Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 78: Ambisi Ratu



Pemberitahuan:


...Sebelumnya m****ohon** maaf atas ketidak komitmen author terhadap cerita ini, karena author tiba-tiba menghilang tanpa kabar, karena author mengalami masa sulit yang membuat cerita ini hiatus cukup lama tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, sekali lagi mohon maaf untuk para pembaca yang saya kecewakan**. ...


...Sekarang author akan mulai aktif kembali mengerjakan cerita ini....


...*******...


Ratu tergagap sesaat ketika bertatap muka dengan adiknya.


"Ehmm... aku hanya pergi untuk urusan penting, mengenai pasokan buku untuk Casteral Library."


Ratu menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Bagaimana dengan Darius? apa kau sudah menunjukkan ruangan yang kusiapkan untuknya?" tanya Ratu, mengalihkan perhatian.


"Sudah kulakukan, dia masih bingung untuk menggunakan beberapa fasilitas tapi kurasa dia akan baik-baik saja," balas Mara.


"Selain itu kak, kita punya masalah yang serius," jelas Mara, lalu dia mengajak Ratu ke tempat yang lebih baik untuk bicara berdua.


Mara dan Ratu pun berbincang diruang pribadi Ratu, disitu Mara mengutarakan masalah nya.


"NGB hanya tinggal beberapa hari, sedangkan Arnoldi, Carol dan yang lain masih belum pulih, kita tidak mungkin menyeleksi kembali orang-orang yang akan mewakili Hunt hanya dalam waktu sehari, kakak harus segera menunjuk pengganti mereka," jelas Mara.


"Kau benar, aku pun masih bingung untuk kendala ini, aku juga tidak bisa memaksamu untuk ikut serta," respon ratu seraya memikirkan solusi.


Ada banyak orang berbakat didalam Hunt namun sedikit yang berpotensi agar pantas mengikuti NGB, karena ini bukan kompetisi yang bisa sembarang orang ikuti, ini menentukan martabat setiap bangsawan yang berpartisipasi didalamnya. Sulit bagi Ratu untuk menemukan pengganti yang setara dengan perwakilan yang sebelumnya, apalagi mereka yang akan ditunjuk nanti belum tentu memiliki kemampuan lebih baik.


"Apa mungkin kita harus menunjuk dia untuk menjadi perwakilan?" tanya Mara.


"Dia? siapa?"


"Kau pasti tahu siapa yang kumaksud."


Tak butuh waktu lama bagi Ratu untuk paham.


"Itu memang ide yang menjanjikan, tapi....."


Ratu merasa agak ragu, meski dia sudah mengizinkan Darius menggunakan pedang dalam lingkup Hunt namun itu tak mungkin ia tampakkan di NGB nanti, akan timbul banyak pertanyaan apabila Hunt yang membawa pedang muncul dihadapan para bangsawan yang hadir disana.


Sementara itu belum ada anggota Hunt yang terlihat menjanjikan untuk bisa menjadi perwakilan, sungguh posisi yang membingungkan bagi Ratu untuk mengambil keputusan.


"Bagaimana dengan Rossa? apa menurutmu dia bisa?" tanya Ratu.


"Dia berbakat tapi lebih baik kita tidak memilihnya, meski kuat namun dia belum bisa mengatur penggunaan energi nya dengan baik, sejujurnya aku lebih memilih Evoryo dibandingkan dia," jawab Mara.


"Kita bisa mengikut sertakan dia, tapi tidak sebagai kartu andalan, apa kau melihat anggota lain yang berpotensi?" tanya Ratu.


"Ya, ada Cientry, Volta dan Aufret, mereka semua berada dibawah bimbinganku dan Arnoldi," jawab Mara.


"Cih, mereka saja takkan cukup."


Ratu kembali memutar otak.


"Apa kau mengkhawatirkan soal Seis? kurasa mereka juga tak bisa mengerahkan kartu andalan mereka setelah pertempuran tadi," ujar Mara dengan santainya.


"Kau salah, tidak semestinya kau meremehkan mereka, meski tanpa sihir namun ketahanan tubuh mereka sungguh tidak bisa dipercaya, aku yakin Seis akan megeluarkan kartu andalan mereka nanti begitu juga dengan bangsawan yang lain," sahut Ratu.


"Kurasa kita memang harus mengikut sertakan dia, selain itu kita butuh dana tambahan untuk mengembangkan Casteral Library," Usul Mara.


Sejauh ini hanya itu saja solusi yang ada, masih belum ada kandidat lain yang lebih baik untuk ini, terpaksa ratu menempuh jalan ini, ia lebih memilih menerima banyak pertanyaan dari berbagai pihak dibanding kalah dalam NGB kali ini.


"Baiklah jika memang tidak jalan lain, ayo kita beritahu dia, kuharap dia mau menerima karena kita juga tidak mungkin memaksanya."


Mara bangkit dari duduknya.


"Biar aku saja yang menyampaikan pesan ini, aku permisi dulu."


Mara undur diri, meninggalkan Ratu yang masih termenung memikirkan rencana untuk kedepannya.


"Tidak apa, semoga ini setimpal dengan buah hasil yang akan kudapat nanti, aku harus meneliti dia lebih dalam lagi dan secepat mungkin mendapatkan apa yang ku inginkan," batin Ratu dalam renungannya.


POV DARIUS


Selama lebih dari 20 menit, pria satu ini berusaha memahami segala fasilitas yang tersedia didalam kamarnya.


"Astaga, banyak peralatan yang asing dimataku," batin Darius.


Mulai dari pemanggang roti, mesin pembuat kopi multifunctional dan kursi pemijat elektrik, ia berusaha memahami alat-alat tersebut bahkan ia sempat kaget saat kursi pemijat menyala otomatis ketika ia mendudukinya.


"Apa ini? apa ini semacam alat penyiksaan?"


Ditengah rasa bingungnya, seseorang membuka pintu kamarnya tanpa permisi. Terlihat sosok Mara yang tengah beridiri didepan pintu kamarnya serayal berkacak pinggang.


"Kita harus bicara," ucap Mara.


Mereka berdua duduk berhadapan di sofa yang tersedia dikamar Darius yang luas. Mara menyampaikan permintaan serta hasil dari diskusinya dengan Ratu secara detail, ia juga mengatakan bahwa permintaan ini bersifat fleksibel sehingga Darius berhak untuk menolak.


Setelah mendengarkan sampai akhir, kini Darius mengerti kondisi bangsawan yang ia masuki saat ini tengah terdesak. Berdasarkan informasi yang ia dapatkan dari Raven perihal NGB, memang tidak dapat dianggap remeh juga peserta yang mengikuti NGB tahun lalu pun adalah orang-orang berbahaya dari berbagai keturunan bangsawan yang berada di invandara.


Tak heran jika Ratu memberinya permintaan seperti ini, jika ini memang perihal biasa maka Ratu tak perlu hati-hati dalam memilih anggotanya sebagai perwakilan.


"Kau pasti tahu resiko mengikut sertakan aku kedalam kompetisi ini, ingat bahwa aku takkan bertarung tanpa pedangku, apa Ratu tak keberatan soal itu?" tanya Darius.


"Fyuuh..., kami menoleransi perihal itu karena memang sudah tidak ada jalan lain lagi, tak mungkin juga bagi kami memaksamu menurunkan pedang, sekarang tinggal menunggu jawabanmu," jawab Mara seraya menghela nafas.


Darius bertopang dagu sesaat...


"Hmmm..., baik, aku akan ikut," ucap Darius tanpa ragu.


"Haaah..., syukurlah dia setuju," ucap Mara dalam hati.


Sekarang Mara dapat merasa tenang.


"Tapi ingat, aku tidak ingin ada trick lagi seperti yang kalian lakukan padaku sebelumnya."


Darius masih ingat perbuatan Mara pada saat pelatihan di Divisi sihir sebelumnya.


"Tentu, kami tidak akan menipumu, sekarang kau adalah bagian dari kami, ingat?" ucap Mara, meyakinkan.


" Baguslah, aku senang mendengarya."


Tugas membujuk Darius untuk ikut serta dalam NGB pun beres, sekarang Mara hanya perlu mencari juniornya yang berpotensi untuk menjadi rekan Darius dalam kompetisi NGB nanti.


"Baiklah sekarang aku harus pergi, oh ya..., pintu yang berada didekat kursi pijat mu adalah teleporter, itu terhubung pada lapangan luas yang berjarak 8 kilometer dari sini, tempat itu disediakan khusus untukmu berlatih pedang," jelas Mara sambil menunjuk ke arah pintu yang dimaksud.


"Oh..., terima kasih atas petunjuknya."


Mara melangkah menuju pintu keluar...


"Jika kau ingin lanjut berpesta, jangan lupa mengunci pintu sebelum pergi, selamat malam," ucap Mara sebelum enyah dari pandangan.


Sekarang hanya tinggal Darius seorang, ia memastikan Mara sudah pergi jauh sebelum pergi keluar kamar.


"Sepertinya sekarang aku mulai mendapatkan kepercayaan dari mereka, ini langkah awal yang bagus sebelum aku dapat menyelidiki sejarah latar belakang Hunt yang belum kuketahui, kuharap aku bisa segera mencari tahu apa yang telah terjadi disini saat aku tidak ada, terutama penyebab Hunt sangat membenci ilmu berpedang," batin Darius.


"Baiklah, lebih baik sekarang aku menemui Raven, dia harus tahu soal ini."


Darius pergi keluar, tak lupa ia mengunci pintu kamarnya sebelum hendak menemui Raven.


Tanpa sepengetahuannya, nampak sosok gadis berkacamata yang sedari tadi bergelantung diatas pintu kamarnya, gadis itu sudah disana sejak ia berbincang dengan Mara dan ia mendengar jelas percakapan mereka berdua.


Dengan tatapan tajam ia menatapi Darius yang hendak pergi ke tempat pesta diadakan, dengan satu jari ia menopang tubuhnya yang tengah bergelantung lalu ia turun setelah Darius sudah tak terlihat lagi.


"Hunt yang ahli dalam berpedang, ini informasi yang sangat berharga," ucap gadis itu.


Angin yang datang entah dari mana menghempas syal yang melinkari leher gadis berkacamata itu, menampakkan bekas luka bakar yang melingkar dilehernya. Tak lama kemudian sosoknya hilang bersama dengan angin yang menerpanya, menyisakan hampa ditempat ia berpijak.


Bersambung.....