Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 55: Sinkronisasi total part 2



Di Grand Mansion saat ini...


Mereka mengantarkan Mara ke lantai atas mansion besar itu, dimana itu adalah tempat tinggal Raven sekaligus sumber dari energi sinkronisasi yang menyiksa Mara.


krieek...


Raven membukakan pintu.


Segera ia mengantar Mara kepada tuannya yang terkapar di atas ranjang dengan raut wajah menahan sakit.


Mara langsung terdiam melihat sumber energi sinkronisasi itu berasal dari Darius yang sedang sakit.


"Dia....., terhubung denganku...," sungguh Mara tak menyangka ini.


Carol yang mendengar ucapan sahabatnya yang terbata-bata itupun juga terkejut.


"Jiika dia terhubung dengan mu, berarti..."


Carol terdiam sebelum menyelesaikan ucapannya karena terlintas sebuah dugaan yang mustahil dipikirannya.


Ia memandangi sahabatnya yang mematung setelah mengetahui asal sinkronisasi misterius itu.


"Lebih baik kalian bahas itu lain waktu, sekarang lakukanlah sesuatu untuk menolong dia (Darius)," ujar Raven menyela.


Lekas Carol bergerak membantu Mara mencari sumber rasa sakit Darius.


"Rasa sakitnya berasal dari dalam tubuhnya sendiri, sekujur tubuhnya adalah sumber rasa sakit itu," ucap jelas Mara.


"Apa? jangan bercanda, bagaimana mungkin?"


"Aku pun menanyakan hal yang sama."


Mara mendeteksi rasa sakit itu dan berusaha menekannya agar tidak membuat Darius semakin kesakitan, namun nampaknya ia tidak bisa.


"Kekuatannya meningkat seiring bertambahnya rasa sakit, apa yang terjadi padanya?" batin Mara sambil tetap berusaha menekan rasa sakit Darius.


Semakin lama, ia merasakan kekuatan Darius makin bertambah besar sampai-sampai ia harus menggunakan segenap tenaganya hanya untuk mendeteksi besarnya kekuatan itu.


Perubahan fisik Darius perlahan semakin terlihat, tanduknya yang merah gelap kini semakin meruncing.


Nampak sebuah garis hitam muncul dipermukaan kulit tangan kanan Darius, garis itu nampak bergerak membentuk sebuah simbol yang bentuknya mirip seperti pedang berbilah dua.


Di keningnya muncul semacam permata merah ruby yang nampak menyala selama beberapa saat lalu redup, bersamaan dengan itu rasa sakit Darius mulai menghilang.


Sinkronisasi didalam tubuh Mara tidak lagi memberikan peringatan, tetapi entah mengapa pernapasan Mara terasa lebih sesak dari sebelumnya.


"Sesak sekali, apa ini karena aku yang terlalu banyak mengeluarkan tenaga?" batinnya.


Tak lama setelah itu Darius pun mulai tersadar, perlahan ia membuka mata lalu melihat ke sekelilingnya dan mendapati banyak orang yang memandang kearahnya.


"Aduh..., kepala ku pening," ujar Darius yang baru tersadar.


Deri dan Seirus mendekatinya dengan rasa penasaran yang amat besar setelah menyaksikan kejadian aneh itu.


"Darius, katakan kepada kami, kau ini sebenarnya makhluk apa? kau selalu bilang bahwa kau manusia tapi kenyataannya kau tidak normal untuk karakteristik seorang manusia."


Seirus tak dapat membendung rasa penasarannya.


"Seirus, tahan dulu pertanyaan mu itu, dia baru saja sadar dan kepalanya masih pusing," tukas Raven.


Seirus pun terdiam.


Untuk sesaat Darius bertanya-tanya dalam batinnya, mengapa Mara dan yang lain berada di dalam kamarnya?


Sesaat kemudian...


Raven kembali dengan segelas air ditangannya.


"Minumlah dulu."


Raven memberikan air itu dan Darius pun meminumnya.


Setelah merasa kondisi Darius sudah lebih tenang, mereka semua berkumpul di ruang tamu untuk membahas tentang apa yang telah terjadi.


Darius dihujani begitu banyak pertanyaan.


"Bisakah kalian bertanya satu-persatu? aku tidak dapat menjawab pertanyaan kalian diwaktu yang bersamaan," keluh Darius.


"Baiklah, kalau begitu jawab pertanyaan ku tadi, kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya Seirus.


"Aku manusia," jawab cepat Darius.


"Manusia mana yang bertanduk dan memiliki fisik yang menyerupai ras naga setengah minotaur?" tanya Seirus, lagi.


"Tidak ada manusia seperti itu," jawab Darius.


"Lalu mengapa bagaimana bisa kau yang mempunyai bentuk fisik seperti itu bisa menganggap bahwa dirimu manusia?"


"Pertanyaanmu rumit sekali!"


Seirus terus bertanya secara beruntun sampai Darius bingung untuk menjawabnya.


"Seirus, kau terlalu mendesaknya," tukas Deri yang melihat itu.


"Kondisi fisiknya berbeda dari segala ras yang ada di dunia, ada kemungkinan besar kalau dia adalah ras baru yang belum pernah ada," ujar Seirus dengan mata yang berbinar.


"Deri, bayangkan jika kita menjadi penemu ras baru? kita pasti bisa jadi terkenal dan mendapatkan banyak uang," lanjut Seirus.


Ini cukup untuk menjelaskan mengapa dia terus-menerus menanyai Darius dengan pertanyaan seperti itu, rupanya yang terlintas di kepalanya adalah uang.


BONK..!


Pukulan teflon logam mendarat tepat di kepala Seirus dan seketika membuatnya pingsan.


Deri melihat teflon itu berada dalam genggaman Raven.


"Maafkan rekanku pak," ucap maaf Deri, sambil menundukkan kepala.


"Disaat seperti ini masih sempat saja memikirkan tentang uang."


Raven geleng kepala menyaksikan tingkah laku bawahannya.


Seirus sudah tidak bisa bertanya lagi, sekarang tiba waktunya bagi Mara dan Carol untuk bicara, sedari tadi mereka berdua memendam sebuah dugaan terhadap Darius.


"Mara, jika kau terhubung dengannya berarti..."


Carol tidak dapat melanjutkan ucapannya...


Mara tahu apa yang Carol ingin ucapkan, meskipun ini mustahil namun Mara harus mengakui itu.


"Dugaan mu tidak salah, tidak bisa dipungkiri bahwa aku dan dia sedarah."


Bersambung....