kekuatan yang Darius miliki adalah dari dirinya sendiri dan sudah ada sejak lahir. Dengan artian bahwa kedua orang tua Darius bukanlah orang biasa, bahkan bukan manusia. Darius masih ingin menyangkalnya, tapi setelah melihat sendiri bukti nyata terkait kekuatan yang ia miliki, rasa percaya terhadap perkataan Pamella mulai ada.
"Aku tidak tahu kau hasil dari perkawinan dari makhluk apa, yang pasti kau langka. Selebihnya bisa kau cari tahu sendiri." Jelas Pamella, portal untuk keluar dari dimensi gelap pun ia buka.
Ada rasa bimbang dihati Darius terkait tentang siapa dirinya. Setelah sampai di Ezius, Darius akan langsung mencari tahu tentang ini.
"Raih kebebasan mu, ksatria. Kau bisa pulang ke tempat asalmu sekarang." Pamella mempersilahkan.
Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum hendak masuk ke portal. Sempat Darius menoleh kebelakang, melihat senyuman Dewi yang telah membantunya. Darius membalas senyuman itu.
"Sekali lagi, terima kasih," ujar Darius.
"Tidak, akulah yang berterima kasih," balas Pamella.
Darius memasuki portal yang akan membawanya pulang. Tak sabar lagi dirinya ingin menemui keluarga dan teman-temannya. Mereka pasti sangat senang ia kembali.
"Yang mulia raja, ratu, Drake, teman-teman. Maaf, membuat kalian menunggu lama.."
Bersambung....