
Lokasi: Istana perak.
"Kakak, kumohon jangan lagi."
Sang pimpinan lekas menghampiri wanita yang menodongkan senjata ke arah tamunya, wanita bernama Aqynanta itu rupanya adalah kakak Eruna.
"Jadi dia kakaknya," batin Darius seraya memperhatikan Aqynanta.
Eruna lekas menurunkan tangan kakaknya yang tidak sopan terhadap tamu, selain dia juga ada Nova yang membujuk agar kakaknya berhenti bertindak sembrono.
"Ayolah, kalian sangat tidak asik, aku baru saja menemukan orang yang bisa kuajak bermain," ucap Nanta tanpa ragu.
"Kakak, jangan."
"Menodongkan senjata kepada tamu sangat tidak beretika kak, mohon kakak jangan berbuat seperti ini."
Sejauh ini, yang berani menghentikan tingkah laku Nanta hanyalah Eruna dan Nova saja.
Darius sangat yakin diantara para ksatria yang tengah berbaris menyaksikannya, pasti ada para komandan yang berada diantara mereka.
Mana mungkin yang hadir disini hanya para ksatria biasa saja, tepat dihadapan Darius ada seorang ksatria wanita berambut silver dengan medal berbentuk serigala perak di dada kirinya.
Medal adalah atribut yang tidak mungkin dimiliki ksatria biasa, dia sudah pasti seorang komandan namun ia hanya terdiam menyaksikan Eruna bersusah payah menghadapi Nanta.
"Mengapa dia hanya diam saja?" batin Darius agak sebal.
Setelah cukup lama membujuk, akhirnya Eruna berhasil menghentikan tindakan kakaknya.
Nanta menyarungkan pedangnya...
"Padahal aku sudah menemukan orang yang cocok menjadi lawan tandingku, haduh..."
Nanta nampak tertunduk lesu.
"Kalau kakak bosan, nanti aku akan mencarikan orang yang bisa menjadi lawan tanding kakak," ujar Eruna.
"Baiklah, tapi lain waktu aku akan menantangnya lagi."
Keadaan kembali tenang.
"Maaf atas tindakan kakakku tadi, dia selalu begini ketika sedang bosan," ujar Eruna.
"Tidak apa-apa, saya hanya sedikit terkejut saja," balas Darius.
Nanta melipat kedua tangan, memperhatikan mereka berdua.
"Kakak, minta maaflah kepada tamu kita, kau baru saja membuatnya terganggu."
"Iya, aku minta maaf."
Ia mengucapkannya dengan nada lesu, tutur katanya tidak sesopan adik-adiknya dan penampilannya juga tidak elegan.
Tidak habis pikir Darius bahwa wanita yang ada dihadapannya adalah kakak dari pimpinan Seis yang memiliki penampilan anggun, sedari tadi ia terus diperhatikan olehnya tanpa berkedip.
Warna rambut Nanta pun nampak dibuat-buat, terlihat jelas warna merah di rambutnya bukan berasal dari dirinya sendiri (semir), tataan rambutnya juga tidak rapi.
Darius mencoba mengabaikan penampilan Nanta yang berantakan, ia harus tetap menghormati dia karena dia adalah kakak dari pimpinan Seis.
"Darius Hunt, benarkan?" tanya Nanta.
"Iya, benar."
"Dari mana kau mempelajari ilmu pengetahuan berpedang seperti itu? apa kau lulusan akademi militer? akademi mana? katakan padaku," tanya Nanta, beruntun.
Darius sama sekali tidak paham dengan perkataannya, akademi militer? itu belum ada pada masa kerajaan Ezius.
Ditambah lagi ia menyudutkan Darius dengan menanyakan nama orang tua beserta kemargaan nya, ini membuat Darius bingung untuk menjawab.
"Kak, nampaknya dia masih terkejut dengan tindakan kakak tadi, lebih baik jangan menyudutkan dia dengan pertanyaan yang berlebihan," ucap Eruna.
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, aku mulai bosan disini," tukas Nanta, ia perlahan melangkah pergi.
"Kakak tidak ingin mengakrabkan diri dengan dia lebih dekat? barangkali kakak bisa membuat dia berminat untuk bergabung dengan kita," usul Eruna.
"Aku akan melakukannya jika dia mau bermain denganku," balas Nanta sebelum dia melompat tinggi ke lantai dua istana wanita.
Eruna dapat menghela nafas lega karena masalah yang ditimbulkan kakaknya tidak diambil hati oleh Darius.
"Kakak selalu egois," batinnya.
Kemudian ia menatap ke arah para bawahannya yang berbaris rapi.
"Kalian semua sudah menyaksikan seni bertarung yang ditunjukkan oleh tamuku Darius Hunt, kuharap dengan ini kalian dapat termotivasi, silahkan kembali melanjutkan latihan dan jangan lupa untuk tetap menjaga keamanan diri saat berlatih."
"Baik, ratu."
Nova membubarkan barisan, begitu banyak suara kekaguman terdengar di telinga.
Sekelompok wanita yang barusan menghampiri Darius kini datang kembali, kali ini jumlah mereka lebih banyak dan ada para ksatria pria juga.
"Mereka semua bersemangat sekali," ucap Darius menanggapi setiap pasang mata berbinar di depannya.
"Kak, perkenalkan namaku Perona, aku juga pengguna pedang lengkung, bisakah kau mengajarkanku teknik yang tadi."
"Perona, kau menyela antrian."
"Hei, aku duluan yang menghampirinya."
Mereka saling berebut.
Eruna senang melihat mereka bersemangat dan haus akan pengetahuan.
"Maaf para ksatria ku yang tekun, tapi aku ada hal penting yang harus kami bicarakan."
Mereka yang berebut pun terdiam ketika Eruna berbicara.
"Baik, ratu," ucap kompak mereka semua.
"Kembalilah berlatih."
Mereka pun memberi hormat lalu kemudian undur diri.
Setelah semua itu, eruna mengajak Darius ke taman pribadinya yang dekat dengan istana bunga.
Disitu sudah ada tempat duduk yang nyaman beserta meja bundar yang cantik, para pelayan sudah menyiapkan teh emerald yang memiliki warna biru tua dengan rasa semanis madu.
Darius menerima suguhan dengan senang hati.
"Teh ini langka dan mahal, untuk perkilonya saja seharga 100 dollar Invan," ucap Eruna.
Dollar Invan, mata uang di negeri Invandara.
"Teh ini nikmat, membuat orang meminumnya merasa senang, aku menyukainya," ucap Darius.
"Kau sama seperti teh ini Darius," sahut Eruna.
"Apa?"
Darius tidak paham.
"Teh ini begitu manis dan nikmat, membuat banyak orang memperebutkan nya, sayangnya tumbuhan ini hanya tumbuh di satu tempat saja dan cukup langka sehingga membelinya akan membutuhkan biaya yang sangat mahal, cirinya sama persis seperti dirimu.."
"... Memiliki kemampuan hebat yang belum pernah dilihat siapapun, sangat luar biasa, bukankah itu pantas disebut langka? kau membuat banyak orang kagum dan memperebutkan mu agar kau mau melatih mereka."
Eruna memandangi para ksatria yang tengah berlatih giat.
"Kau lihat betapa terangnya binar kagum dimata mereka saat melihat mu unjuk bakat, mereka semua membutuhkan orang yang mampu membimbing mereka," ucap Eruna.
"Tapi mengapa harus saya? bukankah disini ada para komandan terlatih yang mampu melatih mereka dan diluar sana pun pasti juga ada, bukan?"
Tanya Darius.
"Tapi menemukan yang sehebat dirimu bagaikan mencari sebuah benang didalam tumpukan jerami, Darius," balas Eruna.
Ia berdiri dari duduknya dan menghadapkan pandangannya ke lapangan pelatihan.
"Sejak tahun lalu, tidak ada perkembangan lagi dalam seni dan bertarung kami, semenjak kekalahan kami di NGB begitu banyak peminat sihir dibandingkan seni bersenjata, ini menjadi pukulan berat bagi kami semua..."
"... Peminat bela diri dan seni bersenjata kian menipis dari tahun ke tahun, aku khawatir jika terus begini maka seni bersenjata semakin lama akan semakin terlupakan, karena itulah..."
Eruna membalikkan badan, bersamaan dengan mentari terbit yang menerpa hangat, angin yang berhembus menghempas perlahan rambutnya yang halus.
Dengan tatapan serius ia berkata...
"Kami membutuhkan mu untuk membangkitkan kembali minat orang-orang terhadap seni bersenjata."
...*******...
POV Raven.
Lokasi: Grand Mansion.
Raven mencuci piring dengan penuh kekhawatiran, karena pendaftaran Darius ke NGB lebih rumit dari yang ia kira.
"Tak kusangka untuk pendaftarannya membutuhkan surat perwakilan bangsawan, sial...!"
Dalam NGB membutuhkan surat perwakilan bangsawan untuk mendaftar, guna memperjelas status peserta sebagai utusan dari bangsawan mana dan dari mana asalnya.
Surat itu bisa didapatkan dari persetujuan pimpinan suatu bangsawan terhadap peserta yang akan mengikuti NGB, dengan kata lain Darius harus mendapatkan persetujuan atau perizinan langsung dari pimpinan Hunt jika ingin memasuki NGB.
Inilah hal yang membuat Raven kesal.
"Dia (Ratu Hunt) takkan mungkin memberikan persetujuan kepada tuan, surat persetujuan itupun tidak bisa dipalsukan karena akan ada konfirmasi antara peserta dan pimpinan bangsawan, apa yang harus kulakukan?"
Bersambung....