
Darius sudah bertatap muka dengan lawan yang akan ia hadapi. Lawannya tersenyum menyeringai ke arahnya. Itu menandakan rasa percaya diri yang tinggi. Darius harap, lawan tandingnya kali ini akan lebih tangguh dari yang kemarin.
"Jadi kau seorang Hunt?" tanya Darius. Setelah mendengar nama lawannya dari pengawas uji tanding.
"Benar sekali, namaku Evoryo Hunt. Kau sendiri juga seorang Hunt. Tapi menjijikan," balas Evo tanpa tata krama.
Darius langsung mengendus-endus tubuhnya. Khususnya pada bagian ketiak. Dia mengira kalau yang dimaksud "menjijikkan" oleh Evo adalah bau badannya.
"Oh..., ini karena aku terlalu lama berdiam di lobby. Disana begitu panas, sehingga badanku menjadi bau karena keringat. Maaf, jika itu mengganggu mu," ucap Darius.
"Bukan itu yang ku maksud, bodoh!" bentak Evo, emosi.
"Ha? lalu apa?"
Darius jadi bingung dibuatnya...
Pengawas uji tanding mempersiapkan mereka berdua. Menanyakan kesiapan mereka untuk bertanding.
"Pihak kanan, siap?" tanya pengawas kepada Darius.
"Siap," balas Darius.
Pengawas beralih pandang ke arah Evo...
"Pihak kiri, siap?"
Evo menjawab dengan anggukan.
"Dengan ini, uji tanding dimulai!"
Dor! (suara tembakan, tanda dimulainya pertandingan).
Evo meluncurkan serangan sihirnya tanpa ragu dan berhasil mengenai Darius. Ketika ia berpikir bahwa dia telah berhasil memberi luka pada lawannya, rupanya serangan itu tak meninggalkan luka sama sekali pada tubuh Darius. Bahkan lecet saja tidak.
"Keras sekali, dia," batin Evo.
Ia bersiap untuk serangan lanjutan. Sementara itu, Darius memperhatikan kekuatan sihir Evo dengan teliti.
"Sihir ini, mirip sekali dengan Drake," gumam Darius.
Sebuah serangan lanjutan kembali mendatangi Darius. Untuk kedua kalinya, serangan itu tidak memberikan reaksi apapun terhadap Darius. Ia tidak terluka sama sekali.
"Haos Veranndal, rupanya," batin Darius.
Sihir yang gemerlap bagai bintang di langit malam, Haos Veranndal. Sihir yang diciptakan pertama kali oleh Drake Hunt pada masa perang melawan Dark Lord.
Sihir yang menjadikan partikel cahaya sebagai penghasil daya hancur utama. Dengan menghubungkan satu partikel cahaya ke partikel cahaya yang lain. Setiap menyambungkan partikel cahaya satu ke yang lain, daya hancur dari sihir ini akan meningkat. Semakin banyak partikel cahaya yang dihubungkan, semakin besar pula kekuatannya.
"Hebat sekali kau, bisa menahan serangan berat dariku. Meskipun kau bisa menahannya, tapi rasa sakitnya pasti kau rasakan, bukan?" ucap Evo, penuh rasa percaya diri.
"Orang ini percaya diri sekali, padahal serangannya tadi hanya serasa angin lewat," batin Darius, keheranan.
Kembali Evo hendak melakukan serangan. Kali ini, ia membentuk partikel cahaya menjadi seperti piringan tajam dengan ukuran yang sangat lebar. Piringan itu berputar bagai gergaji yang siap membelah apapun yang ia sentuh. Evo mengarahkan serangan itu kepada Darius.
"Coba tahan ini jika kau bisa!"
Evo meluncurkan serangannya. Jangkauan area serangannya sangat luas. Piringan cahaya itu melesat kencang ke arah Darius. Raut wajah Evo memperlihatkan rasa puas, ia yakin bahwa serangannya kali ini mampu menumbangkan lawannya.
Raven yang menyaksikan kejadian itu, seketika panik. Ia ingin sekali mencegah serangan itu, namun jika ia melakukannya, maka pertandingan ini akan batal dan semua orang bahkan media akan mempertanyakan kebijakan Raven sebagai Direktur dan hubungan antara dia dan Darius. Ia hanya bisa duduk diam dan menyaksikan.
"Sial!!!!" teriak Raven dalam batin.
Serangan Evo berhasil mengenai Darius dan menimbulkan efek cahaya yang menyilaukan. Ia tersenyum puas melihat itu.
"Aku berhasil, sekarang Hunt gadungan itu telah menerima akibatnya," ucap Evo, girang.
Disaat ia merasa cukup puas dengan serangan hebatnya. Nampak lah pemandangan yang tak pernah ia duga. Wajah senang Evo langsung berubah 180° menjadi kaget.
"B..bbbb...bbbb..bb.. " yang ingin Evo katakan adalah "Bagaimana mungkin?" tapi lidahnya sudah terlalu kelu untuk bicara.
Darius mencengkeram piringan cahaya itu hingga pecah dan lenyap. Tatapan tajam Darius, langsung membuat Evo tersentak.
"Serangan sihir yang kau luncurkan padaku, bermaksud untuk membunuh, bukan?" tanya Darius dengan tatapan mencekam.
Evo yang sudah terdesak hanya dapat gemetar di tempat. Mulai dari ujung kepala hingga kaki, semuanya mengeluarkan keringat dingin lantaran ketakutan. Rasa percaya diri Evo sebelumnya, sudah hilang entah kemana.
"Aku sudah melalui berbagai macam pertarungan. Jadi aku bisa merasakan hasrat didalam serangan setiap lawan ku. Serangan mu tadi, bermaksud untuk membunuhku, siapa orang yang sudah mengirim mu untuk melakukan ini?!" bentak keras Darius.
Evo langsung panik dan takut harus berbuat apa. Dengan nekat, ia mengeluarkan sihirnya secara sembarangan. Hingga membentuk partikel cahaya besar yang akan menembak, bagai meriam raksasa. Karena panik, energi sihirnya pun jadi tidak teratur. Dapat dipastikan, tembakan sihir tidak akan mulus.
"Ini gawat, dia tak mampu mengatur energi sihir dalam tubuhnya. Jika begini, maka semua orang disini juga akan terkena dampaknya," ucap Ratu Oriery, dengan khawatir.
Jika itu sampai terjadi, maka setiap orang yang terluka dan setiap nyawa yang hilang akibat serangan Evo. Itu semua akan menjadi tanggung jawabnya. Nama bangsawan Hunt pun akan menjadi buruk di mata publik. Lekas, Ratu menciptakan penghalang sihir yang meliputi seluruh bagian stadion, untuk melindungi masyarakat yang berada di stadion beserta para petugas pengawas uji tanding.
Evo yang terlihat seperti orang gila, tetap akan meluncurkan serangannya. Tanpa peduli dengan orang-orang yang berada disekitarnya.
"Dasar Hunt gadungan! menjijikkan! aku merasa sangat jijik, melihat seorang Hunt menjadikan pedang sebagai sahabat bertarungnya. Seorang Hunt sejati adalah Hunt yang selalu memuja sihir melebihi apapun dan menjauhi semua pantangan bangsawan Hunt. Mengemban ilmu lain sebagai pedoman dalam bertarung adalah pelanggaran besar dalam lingkup bangsawan Hunt...," ujar Evo panjang lebar serta penuh hinaan.
"Kau tidak pantas disebut sebagai Hunt. Kau hanya orang yang memanfaatkan nama Hunt untuk tenar. Orang sepertimu, lebih baik mati!"
BLUAARRRR.....!!!!!
Disertai teriakan histeris. Evo menembakkan sihirnya ke arah Darius. Cahaya terang langsung memenuhi stadion, menyilaukan setiap mata.
"TUAN..!!!" teriak Raven.
Tanpa berlama-lama, serangan dahsyat itu berhasil Darius pantul kan, dengan satu tangan. Tembakan cahaya itu terpantul ke atas dan meledak di langit kota Tideo. Kejadian itu langsung mengagetkan banyak pasang mata. Serangan dahsyat dari sihir Haos Veranndal, telah berhasil dipantulkan. Ini begitu mustahil dimata mereka.
Sekarang, Evo terduduk lemas tak berdaya. Setelah melihat serangan hebatnya telah digagalkan. Dia tidak sadar bahwa bahaya besar telah mengincarnya.
"Beraninya kau menghina jalanku sebagai ksatria pedang."
Tanpa disadari, sosok Darius yang penuh amarah sudah berada di belakangnya. Evo gemetar diam, sekujur tubuhnya diliputi rasa takut. Seolah maut sekarang ada dihadapannya. Darius yang marah langsung mengepalkan tangannya. Bersiap untuk meretakkan tengkorak orang yang telah menghina kehormatan ksatria pedang.
"Hunt sejati adalah orang yang mampu menjaga kehormatan Hunt itu sendiri, dengan sikap, tindakan, serta pengorbanan. Bukan dengan menghina dan mencaci maki kehormatan seorang ksatria," ucap Darius, raut wajahnya yang penuh amarah telah membuat Evo kencing tidak pada tempatnya.
Darius mengangkat tinjunya, hendak menghantam Evo...
"Kaulah yang merendahkan martabat Hunt. Orang sepertimu, harus diberi pelajaran..."
Darius melesat tinjunya, langsung menuju tepat ke arah wajah Evo...
"Jangan..."
Tiba-tiba, suara misterius terdengar dan mengusik konsentrasinya. Itu membuat tinju Darius terhenti, tepat didepan wajah Evo. Meskipun tidak menghantam wajah lawannya, tapi dampak dari tinjunya menimbulkan angin yang sangat dahsyat. Hingga mampu memecah penghalang sihir yang dibuat oleh Ratu Oriery.
"Apa-apaan ini? penghalang ku hancur."
Ratu terpelanga hebat.
Beberapa saat kemudian, angin dahsyat itu berhenti. Terlihat di arena, sosok Evo yang terkapar pingsan karena takut dan Darius yang berdiri tegak dengan wibawanya sebagai ksatria. Dengan begini, pemenang pertandingan ini sudah diketahui...
..."Pemenang dari pertandingan ini adalah, Darius Hunt!"...
Seluruh penonton bersorak kagum. Untuk kedua kalinya, ksatria pedang bernama Darius Hunt membuat mereka terpana dengan kehebatannya. Raven merasa terkejut namun lega, mengetahui tuannya baik-baik saja.
Darius yang keluar sebagai pemenang. Melangkah keluar dari arena, sambil memikirkan suara misterius yang ia dengar tadi. Suara itu nampak tidak asing untuknya.
"Tadi itu, apakah itu tadi benar-benar suara mu? Drake," batin Darius.
Bersambung....