
Ratu Oriery menciptakan medan teleportasi setelah mendengar kabar tentang adiknya. Ia begitu panik setelah informannya menyampaikan pesan dari K.A.O, kabar ini tersampaikan 2 jam setelah adiknya mengalami kecelakaan. Ratu begitu kecewa terhadap informannya yang lamban dalam menyampaikan kabar.
"Kenapa kalian tidak memberitahu ku sedari tadi?!"
Luapan amarah Ratu pun bergejolak.
"Maafkan kami Ratu, ada kendala saat kami hendak menghubungi anda. Sinyal komunikasi mengalami gangguan secara mendadak selama 2 jam. Kami pun juga berusaha untuk menghampiri anda dengan teleportasi, namun anda sedang berada di area netral (area yang tidak bisa dimasuki sihir ataupun kemampuan khusus) di Casteral Library. Jadi kami tidak bisa mengabari anda secepatnya, maafkan kami," balas informan.
Sang Ratu sudah tak lagi memperdulikan perkataan informannya. Ia langsung melakukan teleportasi dan sampai di depan tempat adiknya dirawat. Ratu berlari memasuki rumah sakit dan mencari keberadaan adiknya. Ia berhasil mengetahui letak kamar dimana adiknya dirawat, dari petugas rumah sakit yang bekerja di bagian receptionist.
Segera ia berlari menuju kamar rawat adiknya yang berada di lantai dua.
"Adik bodoh, kenapa dia bisa sampai celaka begini?" batin Ratu.
Tanpa butuh waktu lama, ia menemukan kamar rawat Mara. Segera ia masuk kedalamnya. Ratu membuka pintu ruangan dengan begitu kasar.
"Mara..."
Rasa kaget langsung mengguncang jantung Sang Ratu. Saat ini dalam pandangan matanya. Darius tengah menyuapi adiknya yang sedang terbalut perban. Mara yang sedang disuapi pun tersentak akibat Ratu yang secara tiba-tiba masuk kedalam ruangan dengan begitu kasar.
"Uhuk... uhuk...."
Mara terbatuk-batuk dibuatnya.
"Hey Ratu, kau tidak perlu sekasar itu hanya untuk masuk kemari. Kau nyaris membuatnya tersedak," ucap Darius.
"Diam kau..! apa yang kau lakukan pada adikku?" tanya Ratu disertai bentakan.
"Kau tidak lihat, aku sedang merawatnya," jawab Darius.
"Bukan itu maksudku, bodoh..!"
Bentakan Ratu sangat keras. Darius menempelkan ujung jari telunjuknya ke bibirnya. Memberi isyarat kepada Ratu agar tidak berisik.
"Jaga nada ucapanmu. Kau hanya akan menggangu para pasien disini," tegur Darius.
Ratu tak bisa membalas ucapan Darius. Perlahan ia menstabilkan emosinya. Ia lupa kalau kodratnya sebagai Ratu tidak boleh kehilangan wibawa karena emosi. Beberapa saat kemudian, tiga orang bawahan Ratu pun datang. Mereka khawatir dengan Ratu yang pergi tanpa pengawalan.
Mereka bertiga adalah Arnoldi, Samna dan Caroline. Mereka bertiga tersentak melihat adik Ratu yang kondisinya memprihatinkan. Sekujur tubuhnya diliputi luka bakar yang serius. Ia sudah terlihat seperti mummy yang baru keluar dari dalam peti.
"Ratu, maafkan saya. Ini terjadi karena kecerobohan saya," ucap Mara.
"Sekarang aku butuh penjelasan darimu. Darius, bisakah kau keluar sebentar? aku perlu bicara dengan adikku," pinta halus Ratu.
"Aku akan keluar setelah selesai menyuapinya," jawab Darius.
"Aku bisa melakukan itu sendiri. Jadi kau tidak perlu melakukannya," tukas Ratu.
Darius masih tetap menyuapi Mara dengan salmon panggang buatan Raven.
"Ksatria sejati akan bertanggung jawab penuh atas perbuatannya. Mara menjadi seperti ini karena ku, jadi aku akan bertanggung jawab sampai dia sembuh total," jelas Darius.
Setelah mendengar perkataan Darius. Ketiga bawahan Ratu pun mematung. Mereka tidak habis pikir, seorang Mara yang terkenal hebat dikalangan bangsawan Hunt dan ahli sihir tingkat atas, dibuat terluka parah seperti ini.
"Sekuat apa dia? nona Mara sampai dia buat begini?" batin Arnoldi.
Sementara Mara terus meratapi Darius yang sedang menyuapi dirinya. Hatinya tersentuh setelah mendengar perkataan itu.
"Ksatria bodoh, jangan mengatakan hal bodoh seperti itu. Kau pasti sudah tahu bahwa saat itu (pelatihan) aku berniat untuk mencelakai mu, tapi kenapa kau malah bertanggung jawab padaku. Dasar bodoh," batin Mara yang agak tersipu.
"Ayo, satu suapan lagi. Buka mulutmu," ucap Darius sambil hendak menyuapkan suapan terakhir.
Mara pun membuka mulutnya. Darius pun menyuapinya perlahan. Setelah Mara benar-benar selesai menelan makanannya. Darius pergi meninggalkan ruang rawat. Membiarkan Ratu berbicara dengan adiknya.
Para bawahan Ratu memastikan Darius sudah benar-benar pergi. Salah satu dari mereka berjaga diluar sedangkan dua lainnya menjaga Ratu didalam ruangan. Ratu duduk di sisi adiknya dengan berlinang air mata. Ia tidak menduga adiknya akan menjadi seperti ini.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Ratu.
"Maaf, saya terlalu ceroboh. Ratu," balas Mara.
"Saat ini, aku berada disamping mu sebagai seorang kakak. Jadi kau jangan memanggilku dengan sebutan Ratu," jelas Ratu.
Mara mengangguk paham.
"Sekarang, jelaskan semuanya padaku."
Ratu pun mendengarkan penjelasan dari adiknya. Mara menjelaskan semua urutan kejadian hingga dirinya menjadi seperti sekarang. Ada beberapa hal dalam penjelasan Mara yang menurut Ratu sangat mengganjal. Diantaranya adalah kekuatan milik Darius yang tidak dapat dirasakan dan bagaimana Darius menembus pertahanan Mirror of Greedy.
Bagi Ratu, semua itu tidak mungkin terjadi. Kekuatan pertahanan Mirror of Greedy milik Mara menyamai pertahanan milik Ratu dan Darius berhasil menembusnya. Ini cukup membuat Ratu terguncang.
"Dia berhasil menembus pertahanan Mirror of Greedy? dia, apakah dia sungguh manusia?" batin Ratu yang terguncang nyalinya.
"Dia juga memiliki kekuatan yang aneh. Jika dilihat dengan mata, kekuatannya terlihat seperti sihir. Tapi aku tidak merasakan adanya sihir dalam kekuatannya itu. Seolah kekuatan itu memiliki efek yang membuatnya tak dapat dirasakan. Baru pertama kali, aku menemui kekuatan semacam ini," jelas Mara.
"Kekuatan jenis apa yang ia miliki?" tanya Ratu.
"Elemental tingkat atas, yakni lahar panas," jawab Mara.
Caroline yang hadir disana pun mengerti. Penyebab sahabatnya dapat menderita terluka separah ini.
"Elemen berat seperti lahar sangat sukar untuk dihadapi. Absolute Defense seperti Mirror of Greedy ditembus oleh elemental seperti itu? ini artinya kekuatan lawan jauh melebihi daya serap dari Mirror of Greedy itu sendiri. Sejauh apa tingkat kekuatan yang dia (Darius) capai?" tanya Carol dalam hati.
Bawahan Ratu yang berjaga diluar membuka pintu. Ia melaporkan bahwa Direktur utama K.A.O hendak menemui Mara untuk meminta tanda tangannya. Raven datang dengan membawa surat kelulusan milik Darius.
"Maaf, aku tahu ini bukanlah saat yang tepat. Namun aku tetap harus meminta tanda tangan persetujuan darimu," ucap Raven.
"Direktur Raven. Untuk apa kau datang kemari?" tanya Ratu.
"Mara harus menandatangani surat pernyataan lulus pelatihan milik Darius. Karena ialah yang mengambil hak penuh atas pelatihan itu," jawab Raven.
Emosi Ratu melunjak, karena Raven tidak mengerti kondisi Mara yang masih cedera berat.
"Kau tidak lihat? adikku sedang cedera dan kau meminta tanda tangan disaat seperti ini. Lebih baik kau keluar..!"
Setelah mendengar bentakan Ratu. Arnoldi yang mengawal Ratu di dalam ruangan, berusaha untuk membawa Raven keluar dari ruangan. Namun...
"Maaf, tapi mau tidak mau. Mara harus menandatangani surat ini," ujar Raven.
Tanpa disadari, semua bawahan Ratu yang berada terlilit oleh rantai yang berasal dari dalam tangan Raven. Mereka semua tidak berkutik, sihir mereka tidak dapat keluar setelah terlilit oleh rantai tersebut. Arnoldi bersih keras untuk membebaskan diri dengan sihirnya. Tetapi sihirnya tidak mau keluar sama sekali.
"Percuma saja. Rantai ku adalah senjata Absolute Weapon yang menolak segala efek kekuatan non fisik. Dengan kata lain, aku adalah mimpi buruk bagi setiap pengguna sihir," ucap Raven disertai tatapan serius.
"Beraninya kau...!"
Tanpa basa-basi. Ratu mengeluarkan Light orb (bola cahaya) dan berniat untuk menyerang.
"Direktur, kumohon hentikan. Aku akan menandatangani surat itu. Jadi tolong jangan buat keributan," mohon Mara.
"Seharusnya kau mengatakan itu kepada kakak mu. Dialah yang memulai," balas Raven.
Suasana kembali normal. Raven menurunkan senjatanya. Mara menandatangani surat pernyataan lulus milik Darius, bersamaan dengan itu. Ia juga menyatakan dirinya undur diri sebagai pembimbing resmi. Ia meminta K.A.O untuk memutus kontraknya. Mara juga mengatakan bahwa dia tidak akan pernah kembali ke K.A.O. Raven mengangguk dan akan segera membuatkan surat pengunduran diri untuk Mara.
"Tak kusangka Ratu Hunt bisa se- emosional ini. Aku penasaran, kemana perginya wajah angkuh berwibawa itu," ledeknya. Ia melirik Ratu dengan ekspresi menyeringai.
"Jaga bicaramu. Meski kau seorang Direktur, ucapan mu itu sudah keterlaluan," tukas Arnoldi. Sedari tadi menahan amarah.
"Dia (Darius) bisa saja menuntut kalian, karena Mara telah melanggar standar pelatihan Beginner. Beruntung dia tidak menginginkan hal itu terjadi. Ini peringatan terakhir dariku, jangan mengganggunya," sambung Raven.
Raven melangkah keluar ruang rawat. Sejenak ia menoleh ke belakang, memandang para Hunt yang berada dibelakangnya.
"Sampai jumpa lagi. Ratu Oriery Hunt," ucapan terakhir Raven sebelum pada akhirnya pergi.
Semua bawahan Ratu merasa marah atas perilakunya. Akan tetapi Ratu memerintahkan kepada mereka untuk mengabaikannya, karena yang terpenting sekarang adalah Mara. Dengan ditemani oleh para bawahannya. Ratu pergi menemui pihak rumah sakit. Ia berkata bahwa ia bersedia untuk membayar berapapun agar adiknya dapat lekas pulih dari cederanya.
Pihak rumah sakit merespon baik, mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan adiknya. Setelah itu Ratu pun kembali menemani Mara. Disaat sedang menemani adiknya, ia mendengar perut adiknya berbunyi. Padahal Mara sudah memakan salmon panggang 10 menit yang lalu, rupanya itu masih belum cukup untuk menuntaskan rasa laparnya.
"Akan ku perintahkan Caroline untuk membelikan sesuatu untuk mu," ucap Ratu.
Tiba-tiba saja, adiknya menarik lengan bajunya. Seakan Mara hendak menyampaikan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Ratu.
"Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan padamu, kak. Ini mengenai Darius," jawab Mara.
"Darius? memangnya ada apa dengan pemuda itu?" tanya Ratu keduakalinya. Ia mendekat ke adiknya. Perlahan Mara mendekatkan bibirnya ke telinga Ratu.
"Kak, sebenarnya Darius itu..."
Bersambung.....