Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 74: Malam Penyambutan



POV Casterial Mansion.


Rossa mulai merasa bosan menunggu tamu yang tak kunjung datang, dia berprasangka kalau Darius memang tidak berniat untuk datang kemari meski diundang, prasangka buruk ini tak beralasan dan hanya sebatas wujud kebencian Rossa terhadap Darius.


"Aku akan pergi mengambil minum sebentar," ucap Rossa.


"Hei, jangan meninggalkan tempat sebelum tugas selesai, apa kau lupa dengan resiko yang akan kau dapatkan jika melanggar?" tegur Arnoldi dengan tegas.


"Sudah 30 menit tapi tidak nampak batang hidung Si gadungan itu, aku bosan," tukas acuh Rossa yang hendak melangkah pergi.


Arnoldi dengan sihir tanaman merambat menarik paksa Rossa kembali ke posisinya tanpa membuat lusuh gaun yang Rossa kenakan, dengan raut wajah sebalnya Rossa terpaksa menurut, alasan sebenarnya adalah karena Arnoldi adalah seniornya.


"Tetap disini, demi kebaikanmu," ucap Arnoldi.


"Hufft..."


Rossa merengut sebal.


Sebuah mobil datang disaat kebosanan Rossa telah mencapai puncaknya, dari dalam mobil itu keluarlah Darius, Raven, beserta beberapa beberapa komandan Divisi dari K.A.O termasuk Deri dan Seirus.


"Aku tidak menyangka bisa datang kesini, menurut mu dia (Mara) merencanakan hal lain?" tanya Seirus kepada Deri.


"Kita harus waspada, karena berada di kandang mereka," jawab Deri.


Darius bersama dengan Raven menghampiri orang-orang yang menyambut mereka di depan gerbang.


Arnoldi menyambut mereka dengan ramah berbeda dengan Rossa yang setengah hati ketika menyambut.


"Aku Arnoldi Hunt menyambut kedatangan mu yang akan segera menjadi saudaraku. Darius Hunt," sambut ramah Arnoldi seraya menundukkan kepala.


Disamping menyambut, dia juga secara diam-diam menggunakan sihir tanaman untuk memaksa Rossa untuk menunduk demi menghormati tamu.


"Terima kasih atas sambutannya, aku senang dengan keramahan ini, tapi sepertinya kalian bukan orang yang seharusnya menyambut tamu, bukan?" ujar Darius.


Dalam kebangsawanan, yang bertugas menyambut tamu adalah kepala pelayan atau kaki tangan dari kepala pelayan itu sendiri (apabila kepala pelayan sedang sakit), tapi yang Darius lihat didepannya adalah dua orang yang memiliki aura kekuatan sihir yang besar, mereka tidak mungkin seorang kepala pelayan.


"Kami berdua adalah petinggi Hunt, aku adalah Komandan 3 pasukan Hunt sedangkan yang berada di sampingku adalah Lavionate 'Rossa Hunt, ahli sihir panas sekaligus assisten ku, kami diperintahkan Ratu untuk menyambut mu," jelas Arnoldi.


"Dia (Ratu) memerintahkan dua petinggi hanya untuk menyambut ku? aku rasa kali ini dia tulus," batin Darius.


"Silahkan masuk," sambut ramah Arnoldi.


Mereka berdua membukakan gerbang untuk para tamu, mobil tamu di beri arahan oleh salah seorang pengawal agar parkir di tempat yang sudah disediakan.


Arnoldi memandu para tamunya memasuki Casterial Mansion, tampak dalamnya begitu mewah dengan pilar-pilar yang berhiaskan ribuan material berkilau.


"Kau lihat material berkilau yang menghiasi pilar-pilar itu? bukankah itu Scarlet Ruby?" bisik Seirus kepada Deri.


"Ya, tidak salah lagi, itu permata seharga ratusan juta dollar," jawab Deri.


Mereka lanjut masuk ke ruang utama dimana di setiap sudut ruangan itu sudah ada banyak Hunt yang menyambut mereka, terlihat Ratu Hunt berdiri diantara mereka semua dengan segala kewibawaannya.


Ratu berjalan menghampiri tamu yang ia muliakan kehadirannya di kediamannya ini.


"Selamat datang, aku Ratu Oriery Hunt menyambut mu sebagai salah satu dari kami, kuharap semua (kemewahan) yang kukerah untuk menyambut mu dapat menghilangkan keraguan terhadap ku," ucap ramah Ratu.


"Aku sudah banyak menerima sambutan dari berbagai bangsawan sebelum ini, namun ini pertama kalinya ada bangsawan yang mengerahkan petingginya langsung untuk menyambut ku," tukas halus Darius.


"Apakah itu kurang bagimu? jika memang kurang memuaskan akan kuberi lebih," tanya Ratu.


"Tidak, ini sudah luar biasa bagiku, terima kasih," jawab Darius.


"Aku senang mendengarnya."


Ratu melihat ke arah Raven dan para Komandan K.A.O.


"Aku tidak ingat mengundang mereka juga, tapi tidak apa karena mereka temanmu, mari kita masuk ke acara utamanya, untuk Darius silahkan ikuti aku," ucap Ratu.


Raven seketika waspada, ia masih ingat perbuatan Ratu Hunt ketika uji tanding di K.A.O.


"Tidak perlu khawatir, aku akan segera kembali," ucap Darius.


Lalu kemudian ia pergi bersama dengan Ratu, sementara Raven dan yang lainnya diarahkan oleh Arnoldi ke tempat lain.


Ratu mengajak Darius ke ruangan pribadi dimana hanya ada mereka berdua, sempat mereka terlihat oleh Mara yang kebetulan lewat di belakang mereka.


Mara sangat curiga ketika melihat kakaknya yang pertama kalinya membawa seseorang ke ruangan pribadi nya, bahkan adiknya sendiri dilarang masuk kesana.


"Apa sebenarnya yang kakak pikirkan?" batin Mara sambil mengintip dari balik pilar.


Darius bersama dengan Ratu bercakap didalam ruangan itu, banyak sekali pertanyaan yang ingin Darius tanyakan begitu juga dengan Ratu, mereka berdua memiliki tanda tanya dipikirkan mereka masing-masing.


"Jadi, mengapa tiba-tiba kau mengakui ku secepat itu? kau bukanlah orang berpemikiran sederhana yang dengan mudahnya memaafkan seseorang," tanya Darius terus terang.


"Aku tahu kau akan menanyakan itu dan aku juga tidak berniat macam-macam, ada pertanyaan yang tak bisa kutemukan jawabannya selain darimu," jawab Ratu.


"Apa?"


Darius tidak paham sama sekali.


"Dari mana asalmu? kau lahir dari pasangan siapa? bagaimana bisa Hunt menjadi nama belakang mu?" tanya Ratu yang seketika memojokkan Darius.


"Ehmm..., bisakah kau menjawab pertanyaan ku tadi sebelum bertanya balik?" balas tanya Darius.


"Jawaban dari pertanyaan mu tadi masih kucari, karena itulah aku meminta mu untuk bergabung agar aku menemukan jawabannya, sekarang jawab pertanyaan ku tadi, mana mungkin pertanyaan sederhana seperti itu tidak dapat kau jawab, bukan?" balas Ratu.


Darius tidak bisa berkata apa-apa lagi, mau tidak mau dia harus menjawabnya.


"Aku ragu kau akan percaya dengan apa yang aku katakan," ujar Darius sambil menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak sedang gatal.


"Bagiku berkata tanpa dipercayai lebih buruk daripada berbicara dengan benda mati, aku tidak bisa memberitahu mu," ucap Darius, berusaha mencari alasan.


"Bagaimana jika begini? aku akan mempercayai apapun yang kau katakan terkait identitas mu, bagaimana? itu janjiku."


Ratu memberikan usulan yang baik, disini tidak ada lagi alasan bagi Darius untuk menghindari pertanyaan Ratu, identitas yang sesungguhnya dari ksatria era Ezius ini tak dapat dirahasiakan lebih lama lagi.


Darius terdiam cukup lama setelah Ratu memberikan usulan itu. Ratu menatap heran, karena Darius tak kunjung memberikan jawabannya.


"Ada apa dengan mu? jawab saja, bukankah aku sudah bilang akan mempercayai apapun identitas mu? jadi cepat jawab."


Ratu mulai mendesak.


"Baiklah akan kukatakan...," ujar Darius, karena merasa tidak ada pilihan.


Disinilah kondisi yang Ratu inginkan, ia ingin mengetahui identitas Darius terlebih dahulu agar dapat menyelidiki lebih lanjut tentang kekuatan misterius pada dirinya yang muncul akibat kontak fisik dengan Darius saat itu.


Ratu memfokuskan pendengarannya agar tidak ada satu informasi pun yang luput.


"Langkah pertama ku berhasil, dengan mengetahui latar belakang keluarganya, mungkin aku menyelidiki lebih lanjut hingga aku bisa menemukan jawaban yang kucari," batin Ratu.


Darius mulai menggerakkan bibirnya, nafasnya agak tidak beraturan akibat didesak....


"Aku berasal dari kerajaan Ezius, putra dari Raja Reivan dan Ratu Obella dan nama Hunt adalah nama belakang dari Ratu Obella sendiri, aku memiliki seorang adik bernama Drake, sekian jawaban ku," jelas Darius.


Ratu pun terdiam dan merasa bodoh karena menanyakan hal itu.


"Kau masih waras kah?" tanya Ratu dengan rasa sesal karena sudah bertanya.


"Sudah kuduga reaksi mu akan seperti itu, seharusnya aku tidak mengatakannya," tukas Darius.


"Tapi yang kau ucapkan itu semuanya berasal dari sejarah kerajaan ratusan yang lalu, mana mungkin ku percaya, apalagi itu adalah sejarah tentang leluhur panutan kami (Drake Hunt), aku merasa menyesal karena sudah bertanya," ujar tegas Ratu.


"Meskipun sudah berjanji akan percaya namun tetap sama saja, aku merasa menyesal karena sudah menjawab," balas Darius.


Ratu pun merasa konyol sendiri, karena sudah berjanji akan percaya kepada Darius.


Sebagai seorang Ratu, dia harus menjaga kewibawaannya, salah satunya dengan cara menepati janji karena Ratu adalah sosok pemimpin yang pantang ingkar terhadap janji yang sudah ia ucapkan.


Tentu Ratu tidak mau mencoreng wibawa yang sudah ia pertahankan sekian lama, meski berat hati dia pun memutuskan....


"Baiklah, aku akan menepati janjiku untuk percaya kepadamu, tapi untuk identitas mu akan tetap ku selidiki lagi karena ini sulit untuk dipercaya," ucap tegas Ratu.


"Terima kasih, bisakah kau menjanjikan satu hal lagi padaku?" tanya Darius.


"Apa itu?"


"Jika kau sudah menemukan kebenaran tentang identitas ku, rahasiakan ini dari (para Hunt) yang lainnya, itu saja permintaan ku," ujar Darius.


"Kenapa? apa kau memang mengarang identitas mu? kau membuat permintaan ini agar kau tidak malu ketika kebenaran identitas mu terungkap?" tanya Ratu dengan begitu tajam.


"Bukan itu alasannya, aku hanya tidak ingin mereka yang belum siap mengetahuinya lebih awal," ungkap Darius penuh keyakinan.


Nyali Sang Ratu yang awalnya percaya diri dengan pertanyaan tajamnya pun terasa goyah ketika Darius mengatakan itu.


"Baiklah, andai ini semua hanya kebohongan pun aku juga akan memberikan toleransi karena kau sudah menyelamatkan kami di medan pertempuran tadi, sekarang ayo kita kembali ke acara penyambutan mu, tidak lama lagi aku juga akan memberikan surat pengakuan anggota Hunt untuk mu," jelas Ratu seraya melangkah menuju pintu keluar.


Darius hanya bisa membiarkan Ratu menentukan pilihannya sendiri, antara percaya atau tidak, lalu ia ikut pergi menuju pintu keluar.


Ketika Ratu hendak meraih daun pintu, tanpa sengaja ia menginjak bagian bawah gaunnya sendiri sehingga ia pun terpeleset.


"Aaa..!"


Teriak Ratu.


Refleks Darius langsung menangkapnya sebelum membentur lantai marmer, dengan erat Darius memegangi kedua bahu Ratu dari belakang dan membiarkan Ratu bersandar padanya.


"Kau tidak apa-apa? kau tidak seharusnya ceroboh seperti ini, wibawa mu bisa saja luntur," ucap Darius.


"Astaga kakiku."


Kaki ratu terkilir karena kejadian itu, membuat Darius hendak mencari bantuan sesegera mungkin, tetapi....


*Flash


Muncul cahaya menyilaukan tepat di bagian kaki Ratu yang terkilir, membuat mereka berdua menutup mata sesaat karena saking silaunya.


"Ada apa ini?" tanya Ratu seraya menutupi matanya.


Tak lama kemudian cahaya itupun redup perlahan, rasa sakit di kaki Ratu sekita hilang, kakinya yang terkilir nampak pulih total dan bisa digerakkan dengan leluasa.


"Kakiku sembuh? bagaimana bisa? apa yang kau lakukan?" tanya Ratu sambil menyentuh kakinya yang terkilir tadi, sungguh mengejutkan kakinya dapat pulih secepat ini.


"Aku pun menanyakan hal yang sama," balas Darius.


Tak sampai disitu saja, mendadak pada bagian punggung tangan kanan Darius dan pada bagian dada Ratu muncul simbol menyerupai seekor naga yang melingkar sempurna.


Simbol itu muncul sesaat lalu kemudian menghilang, sama seperti cahaya sebelumnya.


Setelah menyaksikan semua itu, mereka berdua hanya bisa menatap satu sama lain dan mempertanyakan apa yang sudah terjadi.


Tak satupun dari mereka berdua yang tahu penyebabnya, tapi ini semakin memperkuat tekad Ratu untuk terus menyelidiki Darius lebih dalam lagi.


"Aku harus segera memberitahu Raven tentang ini," batin Darius.


Bersambung.....